My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Chapter 14


__ADS_3

"Oi zra,"


Ezra menoleh.


"Udah baikan sama Nanaz?"


"Hm, udah."


Ezra kembali menghadap lurus kedepan. Ada yang aneh pikir Rafa, Ezra yang rusuh gak bisa diem tumben-tumbennya jadi macan yang anteng. Padahal pawangnya gak ada disini.


Tadi Rafa kira karena belum baikan sama Nanaz, makanya ia bertanya. Tapi kalau udah, lantas apa penyebab Ezra jadi diam begini?


"Mikir apa sih lo?"


"Jinan." Gumamnya.


Rafa sontak kaget, "Woi! Bisa-bisanya lo mikrin cewek lain?! Lagi sawan?"


Ezra berdecih, menatap Rafa sebal. "Bukan gitu maksudnya!"


"Ya kali gue mikirin tuh cewek! Bagusan gue halu nikah sama Nanaz."


"Terus maksud lo apa?"


Ezra mendengus, sebenarnya malas menjelaskan. Nimpuk wajah Rafa dosa gak ya? Ini anak kepo bener pikirnya.


"Dari mana dia tau nama bokap gue putra coba?"


"Lah iya, sejak kapan nama bokap lo putra? Bukannya Om Julian?"


"Itu yang buat gue bingung." Kata Ezra, Rafa semakin mengerutkan keningnya.


"Julian Syahputra."


"Bokap gue biasa di panggil Julian, jarang-jarang ada yang panggil Putra. Mungkin orang terntentu aja sih."


Ezra berdecak kesal, mengacak-acak rambutnya merasa frustasi sendiri tak menemukan jawaban. Sempat berfikir Jinan memata-matainya tapi tidak mungkin. Ezra pasti langsung sadar kalau lagi di awasin setan, eh?


"Jangan-jangan....."


"Jangan-jangan apa?" Ezra menoleh penasaran.


"Jangan-jangan si Jinan pernah godain Om Julian juga? Terus gagal makanya anaknya di embat."


Teori dari mana itu Rafa :)


Plak!


"Anjir! Sakit kepala gue sialan!"


"Lama-lama lo kayak si Doni ya Raf! Sini gue tampol lagi, masih belom puas gue!" Ketusnya.


Rafa segera menghindar, gawat. Mode macan kurang belaiannya mulai aktif kayaknya. Bahaya kalau ngamuk.


"Gue kan cuman berpendapat!"


"Bacot lo!"


"Pendapat lo gak berfaedah, sama kayak hidup lo Raf gak ada faedahnya!"


Rafa mengelus dada, sabar Ya Allah. Sabar aja deh, pengen bales tapi nanti Ezra makin ngamuk. Tampolan di kepalanya masih nyut-nyutan rasanya. Sialan emang Ezra, mana pake tampang garang lagi. Rafa kan tak berani.


"Ape ni?"

__ADS_1


Doni masuk ke kelas dengan cilok dan beberapa pesanan temannya. Sebenarnya ini masih jam belajar, guru mereka, Pak Dedi izin ke kamar mandi tadinya setelah ngasih mereka tugas.


Padahal bentar lagi bel istirahat pertama. Tapi itu guru masih belum balik juga, gak tau kemana. Jadi jangan heran kalau kelas ini sangat ribut, bahkan ada yang keluar kelas untuk ke kantin.


"Gue mencium hawa-hawa KDRT. Lo di pukul Ezra Raf?"


"Diem lo!"


Doni menyengir kuda.


"Woi!"


Setelah duduk di bangkunya Doni menoleh pada Ezra yang duduk disamping, memasang ekspresi yang seolah mengatakan 'apa'


"Pisang goreng pesenan gue ada kan?"


"Ada nih,"


"Lah ini bakwan!"


"Lah masa' perasaan tadi pisang?"


"Gue gak mau tau! Tukar sana." Ketus Ezra.


"Don cimol gue mana?" Tanya Rafa.


"Loh, bukannya tadi lo mesen cilok juga Raf?"


"Cimol woi buka cilok! Perasaan kuping lo dua deh Don."


"Heh! Ini kenapa pada nyalahin gue coba?? Udah syukur gue mau beliin juga dasar nak dakjal kalian!"


"Lo bilang apa tadi setan?!" Sengit Ezra. Dia lagi kesel, padahal tadi nunggu-nungguin pisang goreng.


"Gak-gak jadi. Iya deh gue yang salah, terus gimana ni makananya?"


"Anying lah Raf, kenapa gak lo aja yang ke kantin kalau gitu hah?"


"Kan tadi lo yang kalah pas hompimpah!" Ketus Rafa.


"Ah tau lah!"


Doni menggeram kesal, apes banget hari ini dia. Terus gimana nih, dia yang ganti? Mana tadi pagi Susi si bendahara yang galaknya kayak ibu kosan nagih uang kas.


Ezra menghela nafas, "Yaudah deh, sini bakwannya laper gue."


Ezra mengambil pelastik berisi bakwan dan memakannya setelah mengucap bismillah. Doni agak kaget, tumben pikirnya. Biasa pasti gak mau ngalah, ngamuk kesetanan.


"Lo Raf, gak mau berbaik hati makan cilok nya gitu?"


"Yaudah sini."


"Hmm, selamat duit gue."


Beberapa menit kemudian bel istirahat yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi. Kelas yang awalnya sudah ribut semakin ribut berhamburan keluar kelas.


Begitupula dengan Ezra, setelah ngegas sama Doni menyuruh minggir dari duduknya karna dia mau lewat. Ezra mau ketemu Nanaz, pokoknya harus makan berdua di kantin. Gak ada boleh yang ganggu.


Ya gitu rencananya, sampai tiba-tiba gadis yang tempo hari membuatnya kesal, sekaligus bisa di bilang penyebab Ezra dan Nanaz jadi berantem datang ke kelasnya.


Jinan dengan seragam olahraganya awalnya memandang ke sekitar. Sampai ketika matanya menemukan sosok yang di cari, gadis itu kembali melangkah mendekat ke meja Ezra.


"Ezra!"

__ADS_1


Ezra yang sudah menyadari kehadiran Jinan dari awal memasang wajah sinisnya.


"Ngapain lo kemari hah?!"


"Gue mau lo minta maaf." Tuturnya.


Ezra memandang datar beberapa detik. kemudian segera mengubah ekspresinya kembali, memberikan smirk andalannya dengan tatapan merendahkan.


"Gue gak salah denger?"


"Kalau kedua telinga lo masih berfungsi, seharusnya lo gak salah denger." Tegas Jinan.


"Hoi, otak lo ketinggalan ya? Ambil dulu sana, ntar kalau udah di pake baru balik lagi kesini."


Jinan berdesis sebal, "Lo bakal nyesel ngomong gitu ke gue tau gak!"


"Oh gitu?"


"Kenapa gue harus nyesel? Emangnya lo siapa hah."


"Ezra!!"


"Apa!? Kurang puas hujatan gue kemarin hah!"


"Apa sih susahnya minta maaf?!" Kesal Jinan.


Rafa yang sedari tadi menonton berdehem, "Ekhem! Lo yang datang-datang ngerusuh dirumah orang. Kenapa harus Ezra yang minta maaf?"


"Ho oh! Sok-sokan nyuruh Ezra minta maaf, gue tanya sama lo, emang lo mau minta maaf ke Nanaz setelah ngehina dia sampah gitu?" Sambung Doni.


Jinan berdecak, beralih menatap mereka berdua tajam. "Gak usah ikut-ikutan kalian berdua!"


"Lagian, ngapain gue harus minta maaf ke itu orang?!"


"Yang gue bilang itu gak salah, sampah kayak dia emang harus di jauhkan dari Ezra! Karena Ezra punya gue!"


"Cuman punya guee!" Jeritnya kesal.


Jinan merasa sedih saat Ezra membentaknya, Jinan hanya ingin Ezra minta maaf kepadanya dan memperlakukannya dengan baik. Itu saja, memangnya hal itu begitu sulit? Pikirnya.


Tangan Ezra terkepal, mencoba menahan diri. Ia sedang tak ingin marah-marah saat ini. Beberapa teman sekelasnya mulai melihat mereka, Ezra berdecak malas.


"Ck! Lo gak tau diri banget ya?"


"Siapa lo berani ngeklaim gue hah?!"


"Namanya juga caper, ya gitu zra." Cibir Doni.


"Udah-udah, Jinan mendingan lo balik ke kelas. Nanti kalau ezra ngamuk tambah runyam." Kata Rafa mengingatkan.


Detik itu, mereka bertiga tercekat melihat mata Jinan yang berkaca-kaca, terlihat merah karena menahan tangis. Menatap Ezra dengan amarah dan raut wajah kekecewaan.


"Lihat aja...


Jinan menggantung kalimatnya.


"Gue pasti bakal buat lo mintaa maaf suatu saat nanti." Katanya parau.


Gadis itu berbalik, berjalan dengan keluar kelas beberapa teman Ezra yang memperhatikan mulai berbisik-bisik. Akan membuat gosip baru mungkin.


"Drama banget sih tuh anak. Biasa juga bar-bar, teriak-teriak kayak monyet gak di kasih pisang.


Rafa mengendikkan bahu menanggapi ocehan Doni, "Entahlah, lagi datang bulan mungkin?" Katanya sambil memperhatikan Ezra.

__ADS_1


Cowok itu masih terpaku ditempatnya, termenung, tatapan matanya kosong. Entah kenapa kepalanya berfikir dalam, mememikirkan raut wajah Jinan saat menatapnya tadi.


Tbc,


__ADS_2