
Aditya menghela nafas berat saat melihat perubahan raut wajah Elia. Sejauh ini Elia memang sangat antusias menyiapkan segala keperluan yang akan mereka bawa ke Swiss. Elia bahkan sudah mencari rekomendasi tentang beberapa hotel bintang 5 yang wajib dijadikan tempat menginap selama honeymoon. Elia juga tidak lupa membuat list tempat-tempat apa saja yang ingin dia kunjungi di sana. Aditya bisa memahami ketika Elia terlihat sedih dan kecewa karna rencana honeymoon mereka terpaksa tertunda.
"Kalau mau marah, marah saja. Kamu biasanya akan mengomel tanpa henti kalau marah padaku." Kata Aditya seraya mengusap pucuk kepala Elia. Mau bagaimana lagi, situasi dan kondisinya tidak memungkinkan jika dipaksakan tetap berangkat ke Swiss.
Pelaku penggelapan dana perusahaan harus segera di tangkap sebelum menggerogoti uang perusahaan semakin banyak.
Elia menggeleng. Tidak ada gunanya juga dia marah-marah pada Aditya, hanya buang-buang waktu dan tenaga saja. Lagipula tidak akan mengubah apapun dengan marah-marah, keberangkatan ke Swiss tetap ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan.
"Aku tidak apa-apa. Kak Adit kembali lagi saja ke perusahaan kalau masih ada pekerjaan." Ujar Elia seraya beranjak dari sofa. Dia meletakkan tas kecil miliknya di atas nakas, lalu menghampiri 2 koper di sudut kamar. Koper yang sudah di isi baju-baju miliknya dan Aditya.
Elia berencana mengeluarkan isi koper dan menatanya lagi di walk in closet agar tidak kusut, karna kemungkin akan lama berada di dalam koper kalau menunggu Aditya menyelesaikan masalah perusahaan.
Aditya menutup laptopnya sebelum beranjak dari sofa dan menyusul Elia ke walk in closet. Sejak statusnya berubah menjadi suami Elia, Aditya tidak bisa tenang kalau sudah melihat Elia tampak sedih ataupun marah karna ulahnya. Sebisa mungkin Aditya akan membicarakannya baik-baik agar suasana hati Elia kembali ceria.
"Kenapa tidak minta tolong Mbak Dila saja." Aditya meraih tangan Elia saat Elia akan membuka koper. Dia menarik pelan tangan Elia agar berdiri, karna posisi Elia sedang duduk di lantai.
"Kemarin Mbak Dila dan Mbak Dewi sudah membantu memasukkan baju-baju ke dalam koper." Sahut Elia. Dari ucapannya, Elia seperti enggan merepotkan kedua asisten rumah tangganya untuk kesekian kali.
"Lagipula hanya mengeluarkan baju-baju dari koper, aku bisa mengerjakan sendiri." Sambung Elia. Dia tidak kunjung berdiri dari duduknya, tapi malah ingin melepaskan tangan Aditya yang setia menggenggam pergelangan tangannya.
"Baiklah," Aditya tidak memaksa Elia lagi kalau memang tidak mau meminta bantuin asisten rumah tangga untuk membereskan isi koper.
__ADS_1
"Sekarang ikut aku dulu, aku belum selesai bicara." Kali ini Aditya memakai cara pemaksaan untuk membawa Elia keluar dari walk in closet.
Dengan satu kali gerakan, tubuh mungil Elia sudah berpindah ke gendongan Aditya.
Elia sempat teriak karna kaget, dia juga reflek memukul Aditya.
"Kak Adit mau apa.?" Elia panik saat Aditya membawanya ke arah ranjang. Diluar cuaca sangat terik, sedang panas-panasnya tengah hari seperti ini. Tidak lucu kalau Aditya ingin melakukan pergulatan panas. Bisa-bisa cuaca di luar akan kalah panas dengan permainan Aditya.
"Mau mengobati sakit kepala dan stress." Jawab Aditya. Elia langsung paham maksud perkataan Aditya. Keseringan diajak berlayar di lautan gairah, membuat kepolosan Elia mulai terkikis. Dia sedikit banyak mengetahui istilah-istilah aneh dalam dunia perkembang biakan.
Elia pasrah saja ketika di baringkan di atas ranjang. Lagian mau menolak juga percuma, Adik ipar punya seribu satu cara untuk melancarkan aksinya.
Elia mulai gelisah saat melihat Aditya mengunci pintu dan main berjalan ke arahnya. Pria itu menyambar remote ac dan menurunkan suhunya.
Dia meletakkan dengan asal remote itu, lalu membuka baju dan membuangnya ke lantai.
Aditya bergerak merangkak ke atas ranjang, lalu berhenti di atas tubuh Elia. Sontak kedua mata Elia reflek terpejam karna wajah Aditya sangat dekat. Hembusan nafasnya bahkan menerpa wajah cantik Elia.
"Aku usahakan masalah perusahaan selesai dalam waktu dekat." Tutur Aditya. Dia masih berusaha meyakinkan Elia agar tidak larut dalam kemarahan dan kekecewaan.
"Kalau begitu jangan main-main seperti ini, nanti masalahnya semakin lama selesainya." Elia mencoba mendorong dada Aditya menggunakan kedua tangannya, tapi badan besar Aditya malah semakin menindihnya.
__ADS_1
"Sebentar saja, yang di bawah butuh pelepasan." Bisikan Aditya kemudian memberikan gigitan kecil di telinga Elia. Tubuh Elia menggeliat dalam kungkungan Aditya akibat sensasi geli di telinganya.
Sementara itu, Aditya tidak peduli dengan penolakan Elia. Masalah penggelapan dana membuatnya stress, belum lagi honeymoon yang terpaksa di tunda dan membuat Elia tampak sedih. Kepala Aditya mendadak pusing atas bawah. Dia merasa butuh pelepasan untuk menghilangkan stress dan penat karna masalah pekerjaan.
Elia sudah seperti cacing kepanasan dibawah kendali Aditya. Pria dewasa itu tidak pernah gagal memberikan rangsangan dan membangkitkan gairah Elia dalam waktu singkat.
*******-******* kecil mulai lolos dari bibir Elia. Tubuhnya semakin menegang seiring sentuhan tangan dan mulut Aditya di dua titik sensitifnya yang berbeda.
Beberapa menit berlalu, kini suasana di dalam kamar berubah panas. Begitu juga dengan tubuh Elia dan Aditya seiring dengan permainan yang menggebu.
Brukk.!!
Tubuh Aditya ambruk di samping Elia setelah mendapatkan pelepasan. pertama kalinya. Berbeda dengan Elia, dia sudah 3 kali dikalahkan Aditya. Tidak heran kalau Elia terlihat lemas tak. berdaya. Dia menarik selimut dengan satu tangan untuk menggulung tubuh polosnya.
"Aku mengantuk,," Lirih Elia yang benar-benar sudah kehabisan tenaga dan membuat rasa kantuk menyerangnya.
Aditya ikut masuk kedalam selimut, lalu menarik Elia dalam dekapan. Pria itu mendaratkan kecupan di pucuk kepala Elia dengan penuh sayang.
"Sudah lebih baik goyangannya." Bisikan Aditya dengan jahil. Elia melotot, dia ingin memukul Aditya tapi tidak punya tenaga untuk melakukannya. Jadi hanya bisa mencubit pelan dada Aditya.
Aditya terkekeh gemas, dia semakin erat memeluk Elia. Mereka berdua akhirnya tertidur setelah melewati pertarungan yang panas dan panjang.
__ADS_1