
Hay! Kenalin, nama aku Keisha Anantasha. Aku siswi kelas dua belas di salah satu SMA di kota ku. Tahun ini usiaku 18 tahun, tapi detik ini, aku masih berusia 17 tahun.
Hmn...
Kalian tahu? Menjadi siswi kelas dua belas itu bukan hal yang menyenangkan. Bagaimana tidak? Kami terlalu sibuk dengan banyaknya tugas, belum lagi belajar ekstra untuk menghadapi ujian mendatang. Rasanya seperti ingin menangis saja!
Seperti saat ini. Ditemani setumpuk buku dan beberapa kamus dari berbagai versi, aku tengah mencoba menyelesaikan tugas bahasa Inggris yang bejibun. Terkadang aku bingung, mengapa para guru masih memberi banyak tugas pada kami yang akan lulus? Nilai tambahan? Jangan bercanda deh, nggak lucu soalnya.
Sedang asyik menggerutu, tiba-tiba ponselku berderit. Aku sempat kaget, untungnya ponselku sudah kuubah ke mode getar untuk berjaga-jaga. Well, penjaga perpustakaan punya telinga yang tajam, jadi bisa gawat kalau dia tahu aku membawa ponsel dan lebih parahnya, berisik.
Sebuah kontak dengan lambang favorit terlihat di layar. Sebuah nama yang selalu membuatku tertawa tapi tidak untuk saat ini. Sekuat tenaga aku mencoba menahan suaraku membaca nama si penelpon.
My Cute Boyfriend
Yup! Itu nama kontak pacarku!
Jangan bertanya-tanya dulu mengapa kunamakan pacarku dengan kontak itu oke? Akan kujelaskan, tapi tidak sekarang.
Aku bergegas menuju sudut perpustakaan, mencari tempat aman agar telinga tajam penjaga perpustakaan tidak dapat menangkap suaraku. Setelah merasa cukup, dengan segera aku mengangkat panggilan.
"Hal---"
"Kei? Kamu nggak apa-apa? Kok lama banget angkatnya?"
---belum juga suaraku mengucapkan kata 'halo', pacarku sudah memberondong dengan ribuan pertanyaan. Aku terkekeh tanpa suara. Dia itu benar-benar berlebihan.
"Halo sayang~" sapaku.
Terkesan manja? Well aku punya alasan untuk itu.
Dapat kudengar kekehan kecil di seberang telepon. Aku menahan senyum sambil membayangkan wajahnya yang tersipu malu disana.
"Halo juga Kei."
Ugh. Aku tidak tahan mendengar suara malu-malu itu!
Menarik napas pelan, aku mencoba fokus.
"Kenapa nelpon?" Aku bertanya sambil melirik jam tangan berwarna biru doraemon punyaku. Masih pukul tiga sore, itu berarti pacarku itu masih ada di kampus.
Terdengar tarikan napas pelan di ujung sana.
"Kuliahku selesai lebih cepat. Mau aku jemput sekarang nggak?" Dia bertanya.
Hmn, sebenarnya sudah tidak ada jam pelajaran lagi saat ini karena waktunya ekskul. Lagian aku tidak masuk ekskul apapun jadi kurasa mungkin tawaran pacarku boleh juga.
"Boleh." Jawabku. "Nanti kalau udah sampai kabarin ya? Aku lagi di perpus soalnya."
"Kamu di perpus Kei? Kok nelpon sih? Kenapa nggak bilang dari tadi juga?"
Ah, aku benar-benar gemas pada pacarku!
"Eheheh, udah dulu ya sayangku. Aku tunggu nih. Bye bye~"
"Eh, Kei----"
----- tut.
Dengan sengaja aku mematikan panggilan. Sambil senyum-senyum sendiri aku kembali ke bangku. Aku tahu persis di kampusnya sana pacarku sedang menggerutu tidak jelas. Ugh, aku mau melihatnya.
Pacarku itu, dia sangat manis. Wajahnya tampan tapi terlihat begitu cute di mataku. Senyumnya juga manis, dengan mata sipit dilapisi kacamata. Sebenarnya dia tidak rabun, hanya suka pakai kacamata karena katanya lebih nyaman.
Manis kan?
Namanya Nenra Aditya. Dia laki-laki oke? Namanya saja yang mirip perempuan dan manis sekali.
Sudah berapa kali aku menyebut kata manis?
Nenra tiga tahun lebih tua diatasku. Usianya 20 tahun, tapi akan ulang tahun bulan Mei mendatang. Dia kuliah kedokteran di salah satu Universitas terbaik di kota. Meski dia dari kalangan berada, tapi dia sekolah dengan beasiswa. Hebat kan pacarku? Kata Nenra, jika dia bisa kuliah dengan kerja kerasnya sendiri, kenapa harus menuntut orang tua? Ah, aku jadi semakin mencintainya saja.
Aku teringat sesuatu.
Nenra itu pandai kan? Bagaimana jika lebih baik aku meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas? Wah, ide bagus Kei. Kau sangat jenius.
*My Cute Boyfriend*
.
Aku berlarian menuju gerbang sekolah. Beberapa menit lalu, Nenra bilang ia sudah berada di depan sana. Well, sebenarnya aku tidak perlu terburu-buru karena jarak gerbang dengan gedung sekolah tidak jauh. Hanya saja aku ingat sesuatu.
Nenra itu pemalu!
Tiba di gerbang, dapat kulihat beberapa siswi dari ekskul cherrleader baru keluar dari lapangan. Mereka tampaknya sudah berganti pakaian dengan seragam dan akan pulang. Bisa kulihat mereka melewati gerbang.
Oh tidak, pacarku!
Lagi-lagi aku berlari. Menyesal sekali aku berlama-lama di perpustakaan tadi! Serius.
Tiba di gerbang, dapat kulihat banyak siswi yang memandang satu objek. Penasaran, aku dengan segera menuju ke arah yang ditatap mereka.
__ADS_1
Dan yah, pacarku disana.
Dengan senyuman manis yang ia layangkan, Nenra mengangguk tiap kali seseorang menyapanya. Penampilannya masih sama seperti tadi pagi. Ia memakai jeans berwarna hitam dengan kemeja berlengan panjang berwarna abu-abu. Bedanya, jas kedokteran tidak lagi melekat di tubuh tingginya. Rambutnya juga sedikit berantakan.
Ah, boleh aku cemburu?
Dia terlihat manis sekali di seberang sana dan malah memberi senyum pada gadis-gadis dari sekolahku. Dia memang alumni dari sekolah ini, tak heran banyak yang mengenalnya. Apalagi kaum hawa. Soalnya 100% populasi hawa di sekolahku itu begitu memuja pria tampan.
Ayolah, jangan munafik oke? Kalian para gadis juga pasti suka sama pria tampan!
"Kei!"
Aku melamun. Suara Nenra yang memanggil membuatku tersentak dan kembali melangkah kearahnya. Dia melayangkan senyum padaku. Senyum yang lebih lembut.
"Nenra, kamu kok senyum-senyum sih?"
Nenra mengernyit, seperti tak mengerti maksud ucapanku. Ah, dia terlihat sangat manis dan aku tidak tahan untuk tidak memeluknya.
"Eh, Kei?"
Aku memeluknya. Menyembunyikan wajahku di dada bidangnya. Wangi Nenra yang masukulin tapi manis membuatku betah berlama-lama. Masa bodoh sama pandangan dan pendapat orang. Aku tidak peduli.
"Nenra imut banget sih~" suaraku terdengar samar-samar karena aku berbicara di pelukannya.
Tak ada respon, dengan penasaran aku mengangkat kepala melihat wajahnya. Dan saat itulah aku menyesal. Kurasakan wajahku memanas melihat Nenra yang tersipu dengan tangan yang menutupi mulutnya dengan tangan kiri.
Dia manis sekali!!!
"Uwaaa Nenra blushing!" Aku memekik gemas. Pipi Nenra kutarik, membuatnya meringis.
"Sakit Kei, lepasin."
Aku tersenyum. "Aku sayang Nenra deh."
Lagi-lagi Nenra tersipu.
Dia tak membalas ucapanku dan malah menarikku untuk masuk ke dalam mobil. Aku tak tahu Nenra mau membawaku kemana. Yang jelas, arah yang ia tuju bukan arah pulang.
"Kita mau kemana Nen?" Aku bertanya. Sedikit melirik dari ekor mata, masih bisa kulihat wajah tersipu Nenra. Yaampun, dia masih malu?
Entah kenapa Nenra tak menjawab.
Serius deh, Nenra nggak cocok jadi sok misterius gini. Wajahnya jujur banget soalnya. Nggak ada misterius atau menakutkannya sama sekali.
"Nenra, aku belum bilang mama lho kalau bakal pulang telat."
Seketika kulihat Nenra tersentak. Seolah tersadar dari sesuatu.
Kenapa panik coba?
"Kamu telpon mama dulu dong, pake hape aku." Kata Nenra. Ia memberi isyarat agar aku mengambil ponselnya yang terletak di atas dashbord.
Dengan segera aku mengambil ponsel Nenra. Membuka kontak dan mencari nomor telepon mama. Mamaku. Soalnya kalau mama Nenra sendiri dia panggil mami.
Tut.. tuuut...
Kurang lebih begitulah bunyi nada tunggu di ponsel Nenra. Aku menunggu hingga akhirnya terdengar suara panggilan diangkat.
"Halo Nen, kenapa ya?"
Aku melirik Nenra. Melihat dia mengangguk, aku meloudspeaker panggilan.
"Halo ma."
"Tumben nelpon jam segini. Kenapa?"
Kulihat Nenra menghela napas lalu melirikku.
"Begini ma, Nenra nanti anterin Kei pulang telatan dikit ya?"
Aku mengernyit mendengar pertanyaan Nenra. Di seberang telepon, terdengar suara mama terkekeh.
"Yaampun Nenra, mama juga tahu kalau Kei pulang telat pasti karena kamu."
Seketika Nenra tersipu. Ia tampak sangat malu.
"Ng.." Nenra melirik kembali padaku. "Yaudah deh ma."
Lagi-lagi mama terkekeh, kali ini lebih keras.
"Lain kali nggak usah panik duluan ya Nen? Mama nggak apa-apa kok kalo kamu bawa Kei sebelum pulang."
"I-iya ma."
Pfftt.
Aku tak bisa menahan tawa. Setelah panggilan dimatikan, aku tertawa sepuasnya.
Nenra benar-benar lucu. Dia panik karena takut mama marah kalau aku pulang telat sama dia. Nggak heran sih, soalnya Nenra orangnya sangat jujur.
__ADS_1
"Ketawa mulu Kei mah." Nenra menggerutu. Aku makin tertawa keras. Sumpah, wajahnya benar-benar menggemaskan.
"Aku makin sayang Nenra deh kalo gini~"
Sekali lagi, Nenra tersipu.
...
Setelah menghabiskan waktu sekitar 20 menit di dalam perjalanan, Nenra menepikan mobilnya di salah satu parkiran. Penasaran membuatku menatap keluar jendela, bertanya-tanya dimana kami.
"Ayo turun." Ajak Nenra dia membuka pintu lalu keluar dari mobil.
Harusnya aku tahu siapa pacarku. Nenra bukanlah seorang laki-laki romantis yang akan membukakan pintu untuk kekasihnya. Nggak akan. Karena Nenra adalah laki-laki pemalu yang menggemaskan.
Tapi aku cinta.
Setelah mengambil ponsel dari dalam tas, aku lantas keluar dari mobil. Nenra masih berada di samping mobilnya, menatap kearahku.
"Pantai?" Aku bertanya.
Angin sepoi-sepoi yang teramat sejuk menerpa lembut wajahku. Suara desiran ombak yang sebelumnya tak terdengar kini membelai telinga seiring langkah kakiku berjalan mendekati pantai.
Aku benar-benar tidak tahu Nenra mengajakku ke pantai. Sepanjang perjalanan aku menghabiskan waktu bermain game atau menatap wajah manis pacarku, jadi tidak sadar kalau kami menuju pantai.
"Kei."
Aku menoleh. Nenra tertinggal cukup jauh di belakang. Wajahnya sedikit tertekuk dan cemberut. Langsung saja aku tertawa.
"Ciee yang ditinggal." Aku menggodanya.
Nenra menahan senyum dan berjalan cepat, sedikit berlari ke arahku. Tangan kanannya lantas menggapai tanganku yang terulur.
"Tumben nih ngajak ke pantai." Kataku. Aku melirik Nenra sambil bergelayut di lengannya.
Nenra hanya diam.
"Nenra ih."
Nenra tetap diam. Dia hanya tersenyum tanpa merespon ucapanku.
Kesal? Tentu tidak. Aku suka melihat sikapnya yang diam sambil senyum-senyum begitu. Sangat manis soalnya.
Kalian tahu?
Nenra itu adalah tipe laki-laki yang polos. Dia hidup di keluarga yang teramat sangat menjaganya sehingga pribadinya berbeda dari laki-laki kebanyakan. Dia pemalu, tapi lebih suka tersenyum untuk menutupi rasa malu itu.
Lalu bagaimana aku dan dia bisa pacaran dengan sifatnya yang seperti itu?
Tentu saja aku yang menembaknya duluan! Sekarang bukan zamannya cewek menunggu. Soalnya kalau kelamaan menunggu, bakal diembat yang lain. Aku nggak mau tentu saja. Nenra manisku hanya boleh menjadi milikku.
Dan taraa~ kita jadian.
"Kamu suka lihat sunset kan?" Nenra bertanya. Aku menoleh, menatap Nenra bingung. "Kita kan nggak pernah lihat sunset bareng, jadi sekarang aku bawa kamu kesini."
Permisi, tolong ralat ucapanku saat kubilang Nenra tidak romantis. Dia romantis! Tapi dengan caranya sendiri.
Aku tersenyum. "Ututuu sayangku romantis deh."
Untuk kesekian kalinya, Nenra tersipu.
Dia menggenggam tanganku lebih erat. Tanpa pemberitahuan, Nenra berlari sambil menarikku dalam genggamannya. Aku yang tanpa persiapan tentu saja kaget. Tapi kemudian, aku bisa menyamakan langkah kami karena Nenra sengaja memperlambat langkah larinya.
"Akhhh!! Kei nakaaalll!!"
Nenra berteriak tiba-tiba.
Aku terkejut tapi tersenyum kemudian.
"Akkhhh!! Nenra manis!!"
Nenra menoleh. "Aku tampan, bukan manis." Katanya. Sedikit senyum ia layangkan.
Yaampun, pacarku mulai berani.
"Yaiyalah, kalau nggak tampan aku nggak mau kali."
"Kei jahat sekali."
Aku tertawa.
Jika seseorang bertanya apa hobiku, dengan senang hati aku akan menjawab.
Menggoda pacar manisku.
Bersambung...
An:
Ya, ini sangat tidak jelas. Saya tahu itu_-
__ADS_1
Btw saya lagi semangat sekali menulis karena melihat genre teen di daftar mangatoon 😁 sejak awal saya suka menulis teenfict jadi benar-benar semangat.