My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 62


__ADS_3

Kabar penggelapan dana perusahaan sudah sampai di telinga Dave. Dia mendapatkan kabar dari Jordan, asisten pribadi Aditya sekaligus orang kepercayaan Dave.


Itu sebabnya Dave selalu update tentang perkembangan dan masalah di perusahaan, meskipun Aditya tidak bercerita padanya.


Dave juga baru tau dari Jordan kalau Aditya sudah meninggalkan kantor sejak 3 jam yang lalu. Dave yang kala itu sedang bertemu dengan teman lamanya, buru-buru pamit untuk menemui Aditya di rumah. Masalah penggelapan dana pembangunan hotel harus segera di bicarakan agar segera menemukan solusi untuk menangkap para pelaku.


Uang 50 milyar sebenarnya tidak begitu besar untuk ukuran seorang Dave. Tapi jika pelakunya tetap dibiarkan berkeliaran di perusahaannya, lama-lama akan semakin banyak uang perusahaan yang digerogoti oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab.


Dave memasuki rumah dengan langkah lebar, dia langsung menaiki tangga menuju kamar Aditya dan Elia. Pria paruh baya itu langsung mengetuk pintu kamar, tanpa tau jika penghuni kamar sedang terlelap setelah melakukan olahraga panas yang menguras keringat dan tenaga.


Lagipula bukan salah Dave kalau dia tidak tau apa yang baru saja dilakukan anak-anaknya. Dalam situasi dan kondisi seperti ini, Dave rasa Aditya juga tidak akan sempat bercocok tanam. Putranya itu pasti sedang sibuk menyusun strategi untuk menangkap pelaku. Bukan sibuk memanjakan ru dalnya. Apalagi sinar matahari di luar masih terik.


Tok,,


Tok,,


Tok,,


"Aditya.!" Seru Dave setengah berteriak. Dia kembali mengetuk pintu semakin kencang.


Di dalam kamar, Elia terusik karna suara gedoran pintu dan suara teriakan. Wanita cantik itu perlahan membuka kelopak matanya. Dia menajamkan pendengaran untuk memastikan suara yang sempat mengusik tidurnya.


"Elia,, apa Aditya di dalam.?!"


Suara teriakan itu kini terdengar jelas di telinga. Elia langsung melebarkan mata. Dia langsung panik lantaran sadar masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang. Suaminya juga masih tidur pulas sambil tengkurap.


"Kak,, ada Papa di luar." Seru Elia sambil menggoyangkan lengan besar Aditya.


Pria itu menggeliat, mengubah posisi jadi menyamping.


"Kenapa.?" Gumam Aditya tanpa membuka mata.

__ADS_1


Aditya baru saja membakar ribuan kalori karna hampir 40 menit bercinta dengan Elia. Jadi wajar saja kalau kondisinya masih lemas dan mengantuk.


"Papa di luar kamar, sejak tadi memanggil Kak Adit. Ayo bangun, temui Papa." Suruh Elia.


Elia kemudian menggulung tubuh polosnya dengan selimut, lalu memunguti pakaian yang berserakan di lantai. Dia memberikan pakaian milik Aditya, lalu membawa pakaiannya sendiri ke kamar mandi untuk di pakai di sana.


Suara Dave kembali terdengar di luar kamar.


Aditya sempat berdecak kesal sebelum beranjak dari ranjang dengan terpaksa. Dia memakai pakaiannya dan membukakan pintu.


"Sedang apa.? Kenapa lama sekali membuka pintu.!" Omel Dave kesal.


Kedua pria beda usia itu memiliki sifat dan karakter yang sama. Ayah dan anak itu bak pinang dibelah dua. Mereka tidak memiliki batas kesabaran yang bagus, tapi bisa menjadi sangat sabar ketika sudah menemukan pawangnya.


"Ck.! Papa sangat tidak pengertian." Gerutu Aditya seraya keluar dari kamar dan menutup pintu.


Dave memutar bola matanya malas. Dia sekarang tau apa yang baru saja dilakukan Aditya sampai butuh waktu lama untuk membuka pintu.


"Ada penggelapan dana di proyek pembangunan hotel, kenapa tidak memberi tau Papa.?!" Gerutunya sewot. Putranya itu terkadang sok pintar, sudah berasa bisa menangani semua masalah di perusahaan sampai tidak pernah bercerita dengannya.


"Sekarang Papa bahkan sudah tau, jadi aku tidak perlu lagi memberitahu." Sahut Aditya santai.


Dave langsung melotot. Kalau saja tidak ingat dengan umurnya yang sudah tua, Dave tidak akan berhenti mengomeli putranya.


"Cepat ke ruang kerja, kita harus membahasnya sekarang.!" Titah Dave dan berjalan mendahului Aditya.


Aditya membuang nafas berat, lalu mengekori Dave di belakang.


...******...


Elia keluar kamar selesai memakai baju dan merapikan penampilannya yang sempat dibuat acak-acak oleh ulah Aditya.

__ADS_1


Menuruni satu persatu anak tangga, Elia mencari keberadaan asisten rumah tangga. Dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk membereskan baju-baju dari koper, jadi butuh bantuan asisten rumah tangga untuk mengerjakannya. Lagipula Aditya juga melarang Elia melakukannya sendiri.


"Cari siapa El.? Aditya ada di ruang kerja bersama Papa." Suara Davina muncul dari arah belakang.


Elia menoleh, dia tersenyum ceria pada Davina.


"Aku mencari Mbak Dila, Mah. Baju-baju di koper harus di keluarkan lagi, aku butuh bantuan Mbak Dila." Tutur Elia.


Dahi Davina berkerut mendengarnya.


"Kenapa dikeluarkan.? 4 jam lagi bukannya harus berangkat ke bandara."


Elia menggelengkan kepala.


"Tidak jadi berangkat ke Swiss. Kak Adit ada masalah di perusahaan, katanya ada penggelapan dana pembangunan hotel di Bali." Tutur Elia menjelaskan. Tidak bisa dibohongi kalau Elia masih merasa kecewa, terlihat dari raut wajahnya yang sendu.


"Besok pagi Kak Adit akan pergi ke Bali." Sambungnya.


Ekspresi wajah Davina ikut berubah sendu. Dia merasa sedih karna anak-anaknya batal honeymoon.


Belum lagi raut wajah Elia yang tampak kecewa, Davina semakin merasa kasihan padanya.


"Jangan di bongkar dulu kopernya, siapa tau ada solusi untuk menyelesaikan masalah di sana tanpa harus pergi ke Bali." Kata Davina.


"Sebentar, Mama bicara dulu dengan Adit dan Papa." Ujarnya seraya mengusap pucuk kepala Elia, lalu beranjak ke ruang kerja.


...*****...


Aditya keluar dari ruang kerja dengan wajah kusut. Dia baru saja mendapat teguran dan omelan dari Dave, tiba-tiba Davina masuk dan ikut mengomeli juga.


Mau bagaimana lagi, aditya tidak bisa mencegah masalah di perusahaan. Dia juga tidak berharap akan ada kasus penggelapan dana perusahaan. Itu bukan keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2