My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 65


__ADS_3

Koper Aditya di bawa oleh supir pribadinya. Sedangkan pemilik koper berjalan tegap mengikuti langkah sang supir menuju garasi mobil.


Perasaan dan pikiran Aditya sedang kacau hari ini. Mulai dari kasus penggelapan dana hotel, honeymoon yang terpaksa di batalkan, lalu disalahkan oleh Dave hingga mendapat kata-kata kasar. Di tambah fakta tentang Elia yang diam-diam mengkonsumsi pil penunda kehamilan.


Wajar kalau saat ini Aditya di penuhi amarah dan kekecewaan, lalu memilih melakukan penerbangan ke Bali lebih awal dari jadwal sebelumnya.


Aditya bukan ingin menghindari masalah yang terjadi di rumah. Baik dengan sang Papa ataupun Elia. Aditya merasa perasaan dan hatinya tidak baik-baik saja setelah mendapatkan masalah bertubi-tubi dalam satu waktu. Dia mencoba menyelamatkan hatinya dengan menjauhkan diri dari Dave dan Elia sementara waktu. Daripada emosinya semakin tidak terkontrol dan hanya akan menimbulkan masalah baru, keputusan ini akan jadi solusi terbaik.


Davina menajamkan penglihatan dari lantai 2. Dia masih sangat mengenali putranya meski dari kejauhan. Davina hanya bingung melihat putranya mengikuti supir pribadi yang membawa koper.


Tidak mau bertanya-tanya sendiri, Davina buru-buru menuruni tangga dan menyusul Aditya.


"Aditya, tunggu nak.!" Seru Davina saat Aditya hampir masuk ke dalam mobil.


Davina menghela nafas, dia sadar putranya akan meninggalkan rumah dengan koper yang baru saja di masukan ke dalam bagasi oleh supir.


Aditya tidak jadi masuk, dia berdiri di samping mobil yang pintunya masih terbuka untuk menunggu Davina menghampirinya.


"Jadwal penerbangan ke Bali masih besok pagi kan.? Kenapa sudah ingin pergi.?" Tanya Davina heran. Dia memindai wajah Aditya dalam jarak dekat. Raut wajah putranya tampak lebih muram dan frustasi dari sebelumnya.


Bagaimana pun, Davina tetaplah seorang ibu yang bisa memahami suasana hati anaknya, meskipun Aditya sudah tumbuh menjadi pria dewasa.


"Aku pikir lebih baik datang lebih awal agar semakin cepat di selesaikan." Jawab Aditya yang enggan mengatakan sebenarnya.


"Maaf tidak sempat pamit karna buru-buru, penerbangannya 1 jam lagi." Ujarnya sembari menatap arloji di pergelangan tangan.


Davina menghela nafas berat. Dia yakin Aditya memang sengaja tidak pamit untuk menghindarinya dan juga Dave. Putranya itu terlihat sangat marah dan kecewa setelah di marahi habis-habisan oleh Dave.


"Kamu sengaja tidak pamit pada kami karna masih marah dengan Papa.?" Tebak Davina.


Aditya menggeleng meski kenyataannya memang benar. Tapi suasana hati Aditya juga sedang tidak bagus jika harus berbicara dengan Dave lagi, jadi memilih pergi begitu saja.

__ADS_1


"Maafkan perkataan Papa dan jangan di ambil hati. Mama sudah menasehati Papamu agar kedepannya lebih bisa mengontrol emosi dan tidak asal bicara." Bujuk Davina seraya menggenggam tangan putranya. Davina menunjukkan wajah sendu penuh sesal, membuat Aditya tidak tega melihatnya.


"Jangan khawatir soal itu, aku baik-baik saja." Aditya mengusap punggung Davina agar wanita paruh baya itu tidak semakin sedih.


"Situasi di sana cukup rumit, jadi harus segera berangkat ke Bali."


"Titip Elia, aku tidak tau berapa lama di Bali. Tapi kemungkinan tidak sebentar." Tuturnya.


Suasana hati Davina yang tadinya sedih, mendadak ingin tertawa karna ucapan putranya.


"Kamu bicara begitu seolah Mama adalah mertua Elia. Elia juga anak Mama, jangan lupa itu. Tentu saja Mama akan menjaga Elia selama kamu di Bali." Sahut Davina.


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan. Kabari kami kalau sudah sampai." Davina memeluk Aditya sekilas.


Aditya mengangguk.


"Aku berangkat dulu." Aditya bergegas masuk ke dalam mobil.


Dia kemudian pergi ke kamar Elia untuk menanyakan sesuatu padanya. Davina yakin Aditya menyembunyikan sesuatu darinya. Jadi dia berencana menanyakan hal itu pada Elia.


Hubungan Aditya dan Elia berjalan cukup baik, keduanya sudah bisa menerima keadaan dan terlihat saling menyayangi di luar status mereka yang awalnya kakak beradik. Davina yakin kalau Aditya banyak bercerita dengan Elia tentang masalahnya karna terlihat sudah sama-sama nyaman. Tapi tanpa Davina tau, sesuatu yang disembunyikan Aditya adalah permasalahannya dengan Elia.


Elia membuka pintu kamarnya setelah pintunya diketuk beberapa kali oleh Davina. Suasana hati Elia sedang kurang baik, jadi tidak mengantar Aditya sampai ke bawah walaupun bisa melakukannya.


"Mah. Ada apa.?" Elia bertanya seraya mengulas senyum yang di paksakan. Elia enggan menunjukkan kesedihannya di depan sang Mama, meski sebenarnya sangat ingin menghambur ke pelukan Davina untuk meluapkan kesedihan.


Davina semakin yakin ada sesuatu yang terjadi dengan Aditya ketika melihat raut wajah Elia juga berubah.


"Boleh Mama masuk.?" Pinta Davina. Dia harus bicara empat mata dengan Elia dari hati ke hati.


Elia mengangguk dan mempersilahkan Davina masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Kini mereka berdua sudah duduk di tepi ranjang, saling diam beberapa saat sampai akhirnya Davina membuka obrolan.


"Tadi Mama melihat Aditya saat akan pergi. Kalau Mama tidak melihatnya, mungkin Mama tidak tau Aditya akan terbang ke Bali malam ini." Tutur Davina.


Elia sedikit syok dan langsung menatap Mamanya. Dia hampir tidak percaya kalau Aditya pergi begitu saja tanpa pamit pada kedua orang tua mereka.


"Adit memang sedang kecewa dengan Papa, Mama bisa memaklumi kalau dia tidak pamit pada Papa. Tapi seharusnya masih bisa pamit pada Mama kan.?" Ujar Davin. Elia mengangguk setuju. Dia jadi menyayangkan sikap Aditya.


"Sebenarnya ada masalah apa.?" Tembak Davina setelah bicara panjang lebar.


"Aditya berusaha menutupinya dari Mama. Apa kamu juga ingin menyembunyikan sesuatu dari Mama mu sendiri.?" Tanya Davina penuh penekan, namun tetap dengan suara yang lembut dan tatapan teduh.


Elia langsung mengerjapkan mata berkali-kali karna matanya mulai perih dan mengembun. Meski sudah berusaha menahan air matanya, pada akhirnya pertahanan Elia runtuh. Dia terisak dan memeluk Davina dari samping.


"Semua ini karna Elia Mah. Elia melakukan kesalahan di belakang Kak Adit." Ujar Elia dengan suara terisak.


Davina menghela nafas berat, feelingnya memang tidak pernah salah.


"Tidak apa kalau ingin menangis dulu. Ceritakan pada Mama kalau sudah merasa lega." Kata Davina seraya memeluk Elia dan mengusap lembut punggungnya.


Hampir 15 menit Elia menangis tanpa mengatakan apapun, dia akhirnya melepaskan pelukannya dan mulai menceritakan masalah yang membuat Aditya marah sampai mempercepat jadwal penerbangan.


"Elia sudah minta maaf dan menjelaskan alasannya, tapi Kak Adit tidak mau tau." Keluh Elia sedih.


"Bagaimana kalau Kak Adit tidak mau memaafkan ku.?" Elia menatap Davina dengan mata yang kembali berkaca-kaca menahan tangis.


"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik. Nanti Mama bantu menjelaskan pada Aditya agar bisa mengerti situasinya. Jangan terlalu dipikirkan, itu bisa menganggu kesehatan kamu."


Davina menggenggam tangan Elia seraya tersenyum lembut.


Elia merasa lebih baik setelah bercerita pada Davina, apalagi Davina mau membantunya bicara dengan Aditya.

__ADS_1


__ADS_2