My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 49


__ADS_3

Di sebuah rumah mewah bergaya Eropa dengan cat di dominasi warna putih. Tampak seorang wanita cantik tengah berdiri di balkon kamar. Hembusan angin membuat rambut panjangnya bergerak-begerak. Dia membiarkan setiap helai rambutnya mengikuti gerakan angin, terombang-ambing seperti nasib dan perasaannya saat ini.


Matanya yang bulat terlihat sangat sembab karna menangis setiap hari. Dia menangisi nasibnya yang malang karna gagal menikah. Impiannya seketika hancur akibat perbuatan bejad seorang pria 5 minggu yang lalu. Pria yang telah menghancurkan masa depannya dan membuatnya kehilangan calon suami yang amat dia cintai.


"Aarrghhh..!! Aku tidak mau mengandung anaknya.!! Pria breng-s3k.!!!" Dia berteriak histeris sembari memukul perutnya berkali-kali. Air matanya kembali bercucuran. Tubuhnya perlahan merosot dan bersimpuh di lantai dengan kedua tangan yang tidak berhenti memukuli perutnya sendiri. Kehadiran anak itu tidak di harapkan, terlebih pemilik benihnya bukan pria baik-baik.


Ya, mana mungkin pria baik tega merenggut paksa kesucian seorang wanita yang bahkan tidak pernah saling mengenal atau bertemu sebelumnya. Pria itu dengan kesadaran penuh melakukan aksi biadabnya dan menutup mata serta telinga ketika wanita tersebut memberontak dan memohon agar dilepaskan.


Udara malam semakin menusuk, namun wanita itu masih bersimpuh di balkon dengan memeluk lututnya sambil terus menangis meratapi takdir.


Wanita yang tak lain adalah Milea. Entah bagaimana bisa takdir membawa Milea pada pria biadap yang membuat impiannya sirna dan acara pernikahannya batal.


Milea mengangkat wajah ketika mendengar pintu kaca di buka. Tatapanya berubah tajam saat melihat sosok pria yang sudahmenghancurkan hidupnya. Tangan Milea mengepal kuat. Amarah Milea tampak berkobar seperti ingin membunuh pria tersebut.


"Dasar iblis.!!" Teriak Milea penuh amarah.


Bukannya marah karna disebut iblis, pria itu malah tersenyum tipis dan berjongkok di depan Milea. Tangannya mengusap air mata di pipi Milea, membuat Milea menepis jijik.


Lagi-lagi pria itu tersenyum setelah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Milea.


"Seperti ini caramu menyambut suami pulang.?" Tanyanya seraya berdecak dengan gelengan kepala.


"Tidak romantis sama sekali." Keluhnya. Wajahnya tampak cemberut dan Milea tau pria itu hanya pura-pura kesal.


"Berhenti menyebut dirimu sebagai suami.!! Kamu sangat menjijikkan.!" Teriak Milea. Emosinya sulit dikendalikan setiap kali berbicara dengan pria itu. Dendam dan sakit hati membuat perasaan Milea diselimuti amarah serta kesedihan dalam satu waktu.


Pria itu tiba-tiba merengkuh tubuh Milea dan menggendongnya.

__ADS_1


"Kamu terlalu sering membentaku." Ujarnya begitu Milea berada dalam gendongannya.


Milea tentu tidak diam saja, diam kembali berteriak, membentak dan mencaci maki pria itu serta memintanya agar diturunkan.


Bukkk.!


Tubuh Milea di jatuhkan pelan hingga terjerembab di kasur empuk berukuran besar. Saat akan bangun, bahunya malah di tahan pria itu hingga kembali berbaring di ranjang.


"Mau kemana hmm.? Ini sudah larut malam, kamu dan anak kita harus istirahat." Ujarnya seraya mengusap perut Milea menggunakan satu tangannya. Mata Milea melotot tajam, dia tidak terima setiap kali pria itu mengusap perutnya.


Bukannya merasa senang karna pria itu bertanggungjawab dan sangat perhatian dengan kehamilannya, Milea malah merutuki setiap perbuatan ayah biologis dari bayi dalam rahimnya.


Tidak peduli meski parasnya tampan, tubuhnya sempurna, harta dan kekayaan berlimpah seperti Aditya. Bagi Milea, pria itu tetap brengs3k dan baji ngan.


"Jangan menutup mata kalau malam itu calon suamimu menlanjutkan acara dengan menikahi wanita lain. Apa salahnya kamu memaafkanku dan memulai dari awal." Ujarnya dengan satu tangan menangkup pipi Milea.


"Semua ini tidak akan terjadi kalau kehormatanku tidak di ambil paksa oleh pria brengs3k sepertimu.!" Teriak Milea penuh amarah.


Seandainya saja malam nahas itu tidak pernah terjadi, Milea pasti tidak akan pergi di hari pernikahannya karna positif hamil.


Dia terpaksa pergi setelah mendapat pesan dari nomor asing yang mengirimkan bukti surat kehamilannya dan memintanya agar meninggalkan tempat acara kalau tidak ingin mempermalukan Aditya serta keluarganya.


"Hey,, tapi kamu sempat menikmatinya sayang." Sahutnya menggoda. Dia mengedipkan sebelah matanya pada Milea.


"Tutup mulutmu Kenzie.!!" Geram Milea. Dia menekankan kalimatnya dengan penuh amarah, namun pria yang memiliki nama lengkap Kenzie Chandratama itu justru terkekeh gemas.


...******...

__ADS_1


Suasana berbeda terjadi di kamar dan rumah yang berbeda. Dalam keadaan lampu temaram, Elia tampak kesulitan memejamkan matanya.


Harusnya Elia merasa lebih tenang dan jauh lebih baik setelah mengunjungi makam dan menangis sepuasnya disana, tapi yang ada malah dia tidak bisa tidur. Semua itu gara-gara Aditya tidur sambil memeluknya dari belakang. Sebenarnya Elia tidak akan gelisah kalau hanya sekedar memeluk saja, tapi kenyataannya tangan Aditya sangat mesum.


"Kak,, jangan begini." Keluh Elia ketiga kalinya. Dia bicara sambil menyingkirkan tangan Aditya dari atas daging kenyal miliknya. Aditya yang pulas tertidur tentu saja tidak mendengar perkataan Elia, dia hanya menggeliat kecil dan memeluk erat tubuh Elia.


Tangannya sudah berpindah ke perut, tapi itu tidak akan bertahan lama karna sebentar lagi pasti akan kembali menyentuh aset Elia. Elia sangat yakin karna kejadian itu sudah ketiga kalinya.


Benar saja, belum ada 2 menit, Elia kembali merasakan asetnya di tangkup oleh telapak tangan Aditya yang lebar itu.


"Kak Adit.!!" Teriak Elia kesal. Suara teriakannya berhasil membuat Aditya membuka mata. Pria itu melepaskan pelukannya dan tampak kebingungan.


"Kamu kenapa.?" Tanyanya serak. Elia sontak melotot. Bisa-bisanya Aditya tidak sadar setelah 4 kali menyentuh daging kenyal miliknya.


"Jangan dekat-dekat tidurnya, tangan Kak Adit tidak sopan." Bibir Elia mengerucut.


"Tidak sopan bagaimana.?" Aditya tampak semakin bingung. Dia benar-benar tidak tau maksud ucapan Elia. Sejak tadi dia memang tidur, jadi mana mungkin bisa tau kalau apa yang di lakukan tangannya.


"Tangan Kak Adit menyentuh dadaku.!" Protes Elia kesal. Walaupun Aditya kakaknya sendiri, tapi Elia merasa ternodai karna ada pria yang menyentuh asetnya.


Aditya terkejut mendengar pengakuan Elia, dia terkejut bukan karna mengetahui tangannya bergerak sembarangan, tapi terkejut lantaran tidak bisa merasakan daging kenyal itu.


"Jangan lupa kalau kita sudah menikah, itu bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan." Jawab Aditya.


"Nanti kalau aku seperti bitu lagi, jangan protes. Apalagi kalau sampai membangunkanku seperti tadi." Ujarnya enteng. Aditya dengan santainya membalik tubuh Elia agar memunggunginya, lalu kembali memeluknya dari belakang.


"Masih malam, cepat tidur lagi.!" Tegasnya. Elia dibuat bengong dengan sikap Aditya. Anehnya, dia tidak bisa marah lagi.

__ADS_1


__ADS_2