
"Sepertinya mereka kesiangan, aku bangunkan mereka dulu." Ujar Davina yang hampir beranjak dari duduknya untuk pergi ke kamar Elia karna anak-anaknya belum berkumpul di meja makan.
"Sudah biarkan saja, siapa tau semalam mereka bergadang. Lagipula ini hari sabtu." Dave mencegah istrinya. Sebenarnya Dave tau apa yang menyebabkan Elia dan Aditya belum menampakkan diri di meja makan. Dave juga menebak kalau saat ini mereka berdua pasti masih tidur pulas.
Tadi malam saat akan ke dapur, Dave tidak sengaja mendengar suara teriakan Elia yang kesakitan. Walaupun kamar Elia kedap suara, tapi suara teriakan itu masih samar-samar terdengar dari luar. Bisa dibayangkan sekencang apa teriakan Elia sampai Dave bisa mendengarnya saat lewat di depan kamar itu.
"Bergadang untuk apa sayang.? Kamu tau sendiri hubungan mereka seperti apa." Davina langsung bisa menangkap arti kata bergadang yang di lontarkan Dave. Padahal Dave sengaja tidak memberitahu Davina tentang suara yang semalam dia dengar. Dave malas saja jika memberitahu istrinya. Dia takut Davina akan memastikan langsung pada Elia ataupun Aditya, karna itu bisa membuat kedua anaknya tidak nyaman. Jadi Dave memilih diam saja, daripada nanti seisi rumah dibuat heboh dengan reaksi Davina.
"Putra kita sedang mengerjakan proyek baru, mungkin saja bergadang menyelesaikan pekerjaan. Elia juga sebentar lagi sidang skripsi." Jelas Dave supaya pikiran Davina tidak menjurus ke arah sana.
Davina tampak mengangguk-anggukan kepala meski terlihat ragu, namun sepertinya percaya dengan perkataan Dave.
Sementara itu di dalam kamar yang lebih luas dari ukuran rumah subsidi, tampak pakaian wanita dan perempuan berceceran di lantai. Termasuk pakaian dal -am wanita dan pria. Ada dua segitiga bermuda dan kacamata kuda ukuran XL.
Dan di atas ranjang king size, ada dua manusia berbeda ke-lamin yang masih tertidur pulas di bawah satu selimut dalam keadaan telan- jang bulat karna semalam sudah tidak punya tenaga untuk sekedar memakai baju.
Dua anak manusia yang baru pertama kali melakukan sek- s itu sampai lupa diri dan lupa waktu, akibat sensasi rasa nikmat yang baru pertama kali mereka rasakan. Entah semalam berapa kali Elia dan Aditya melakukan pertempuran panas penuh semangat dan gairah menggebu.
Elia yang awalnya menolak karna merasa risih jika kakak beradik melakukan hubungan sek-s, perlahan malah menikmatinya dan akhirnya ketagihan. Mungkin karna tidak ada hubungan darah di antara mereka, jadi hanya di awal saja Elia merasa risih dan tidak nyaman. Selanjutnya malah mende-sah keenakan sampai mencoba beberapa gaya.
Elia tampak menggeliat di balik selimut, matanya mengerjap beberapa kali hingga akhirnya terbuka. Dia meregangkan kedua tangannya lantaran merasa pegal-pegal sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Saat sebelah tangannya terhalang sesuatu, Elia reflek menoleh. Matanya seketika melotot mendapati Aditya bertelanjang dada. Elia tidak sadar kalau saat ini dia juga tidak memakai apapun di balik selimut yang menutupinya sampai leher.
"Kak.! Kenapa tidur tidak pakai baju.?" Pekik Elia seraya mengguncang kuat tubuh Aditya. Sontak Aditya langsung membuka mata. Dia malah senyum-senyum tidak jelas dan membuat Elia ketakutan. Senyumnya terlihat sangat aneh, seperti pria mesum yang sedang melihat wanita telanjang. Elia segera menatap dirinya sendiri, alangkah terkejutnya wanita yang sudah tidak pera-wan itu ketika mendapati dua asetnya menyembul dibalik selimut yang tersingkap. Bahkan salah satu pucuk asetnya sedikit menongol.
"Aaaakhhh,,,!!!" Teriak Elia dan reflek menarik selimut untuk menutupi dua asetnya yang tidak terbungkus.
Aditya menutup kedua telinganya, teriakan Elia cukup melengking sampai membuat telinganya sakit.
"Aku pikir suaramu sudah habis karna semalam baru saja teriak-teriak selama 3 jam." Ujar Aditya santai. Dia tidak kaget sama sekali ketika bangun tidur mendapati dia dan Elia tidak memakai baju. Pasalnya Aditya masih mengingat jelas apa yang terjadi tadi malam. Berbeda dengan Elia, wanita itu sepertinya lupa.
Elia diam di tempat, dia tiba-tiba teringat kejadian tadi malam yang membuatnya teriak dan mende-sah tidak karuan akibat sentuhan Aditya dan kejan- tanan suaminya itu yang luar biasa.
Aditya yang melihat wajah Elia merona, tiba-tiba punya niat untuk menggodanya. Pria itu diam-diam merapatkan tubuhnya pada Elia.
Elia tampak mengulum senyum sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Aditya.
"Sangat nikmat." Jawab Elia tanpa sadar, karna dia sedang membayangkan saat Aditya menggagahinya.
Aditya hampir terbahak-bahak mendengar jawaban Elia, namun dia menahan diri karna masih ingin menggoda Elia sampai istrinya itu sadar dengan apa yang dia katakan.
"Menurutmu pedangku besar tidak.?" Pernyataan konyol itu keluar dari mulut Aditya, dia sengaja bertanya karna ingin tau pendapat Elia tentang pedangnya itu.
__ADS_1
"Sangat besar dan pan,," Elia menghentikan ucapannya karna tiba-tiba menyadari sesuatu yang tidak beres. Dia melotot tajam ketika mengingat-ingat pertanyaan apa saja yang baru saja dilontarkan Aditya padanya.
"Kak Adit.!!" Pekik Elia kesal, dia memukul dada Aditya. Pria itu malah terkekeh dan membawa Elia dalam dekapannya.
"Mau bercinta lagi tidak.?" Bisik Aditya, tak lupa lidahnya mulai menunjukkan bakatnya dalam merangsang lawan main.
"Eeuhgg,, Awas Kak.!" Elia melenguh dan langsung menjauhkan wajah Aditya dari telinganya.
"Sudah jam 9, kita kesiangan." Elia berniat kabur dengan turun dari ranjang, tapi Aditya menangkan Elia. Pria itu menggendong Elia dan membawanya ke kamar mandi.
"Kita coba di kamar mandi." Katanya saat Elia memberontak dalam gendongan.
Pipi Elia merona, dia menyembunyikan wajah di dada bidang Aditya dengan kedua tangan bergelayut di lehernya.
Baru 5 menit sejak Aditya menutup pintu kamar mandi, suara desa-han sudah memenuhi ruangan itu. Desa-han Elia yang paling mendominasi, dia sampai menyebut nama Aditya berkali-kali. Entah apa yang sedang Aditya lakukan pada Elia sampai wanita itu mende-sah penuh kenikmatan.
...******...
1 jam kemudian, mereka sudah selesai mandi plus plus. Keduanya sudah rapi dan wangi saat keluar dari kamar.
Wajah Aditya tampak segar bugar dengan senyum di bibirnya yang terus mengembang dan tampak berenergi. Ibarat ponsel yang habis di charger sampai baterainya full. Bagaimana tidak full kalau di charger berjam-jam sejak tadi malam dan melakukannya lagi ketika bangun tidur.
__ADS_1
Sementara itu Elia malah terlihat was-was, dia takut kedua orang tuanya melihatnya turun bersama Aditya dalam keadaan rambut yang masih setengah basah. Elia takut di interogasi Mamanya, terlebih mereka juga bangun kesiangan. Jam 9 pagi baru keluar dari kamar.