My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 55


__ADS_3

Aditya melambatkan langkah ketika menyadari Elia berjalan sedikit tertatih. Aditya sudah tau penyebabnya karna dia sendirilah pelakunya. Pelaku yang sudah membuat Elia mengalami kesulitan saat berjalan.


"Apa masih sakit.?" Tanyanya khawatir.


Ditanya seperti itu, wajah Elia seketika merona menahan malu. Belum lagi dengan tatapan mata Aditya, Elia semakin malu di buatnya. Setelah tragedi mandi bersama, Elia selalu merasa dirinya terlihat telanjang di mata Aditya. Jadi dia selalu memutus pandangan jika tanpa sengaja bertatap mata dengan Aditya.


Elia menganggu menjawab pertanyaan Aditya.


"Hum. Tapi tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Jawabnya sedikit berbohong. Mana mungkin bisa baik-baik saja saat merasakan sakit dan perih pada area intinya. Sejak tadi Elia berusaha menahan diri agar tidak mengeluh sakit di depan Aditya lantaran malu.


"Nanti aku belikan obat pereda nyeri, sekarang kita sarapan dulu." Aditya merengkuh pinggang Elia dan kembali mengajaknya berjalan ke ruang makan.


Elia tidak menginterupsi ketika Aditya mengatakan akan membelikan obat. Dia memang sangat membutuhkan obat pereda nyeri itu karna merasa semakin tidak nyaman ketika dipaksa untuk berjalan jauh, apalagi menuruni tangga. Cara jalannya jadi terlihat aneh. Sekarang Elia malah mengkhawatirkan reaksi Mamanya jika melihat jalannya aneh seperti itu.


Melihat situasi rumah sangat sepi, tanpa sadar keduanya menghela nafas lega. Setidaknya untuk saat ini mereka terbebas dari interogasi kedua orang tuanya, jadi bisa menghabiskan sarapan dengan tenang.


Kedua yakin akan dicecar pertanyaan oleh Davina dan Dave karna bangun terlalu siang. Mereka merasa lega karna orang tuanya tidak terlihat sejak tadi.


Aditya dan Elia menyantap sarapan dengan tenang tanpa ada obrolan apapun. Elia selalu menundukkan wajahnya, dan Aditya paham kalau saat ini Elia sedang malu padanya. Jadi Aditya sengaja tidak mengajak Elia bicara, takut membuat Elia tidak nyaman menelan makanannya.


Pikiran Elia berkecambuk sejak tadi. Potongan peristiwa-peristiwa panas tadi malam dan kejadian di kamar mandi selalu muncul di kepalanya. Pengalaman pertama itu cukup membuat Elia gelisah dan terbayang-bayang.


Tak jarang Elia perang batin dengan dirinya sendiri karna merasa salah sudah berbuat sejauh itu bersama pria yang sejak dulu menjadi Kakaknya.


Meski Elia sadar bahwa status mereka sudah berubah, tapi masih sulit menganggap perbuatan mereka sah-sah saja. Mungkin Elia masih butuh waktu untuk menyesuaikan keadaan dan status yang tiba-tiba berubah.

__ADS_1


Aditya menghabiskan sarapannya, lalu meneguk air minum. Pria itu kemudian menatap Elia yang masih mengunyah makanannya.


"Sebaiknya kamu kembali ke kamar lagi setelah ini. Nanti aku antar obatnya ke kamar kalau sudah sampai." Ujarnya.


"30 menit lagi aku harus pergi, Alex dan Juno menunggu di cafe." Lanjut Aditya sembari menatap jam di pergelangan tangannya.


Elia mendadak cemberut. Bukan apa-apa, dia merasa kesal karna Aditya akan pergi di waktu yang tidak tepat. Elia sudah stres duluan membayangkan jika kedua orang tuanya mengajukan banyak pertanyaan dan Aditya tidak ada di rumah untuk membantunya menghadapi orang tua mereka.


Melihat perubahan wajah Elia yang mendadak kusut, Aditya malah salah paham. Dia jadi kegeeran karna berfikir Elia masih ingin berduaan dengannya. Jadi memasang wajah cemberut saat pamit akan pergi.


"Tidak suka aku pergi.? Apa yang di kamar mandi masih kurang.?" Aditya bertanya dengan bangga. Apalagi sambil membayangkan ekspresi wajah Elia dan desa-han penuh kenikmatan dari bibir seksinya. Aditya terlalu percaya diri bahwa dia sangat hebat karna bisa membuat Elia tidak berdaya di bawah kendalinya.


"Kak.!!" Pekik Elia panik. Dia segera mengedarkan pandangan ke sekelilingnya karna takut ucapan gila Aditya di dengar orang lain.


Aditya malah terkekeh melihat kepanikan di wajah Elia yang tampak menggemaskan. Tangannya tidak tahan untuk mengacak pucuk kepala Elia.


Elia menurut, setidaknya ada Aditya di sampingnya jika nanti berpapasan dengan kedua orang tuanya. Elia tidak mau sendirian menghadapi cecaran pertanyaan dari kedua orangtuanya. Selain bingung harus menjawab apa jika di tanya macam-macam, Elia juga takut salah bicara yang akhirnya hanya akan mempermalukan diri sendiri.


Sepertinya ketakutan Elia menjadi kenyataan. Disaat dia dan Aditya tengah menaiki tangga, Davina dari atas berjalan ke arah tangga untuk turun ke lantai bawah.


Elia reflek mencubit lengan kokoh Aditya, dan berbisik.


"Kak, ada Mama." Ujarnya dengan mengarahkan pandangan pada Davina supaya Aditya juga melihatnya.


"Ya, aku melihatnya." Aditya menjawab santai. Lagipula apa yang harus dia cemaskan. Tidak masalah meskipun nanti Davina akan menginterogasi dengan mengajukan banyak pertanyaan. Justru Aditya ingin membuat kedua orang tuanya tau kalau dia dan Elia sudah melewati malam pertama yang panas.

__ADS_1


Elia melongo tak percaya. Bagaimana bisa Aditya bersikap sesantai itu.


"Kalau begitu Kak Adit saja yang bicara kalau Mama bertanya sesuatu." Kata Elia dengan bibir cemberut.


Aditya mengangguk setuju, dia berkata jujur kalau Davina bertanya apa yang membuat mereka bangun kesiangan.


Saat mereka berpapasan, Elia berusaha bersikap biasa dan menyapa Davina.


"Ternyata kalian sudah turun, pantas saja tidak ada yang menjawab. Tadi Mama mengetuk pintu kamar kalian." Tutur Davina. Dia baru saja mengetuk pintu kamar Elia untuk membangunkan mereka yang belum terlihat keluar dari kamar, Davina pikir mereka berdua masih tidur.


"Hum,, Aku dan Kak Adit baru selesai sarapan." Tutur Elia. Dalam hati dia merasa lega karna Mamanya tidak bertanya macam-macam.


Tapi sayangnya pemikiran Elia keliru, Davina sekarang menatap putranya yang wajahnya terlihat lebih cerah dan sumringah. Tidak datar seperti biasanya. Hal itu membuat Davina tersenyum tipis penuh arti.


Puluhan tahun berumah tangga, Davina sangat paham wajah-wajah para suami setelah puas mendapatkan jatah. Dan raut wajah Aditya saat ini, persis seperti Dave setelah puas bercinta dengannya. Sekarang Davina tidak ragu lagi kalau kedua anaknya baru saja melewati malam panas dan panjang tadi malam.


"Lain kali jangan mengajak Elia bergadang, mulai lebih awal kan bisa." Ucap Davina penuh akan makna. Aditya langsung paham hanya sekali mencernanya, berbeda dengan Elia yang bahkan tidak mengerti maksud ucapan Mamanya.


"Itu juga sudah lebih awal, tapi tidak bisa berhenti." Jawab Aditya tanpa malu sedikitpun. Davina sampai menggelengkan kepalanya, dia heran sekaligus senang karna malam panas itu benar-benar terjadi.


"Kasian Elia, jangan membuatnya kelelahan." Kata Davina seraya melirik Elia seraya tersenyum. Elia mendadak salah tingkah, sekarang dia baru paham apa yang sedang di bahas oleh Aditya dan Davina.


"Hem, aku mengerti. Sekarang Elia butuh istirahat, ayo." Aditya menggandeng Elia dan mengajaknya ke kamar.


"Elia ke kamar dulu Mah,," Seru Elia saat melewati Davina.

__ADS_1


"Ya. Ingat jangan lakukan lagi Dit, masih ada hari esok." Goda Davina kemudian terkikik geli.


Wajah Elia semakin merona mendengar ucapan Davina.


__ADS_2