My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 74


__ADS_3

Setelah puas melakukan ritual melah duren di kamar mandi, Elia sudah tidak marah lagi. Seolah lupa kalau doa baru saja marah-marah pada Aditya hanya karna perkara Aditya ketahuan selingkuh di dalam mimpinya. Benar-benar tidak masuk akal. Pantas saja Aditya berulang kali mengatakan kalau Elia jadi aneh sejak kemarin malam. Nyatanya Elia memang sangat aneh. Perubahan moodnya sangat drastis dan cepat. Hampir tidak ada jeda. Dari yang ceria, tiba-tiba jadi badmood. Sampai tadi saat emosinya meluap sekalipun, sekarang sudah ceria lagi setelah di charger.


Mulut Aditya rasanya sudah gatal, ingin berkata jujur pada Elia mengenai perubahan moodnya yang kacau. Tapi Aditya pikir-pikir dua kali, takut nanti jadi masalah lagi. Sekarang Elia sudah ceria, bisa repot urusannya kalau Elia mengamuk lagi. Jadi Aditya mengurungkan niat. Dia juga bersikap biasa seperti Elia, seolah tidak terjadi apa-apa sebelum ada ritual belah duren.


Kini Aditya sedang bersiap. Dia dan asisten pribadinya akan pergi Bandung. Tanah yang 3 bulan lalu di beli perusahaan Aditya untuk dijadikan hotel, rupanya sedikit bermasalah.


Katanya ada 3 orang pemilik tanah yang baru di bayar setengah. Belum dilunasi sisanya, padahal di syarat perjanjian akan dibayar lagi setelah 2 bulan menerima pembayaran pertama. Tapi sudah 3 bulan malah belum di bayar-bayar.


Elia sudah wangi dan rapi dalam balutan dress selutut tanpa lengan. Sedangkan Aditya, pria itu sedang mengancing kemejanya. Elia buru-buru menghampiri suaminya itu dan mengambil alih untuk mengancingkan kemejanya.


"Aku mau ikut ke Bandung, boleh ya.?" Elia memohon dengan tatapan berbinar. Wajahnya mendongak menatap Aditya karna selisih tingginya 25 cm.


"Lusa aku usahakan sudah pulang. Kamu di rumah saja." Aditya menolak halus.


"Di sana aku sibuk mengurus pekerjaan, nanti siapa yang menjaga kamu." Jelasnya. Aditya memikirkan nasib Elia kalau ikut dengannya. Karna sudah pasti Aditya akan sibuk mengurus masalah di sana, takutnya tidak bisa sambil menjaga Elia.


Tapi kekhawatiran Aditya malah di salah artikan oleh Elia. Raut wajah yang tadinya sudah menggemaskan dan ceria, sekarang berubah masam lagi dalam waktu singkat.


'Astaga, salah lagi aku.' Batin Aditya panik. Dia sudah menangkap sinyal-sinyal kemarahan dari wajah istrinya. Mungkin sebentar lagi akan mengeluarkan tanduk.


"Lain kali kalau aku sudah tidak sibuk, kita berlibur ke Bandung." Bujuk Aditya sebelum Elia mengamuk, berharap ronde kedua kemarahan Elia tidak terjadi lagi.


"Kapan Kak Adit tidak sibuk.? Hari sabtu saja masih memprioritaskan pekerjaan.!" Sahut Elia penuh sindiran, lalu menyingkir dari hadapan Aditya karna kesal.

__ADS_1


Alih-alih menyusul Elia yang keluar kamar dalam keadaan marah, Aditya malah memijat pelipisnya. Pria itu mendadak sakit kepala karna Elia marah lagi padanya.


...*****...


Aditya keluar dari kamar setelah rapi. Dia mencari keberadaan Elia ke beberapa tempat, tapi rupanya Elia sedang sarapan seorang diri di ruang makan.


Aditya menghela nafas saat kehadirannya tidak di hiraukan Elia. Istrinya itu malah sibuk makan dengan lahap. Piringnya sampai penuh, beberapa buat potong juga sudah dipisahkan di piring kecil. Posisi piring itu ada di samping Elia, jadi sudah pasti milik Elia. Apalagi tidak ada siapapun di meja makan itu selain Elia.


Aditya sebenarnya ingin pamit. Dia harus meeting dulu dengan sekretaris dan beberapa orang kepercayaan di perusahaannya, sebelum berangkat ke Bandung. Tapi melihat mood Elia belum membaik, rasanya Aditya sungkan membuat perkara lagi dengan Elia.


Dia akhirnya memilih duduk di depan Elia dan mengambil sarapan seperlunya, hanya untuk formalitas saja supaya terlihat sarapan di depan Elia. Takutnya kalau langsung di ajak pamit, kekesalan Elia makin meletup-letup.


Dimeja makan hanya ada mereka berdua. Aditya sempat menanyakan kedua orang tuanya pada salah satu ART. Rupanya Dave dan Davina sudah pergi 1 jam yang lalu untuk bermain golf.


Elia fokus menikmati makanannya, keberadaan Aditya tidak di hiraukan sama sekali. Terlanjur kesal, Elia jadi tidak mau bicara ataupun menatap suaminya itu. Padahal Aditya sudah memberi kode, sempat berdehem beberapa kali agar Elia menatapnya.


Tak berselang lama, Jihan ikut bergabung di samping Elia. Dia sempat menatap Elia dan Aditya bergantian, merasa ada yang aneh karna keduanya saling diam. Tempat duduknya juga berhadapan, tidak sebelahan.


Apalagi keduanya juga tidak menyapa meski melihat Jihan ikut bergabung.


'Malas sekali pagi-pagi begini sudah melihat drama rumah tangga.' Batin Jihan. Tapi Jihan tidak tahan hanya diam saja, akhirnya dia mencoba membuka obrolan.


Jihan mengajak Elia pergi jalan-jalan menyusuri kota Jakarta, meminta agar di tunjukkan tempat nongkrong yang enak dan asik. Di utamakan yang banyak pria tampan dan kaya raya. Karna tidak mungkin Jihan mencari pria dengan status sosial di bawahnya. Jihan rencananya mau cari pasangan orang Indonesia saja, dia sudah bosan pacaran dengan orang luar.

__ADS_1


"Bagaimana kalau nanti siang.?" Ajak Jihan semangat. Elia merekomendasikan beberapa tempat yang banyak di kunjungi oleh anak-anak pengusaha dan pejabat tinggi negara.


Aditya melirik sebal mendengar percakapan Elia dan Jihan. Tapi sisi lain sedikit lega, Elia sudah tidak terlihat kesal lagi.


Orang yang paling tampan di meja makan itu tiba-tiba memaku saat di tatap Elia.


"Boleh.?" Tanya Elia meminta ijin. Suaranya cukup lembut di telinga.


Aditya sebenarnya ingin melarang, tapi nanti Elia marah lagi dan akan semakin membuatnya kesulitan berangkat ke Bandung. Selagi Elia sudah mau di tinggal, Aditya akhirnya membolehkan Elia pergi bersama Jihan. Walaupun harus menyampaikan beberapa larangan pada istrinya itu. Untungnya Elia tidak banyak protes.


...******...


Di antar supir pribadi, sore itu Elia mengajak Jihan pergi ke PIK. Lagipula sudah lama Elia tidak mampir ke beberapa cafe dan restoran milik Aditya yang ada di sana.


Bukan hanya pergi berdua saja, tapi Elia juga janjian dengan kedua sahabatnya.


Tadinya mau pergi pukul 11 siang, tapi mauren ada acara. Jadilah mereka pergi pukul 5 sore. Nongkrong sekalian makan malam dan malam mingguan.


Jihan yang paling semangat. Dia sudah sering pergi ke sana setiap berkunjung ke Indonesia. Jadi sudah bisa membayangkan akan bertemu banyak pria tampan. Jihan mau cuci mata, terbiasa melihat pria-pria tampan selama hidup di New York, jadinya tidak tahan kalau sehari saja tidak melihat ciptaan Tuhan yang menggoda iman.


"Jihan, kenapa dilepas jaketnya.?" Protes Elia. Dia syok melihat Jihan melepas jaket saat akan turun dari mobil. Ayok karena Jihan memakai baju kekurangan bahan di luar rumah. Rupanya jaket yang dipakai Jihan hanya untuk menutupi bagian pundak dan perut yang terbuka. Jihan pintar juga mengelabui Davina dan Dave. Coba kalau tidak pakai jaket, pasti dilarang keluar mereka.


"Sstttt,, jangan bilang Om dan Tante ya. Aku sudah biasa pakai baju seperti ini New York. Tidak masalah." Jawab Jihan enteng. Dia meninggalkan jaketnya di dalam mobil, lalu bergegas turun.

__ADS_1


"Ya ampun, apa Jihan tidak takut mengundang tatapan buaya liar." Gumam Elia tak habis pikir. Dia akhirnya ikut turun menyusul Jihan.


__ADS_2