
Aditya sudah selesai mandi dan bersiap pergi ke kantor. Elia yang mulanya masih rebahan di atas ranjang, perlahan turun dan menghampiri suaminya. Dia mengambil dasi dari tangan Aditya untuk di pasangkan.
Aditya hanya tersenyum tipis, kedua tangannya terlihat nyaman berpegangan di pinggang Elia. Sesekali meremasnya, Elia hanya melotot dengan kelakuan suaminya itu.
Sejak sah menjadi suami istri, Elia baru mengetahui sisi lain Aditya yang cukup membuat Elia geleng-geleng kepala karna tak habis pikir.
Selama 20 tahun menjadi adik Aditya, Elia merasa sudah sangat mengenal dan memahami sifat Kakaknya luar dalam. Tapi ternyata Elia salah besar. Aditya memiliki sisi lain yang hanya di tunjukkan padanya saat sedang berduaan.
Kakaknya yang terkenal cuek dan dingin pada orang lain, rupanya sangat mesin dan panas di atas ranjang.
"Jangan pulang terlalu sore, aku tidak mau ketinggalan pesawat." Ujar Elia.
Padahal malam ini mereka akan terbang ke Swiss untuk bulan madu, tapi Aditya masih menyempatkan berangkat ke kantor lantaran ada hal penting dan mendesak yang harus segera diselesaikan. Belum lagi rapat penting dari jauh-jauh hari yang tidak bisa di tunda.
"Kamu sdah tidak sabar ingin bermain dengan ku di Swiss ya.?" Goda Aditya dengan jahilnya. Bermain yang dimaksud Aditya adalah bermain jungkat-jungkit di atas ranjang.
Elia mendelik, dia reflek mencubit dada bidang Aditya.
Aditya malah terkekeh, lalu meraih sebelah wajah Elia dan menunduk untuk mencium bibir manis milik istrinya. Elia awalnya kaget karna mendadak di cium, tapi setelah itu malah membalas ciuman Aditya. Walaupun belum semahir Aditya, tapi tidak sekaku di awal-awal pernikahan.
Aditya melepaskan ciumannya dan mengacak gemas pucuk kepala Elia.
"Aku harus berangkat sekarang. Cepat mandi, setelah itu sarapan." Titahnya. Elia hanya mengangguk saja.
Pagi ini Aditya berangkat lebih awal, jadi Elia tidak sempat membuatkan sarapan. Aditya bahkan berniat sarapan di kantor karna harus berangkat saat ini juga.
Aditya harus mengumpulkan beberapa karyawan dan orang kepercayaannya. Karna selama 1 bulan akan meninggalkan perusahaan, jadi ada beberapa hal penting yang akan Aditya sampaikan pada mereka.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan," Elia mengecup sekilas pipi Aditya saat mengantarnya keluar kamar.
Elia menutup pintu dan langsung manangkup kedua pipinya yang merona. Terkadang masih malu-malu bersikap romantis seperti itu pada Aditya.
Elia lalu beranjak ke kamar mandi, dia harus buru-buru mandi sebelum nanti Aditya menelfonnya.
Sejak Elia lulus kuliah dan hanya di rumah saja, Aditya tidak pernah absen melakukan panggilan vidio ketika sudah sampai di kantor. Elia sampai bingung, karna terkadang Aditya hanya menelfon beberapa detik saja. Sekedar bertanya Elia sedang apa, lalu mengakhiri panggilan setelah Elia menjawabnya.
...*****...
Siang itu Elia sedang memoles make up tipis di wajahnya. Dia akan pergi ke pusat perbelanjaan sekaligus makan siang dengan sahabatnya sebelum dia berangkat bulan madu ke Swiss selama 1 bulan. Sudah 1 minggu tidak bertemu dengan sahabatnya, membuat Elia merindukan canda dan tawa mereka. Untungnya Aditya memberikan ijin meskipun hanya di beri waktu 3 jam.
"Mau kemana El.?" Suara Davina terdengar dari ruang keluarga ketika Elia sedang menuruni tangga.
Elia menoleh ke sumber suara setelah menyelesaikan pijakan anak tangga terakhir.
"Berangkat sendiri atau di antar supir.?" Tanya Davina.
Wajah Elia langsung cemberut. Davina jadi terkekeh karna tau jawabannya.
"Anak Mama kenapa semakin posesif. Apa tampangku seperti pembohong.? Aku hanya bertemu dengan sahabatku, mana berani untuk macam-macam di belakang Kak Adit." Keluh Elia yang sudah duduk di samping Davina dan bergelayut manja di lengannya.
Davina terkikik geli, dia jadi ingat sifat Dave. Anak dan ayah itu benar-benar seperti foto copyan. Bukan hanya wajahnya saja yang mirip, tapi sifat dan karakternya juga sama. Aditya gambaran Dave ketika muda, hanya saja Davina masih bisa mengontrol Aditya. Jadi putranya itu tetap berada di jalan yang lurus, tidak berbuat macam-macam pada anak gadis orang.
"Itu tandanya Aditya peduli dan cinta sama kamu, jadi tidak mau terjadi sesuatu." Turut Davina.
Elia mengangguk paham meski bibirnya mencebik. Dia merasa tidak bebas karna harus pergi di antar supir. Tapi mau bagaimana lagi, daripada tidak di ijinkan pergi.
__ADS_1
...*****...
Jordan tergesa-gesa menyusul Aditya yang baru saja keluar dari ruang rapat. Jordan memiliki kabar buruk yang harus segera di sampaikan pada Aditya.
"Tuan, tunggu sebentar." Panggil Jordan setengah berteriak.
Aditya menghentikan langkah, padahal dia sedang buru-buru karna ingin menghubungi Elia untuk memastikan istrinya itu sudah sampai di pusat perbelanjaan atau atau masih ada di jalan.
Aditya melirik arloji di tangannya, sudah pukul 11 lewat. Kemungkinan Elia sudah sampai di pusat perbelanjaan karna berangkat jam 11 dari rumah.
"Ke ruangan ku." Titah Aditya tegas. Dia melanjutkan langkah dan pergi ke ruangannya tanpa peduli Jordan menyusulnya atau tidak.
Sampai di ruangan kerja, Aditya melepaskan jasnya dan meletakkannya di senderan kursi sebelum duduk di sana.
Jordan duduk gelisah di depan Aditya. Dia seolah kehilangan suara di depan Aditya, sampai akhirnya memutuskan menyodorkan macbook pada Aditya supaya pira itu bisa membacanya sendiri.
Aditya tampak fokus pada macbook karna penasaran dengan informasi yang akan di sampaikan asisten pribadinya. Beberapa sat6 kemudian, wajah Aditya terlihat memerah dengan rahang mengeras dan kedua mata melotot tajam.
"Penggelapan dana pembangunan hotel.? Bagaimana bisa.!" Seru Aditya penuh penakan dan emosi. Hotel bintag 5 yang sedang di bangun perusahaan Aditya tidak main-main nilainya, karna berada di Bali dan akan menjadi salah satu jejeran hotel termewah.
Bisa di bayangkan berada dana yang digelapkan untuk ukuran pembangunan hotel yang bernilai triliunan tersebut.
"Cari indetitas pelaku utama dan komplotannya sampai ketemu.!" Perintah Aditya tegas.
"Tapi Tuan, sepertinya kita harus terjun langsung ke lapangan untuk memeriksa orang-orang yang terlibat dalam proyek ini. Pelaku cukup pintar, dia bermain cantik sampai sulit di lacak." Usul Jordan.
Aditya terdiam, dia sedang mempertimbangkan usul dari Jordan karna cukup efektif untuk menemukan pelaku. Namun di sisi lain, Aditya juga memikirkan bulan madunya bersama Elia.
__ADS_1
Kalau memilih pergi ke Bali untuk menyelesaikan masalah disana, Elia mungkin akan kecewa karna batal pergi ke Swiss.