My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 60


__ADS_3

Aditya sudah mengambil keputusan untuk menyelesaikan kasus penggelapan dana pembangunan hotel bintang di Bali. Karna uang perusahaan yang dikorupsi tidak main-main jumlahnya, hampir menyentuh angka 50 milyar. Jadi Aditya memutuskan menyelidiki kasus itu lebih dulu, walaupun harus mengorbankan honeymoon yang terpaksa di tunda.


"Atur penerbangan ke Bali besok pagi." Kata Aditya seraya membereskan berkas di atas meja kerjanya.


"Tolong kamu reschedule agenda hari ini, aku ada urusan yang harus diselesaikan dan tidak bisa kembali ke perusahaan." Tuturnya tegas. Sebenarnya masih ada rapat dan pertemuan penting setelah jam makan siang, tapi Aditya butuh waktu lebih banyak untuk menjelaskan pada Elia tentang situasi yang sedang terjadi.


"Baik Tuan, dimengerti." Jawab Jordan.


Pria itu langsung mengerjakan perintah Aditya, mulai dari menyiapkan pesawat pribadi untuk penerbangan ke Bali besok pagi. Lalu mengatur ulang jadwal dan menghubungi relasi bisnis Aditya untuk membatalkan pertemuan hari ini.


Aditya sudah keluar dari ruang kerjanya sejak menyuruh Jordan mengatur ulang jadwal. Aditya membiarkan Jordan menyelesaikan pekerjaannya di ruangan itu.


...******...


Di antar supir pribadinya, mobil yang ditumpangi Aditya mulai meninggalkan perusahaan. Pria 28 tahun itu kemudian merogoh ponsel dalam saku celana dan menghubungi Elia. Aditya baru ingat kalau Elia sempat meminta ijin untuk pergi bertemu teman-temannya siang ini.


Tidak butuh waktu lama, Elia langsung mengangkat panggilan telfonnya.


"Kamu dimana.?" Tanya Aditya tanpa basa-basi. Di sana ada supir pribadinya yang sedang menyetir, Aditya gengsi kalau harus menunjukkan kesuciannya di depan orang lain. Dia paling bisa menahan diri untuk tidak terlihat bucin di depan umum, begitu juga saat menjalin hubungan dengan seseorang di masa lalu. Aditya selalu bersikap cuek pada pasangannya ketika ada orang lain, tapi jangan di tanya kalau sedang berduaan.


Sementara itu, Elia langsung beranjak dari kursinya dan mencari tempat kosong untuk bicara dengan Aditya lewat telfon.


"Di mall, sedang makan siang dengan Mauren dan Viona." Jawabnya.

__ADS_1


"Kak Adit pulang jam berapa.?" Nada bicara Elia terdengar khawatir, mungkin takut kalau Aditya tidak bisa diselesaikan pekerjaan di perusahaan dengan cepat. Karna mereka harus berangkat ke bandara pukul 7 malam.


"Sekitar 40 menit lagi, aku tunggu di rumah." Jawab Aditya sambil melihat jam di tangannya. Jalan Ibu kota cukup padat saat jam makan siang, jadi sedikit lebih lama untuk sampai di rumah.


Elia kebingungan di seberang sana. Aditya tidak bilang akan pulang secepat ini.


"Apa sudah selesai urusannya.? Aku tidak tau Kakak akan pulang secepat ini." Tuturnya.


"Aku makan siang dulu dengan mereka ya.?." Tanya Elia, dia tidak enak kalau meninggalkan kedua sahabatnya begitu saja, apalagi makan siang itu diatur sendiri oleh Elia.


"Hmm, jangan terlalu lama. Aku matikan telfonnya." Aditya memutuskan panggilan begitu saja, padahal Elia masih ingin mengatakan sesuatu.


"Membuat kesal saja." Gerutu Elia, dia bergegas kembali ke mejanya dan melanjutkan makan siang.


...******...


Sebenarnya Elia gelisah saat membaca pesan dari Aditya yang mengatakan kalau dia sedang menunggunya di kamar. Mengingat kegilaan dan kemesuman sang suami, mendadak pikiran Elia jadi berkelana kemana-mana. Dia berfikir Aditya sedang ingin bermain dengannya.


Elia sedikit ragu membuka pintu kamar, dia bukan tidak suka kalau seandainya Aditya ingin mengajaknya bermain jungkat-jungkit. Hanya saja tubuhnya masih lelah akibat permainan tadi malam.


Elia membuka pintu, dia mengintip lebih dulu sebelum melangkah masuk ke dalam kamar.


Dilihatnya Aditya yang tengah duduk di sofa dengan laptop menyala di atas meja. Pria itu sudah mengganti baju kerjanya dengan pakaian santai.

__ADS_1


Aditya menoleh ke arah pintu karna samar-samar mendengar suara pintu di buka.


"Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Aditya serius. Elia buru-buru masuk dan menutup pintu. Dia tidak bisa dibuat penasaran, jadi ingin segera tau apa yang akan dibicarakan oleh Aditya.


Elia duduk di samping Aditya. Dia sempat melirik laptop di atas meja, rupanya Aditya sedang mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan.


"Ada apa.? Kelihatannya sangat penting." Tanya Elia. Perasaannya mulai tidak karuan, mungkin karna terbawa aura Aditya yang terlihat gelisah tapi ekspresinya sangat serius.


Aditya diam beberapa saat, sebenarnya tidak tega untuk mengatakan pada Elia kalau honeymoon mereka terpaksa di tunda. Bahkan Aditya tidak tau sampai kapan. Karna masalah penggelapan dana itu harus diselesaikan sampai pelakunya bisa di tangkap dan di jebloskan ke penjara.


"Ada penggelapan dana pada proyek pembangunan hotel di Bali. Besok pagi aku dan Jordan harus berangkat ke Bali untuk menyelidiki siapa saja yang terlibat." Tuturnya tanpa mengalihkan sedikitpun tatapannya pada Elia.


Ekspresi Elia mendadak berubah, dia terlihat kebingungan karna berusaha mencerna perkataan Aditya.


"Intinya.?" Tanya Elia. Dia sebenarnya sudah bisa menangkap maksud ucapan Aditya, tapi hanya ingin memastikan saja dan berharap itu tidak terjadi.


"Kita tidak jadi terbang ke Swiss malam ini." Ujar Aditya lirih.


Elia menghela nafas dan membuang pandangan ke arah lain. Dia sudah excited akan pergi ke Swiss, tapi mendadak harus dibatalkan. Tentu saja ada perasaan kecewa dan sedih, tapi mau bagaimana lagi.?


"Marah.?" Tanya Aditya saat melihat Elia hanya diam saja.


Elia menoleh sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Hanya kecewa saja. Tapi tidak apa, aku tau Kakak sangat sibuk." Elia tersenyum tipis, senyum yang terlihat dipaksakan.


__ADS_2