My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 56


__ADS_3

Sudah hampir 2 minggu Aditya menikah. Tapi setiap kali bertemu, Juno dan Alex masih saja menggodanya karna pada akhirnya Aditya menikah dengan Elia.


"Bagaimana.? Hari ini sudah berhasil unboxing belum.?" Goda Alex di balik rasa penasarannya yang tinggi. Pria itu tidak bisa membayangkan situasi canggung di antara Aditya dan Elia saat melakukan unboxing. Tentu bukan hal yang mudah untuk melakukan hubungan in tim dengan seseorang yang sejak dulu dikenal sebagai saudara kandungnya. Dalam pikiran Alex, mereka berdua pasti akan sangat canggung.


Tapi bukan Aditya namanya kalau tidak bisa mengatasi kecanggungan. Lagipula dia sangat-sangat normal, mana bisa tahan jika setiap hari tidur bersama wanita tanpa menyentuhnya.


Canggung sudah pasti ada, tapi Aditya tidak akan bertahan dengan kecanggungan. Daripada setiap malam pedangnya tersiksa, membuat kepalanya nyeri karna hasratnya tidak tersalurkan, lebih baik cepat-cepat di eksekusi. Sekarang Aditya sudah plong, jangankan sakit kepala, tubuhnya bahkan segar bugar setelah pedangnya menjelajahi palung mariana.


Menyelami palung terdalam yang membawanya hanyut dalam pusaran kenikmatan.


Sama-sama baru pertama kali melakukannya, tapi nalurinya bisa menuntun pada kenikmatan pertama yang tak terlupakan.


"Apa tidak apa pertanyaan yang lebih penting.?" Sahut Aditya dengan lirikan malas. Baru datang sudah dicecar pertanyaan yang sampai kapanpun tidak akan dia jawab. Dia takut jawabannya bisa menimbulkan fantasi Alex yang sedikit gila itu.


Memilih bergabung di kursinya, Aditya langsung membahas perkembangan kafe itu. Kafenya banyak mengalami kemajuan pesat sejak dibuka 2 tahun yang lalu. Total sudah ada 8 cabang di pusat kota. Bisnis mereka bertiga terbilang cukup sukses, beberapa kali mereka di undang di program televisi untuk menjadi bintang tamu. Kalau sudah berurusan dengan media, Aditya selalu menyerahkannya pada Juno dan Alex. Dia tidak pernah mau muncul ke public meski kafenya sedang disorot karna viral.


Baru 2 jam meninggalkan rumah, Aditya sudah gusar sendiri karna bayang-bayang Elia terus berputar di kepalanya. Alhasil Aditya jadi tidak fokus membahas rencana pembukaan kafe cabang ke 9.


Juno sudah menyadari hal itu sejak beberapa menit yang lalu, dia merasakan fokus Aditya terbagi karna beberapa kali terlihat melamun dan tidak langsung menjawab ketika ditanya.

__ADS_1


"Kita lanjutkan besok saja meetingnya, aku rasa Aditya sedang banyak pikiran." Ujar Juno membuat Alex langsung menatap Aditya. Kebetulan sekali saat itu itu Aditya sedang melamun, jadi Alex bisa melihatnya sendiri. Karna sejak tadi dia sibuk mencatat hasil meeting dengan laptopnya, jadi tidak memperhatikan Aditya.


Aditya memijat pelipisnya, tiba-tiba kepalanya berdenyut. Dia pusing sendiri karna bayangan Elia yang sedang men de sah di bawah kungkungannya, masih muncul meski sudah ditepis berkali-kali. Sepertinya dia akan mengikuti saran Juno untuk mengakhiri meeting dan melanjutkannya besok. Lama-lama otaknya tidak bisa berfikir jernih, jadi percuma saja kalau meetingnya tetap di lanjutkan.


"Sebenarnya ada pekerjaan kantor yang harus segera aku selesaikan hari ini. Sementara itu dulu, kita lanjutkan besok setelah aku pulang kantor." Aditya berbohong, dia mengkambing hitamkan pekerjaan kantor sebagai alasan. Lagipula tidak mungkin juga Aditya akan jujur, bisa-bisa kedua sahabatnya akan semakin senang menggodanya.


"Baiklah, yang penting sudah dapat point pentingnya dan rencana kedepannya." Ujar Alex. Dia menyimpan data itu sebelum menutup laptop.


"Aku duluan. Thanks waktunya." Aditya beranjak setelah membereskan barang-barang miliknya di atas meja.


"Menurutmu, apa dia masih memikirkan Milea.?" Tanya Alex begitu Aditya keluar dari ruangan.


"Tiga hari yang lalu aku melihat Milea di pusat perbelanjaan. Aku rasa sesuatu terjadi padanya. Ada 2 orang laki-laki mengikuti di belakangnya, mereka seperti bodyguard." Tutur Juno. Dia tadinya berniat menghampiri Milea dan menanyakan kenapa malam itu pergi di hari pernikahannya bersama Aditya, tapi Juno ingat kalau Aditya sudah tidak ingin mencari keberadaan Milea ataupun mencari tau alasan Milea meninggalkan malam itu. Jadi Juno mengurungkan niatnya karna tidak mau ikut campur masalah pribadi Aditya.


"Tiga hari yang lalu.?" Alex memastikan dan dia tampak terkejut. Juno mengangguk.


"Kamu tidak ingin mengatakan pada Aditya.?" Tanya Alex.


"Aku rasa sebenarnya Aditya masih penasaran kenapa Milea menghilang malam itu. Dia hanya pura-pura tidak peduli lagi untuk menutupi rasa sakitnya saja." Tuturnya. 2 tahun menjalani hubungan, lalu di tinggalkan tepat di hari pernikahan, rasanya tidak mungkin bisa dilupakan begitu saja dalam waktu singkat.

__ADS_1


Aditya meminta untuk menghentikan pencarian Milea dan tidak mau tau lagi penyebab kepergian Milea, pasti bukan karna sudah ikhlas. Aditya sedang berusaha menghindari luka yang lebih dalam lagi. Karna takut akan semakin sakit jika mengetahui alasannya.


"Tapi sampai detik ini Aditya tidak berusaha mencari keberadaan Milea lagi, mungkin dia benar-benar ingin melupakannya. Jadi untuk apa aku bicara padanya." Sahut Juno.


Alex tidak mendebat lagi, dia ikut keputusan Juno saja yang memilih tidak memberitahu Aditya meski melihat Milea.


...*****...


Di ruang baca milik Dave, ada Davina yang sedang berbahagia. Dia dengan antusias menceritakan apa yang baru saja dia ketahui soal hubungan Aditya dan Elia. Wanita yang hampir berusia setengah abad itu bercerita sembari duduk di pangkuan Dave. Davina mungkin lupa dengan usianya, atau dia merasa kembali muda lagi hanya karna ingat momen saat menjadi pengantin baru seperti Aditya dan Elia.


"Aku sudah tidak sabar ingin menggendong cucu." Ujar Davina sambil berkhayal menggendong buah hati Aditya dan Elia yang pasti akan sangat menggemaskan. Tampan ataupun cantik tentunya karna benihnya berkualitas.


"Jangan terlalu besar menaruh harapan pada anak-anak, kamu sendiri yang akan kecewa kalau tidak sesuai harapan. Mereka bahkan baru 2 minggu menikah." Kata Dave tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Sudah berusia lebih dari setengah abad, Dave sesekali masih memantau perkembangan semua perusahaan di Indonesia yang menjadi saingan perusahaan milik Aditya. Dan soal kehidupan pribadi anak-anaknya, Dave tidak terlalu ikut campur ataupun berekspektasi tinggi. Yang penting anak-anaknya bisa menjalani hidup dengan bahagia.


"Berharap menggendong cucu saja tidak boleh.?" Protes Davina. Dia segera turun dari pangkuan Dave dan pindah ke sampingnya.


Menyadari istrinya marah karna ucapannya, Dave mengabaikan laptopnya untuk merapatkan duduknya pada Davina.


"Sangat boleh, tapi jangan terlalu berharap tinggi. Aku tidak mau kamu kecewa jika kenyataan tidak sesuai yang kamu harapkan." Tutur Dave sembari mengusap lembut punggung Davina. Dia jadi merasa kembali ke masa muda dimana dulu sering membujuk Davina yang sering marah padanya.

__ADS_1


__ADS_2