My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 67


__ADS_3

Suara alarm ponsel membangun Elia dari tidur nyenyaknya. Dia mulai menggeliat, mencoba mengubah posisi namun terasa ada sesuatu yang menahan tubuhnya di bagian perut.


Elia mencoba menatap ke bawah setelah membuka mata sepenuhnya. Dia sedikit tersentak kalau mendapati lengan besar melingkar di perutnya. Begitu menoleh ke belakang, Elia bisa melihat pemilik tangan itu masih tertidur pulas di belakang punggungnya.


Diam-diam Elia mengulum senyum. Ada perasaan lega ketika melihat Aditya menyusulnya ke kamar sebelah dan ikut tidur satu ranjang dengannya. Elia jadi tau kalau sebenarnya Aditya rindu padanya, hanya saja tertutup oleh egonya yang terlalu besar.


Elia tiba-tiba punya ide untuk memanfaatkan situasi agar hubungannya dengan Aditya kembali membaik. Merasa yakin jika idenya akan berhasil, Elia langsung mempraktekkannya. Dia segera berbalik badan menghadap Aditya, lalu memeluk erat tubuh kekar itu. Elia membenamkan wajah di dada bidang suaminya itu, menghirup dalam-dalam aroma parfum maskulin milik Aditya yang dia rindukan selama lebih dari 1 minggu.


Gerakan itu membuat Aditya terbangun. Dia mengernyitkan kening ketika melihat Elia memeluknya. Aditya awalnya bingung, tapi dia mengingat kejadian tadi malam saat sengaja menyusul Elia ke kamar sebelah lantaran tidak bisa tidur. Aditya tadinya hanya berniat tidur 3 jam saja, sekedar untuk mengistirahatkan badan dan pikirannya. Dia bahkan sudah mengatur alarm ponselnya pukul 5 pagi agar bangun lebih dulu sebelum Elia, jadi bisa pergi dari kamar itu tanpa harus di pergoki Elia kalau semalam ikut tidur di sampingnya.


Tapi sepertinya nasib buruk sedang berpihak padanya, sekarang Elia jadi tau kalau dia tidur dengannya.


"Lepas El.!" Pinta Aditya dengan sikap dinginnya. Aditya mendorong bahu Elia supaya melepaskan pelukannya, tapi yang ada malah semakin menempel. Elia sudah seperti bayi koala yang menempel pada induknya.


"Tidak mau.!" Sahut Elia.


"Kak Adit sebenarnya kangen kan dipeluk begini.? Mengaku saja, tidak usah gengsi." Cecar Elia dengan tatapan menyelidik.


Adit menggelengkan kepala, mencoba menyangkal perkataan Elia. Tapi mana mungkin Elia percaya. Buktinya diam-diam Aditya datang ke kamarnya, tidur di sampingnya sambil memeluk dari belakang. Kalau bukan kangen, lalu apa namanya.


"Kamu terlalu percaya diri." Ketus Aditya dan memaksa keluar dari pelukan Elia. Tenaganya yang kuat membuat Elia kalah dan terpaksa melepaskan pelukannya.


"Aku hanya tidak mau Mama salah paham melihat kita tidur terpisah.!" Sangkalnya kemudian bergegas turun dari ranjang.


Elia malas tersenyum gemas karna Aditya tidak mau mengaku, malah menyeret Mama mereka sebagai alasan.

__ADS_1


Tidak mau membiarkan Aditya pergi begitu saja, Elia juga ikut turun dari ranjang dan mengejar Aditya yang hampir keluar dari kaman.


"Kak Aditya tidak kangen padaku.? Aku saja kangen. Kita sudah lama tidak bertemu dan berpelukan seperti ini." Ujar Elia seraya memeluk Aditya dari belakang. Elia menempel di punggung Aditya seperti cicak. Kedua tangannya melingkar erat di perut Aditya.


"Jangan membuatku terlambat, aku ada rapat pagi ini." Aditya berusaha melepaskan tangan Elia dan tidak menghiraukan perkataannya.


Elia merasa kesal, bibirnya mencebik lantaran ego dan gengsi yang menyelimuti Aditya sangat susah di tembus. Mungkin karna terlalu tebal.


Elia kemudian melepaskan pelukannya, tapi bukan untuk menyerah. Dia pindah ke depan dan mengalungkan kedua tangannya di leher Aditya tanpa permisi.


"Maafkan aku ya,,?" Pinta Elia dengan tatapan memelas.


"Aku sudah membuang semua obatnya. Kak Adit ingin aku hamil kan.? Aku baru selesai haid 4 hari hari yang lalu. Bagaimana kalau sekarang kita bercinta.?" Ajak Elia setelah susah payah membuang rasa malunya di depan Aditya. Kali ini Elia mencoba bersikap agresif demi mendapatkan maaf dari Aditya. Dia tau betul karakter suaminya itu. Sekali saja di pancing soal pergulatan panas, Elia yakin bisa melunturkan ego Aditya.


Amarahnya pada Elia memang sudah mulai berkurang, tapi gengsinya masih terlalu tinggi untuk menerima permintaan maaf Elia begitu saja. Kesalahan yang dilakukan Elia memang tidak terlalu fatal, tapi cukup mukai harga dirinya sebagai seorang suami. Aditya merasa tidak dihargai dan tidak di akui sebagai suami karna Elia mengambil keputusan secara sepihak. Padahal sesuatu yang berkaitan dengan urusan rumah tangga serta anak adalah tanggungjawab bersama sebagai suami istri. Tidak seharusnya Elia menyembunyikan hal besar seperti itu.


Elia hampir putus asa dengan sikap dingin Aditya. Sudah berusaha membujuk dan merayunya, tapi Aditya masih saja bersikap acuh.


Tidak kehabisan akal, satu tangan Elia perlahan turun ke bawah. Dia meraba tubuh Aditya mulai dari leher, turun ke dada dan perut sixpacknya yang terbalut kaos.


Elia tampak tidak peduli meski Aditya melotot tajam. Sampai akhirnya petualangan jemari Elia berakhir di area pangkal paha Aditya.


"El, jangan macam-macam.!" Sentaknya. Aditya mencekal pergelangan tangan Elia yang sudah terlanjur menggenggam pisang tanduknya.


Bukannya takut karna mendapat tatapan tajam dan di bentak, Elia justru menyengir kuda karna benda dalam genggamannya mulai mengembang.

__ADS_1


"3 hari lalu aku baru saja mempelajari cara bergoyang yang benar. Kak Adit mau mencobanya tidak.?" Tawar Elia sembari memberikan pijatan lembut do bawah saja. Aditya bahkan hanya mencekal pergelangan tangan Elia, tapi tidak menyingkirkan tangan Elia dari sana. Sepertinya Aditya malah menikmatinya.


Melihat tidak ada respon penolakan, Elia akhirnya berinisiatif mencium bibir Aditya. Mulai dari ciuman singkat, sampai *****-an dan sesapan.


Elia yakin Aditya sudah ter rang sang, tapi sepertinya masih gengsi, jadi hanya diam saja ketika Elia menciumnya.


Lama-lama Aditya tidak tahan juga dengan godaan dan tipu daya wanita yang dahsyat itu. Sentuhan demi sentuhan mampu membangkitkan gairahnya dalam waktu singkat. Tangan wanita memang ajaib, dia bisa membuat pria terbakar gairah dan mampu mengeraskan daging yang awalnya lembek.


"Kamu yang mulai, jangan menyesal setelah ini.!" Tegas Aditya. Tiba-tiba saja dia mengangkat tubuh Elia dan membawanya ke ranjang.


Brukkk.!!


Aditya menjatuhkan tubuh Elia di atas ranjang. Pria itu melepaskan baju dan melemparnya ke sembarang arah, lalu naik ke atas ranjang untuk mengungkung tubuh Elia.


Elia tersenyum senang karna berhasil menggoda Aditya.


Pagi itu terjadi pergulatan panas penuh gairah. Setelah hampir 2 minggu tidak melakukan penyatuan, kini keduanya hanyut dalam lautan penuh kenikmatan.


Elia juga membuktikan ucapannya, dia benar-benar mempraktekkan apa yang baru dia pelajari beberapa hari yang lalu. Aditya bahkan tampak sangat puas ketika tubuh Elia meliuk-liuk di atasnya.


Keduanya baru mengakhiri pergulatan setelah 1 jam lebih dengan tubuh yang sama-sama bermandikan keringat.


Hati senang, sama-sama puas karna mendapat kenikmatan, masalah mereka pun selesai.


Ternyata benar apa yang dikatakan kebanyakan orang. Apapun masalahnya, bisa diselesaikan jika dibawa diatas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2