My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 71


__ADS_3

Suasana di ruang VIP itu sudah seperti pasangan yang sedang triple date. Apalagi Aditya menyuruh Juna agar duduk di samping Jihan. Tidak tau apa maksudnya, yang jelas hanya Aditya dan Juno saja yang tau.


Karna sudah duduk sebelahan, mau tidak mau Juno jadi mengajak Jihan bicara. Hanya sekedar basa-basi saja, tapi Jihan meresponnya dengan antusias. Mungkin karna dasarnya Jihan orang yang humble, gampang akrab dengan orang. Lagipula Jihan juga sudah beberapa kali bertemu dengan Juno di beberapa kesempatan, walaupun tidak pernah mengobrol sebelumnya.


Aditya juga tampak sedang mengobrol dengan Alex. Lalu Elia membicarakan fashion dengan pacar Alex yang merupakan seorang designer.


Semua orang tampak fokus dan asik membicarakan sesuatu dengan lawan bicaranya masing-masing.


"Pacar Kak Juno kenapa tidak ikut.?" Tanya Jihan begitu selesai membahas obrolan tentang dunia bisnis di bidang kuliner.


Juno tersenyum masam. Jihan langsung bisa menangkap sinyal-sinyal yang tidak menyenangkan dari raut wajah Juno.


"Kamu kapan mulai kuliah.?" Juno malah mengalihkan pembicaraan, kelihatan sekali kalau dia tidak ingin menjawab pertanyaan Jihan.


Bukannya kepo, tapi niat Jihan cuma ingin basa-basi saja. Apalagi Alex juga membawa pacarannya. Ditambah Aditya sudah menikah, yang pastinya akan membawa istrinya. Tapi Juno malah datang sendiri.


Pengen mengulik lebih jauh, namun Jihan takut membuat Juno tidak nyaman. Jihan hanya bisa menebak, mungkin terjadi sesuatu dengan hubungan Juno dan pacarnya.


Walaupun 3 bukan yang lalu Juno menggandeng pacarannya saat menghadiri acra pernikahan Aditya dan Elia. Jihan masih mengingatnya karna sempat berpapasan dengan Juno dan saling melempar senyum sekilas.


"Mungkin mulai minggu depan. Tapi belum pasti, masih menunggu info." Jawab Jihan. Dia juga bersikap biasa saja, tidak mempermasalahkan Juno yang enggan menjawab pertanyaannya. Jihan tidak mau memaksa, lagipula bukan urusannya.


"Kak Juno sibuk apa saja selain mengelola bisnis dengan Kak Adit.?" Jihan menatap antusias sambil sesekali memakan dessert.


Juno memberitahu kalau dia juga memiliki pekerjaan sampingan, mendesign bangunan seperti hotel, mall, rumah sakit dan masih banyak lagi. Dia bekerja sama dengan beberapa perusahaan, termasuk perusahaan Aditya.


Jihan mengangguk-angguk paham, sesekali melemparkan pertanyaan yang ingin dia ketahui tentang design.


Ini pertama kali mereka punya banyak waktu untuk mengobrol berdua, tapi sudah terlihat nyambung. Ada saja topik yang menjadi pembahasan, terkadang sampai tertawa bersama. Mungkin saking nyamannya dengan pembahasan mereka.


...****...


"Kamu sakit.?" Aditya menempelkan punggung tangannya di kening Elia. Istrinya itu tiba-tiba menyenderkan kepala di bahunya. Padahal tadi terlihat semangat mengobrol dengan Lucy, tapi tau-tau berubah lesu dan tampak lemas.


"Tidak tau, tiba-tiba lemas dan tidak mood." Jawab Elia lirih.


Dia mendadak kehilangan tega, tidak mood, tidak nyaman dengan suasananya. Padahal tadi enjoy-enjoy saja, tidak ada masalah.


"Mau pulang saja.?" Tawar Aditya.

__ADS_1


Dia sebenarnya masih ada beberapa hal lagi yang ingin di bicarakan dengan Alex dan Juno, tapi kondisi Elia tampak tidak memungkinkan.


Aditya lebih baik memprioritaskan Elia dulu, menanyakan apa yang diinginkan Elia, daripada memaksa untuk tetap di restoran.


"Tidak apa-apa kalau pulang.? Tapi Kak Adit belum selesai meeting kan.?" Elia merasa tidak enak kalau meetingnya terpaksa di akhiri gara-gara dia, padahal belum selesai.


Apalagi tadi ketiga pria itu sedang serius membahas sesuatu.


"Meeting bisa dilanjutkan lain kali, yang penting kamu nyaman dulu." Jawab Aditya seraya mengusap lembut sebelah pipi Elia.


"Ya sudah, kita pulang saja." Ujarnya.


Aditya mengangguk cepat, dia kemudian mengakhiri meeting dan pamit pulang.


"Tidak seru, sekarang bahkan baru jam 9 El." Jihan memasang wajah cemberut. Dia masih betah di sana, lagipula sekarang malam minggu.


Kalau di New York, dia bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi di luar rumah.


"Aku juga tidak mangajakmu pulang." Sahut Aditya cuek.


"Disini saja kalau masih betah. Minta tolong Juno untuk mengantarmu pulang. Lagipula di luar juga banyak taksi kalau Juno tidak bisa mengantarmu." Ujarnya panjang lebar sambil menggandeng tangan Elia.


Jihan tersenyum senang. Dia setuju tetap tinggal di restoran bersama Juno dan yang lainnya.


"Baik, aku akan sampai di rumah sebelum jam 11." Sahutnya.


"Kami duluan." Seru Elia.


"Ya, hati-hati di jalan." Jihan dan Lucy yang merespon.


Tiba-tiba Alex juga beranjak dari duduknya sambil menggandeng tangan Lucy.


"Ayo sayang, ke apartemennya sekarang aja. Aku sudah tidak tahan."


Jihan melongo. Dia bukan gadis polos yang tidak tau maksud ucapan Alex. Apalagi tatapan mata Alex pada Lucy yang seperti ingin menerkamnya hidup-hidup.


Jihan sebenarnya sudah biasa berada dilingkungan dengan pergaulan bebas, jadi bukan hal yang tabu kalau sepasang kekasih berhubungan badan. Hanya saja dia kaget karna Alex bisa bicara terang-terangan di depan dia dan Juno.


"Sayang,,!" Protes Lucy lirih. Dia terlihat malu karna Jihan dan Juno menatap ke arah mereka gara-gara ucapan Alex.

__ADS_1


Alex malah terkekeh. Dia kemudian pamit pada Juno dan Jihan. Mau tidak mau, Lucy juga ikutan pamit.


"Jihan, aku duluan."


"Ya Kak Lucy, hati-hati mainnya. upss,," Jihan menyengir kuda.


"Maksudku hati-hati di jalan." Katanya sambil terkekeh. Lucy semakin terlihat menahan malu dan buru-buru keluar dari ruangan itu bersama Alex.


Kini tinggal Juno dan Jihan di ruangan tersebut.


"Mau pesan makanan lagi.?" Tawar Juno karna semua makanan Jihan sudah habis.


"Aku tidak serakus itu Kak." Jawab Jihan dengan lirikan malas.


"Bagaimana kalau minum vodka saja. Restoran semewah ini pasti menyediakan minuman itu kan.?" Tebak Jihan yakin.


Juno menggeleng. Bukan karna restoran itu tidak menyediakan minuman beralkohol, tapi menggeleng karna melarang Jihan minum alkohol.


"Jangan macam-macam, Juno bisa mencincang ku kalau tau kamu minum vodka disini."


Karna Juno yang dititipi Jihan, dia jadi merasa bertanggungjawab sepenuhnya pada Jihan selama sedang bersamanya.


"Ya ampun, apa kita akan mengobrol saja disini sampai jam setengah 11.? Membosankan sekali." Keluh Jihan sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Juno baru akan merespon, tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Ada panggilan masuk dari bosnya yang beberapa waktu lalu menawarkan kerja sama untuk design sebuah hotel.


Jihan hanya diam saja sambil memperhatikan Juno yang sedang menerima telfon.


"Baik, akan saya kirimkan filenya 30 menit lagi."


Juno kemudian memutuskan sambungan telfonnya.


"Kita ke apartemen ku sebentar, ada file yang harus aku kirim. Setelah itu aku antar kamu pulang." Ucapnya pada Jihan.


"Itu lebih bagus, aku juga sudah bosan disini." Jihan beranjak dengan semangat dari duduknya.


Juno sampai tersenyum tipis melihat tingkah konyol Jihan.


Keduanya kemudian keluar dari restoran dan pergi ke apartemen Juno.

__ADS_1


__ADS_2