
Aditya bangun lebih awal, pria itu sudah mandi dan rapi dengan balutan setelah jas. Aroma wangi maskulinnya cukup menguar dan menambah pesonanya yang luar biasa. Dia memang selalu tampil sempurna jika pergi ke perusahaan, tak heran kalau banyak karyawan yang terpikat pada pesonanya. Bahkan hanya dengan mencium aroma parfumnya saja, bisa membuat jantung mereka berdebar.
4 hari lalu mungkin jadi hari patah hati karyawan di perusahaan karna CEO tampan mereka telah melangsungkan pernikahan. Harapan mereka di lirik Aditya semakin tidak mungkin saja setelah ini.
Sementara itu di atas ranjang king size, Elia tampak menggeliat dan bergumam tidak jelas dengan mata yang masih terpejam. Entah Elia mimpi apa sampai bicara sambil tidur.
Melihat itu, Aditya kemudian berjalan mendekat dan membangunkan Elia. Lagipula sudah siang, Elia juga harus bersiap pergi ke kampus.
"Bangun El,," Aditya menggoyang pelan pipi Elia dan setengah mencubitnya karna gemas. Sudut bibir Aditya mengulas senyum tipis, senyum yang tampak berseri. Bagaimana tidak, tadi malam Aditya ingat kalau tangannya bersarang di tempat yang kenyal dan hangat. Dia juga tau kalau Elia beberapa kali memindahkan tangannya, tapi Aditya pura-pura tidur dan mengulanginya lagi.
Selain kenyal dan hangat, ukurannya juga lumayan besar. Pria mana yang tidak akan tertarik untuk menyentuhnya, termasuk yang dirasakan oleh Aditya tadi malam.
"El, sudah siang. Kamu mau kuliah kan.?" Aditya semakin keras mencubit pipi Elia saking gemasnya karna bibir Elia tampak mengerucut.
Elia meringis kesakitan dan langsung membuka matanya.
"Iih,,, sakit kak.!" Rengeknya sembari mengusap-usap bekas cubitan Aditya di pipinya yang sedikit chubby.
Aditya terkekeh, kali ini hidung Elia yang jadi sasaran. Wanita cantik itu Mencebikkan bibirnya.
"Cepat bangun, mandi dan sarapan bersama." Ujarnya kemudian beranjak keluar kamar dengan menahan senyum samar.
Elia dengan malas turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Elia sepertinya sudah lupa dengan kejadian semalam, makanya tidak bereaksi apa-apa saat berinteraksi dengan Aditya. Lagipula Elia berfikir kalau Aditya tidak sengaja menyentuh asetnya.
__ADS_1
Di meja makan, Davina menatap curiga kehadiran putranya yang memasang wajah sumringah. Ekspresi Aditya seperti baru saja memenangkan tender dengan keuntungan triliunan. Jelas sekali kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya.
Davina mendadak senyum-senyum sendiri. Dia yakin senyum cerah di wajah putranya itu bukan karena habis memenangkan tender, tapi habis membelah apa yang seharusnya di belah dan mencicipi apa yang telah menjadi haknya.
Davina semakin tersenyum lebar saja saat membayangkan hal itu. Dia yakin hubungan anak-anaknya bisa normal seperti pasangan pengantin pada umumnya dan secepatnya akan memberikan cucu yang lucu-lucu.
"Kamu kenapa senyum-senyum.?" Tegur Dave seraya menyenggol lengan istrinya. Davina melirik Aditya yang tengah berjalan ke arah mereka.
Aditya mendadak sadar kalau Davina sebenarnya sedang senyum-senyum karna melihatnya. Dia kemudian langsung memasang wajah datar.
"Pagi Mah, Pah,," Sapanya dan ikut bergabung di meja makan.
"Pagi sayang. Elia tidak ikut sarapan.?" Tanya Davina. Memang dasar Davina kepo, dia sangat antusias menunggu jawaban putranya. Padahal di dalam pikirannya sudah menduga-duga kalau Elia mungkin saja masih tertidur pulas dan kecapean setelah belah-belahan.
...******...
Aditya menghentikan mobil mewahnya di depan kampus Elia. Tadi sepanjang perjalanan hanya ada obrolan ringan seperti biasa layaknya kakak beradik. Baik Aditya maupun Elia, mereka merasa hubungannya masih sebatas kakak beradik. Mungkin karna interaksi mereka juga masih sebatas seperti saudara, belum lebih dari itu.
"Pulangnya minta di jemput supir saja, nanti siang aku ada meeting sampai jam 2. Jadi tidak bisa menjemputmu." Terang Aditya. Elia mengangguk, dia tidak mempermasalahkannya. Lagipula tadinya Elia ingin berangkat sendiri menggunakan mobilnya, tapi Aditya malah menawarkan diri untuk mengantar.
"Aku turun dulu, Kakak hati-hati di jalan." Elia melepas seatbelt, dia membuka pintu mobil tapi tidak bisa dibuka.
Elia seketika menoleh ke arah Aditya yang masih mengunci pintu.
__ADS_1
"Buka kuncinya Kak." Pintanya.
"Kamu belum pamit dengan benar." Tegas Aditya.
Entah apa yang di inginkan oleh Aditya, Elia sampai mengerutkan keningnya karna bingung. Memangnya harus seperti apa pamitannya.? Biasanya juga dia hanya bilang hati-hati pada Aditya selesai pria itu mengantarkannya. Dan Aditya tidak protes sama sekali. Lalu kenapa sekarang protes.?
"Belum benar bagaimana.? Kakak ingin aku cium tangan.? Tapi kita kan tidak pernah seperti itu." Ujarnya bingung.
Aditya malah berdecak pelan, dia tiba-tiba mendekatkan tubuhnya pada Elia. Gadis perawan itu tentu saja langsung mundur, tapi Aditya tidak membiarkannya begitu saja. Satu tangannya menahan punggung Elia dan menariknya hingga menghapus jarak diantara mereka.
Wajah Elia mendadak pucat. Dia memang belum pernah dekat dengan pria manapun, tapi bukan berarti Elia tidak tau apa yang dilakukan pria jika akan mencium wanitanya. Elia sering melihat adegan ciuman di film-film romantis. Dan pemeran pria akan melakukan hal seperti yang dilakukan Aditya sebelum mencium lawan mainnya.
"Kak Adit mau apa.?" Elia memilih pura-pura tidak tau, lagipula siapa tau dia hanya salah paham. Tidak mungkin juga kan Aditya akan menciumnya.
Bukannya menjawab, Aditya malah menempelkan bibirnya pada bibit Elia. Kedua mata Elia seketika membulat sempurna. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat dan tubuhnya terasa kaku. Elia ingin memberontak dengan mendorong tubuh Aditya, tapi tidak bisa melakukannya. Apa yang dilakukan Aditya juga membuat pikirannya buntu.
Sementara itu, Aditya malah memejamkan mata seolah menikmati manisnya bibir Elia yang kenyal dan lembut. Pelan tapi pasti, Aditya mulai melu-matnya. Hanya beberapa detik saja, setelah itu Aditya melepaskan tautan bibirnya meski sebenarnya ingin menye-sapnya. Namun situasi dan kondisinya tidak memungkinkan, Elia harus kuliah dan dia juga harus buru-buru pergi ke kantor.
"A-aapa yang Kakak lakukan.?" Elia mendadak linglung. Dia masih diam dengan posisi semula dan belum lepas dari rasa terkejutnya.
"Lain kali harus seperti itu kalau berpamitan." Ujar Aditya tanpa menjawab pertanyaan Elia.
"Cepat turun, nanti terlambat." Aditya terlihat sangat santai seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
__ADS_1
Elia buru-buru membuka pintu setelah Aditya membuka kunci. Dia turun begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi. Tentu saja Elia masih syok dan bingung.