
Wajah sumringah Aditya ketika memasuki perusahaan cukup menjadi pusat perhatian semua karyawan yang berpapasan dengannya. Mereka merasa heran dengan rona bahagia dari wajah tampan yang biasanya datar itu.
Semua karyawan sudah mendengar kabar tentang batalnya pernikahan Aditya dan Milea karna wanita itu tiba-tiba hilang saat acara akan berlangsung. Lalu di gantikan dengan wanita lain yang merupakan adik angkat Aditya.
Seharusnya kejadian itu membuat Aditya sedih karna gagal menikah dengan orang yang dia cintai. Tapi melihat pagi ini Aditya tampak bahagia dan baik-baik saja, sepertinya kehilangan Milea bukan sesuatu yang menyakitkan untuk pria itu.
"Apa diam-diam bos kita sudah mencintai adik angkatnya sejak lama.?" Bisik salah satu karyawan pada temannya. Keduanya menatap punggung tegap Aditya yang berjalan menjauh.
"Bisa jadi. Wajahnya pasti tidak akan sebahagia itu kalau menikah dengan orang tidak dia cintai kan.?" Sahutnya yang merasa sependapat dengan temannya. Gagal menikah dengan wanita pilihannya pasti sangat menyakitkan, apalagi kalau tiba-tiba harus di gantikan dengan wanita lian. Kalau tidak ada perasaan apapun pada pengantin penggantinya, harusnya pagi ini wajah Aditya tidak secerah itu.
"Tapi mereka memang terlihat sangat serasi. Foto pernikahannya tersebar di media sosial dan itu membuatku iri setiap melihatnya. Tampan dan cantik, seperti pernikahan pangeran dan putri." Gumamnya dengan sorot mata penuh kekaguman.
Pernikahan Aditya juga semakin heboh dan jadi perbincangan banyak orang karna tragedi hilangnya calon pengantin wanita. Banyak kaum hawa yang mencibir dan menyayangkan sikap Milea. Mereka sangat yakin Milea tidak hilang karna di culik, melainkan kabur dari acara pernikahannya. Pasalnya hilangnya Milea terdengar tidak masuk akal di telinga mereka.
Jordan sudah menyambut kedatangan Aditya di depan pintu lift khusus. Pria itu menyapa dan membungkuk hormat pada bosnya.
"Tuan, identitas pria itu sudah berhasil saya lacak." Lapornya. Wajah Aditya seketika berubah serius.
"Ke ruanganku sekarang." Titahnya dan berjalan tegap menuju ruangannya. Jordan mengekor di belakangnya. Dalam hati sudah harap-harap cemas karna ada informasi yang jauh lebih penting dan mengejutkan. Jordan khawatir Aditya akan mengamuk setelah mendengar informasi tersebut.
Kini keduanya sudah duduk berhadapan di ruangan Aditya. Jordan mengotak-atik tablet di tangannya sebelum di sodorkan pada Aditya.
"Pria itu bukan orang biasa." Tutur Jordan seraya memberikan tablet itu pada Aditya. Dalam sekejap, tablet itu sudah berpindah tangan. Aditya jelas sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa pria yang berhasil membawa Milea pergi di hari pernikahan mereka.
__ADS_1
"Kenzie Chandratama.?" Lirih Aditya ketika membaca profilnya. Kedua alis tebalnya menukik tajam hingga bersentuhan. Dia sedang mengingat-ingat nama yang tidak asing itu.
"Salah satu pemilik perusahaan terbesar di Indonesia. Beberapa perusahaan miliknya juga ada di China, Jerman dan New York." Jelas Jordan. Dia tidak mencantumkannya di sana karna merasa informasi itu tidak terlalu dibutuhkan oleh Aditya.
Tapi Jordan salah, Aditya malah tersenyum sinis penuh amarah setelah mendengar informasi tersebut. Dia langsung berfikir kalau Milea memang sengaja meninggalkannya demi laki-laki yang jauh lebih kaya darinya.
Aditya tanpa sadar meremas kuat benda pipih di tangannya. Dia merasa di tipu dan dipermainkan oleh Milea.
Brakk.!!
Aditya meletakkan tablet itu dengan kasar. Jordan sampai terperanjat kaget.
"Hentikan pencarian dan tidak perlu memberikan informasi apapun lagi tentang wanita itu.!" Tegas Aditya geram.
Jordan mengambil tablet itu, dia ragu-ragu saat akan beranjak dari duduknya. Dia punya informasi yang harusnya di dengar oleh Aditya agar tidak salah paham dan menaruh kebencian pada Milea.
Tapi melihat kemarahan Aditya, Jordan jadi berfikir dua kali untuk mengatakannya. Dia takut membuat suasana hati Aditya semakin buruk jika tau kondisi Milea saat ini.
"Apa lagi.?!" Ketus Aditya. Jordan menggelengkan kepala. Dia langsung pamit dan buru-buru keluar dari ruangan Aditya.
Dada Aditya masih naik turun. Amarahnya belum reda setelah mengetahui bahwa Milea meninggalkannya di hari pernikahan demi pria yang lebih kaya darinya.
Predikat wanita baik-baik dan polos seketika lenyap detik itu juga. Kini Aditya malah menganggap Milea tidak lebih baik dari wanita murahan di luar sana yang mengincar harta.
__ADS_1
...******...
1 minggu sejak aksi mencuri ciuman pertama dari Elia, Aditya semakin modus saja setiap harinya. Dia memanfaatkan kepolosan Elia demi keuntungan sendiri. Seperti malam ini, Aditya pura-pura minta dipijat. Dia melepaskan baju dan celananya hingga menyisakan celana da lama saja. Elia sudah protes sejak Aditya terlihat akan melepaskan celana pendeknya, tapi Aditya bilang kalau celananya akan mengganggu saat dipijat di area paha.
Elia yang sudah biasa melihat tubuh Aditya sejak kecil, kini mendadak ingin membuang muka dan enggan melihatnya. Dia merasa ada yang tidak beres dengan jantungnya karna berdetak sangat cepat ketika dihadapkan dengan tubuh sang Kakak yang dipenuhi dengan pahatan indah. Terutama di bagian perut dan dada, juga lengannya yang sedikit berotot. Tubuhnya seperti idol Korea yang memiliki 6 roti sobek menggoda iman.
"Kenapa diam saja.? Mau liburan ke Paris tidak.?" Bujuk Aditya yang sudah terlentang di atas ranjang. Dia berhasil membuat Elia menurut karna di iming-imingi liburan ke Paris berdua.
"Kakak pakai lagi celana pendeknya, aku risih kalau Kakak hanya pakai celana da lam saja." Ujar Elia jujur. Apalagi ketika melihat sesuatu yang menonjol di balik kain segitiga dengan tulisan brand ternama. Pikiran Elia mendadak travelling. Dia tiba-tiba penasaran dengan bentuk pisang pria jika dilihat secara langsung.
Elia dulu pernah tidak sengaja melihat pisang pria dari foto yang dikirimkan temannya, mungkin sekitar 2 tahun yang lalu.
"Sudah jangan banyak protes. Pijat kakinya dulu." Titahnya sembari menggerakkan satu kakinya, memberikan kode pada Elia agar cepat-cepat melihatnya.
"Ck,, menyebalkan.!" Elia menggerutu dengan bibir mencebik, tapi dia menuruti perintah Aditya.
"Setelah ini Kak Adit harus tepati janji. Pokoknya kita liburan ke Paris 1 bulan lagi.!" Rengek Elia, bibirnya masih konsisten mengerucut.
"Jangankan 1 bulan lagi, besok pun bisa. Asal kamu,,," Aditya menggantungkan ucapannya, dia ragu untuk mengatakan kelanjutannya pada Elia. Takut membuat Elia syok. Sebenarnya Aditya sudah tidak sabar untuk membelah duren miliknya, tapi dia tidak mau memaksa Elia, melainkan ingin membuat Elia terbiasa dengan sentuhannya dulu agar nanti tidak merasa terpaksa ketika melakukannya.
"Asal apa.?" Elia mendekat karna penasaran.
"Lupakan. Kamu tau sendiri aku sangat sibuk. Kita akan tetap pergi 1 bulan lagi." Sahutnya.
__ADS_1
Elia menghela nafas kecewa. Padahal dia akan menuruti perkataan Aditya asal secepatnya bisa berlibur ke Paris.