My Beloved Sister

My Beloved Sister
Bab 66


__ADS_3

Malam itu setelah menemani Elia mengobrol di ruang keluarga, Davina pergi ke kamarnya dan langsung menghubungi Aditya yang masih berada di Bali.


"Sudah lebih dari 1 minggu dan kamu belum kembali.?! Mama tau masalah penggelapan dana di hotel sudah selesai." Ujar Davina begitu sambungan telfonnya terhubung dengan Aditya.


"Sampai kapan kamu mau menghindari Elia.?" Cecar Davina. Dia merasa dikecewakan putranya sendiri atas kejadian ini. Davina tidak bermaksud membela siapapun siapapun, karna Elia dan Aditya sama-sama anaknya. Wanita paruh baya itu hanya berusaha bersikap adil dalam membantu mengakhiri permasalahan Aditya dan Elia.


Tidak bisa dipungkiri, Davina tau jika perbuatan Elia yang diam-diam mengkonsumsi pil penunda kehamilan memang salah. Tapi keputusan Aditya untuk menghindari Elia juga tidak bisa di benarkan. Davina tidak asal menuduh, dia punya alasan yang memperkuat dugaannya kalau Aditya memang sedang menghindari Elia dengan tetap berada di Bali sampai detik ini.


"Aku tidak menghindari Elia, ada masalah lain yang harus aku selesaikan disini." Jawab Aditya santai.


Davina yang mendengarnya semakin dibuat geram. Jelas sekali Aditya tidak jujur. Davina jadi berfikir untuk memberikan pilihan yang tegas pada putranya agar tidak berbuat seenaknya terhadap Elia.


"Kalau sudah tidak ingin bertemu dengan Elia, sebaiknya akhiri saja pernikahan kalian.! Mama akan mengirim Elia ke luar negeri agar kuliah lagi.!" Tegas Davina penuh ancaman. Meski begitu, Davina tidak akan main-main dengan ucapannya.


Jika Aditya masih bertahan pada egonya, Davina tidak akan segan-segan mengirim Elia keluarga negeri untuk melanjutkan studi S2 di sana.


"Mama jangan sampai melupakan satu hal. Seorang anak yang sudah menikah, segala sesuatu yang terjadi tidak berhak dicampuri urusannya oleh orang tua." Tutur Aditya dengan suara pelan.


"Aku harap Mama bisa mengerti."


"Lagipula aku benar-benar masih ada urusan yang harus diselesaikan disini, bukan bermaksud menghindari Elia." Jelasnya yang tidak sepenuhnya benar.


Sudah 1 minggu lebih Elia yang lebih dulu menghubungi Aditya dan menanyakan kabarnya. Itupun jarang mendapatkan balasan pesan darinya.


Kalau memang Aditya tidak berniat menghindari Elia, harusnya Aditya bisa menyempatkan diri untuk menghubungi Elia lebih dulu.

__ADS_1


"Kenapa kamu jadi keras kepala seperti ini." Seru Davina tak habis pikir.


"Mama tidak peduli, jika dalam waktu 24 jam kamu belum pulang ke rumah, jangan salahkan Mama kalau Elia bersedia mengakhiri pernikahan kalian dan pergi ke luar negeri.!" Tegasnya kemudian langsung memutuskan sambungan telfon. Davina tidak perlu menunggu respon dari Aditya karna hanya membuat perdebatan semakin melebar.


Di pulau dewata, seorang pria tampak frustasi setelah sambungan telfonnya tiba-tiba di putus. Dia meremas kasar rambutnya sendiri, lalu mengacaknya ke sembarang arah.


Aditya di lema, antara kembali ke Jakarta atau tetap stay di Bali sampai kekecewaannya pada Elia bisa memudar.


Jika di pikir-pikir, sebenarnya kesalahan Elia tidak terlalu fatal. Elia hanya ingin menunda memiliki anak dengan cara-cara diam-diam di belakang suaminya, bukan melakukan pengkhianatan seperti berselingkuh dengan pria lain.


Tapi karena saat itu posisi Aditya edang ada masalah di perusahaan dan emosi setelah di marahi Dave, jadi sedikit kesalahan saja yang dilakukan Elia bisa menjadi fatal di mata Aditya.


...*****...


Kini tepat 10 hari sejak Aditya pergi ke Bali, hubungannya dengan Aditya masih dingin seperti terakhir mereka bertemu. Padahal Elia sudah berusaha mencairkan suasana hati Aditya dengan mengirim pesan setiap bangun pagi dan malam menjelang tidur. Tak hanya itu saja, Elia juga bertanya sebanyak 3 kali dalam sehari untuk memastikan Aditya sudah makan atau belum. Tapi respon Aditya sangat singkat.


Elia memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.


Elia membuat mata lantaran samar-samar mendengar suara dari dalam kamarnya. Dia kemudian bergegas beranjak dari sana dan menutup pintu balkon.


Di dalam kamar, Elia tidak melihat siapapun. Tapi ada koper milik Aditya di pojok ruangan. Tanpa di sadari, Elia tersenyum lebar. Sudah lama dia menunggu Aditya kembali dan berharap bisa menyelesaikan masalah mereka secara baik-baik.


Duduk di tepi ranjang, Elia menunggu Aditya keluar dari kamar mandi. Jemari Elia saling bertautan, dia tampak gugup.


Tak berselang lama, Aditya keluar dari kamar mandi. Dia berjalan ke arah ranjang dan sempat menghentikan langkah ketika melihat Elia. Aditya tadi melihat Elia yang sempat berdiri di balkon kamar, tapi dia berniat menghampirinya.

__ADS_1


"Kak,," Panggil Elia.


Elia buru-buru berdiri dan berniat menghampiri Aditya. Namun ucapan Aditya membuat Elia mengurungkan niat.


"Aku mau tidur, besok ada rapat pagi-pagi di kantor." Ucap Aditya dingin.


Pria itu berjalan tegap ke arah ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya di sana.


Elia hanya diam, menatap nanar punggung Aditya yang membelakanginya.


"Kalau ada yang ingin dibicarakan, besok saja setelah aku pulang dari kantor."


Elia memejamkan mata mendengar ucapan Aditya. Dadanya kembali sesak karena Aditya masih bersikap dingin dan marah padanya.


"Baik. Kak Adit istirahat saja, aku akan tidur di kamar sebelah aar tidak menganggu." Elia mengambil ponselnya dari atas nakas. Elia benar-benar keluar dari kamar itu.


Aditya menatap ke arah pintu ketika mendengar suara pintu yang tertutup.


Pria itu membuang nafas kasar. Dia juga tidak tau kenapa belum bisa memaafkan kesalahan Elia.


...*****...


Malam itu Aditya justru tidak bisa tidur. Dia masih terjaga meski sudah pukul 2 malam. Sesuatu menganggu pikirannya hingga kesulitan tidur.


Aditya kemudian memilih keluar dari kamar, kemudian masuk ke kamar sebelah yang ternyata tidak di kunci. Dia naik ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut dan memeluk guling hidup yang menganggu pikirannya sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2