My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 70


__ADS_3

"Ingat pesan Mama, jangan menyusahkan keluarga Aunty Davina. Gaya hidup di Indonesia dan New York tidak sama, kamu harus menyesuaikan." Pesan Nabilla pada putri bungsunya. Nabilla sengaja mengajak Jihan sedikit menjauh dari orang-orang agar bisa bicara empat mata. Bukan kali ini saja Nabilla memperingati Jihan dan menasehatinya selama tinggal di rumah Davina agar nantinya tidak membuat ulah selama kuliah di Jakarta.


Jihan memasang wajah sebal, dia mulai kesal karna dinasehati dan diberi peringatan yang sama sampai berulang-ulang. Padahal usianya sudah 23 tahun, Jihan sangat paham walaupun hanya satu atau dua kali dinasehati. Tapi Mommynya seperti sedang menasehati anak kecil saja.


"Jihan mengerti Mommy." Jawab Jihan yang terlihat terpaksa. Gadis itu kemudian mendekatkan wajahnya pada Nabilla.


"Nanti kalau sudah sampai di New York, jangan terlalu bawel sama Daddy, bagaimana kalau Daddy bosan dan melirik wanita lain." Bisik Jihan meledek.


Mata Nabilla membulat sempurna, dia langsung memukul lengan Jihan meski hanya main-main.


"Kamu berharap rumah tangga Mommy dan Daddy berantakan.?" Gerutu Nabilla kesal.


Jihan malah terkekeh dan memeluk mommynya dengan sayang.


"Jihan pasti akan sangat merindukan Mommy dan Daddy. Mommy jangan sampai lupa kalau punya putri cantik yang tinggal di Indonesia. Pokoknya harus sering-sering mengunjungiku." Jihan merengek manja. Adakalanya gadis itu bersikap dewasa, tapi tak jarang menunjukkan sisi manjanya sebagai anak bungsu.


"Mana mungkin Mommy dan Daddy lupa. Sekarang saja Mommy sudah merasa sepi karna kita akan berpisah." Nabilla mencium pipi Jihan kiri kanan.


"Jaga diri baik-baik untuk Mommy dan Daddy." Pintanya penuh harap. Jihan mengangguk cepat.


Farrel tiba-tiba menyusul keduanya karna sudah terlalu lama mengobrol.


"Lama sekali tali kasihnya, yang lain sampai jamuran menunggu." Ujarnya santai.


Nabilla memukul kecil dada suaminya karna datang-datang langsung meledek.


"Dia benar-benar Daddymu, sifat kalian seperti pinang di belah dua." Ujar Nabilla menyindir. Anak dan Ayah kelakuannya sama saja.


Nabilla kemudian berlalu untuk bergabung kembali dengan keluarga Davina yang mengantar sampai bandara.


Farrel dan Jihan saling pandang dan kompak terkekeh.


"Daddy jangan buat Mommy menangis ya. Tolong luangkan lebih banyak waktu untuknya. Mommy pasti akan kesepian karna aku tinggal di Jakarta." Jihan memohon sembari bergelayut di tangan Daddynya.


"Jangan khawatir, itu sudah tugas Daddy." Jawab Farrel.


...*******...


Pesawat yang ditumpangi Nabilla dan Farrel mungkin sudah take off sejak beberapa menit lalu.

__ADS_1


Davina dan Dave berada di mobil bersama supir yang tadi mengantar mereka beserta keluarga Farrel ke bandara.


Sementara itu, Jihan memilih ikut di mobil Aditya dan Elia karna akan di ajak makan malam oleh Elia.


Jangan ditanya lagi bagaimana suasana di dalam mobil mewah milik Aditya. Keduanya tidak henti-hentinya berbicara, saling bercerita satu sama lain. Mulai dari hal-hal penting, sampai hal-hal receh sekalipun.


Aditya sampai geleng-geleng kepala saking pusingnya mendengar obrolan mereka yang tidak ada hentinya. Mereka seperti tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan.


"Sayang, ayo turun." Ajak Aditya setelah memarkirkan mobilnya di depan restoran miliknya.


"Sudah sampai ya.?" Elia melihat keluar jendela, begitu juga dengan Jihan yang duduk di samping Elia.


"Cepat sekali." Jihan ikut berkomentar.


Aditya hanya melihat keduanya dari kaca spion sambil berdecak. Dia buru-buru melepaskan seatbelt dan turun lebih dulu.


Aditya masuk lebih dulu ke dalam restoran bintang 5 miliknya yang di kelola bersama dengan kedua kedua sahabatnya. Setelah sukses membuka beberapa cafenya, kini mereka mencoba peruntukan dengan membuka restoran mewah.


Sementara itu, Elia dan Jihan berjalan di belakang Aditya sambil asik mengobrol. Membahas soal interior restoran pan pengunjung yang cukup banyak.


"El, boleh pesan vodka tidak.?" Bisik Jihan. Mereka sudah ikut masuk ke ruang VIP bersama Aditya.


"Kamu yang benar saja Jihan.! Jangan macam-macam, Kak Adit tidak akan mengijinkanmu minum." Elia bicara tegas meski berbisik agar tidak di dengar oleh Aditya.


"Aku sudah 23 tahun El, tidak masalah kalau aku minum. Sudah legal." Balas Jihan.


Elia tetap menentang dan meminta Jihan untuk tidak membahas minuman itu lagi.


"Kalian pesan duluan saja." Titah Aditya. Pria itu sudah duduk, kini tampak mengambil ponsel dari saku celana dan menghubungi seseorang.


Elia hanya melirik sekilas walaupun sebenarnya penasaran siapa yang sedang di hubungi oleh suaminya.


"Malam Nona Elia, ini buku menunya," Seorang pelayan menyodorkan buku menu pada Elia.


Pelayan itu terlihat sangat hati-hati dalam menyambut dan melayani istri pemilik restoran.


"Terimakasih, kami pilih dulu sebentar." Ucap Elia sopan.


Dia kemudian mendekatkan buku menu ke arah Jihan dan melihatnya sama-sama. Ini pertama kalinya Jihan di bawa ke restoran milik Aditya yang baru di buka 2 bulan lalu.

__ADS_1


"Ini beberapa menu best seller, sangat enak. Kamu harus mencobanya." Jelas Elia sembari menunjukkan gambar menu.


"Semuanya terlihat enak, tapi perutku tidak akan muat menampung semuanya. Aku pesan 2 makanan berat, 1 dessert dan 2 minuman saja." Ujar Jihan sambil menunjuk 2 menu best seller.


Pelayan itu langsung mencatat pesanan Jihan, disusul dengan pesanan Elia.


Saat Elia menoleh ke arah Aditya untuk menyuruhnya memesan makanan, pria itu tampak masih sibuk berbicara lewat telfon.


"Sayang,," Lirih Elia sembari menyentuh pelan tangan Aditya.


Aditya langsung menoleh.


"Ya.?" Jawabannya sambil menjauhkan ponsel.


"Mau pilih menu sendiri atau aku pesankan saja.?" Tawar Elia.


"Pesankan apa saja, aku masih harus menelfon." Ujarnya sembari mengulas senyum teduh dan mengusap kepala Elia.


Jihan memutar malas bola matanya melihat pemandangan menggelikan itu. Ternyata bukan cuma Elia saja yang bucin, tapi Aditya juga sama saja.


"Ini namanya menyiksa jiwa jombloku.!" Gerutu Jihan pelan.


...******...


Pesanan mereka sudah datang 10 menit yang lalu, kini ketiganya tampak sedang menikmati makan malamnya. Terlebih Jihan, dia sangat excited mencicipi semua makanan dan minuman miliknya.


Tak berselang lama, pintu ruangan di ketuk. Elia dan Jihan kompak menatap ke arah pintu. Berbeda dengan Aditya yang tampak masih santai menikmati makanannya karna dia sudah tau siapa yang mengetuk pintu.


"Sorry telat." Seru Alex yang masuk lebih dulu sambil menggandeng seorang wanita seksi. Di susul Juno yang berjalan seorang diri di belakang Alex dan kekasihnya.


"Tidak masalah. Pesanan makanan dulu saja." Ujar Aditya.


"Tentu." Jawab Alex. Dia menarik dua kursi untuk dia dan kekasihnya


Juno hanya diam saja, tapi pria itu sempat mengulas senyum pada Elia. Elia balas tersenyum ramah pada sahabat suaminya itu.


"Sepertinya Kak Juno masih suka sama kamu." Bisik Jihan. Elia menatap tak suka. Entah bagaimana bisa Jihan berfikir seperti itu. Bahkan saat pertama kali Jihan melihat Juno beberapa tahun lalu, Jihan sudah menebaknya sejak awal.


Elia tentu saja tidak setuju dengan pendapat Jihan, pasalnya Juno pernah bilang kalau dia hanya menganggapnya sebagai adik.

__ADS_1


__ADS_2