
Ruang keluarga tampak ramai dengan kehadiran keluarga Farrel. Jihan tiba-tiba ingin pindah ke Indonesia dan melanjutkan s2 di Jakarta. Awalnya Farrel dan Nabilla menentang, karna kuliah Jihan akan memasuki semester 3. Semua administrasi hingga semester 4 sudah masuk. Rasanya sayang kalau harus pindah universitas, apalagi pindahnya tidak tanggung-tanggung. Jihan harus menempuh perjalanan udara selama kurang lebih 22 jam karna pindahnya langsung beda negara.
Tapi apa boleh buat. Jihan dengan segala tipu daya dan rayuannya, dia bisa membuat kedua orangnya akhirnya memberikan ijin. Wanita itu sangat pandai bicara, membuat lawan bicaranya tidak bisa berkutik jika memperdebatkan sesuatu.
"Elia tidak mau kuliah lagi.?" Tanya Nabilla seraya menatap keponakannya yang sejak tadi duduk bersebelahan dan asik mengobrol dengan Jihan.
Di tanya seperti itu, Elia malah melirik Aditya. Meski pernah berfikir untuk melanjutkan kuliah lagi, tapi Eli belum membicarakan hal itu dengan Aditya.
Yang diberi kode lirikan hanya menganggukkan kepalanya. Elia tampak sudah paham walaupun hanya sekedar anggukan kecil.
"Mau Aunty, tapi belum membahasnya lebih jauh dengan Kak Adit." Jawab Elia. Jika dulu dia selalu meminta ijin / mendiskusikan sesuatu dengan kedua orang tuanya, sekarang hanya mendiskusikannya dengan sang suami.
"Kalau begitu satu universitas saja dengan Jihan, Aunty akan lebih tenang kalau ada kamu di sana." Ujar Nabilla seraya melirik putrinya penuh arti.
Jihan langsung mencebikkan bibir. Gara-gara ketahuan pergi ke club malam bersama laki-laki, kedua orang tuanya tidak percaya lagi padanya.
Nabilla dan Farrel jadi membatasi ruang gerak Jihan di luar rumah. Keduanya juga menerapkan aturan yang semakin ketat. Jika sebelumnya di perbolehkan pulang sampai pukul 11 malam ketika weekend. Kini setiap keluar malam pada saat Weekend, Jihan harus sudah berada di rumah pukul 9 malam.
"Iya Aunty." Elia mengangguk setuju, lagipula memang sudah berniat satu kampus dengan Jihan sejak Jihan membahasnya lewat chat, sebelum datang ke Indonesia.
"Aku ke atas dulu, ada meeting di luar 30 menit lagi." Aditya beranjak dari sofa setelah melihat arloji di tangannya. Dia harus siap-siap bertemu dengan rekan bisnisnya.
"Jangan terlalu memforsir diri dengan pekerjaan kantor, sekarang bahkan hari sabtu. Kamu juga butuh waktu bersama keluarga." Tutur Farrel menasehati. Keponakannya itu benar-benar sangat mirip dengan Dave, mereka bisa lupa waktu kalau sudah berkutat dengan pekerjaan kantor.
"Ini klien penting, lagipula hanya membahas beberapa hal saja, tidak lama." Sahut Aditya, pria itu kemudian meninggalkan ruang keluarga.
"Aditya masih muda, memang harus semangat bekerja." Ujar Dave yang sejak tadi tidak banyak bicara.
"Kamu tidak ke atas El.? Siapa tau suamimu butuh sesuatu." Davina menyentuh lengan lengan Elia.
__ADS_1
Elia mengangguk, kemudian pamit untuk menyusul Aditya.
...******...
"Kamu yakin dia benar-benar Milea.?"
Elia menghentikan langkah di belakang pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Suara itu terdengar sangat jelas di telinga Elia, sepertinya posisi Aditya tidak jauh dari pintu kamar.
Mendengar nama Milea di sebut, perasaan Elia mendadak sensitif. Dia bukan hanya merasakan cemburu, tapi ada rasa sakit dan kecewa karna ternyata Aditya masih membicarakan soal Milea.
"Tidak perlu, laporkan saja padaku kalau sudah kembali ke Indonesia." Titah Aditya tegas.
Elia makin tertegun mendengarnya, sesuatu yang tajam seperti menggores permukaan hatinya.
Sudah lebih dari 3 bulan, Elia pikir Aditya sudah melupakan Milea dan tidak akan lagi mencari tau tentang wanita itu. Nyatanya diam-diam masih mencari tau tentang Milea di belakangnya.
Elia kemudian memutuskan masuk ke dalam kamar, dia mengetuk pintu 3 kali sebelum masuk.
Begitu Elia masuk, Aditya berbalik badan dengan raut wajah yang tampak terkejut. Posisi Aditya tidak jauh dari pintu, tidak heran kalau Elia bisa mendengar jelas percakapan Aditya saat sedang menelfon seseorang.
"Kak Adit mau pakai baju formal atau santai.? Biar aku siapkan." Tawar Elia. Bibirnya mengulas senyum tipis, dia menyembunyikan sesuatu yang baru saja mengusik hati dan pikirannya. Meski berpura-pura seolah tidak mendengar apapun, bukan berarti Elia membiarkan Aditya mencari tau tentang Milea di belakangnya. Elia hanya ingin tau sampai mana Aditya akan menyembunyikan semua itu darinya.
Padahal Aditya pernah memintanya agar tidak menyembunyikan sesuatu, tapi sekarang Aditya malah kedapatan menyembunyikan sesuatu.
Aditya memperhatikan gerak gerik dan raut wajah Elia, dia ingin memastikan Elia mendengar percakapannya atau tidak. Karna Elia langsung muncul tak lama setelah sambungan telfon di putus.
"Apa kamu mendengarnya.?" Tanya Aditya to the point. Dia menatap lekat dengan sorot mata dalam, seolah meminta pada Elia agar menjawab jujur.
"Mendengar apa.?" Elia bertanya balik dengan kepura-puraan.
__ADS_1
"Obrolan ku dengan seseorang di telfon." Jawab Aditya.
Seketika Elia mengangguk cepat tanpa ragu. Dia tidak berfikir untuk berbohong, karna Aditya lebih dulu melontarkan pertanyaan seperti itu. Artinya Aditya memang yakin kalau percakapannya di dengar dari luar.
"Kita ke balkon sebentar." Ajak Aditya sambil menggandeng tangan Elia.
Elia tampak tidak nyaman ketika Aditya menggandeng tangannya, tapi dia tidak menepis dan pasrah mengikuti kemana Aditya membawanya.
Keduanya sudah berdiri di balkon kamar dengan pemandangan menghadap bukit golf yang hijau dan menyejukkan mata.
Pandangan keduanya menatap lurus ke depan.
"Kepergian Milea malam itu masih menjadi misteri. Aku sempat menyuruh orang mencari tau keberadaannya." Aditya mulai membuka pembicaraan dengan suara lirih. Elia langsung menoleh dan menatapnya serius. Meski sebenarnya kembali merasakan cemburu karna ternyata Aditya memang benar mencari keberadaan Milea.
"Saat orang suruhanku melihat Milea sudah bersama laki-laki lain yang jauh lebih kaya, aku rasa tidak perlu lagi mencari tau tentangnya karna aku sudah terlanjur berfikir buruk padanya hingga merasa sangat membencinya."
"Tapi kemarin, salah satu orang yang pernah aku tugaskan mencari Milea, dia tidak sengaja bertemu Milea dengan keadaan perut yang sudah besar."
"Aku tidak mau salah paham, sampai membencinya dan terus berfikir buruk tentangnya. Jadi aku hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengan Milea, tanpa ada maksud lain."
Aditya menjelaskan panjang lebar, Elia tidak memberikan tanggapan apapun meski dia menyimaknya sampai selesai.
"Maaf kalau itu membuat kamu tidak nyaman. Aku tidak akan mencari tau lebih jauh kalau kamu tidak suka." Tuturnya lirih.
"Tidak apa, aku bisa mengerti. Tapi ajak aku kalau suatu saat Kak Adit ingin bertemu dengan Kak Milea untuk meminta penjelasan darinya." Jawab Elia santai.
Dia seperti ingin memahami posisi Aditya pada saat itu, jadi memberinya ijin asal tidak memberikan pengaruh buruk untuk rumah tangganya.
"Terimakasih sudah mau mengerti." Aditya mengusap lembut pucuk kepala Elia, kemudian menarik bahu Elia dalam dekapan.
__ADS_1