My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
CHAPTER 10


__ADS_3

***


Sahutan terdengar dari dalam. Pintu mulai terbuka, mereka disambut dengan senyuman hangat milik Wanita cantik berambut sebahu.


Mereka terlihat berbaris, mencium punggung tangan Fira bergantian kemudian, mulai memasuki ruangan saat Fira mempersilahkan mereka masuk. Fira yang menyadari seseorang yang baru disini mulai membuka suaranya kembali.


"Loh, yang satu ini siapa? Anggota baru ya." Kata Fira sambil mendekati Lucas.


Lucas terlihat sedikit kaku saat Fira memandanginya dengan tatapan gemas. Nanaz terkekeh, bukan hanya ia yang menganggap Lucas sangat imut kan.


"Bukan tante. Anak pungud itu, kerjaannya ngikutin Nanaz terus." Jawab Doni.


Lucas hanya melirik sebal, kemudian beralih menatap Fira kembali.


"Saya Lucas tante, adik kelasnya Kak Ezra."


"Wah, temennya Ezra banyak ya. Sampai ke adik kelas." Ujarnya tersenyum.


"Tante, kami bawa buah buat Ezra. Buat Tante juga kok hehehe."


"Ya ampun sampai repot-repot, padahal bawa Nanaz kesini aja cukup loh. Tante yakin Ezra langsung sembuh." Godanya sambil mengerlingkan mata.


"Karina gimana kabarnya Nanaz?"


"Kak karin baik kok, tapi sekarang lagi di luar kota tante."


Fira tersenyum manis, "Tante kirim salam yah, sampein kapan nikah." Katanya terkekeh.


Nanaz ikut tertawa sebagai jawaban. Lucas, Doni dan Rafa yang tidak bisa masuk ke topik pembicaraan ini hanya dapat melihat aksi pendekatan mertua dan calon menantunya.


Melihat mereka yang asik mengobrol sambil memegang tangan mungkin menandakan bahwa Nanaz lupa tujuan mereka kesini. Padahal mau jenguk Ezra, oleh karena itu Doni sengaja batuk sambil memegang lehernya.


"Astaga, tante lupa! Kalian naik ke atas aja dulu. Ezra di kamarnya, biar nanti tante bawain minumannya kesana ya."


"Eh, gak usah Tan. Jadi ngerepotin tante nanti." Ujar Rafa merasa tak enak dan mendapat tempelengan di kepalanya.


"Heh! Gak usah basa-basi lo, tadi yang sibuk kehausan di jalan siapa hah." Sindir Doni.


"Anjir, malu-maluin goblok." Bisik Rafa sambil melototi lawan bicaranya.


"Biar Nanaz bantu ya Tante!"


"Lu-lucas juga."


Fira tertawa melihat tingkah mereka, kemudian menganggukkan kepalanya. Mengajak Nanaz dan Lucas ke dapur. Sedangkan Doni dan Rafa mulai menaikki tangga sambil dorong-dorongan. Berdoa saja tidak ada yang bocor kepalanya.


"Aku suka body goyang mama muda~ mama muda nanananananana~"


Pintu kamar terbuka, diiringi dengan nyanyian dan goyangan kedua makhluk yang sepertinya kekurangan akhlak. Ezra yang tengah duduk memandang keluar jendela menoleh. Melempar wajah Doni dengan bantal.


"Sialan! Kenapa gue aja yang di lempar hah!"


Ezra mengendikkan bahu, "Pulang sana."


"Masih hidup Zra? Gue kira dah sekarat." Timpal Rafa.

__ADS_1


Ezra memicingkan mata, menatap mereka tajam. Namun mereka hanya memberi tatapan remeh seakan mengejek. Begitu rupanya? Karna Ezra sakit, mereka jadi tidak takut.


"Ada gelas di meja. Jangan sampe kepala kalian bocor beneran."


Ezra memang nggak ngegas karena sakit, tapi omongannya tetep aja nyelekit.


Rafa dan Doni bergerak naik ke atas kasur setelah melempar tas mereka sembarangan. Ezra benar-benar ingin melempar mereka dari jendela sekarang.


"Goblok tangan gue keinjek!!" Ketusnya.


"Ezra! Nyokap lo makin lama makin cantik anjir. Makin bening aja."


"Ho oh! Menang banyak lo, disekolah jumpa Nanaz di rumah ada mama muda. Bokap lo gak dirumah kan?!" Oceh Rafa menanggapi perkataan Doni.


"Jangan sampe lo nikung bokap lo sendiri. Ingat Nanaz kalau mau khilaf!"


Ezra memejamkan mata, menahan emosi nya dengan menarik nafas dalam-dalam. Jangan kelepasan, ia masih lemas sekarang. Lebih baik simpan tenaga untuk sekolah besok.


"Tolong manusia-manusia tolol sekalian. Itu Mama gue, yang sopan atau gue lepas tuh ikat pinggang terus gue iket ke leher hehe." Katanya tersenyum.


Keduanya refleks menutup mulut, saling melempar pandangan sebelum mulai mengejek Ezra kembali.


"Acieee, yang udah akur ma nyokap."


"Tadi bilang apa Don? Mama katanya? Uhuyy mama muda ***." Kata mereka kompak menggoda Ezra. Pasalnya Doni dan Rafa tau bahwa temannya yang satu ini awalnya belum bisa menerima Fira sebagai ibunya.


Disaat Doni dan Rafa terus mengejeknya, Ezra hanya berdecih sambil memalingkan wajah. Ia ingin tidur, tapi kedua makhluk astral bertingkah seenaknya. Lompat-lompat di kasur sambil menyanyikan lagu mama muda.


Sampai tiba tiba pintu kamar terbuka kembali. Ezra menoleh, matanya membulat melihat siapa yang berdiri disana. Senyumnya pun langsung merekah.


Mengabaikan rasa pusingnya Ezra langsung lompat dari kasur. Mengikis jarak antara ia dan Nanaz. Tangannya merentang lebar hendak memeluk gadis disana. Namun ia harus menahan langkahnya karena kemunculan Lucas diantara mereka. Tiba-tiba sekali, hampir saja tubuh sucinya menyentuh bocah laknat ini.


"Lo?!"


Lucas memberikan senyum terbaiknya.


"Ngapain lo disini hah?!"


"Mau ngelayat."


"Anj--"


"Tapi ternyata orangnya masih hidup. Berarti kegiatan gue ini disebut dengan menjenguk orang sakit." Katanya santai.


Lucas bergerak menuju meja kecil di dekat sofa. Meletakkan nampan dengan gelas-gelas yang sedari tadi di bawanya.


Ezra semakin mengamuk saat Doni dan Rafa ikut menertawainya. Memberi umpatan-umpatan pada Lucas dengan wajah merah padam. Mungkin sebentar lagi akan muncul kedua tanduk di kepalanya.


Nanaz terkekeh sambil menutup mulutnya. "Wah, Ezra jadi semangat lagi ya? Gak salah deh aku bawa Lucas kesini."


"Makin darah tinggi yang ada dia Naz." Celutuk Rafa dengan tawanya.


"Nanaz kenapa bawa diaa?"


Nanaz meraih tangan Ezra, mengajak nya duduk disofa biru milik kamar Ezra. Mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Jangan berdiri terus, masih pusing kan? Badan kamu masih anget loh." Katanya sambil menyentuh dahi Ezra.


"Besok belum bisa sekolah yah? Untung aku datang hari ini." Lanjut Nanaz, raut wajahnya terlihat sedih sekarang.


"Gak papa kok, setelah liat kamu sakitnya hilang. Keren kan?!" Katanya semangat.


Nanaz tersenyum sambil mengangguk, "Kenapa bisa sampai sakit?" Tanya nya.


"Oh ini, gara gara ikut mandi ujan sama anak anak kompleks sini."


"Seru loh Naz. Kapan-kapan mandi ujan bareng yuk. Sambil lari-lari, biar kayak di film-film india." Kata Ezra dengan nada imutnya.


Tangannya udah ngambil tangan Nanaz terus diletakin di kepalanya. Kode minta di elus-elus, namanya juga kangen.


"Maaf, lo mau buat Noona sakit juga hah??"


"Baru kali ini gue setuju sama Lucas. Ingat Umur Zra dah gede masih main sama bocah."


"Ntah dah tua pun bodo!" Timpal Doni.


"HEH SETAN! KELUAR AJA KALIAN SANA!!" Teriak Ezra.


Tangannya sudah gatal sekali ingin memukul satu persatu makhluk tak berguna yang hinggap di kamarnya ini. Tapi tenang, ia harus menyimpan tenaga. Sudah bisa teriak seperti tadi saja Alhamdulillah.


"Terus biarin lo berduaan sama Nanaz gitu?"


"Maap aja ya. Gue gak mau sampe kejadian lahir bocah liar yang mirip Ezra. Bisa hancur dunia."


Lucas dan Rafa mengangguk serentak. Satu Ezra saja sudah merepotkan, apalagi kalau sampe ada dua. Kalau gitu jangan sampai Nanaz sama Ezra nikah beneran.


Nanaz menahan tawa saat melihat Ezra kehilangan kesabaran dan bangkit dari duduknya. Mereka saling adu mulut, tak mau ada yang mengalah sampai tiba-tiba ketukan pintu kamar menghentikan perdebatan mereka.


Lucas, yang posisi nya paling dekat dengan pintu bewarna abu-abu itu segera membukanya.


"Eum, maaf tante ganggu kayaknya lagi seru ya?"


"Eh gak papa kok tante."


"Ada apa?" Tanya Ezra.


Fira tampak diam sebentar, ragu untuk menjawab pertanyaan anak tirinya.


"Itu ada temen kalian yang datang, perempuan."


"Sekarang dia lagi nunggu di ruang tamu."


"S-siapa Ma?" Tanya Ezra lagi.


Wanita dengan baju kotak-kotak selutut itu melirik Nanaz sebentar. "Katanya, calon pacar kamu yang baru."


Tbc,


Aku mager ngerjain tugas makalah :(


Jangan lupa vote komennya kawan. Sampai babai🥛🍪

__ADS_1


__ADS_2