My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 52


__ADS_3

Aditya duduk di tepi ranjang seraya menggaruk tengkuknya. Dia menatap tubuh Elia di balik selimut tebal. Elia berbaring dengan posisi memunggungi Aditya. Wanita itu marah lantaran dipaksa Aditya agar memijat paha bagian atasnya. Sebenarnya Elia tidak keberatan memijat paha Aditya kalau saja pria itu memakai celana dengan benar, bukan hanya memakai kain segitiga warna hitam saja. Elia jadi risih dan malu sendiri, apalagi tonjolan di tengah-tengah paha itu cukup besar, Elia jadi tidak bisa fokus.


"Begitu saja marah. Aku hanya minta dipijat, bukan minta yang aneh-aneh." Ujar Aditya tanpa merasa perbuatannya cukup aneh dan menjengkelkan bagi Elia.


Kalau pernikahan mereka melalui proses yang normal dan wajar, mungkin Elia tidak akan marah jika diminta memijat Aditya sekalipun Aditya telanjang bulat.


Elia menyibak selimut dengan geram dan langsung menatap tajam Aditya.


"Kakak pikir dipijat hanya pakai celana da-lam saja tidak aneh.?!" Gerutu Elia kesal.


"Sudah seperti ped ofil saja.! Mesum." Cibirnya dan kembali membungkus tubuh dengan selimut.


"Ck,,!! Kamu bahkan tidak tau arti ped ofil." Aditya balik mencibir. Padahal ped ofil ada sebutan untuk orang yang memiliki ketertarikan atau nafsu pada anak-anak di bawah usia 13 tahun. Sedang Elia sudah berusia 21 tahun, jadi bukan termasuk anak-anak lagi.


"Tau, bukannya orang seperti Kak Adit bisa dibilang pedo fil." Sahut Elia cepat.


"Kamu ini.!" Aditya langsung merebahkan diri di samping Elia dan memeluknya erat dari belakang.


Elia berteriak histeris dan memberontak minta dilepaskan. Tapi bukan Aditya namanya kalau melepaskan Elia begitu saja, dia ingin menjahili adik sekaligus istrinya itu.


"Kamar ini kedap suara El, teriak pun percuma." Aditya sengaja berbisik ditelinga Elia dan menempelkan bibirnya di sana. Elia tampak merinding dengan mata terpejam. Hembusan nafas Aditya dan sentuhan bibirnya mengalirkan getaran yang tidak biasa.


Entah setan apa yang merasuki pikiran Aditya sampai berniat menjahili Elia. Pria itu kembali membisikkan sesuatu di telinga Elia yang membuat Elia memaku dan diam seribu bahasa.


"El, apa kamu lupa kalau kita belum melewati malam pertama.? Harusnya kita sudah bercinta dari 2 minggu yang lalu." Bisiknya dengan suara berat dan dalam. Bagaimana Elia tidak memaku seperti patung, padahal tadi memberontak seperti cacing kepanasan di dalam dekapan Aditya. Sekarang malah tidak bergerak sama sekali, bahkan jantungnya juga ikut berhenti berdetak.

__ADS_1


"Bagaimana kalau sekarang saja.?" Kali Aditya bukan hanya berbisik, tapi dia menjulurkan lidahnya untuk menyapu telinga Elia.


Gadis yang semula diam memaku, tiba-tiba menggeliat dan mengeluarkan lenguhan kecil. Lenguhan yang membuat Aditya reflek menelan saliva. Dia tiba-tiba ter-angsang, padahal tadi hanya berniat menjahili Elia saja. Tapi suara lenguhan seksi itu malah membangunkan burung yang sejak tadi tidur.


Sepertinya setelah ini Aditya akan berubah pikiran. Bukan lagi menjahili Elia, tapi malah meminta haknya.


"Jangan bercanda Kak.!" Seru Elia panik. Dia menepis tangan Aditya yang sudah bergerilya di atas dua aset kenyal miliknya.


"Kita tidak pernah melakukannya kan.? Aku adikmu,," Tuturnya dengan wajah pucat.


Walaupun Elia sadar dia dan Aditya sudah resmi menikah dan boleh melakukan apapun, namun Elia tidak pernah berfikir untuk melakukan adegan suami istri. Dia juga menganggap pernikahannya hanya untuk sementara. Elia tidak mau menghapus status kakak beradik yang sejak kecil sudah melekat diantara dia dan Aditya.


"Kita sudah menikah kalau kamu tidak lupa. Jadi kita berdua suami istri, bukan kakak adik lagi." Sahut Aditya. Nalurinya semakin menuntun untuk berbuat lebih, kini Aditya membalik paksa tubuh Elia hingga berhadapan dengannya.


"Tapi Kak, aku tidak ma,,"


Aditya sudah membungkam bibir Elia sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya. Dia mengecup singkat untuk melihat respon Elia. Saat melihat Elia hanya diam saja, Aditya langsung mengulum senyum karna merasa mendapat angin segar. Detik berikutnya bibir mereka kembali menyatu, kali ini Aditya melu-mat dan menye-sapnya dengan gerakan lembut namun dalam.


Elia hanya diam saja dengan tatapan mata menerawang. Entah menikmati atau justru syok dengan ulah Aditya, yang jelas Elia tidak memberontak.


Elia sekuat tenaga mendorong dada Aditya. Dia tidak mau jika menyerahkan kesuciannya pada pria yang masih dia anggap sebagai Kakak kandungnya sendiri sampai detik ini. Rasanya pasti akan sangat canggung dan menggelikan. Seperti berbuat mesum dengan saudara sendiri.


"Elia.!" Pekik Aditya saat tubuh menggelinding dan jatuh dari ranjang. Elia mendorongnya terlalu kuat sampai-sampai Aditya terpental di lantai.


Elia terkekeh geli melihat tubuh besar Aditya menggelinding di lantai, apalagi pria itu hanya memakai celana da-lam. Jika dilihat-lihat, Aditya seperti model celana da-lam brand ternama yang memiliki tubuh seksi dengan pahatan-pahatan menggoda di bagian perut dan dada.

__ADS_1


"Maaf Kak, tapi aku tidak bisa mesum dengan kakakku sendiri." Kata Elia yang masih terkekeh. Dia buru-buru turun dari ranjang dan berniat keluar dari kamar. Tapi Aditya lebih sigap, pria itu berhasil menangkap Elia dan menggendongnya.


"Aaaa,,, turunkan aku kak.! Aku tidak mau berbuat mesum.!" Teriak Elia panik.


"Tidak boleh menolak ajakan suami.!" Tegas Aditya dan kembali ke ranjang.


Aditya duduk di tepi ranjang, membuat Elia yang tadi berada di gendongannya, otomatis jadi duduk di pangkuan Aditya.


"Kita coba dulu, kalau tidak enak bilang saja." Lirihnya dengan suara berat menahan gairah. Aditya mulai melepaskan satu persatu kancing piyama Elia.


Elia melotot tak habis pikir. Bisa-bisanya minta di coba dulu, seperti barang saja.


"Mana bisa seperti itu.!" Protes Elia seraya memukul pelan dada Aditya.


"Bisa, makanya kita coba sekarang." Aditya tersenyum lebar, senyum menawan itu mendadak membuat Elia merinding. Dia tidak menyangka Kakaknya bisa semesum ini.


"Kak,,!" Pekik Elia kaget. Dia reflek menahan tangan Aditya yang sempat meremas salah satu asetnya di balik kacamata kuda.


"Kamu adik yang tidak patuh.!" Gerutu Aditya dan langsung menahan kedua tangan Elia agar tidak bisa memberontak. Aditya menahan tangan Elia menggunakan satu tangan, dan tangan lainnya dia gunakan untuk memberikan rangsangan pada tubuh Elia.


"Kak Adit sudah,, Eugh,,,!" Elia tanpa sadar melenguh, dia buru-buru menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan lenguhan lagi.


Sementara itu Aditya tampak tersenyum puas dengan reaksi alami dari tubuh Elia. Dia tau Elia pasti akan menerima rangsangannya dengan baik, terlebih istrinya itu belum pernah disentuh oleh siapapun.


Aditya semakin gencar saja memainkan aset itu dengan satu tangan dan mulutnya, kelamaan membuat Elia tidak tahan dan akhirnya mendes-sah. Aditya kemudian melepaskan kedua tangan Elia karena tidak ada perlawanan lagi.

__ADS_1


"Enak.?" Tanya Aditya dengan bibir yang masih melahap pucuk semeru, namun kepalanya mendongak menatap wajah Elia untuk melihat reaksinya.


Elia menganggukkan kepala, dia terlalu jujur menjawab pertanyaan Aditya. Tapi setelah itu Elia memalingkan muka karna malu.


__ADS_2