My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Chapter 13


__ADS_3

Nanaz memainkan jemarinya, kepalanya menunduk memperhatikan kegiatan randomnya untuk mencoba mengusir rasa canggung yang membuatnya tak nyaman.


Sudah dua menit sejak Ezra membawanya ke taman belakang sekolah, sejak itulah mereka saling bungkam tak berbicara. Nanaz dengan kegiatan randomnya dan Ezra yang menatap Nanaz dalam dengan pikiran yang penuh penyesalan.


Sampai akhirnya Ezra menghela nafas panjang, meraih tangan Nanaz untuk ikut di salah satu bangku taman.


Ezra meraih tangan Nanaz, gadis yang sebelumnya menunduk itu mengangkat kepalanya. Menatap Ezra dengan senyuman khasnya, mata Ezra sedikit mebulat, kembali merasa bersalah.


"Maaf."


"Buat yang kemarin?"


Ezra mengangguk lemah, menatap Nanaz sendu. Ezra tak tau harus berkata bagaimana, tadi malam ia tak bisa tidur karena hal ini. Rasa ingin cepat bertemu Nanaz dan menyelesaikan masalah mereka.


"Gak papa kok, aku tau kamu gak maksud bentak aku. Hehe iya kan?"


Nanaz sempat terkekeh, hatinya semakin teriris. Bagaimana bisa gadis itu bilang ia tidak apa-apa? Padahal jelas-jelas kemarin Ezra membuat gadis itu kaget karena bentakannya sampai menangis. Ezra tidak ingin Nanaz takut padanya dan menjauh.


"Gak bisa gitu Nanaz!"


"Ha?" Bingungnya.


"Aku udah bentak kamu kemarin."


"Seenggaknya, ngambek dulu atau marah! atau jambak dulu rambut aku sampe kamu puas."


"Apa pun deh! Asal jangan minta putus." Katanya menggebu-gebu diselingi nada panik.


Ezra bahkan sudah memajukan kepalanya dan menunduk, menawarkan rambutnya untuk di jambak.


Nanaz melongo bingung, kemudian kembali tertawa ringan. Ezra yang sedang menunduk tidak dapat melihat raut wajah gadis itu. Sentuhan di kepalanya sempat membuatnya kaget, ia mengira Nanaz akan benar-benar menjambaknya.


"Kenapa jadi bahas putus?"


Tangan gadis ini masih mengusap kepala Ezra penuh kasih sayang.


"Ezra..."


"Aku emang sempat sedih, kesal dan yah sedikit takut sih hehe."


"Tapi aku bakalan lebih takut lagi kalau gak bisa natap wajah kamu dari deket kayak gini lagi. Aku gak suka kita berantem lama-lama." Jelasnya.


"Ezra kan udah minta maaf, Ezra juga gak maksud ngebentak aku kan?"


"Aku juga salah, seharusnya aku ngerti kamu lagi emosi dan nenangin kamu waktu itu."


Begitulah, Nanaz hanya ingin masalah ini cepat selesai. Ia ingin cepat-cepat berbaikan dan uwu-uwuan lagi bareng Ezra. Lagian semalam ia sudah puas sedih-sedihnya.


"Enggak Nanaz!"


Ezra menggeleng cepat, meraih tangan Nanaz dari kepalanya dan menggengganya erat.


"Nanaz itu cantik, manis, baik kayak malaikat! Dan malaikat gak pernah salah!"


"Ini mulut bangsat yang salah berani-beraninya bentak Nanaz. Kurang ajar emang!" Katanya sambil memukul mulutnya sendiri.


Nanaz terlihat kaget, segera memukul bahu Ezra kuat. "Kok di pukul sih? Jangan-jangan itu luka di bibir sama pelipis, kamu sendiri yang buat??" Cetusnya.


"Ehehe-he." Cengirnya.


"Kenapa mukul-mukul diri sendiri kayak gitu!?"


"Buat apa coba?"


Ezra menelan ludah, suasana mellow nya telah berganti terlihat dari raut wajah gadisnya yang terlihat marah.


Merasa gugup Ezra menarik nafas,


"Kan aku pernah janji, kalau ada yang berani bikin kamu nangis orangnya bakal aku hajar sampe tepar."


"Tapi Naz, aku gak bisa ngehajar diri sendiri sampe tepar."


"Nanti kalau aku makin sakit, aku gak bisa sekolah buat ketemu Nanaz. Terus Nanaz jadi sedih lagi gara-gara aku." Sambungnya dengan wajah sedih, gemas sekali.


Nanaz bingung harus bereaksi seperti apa, ini beneran Ezra yang bentak dia sama Jinan semalam? Nanaz menggeleng cepat, kenapa harus bingung. Toh Ezra emang pinter banget mainin ekspresinya.


"Tapi ya nggak gitu juga dong Ezra!"


"Nyakitin diri sendiri itu gak baik tau gak?"


"Jangan di ulang! Kalau aku tau kamu kayak gini karna aku, malah bikin aku tambah sedih tau gak." Kesalnya kembali.


Ezra jadi panik sendiri, jarang-jarang Nanaz sampe kesel kayak gini. Duh gimana nih? Gak jadi baikan dong.

__ADS_1


"Maaf Nanaz, gak akan aku ulang, janji."


"Gak tau ah! Aku kesel."


Nanaz bangkit dari duduknya, benar-benar pergi meninggalkan Ezra tanpa sempat di cegah. Ngambek beneran nih kayaknya.


Ezra menghela nafas gusar, padahal tadi sebelumnya dia bilang sendiri sama Nanaz. Marah atau ngambek dulu gak papa, sekarang bingung sendiri kan.


"Aaaarrgh! Sialan."


"Bodoh banget gue anjim!" Umpatnya.


"Nyadar Lo?"


Ezra menoleh. Lucas yang sedari tadi memperhatikan mereka diam-diam akhirnya menunjukkan dirinya dengan senyuman mengejek.


"Ngapain lo disitu? Wah bener-bener ni bocah."


"Gelud yok! Kemana-mana lo ngintilin Nanaz ya?!"


Ezra emosi duluan teringat kejadian kemarin saat Lucas dengan beraninya menggandeng tangan Nanaz. Sok-sokan ngantar pulang lagi, huh panas Ezra kalau ingat itu.


"Buta lo? Gak liat gue megang sapu."


"Gue piket taman, gak usah seudzon. Masih pagi, gue gak mau ribut."


Ezra berdecih, "Kalau takut bilang aja. Namanya juga bocah, gue juga maklum kali."


Lucas mulai terpancing, menatap Ezra penuh emosi. "Istirahat pertama, dilapangan, kita main disana." Ketusnya.


"Okee! Gue laden---


"Di lapangan? Mau main apa kalian?"


Ezra dan Lucas serentak menoleh pada gadis yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Menatap keduanya dengan tatapan penuh selidik.


"Woaah Nanaz kok balik lagi? Mau maafin aku ya??"


"Jawab dulu, mau ngapain kalian di lapangan?"


Lucas menatap ragu-ragu hendak menjawab pertanyaan Nanaz.


"Dia ngajak beran--"


"Main rumah-rumahan Naz!"


Ezra menatap Lucas penuh arti, bibirnya tersenyum namun matanya melotot mengancam Lucas jika berkata jujur. Bahaya kalau Nanaz marah lagi.


"Hm, iya mau main rumah-rumahan." Balas Lucas.


Ezra tersenyum senang, memperhatikan Nanaz yang masih tampak kebingungan, hendak kembali bertanya. Tentu sebelum itu terjadi Ezra kembali membuka suara.


"Nanaz mau ikut gak?!" Tawarnya penuh semangat.


"Kalian beneran main rumah-rumahan?"


"Iya! Ikut yuk!"


"Nanaz mamahnya."


"Aku papahnya."


Ezra menunjuk Nanaz, beralih menunjuk dirinya sendiri saat pengenalan peran. Kemudian beralih menunjuk Lucas dengan senyum liciknya.


"Lucas anaknya?" Tanya Nanaz.


"Bukan, Lucas hewan peliharaanya! Bwahahahaha!"


"Anjing." Umpat Lucas,


Padahal ia mau menahan diri di depan Noonanya.


"Noh kan Naz! Dia nyebut spesiesnya sendiri."


"Cocok banget udah cosplay jadi gung-gung."


Subhanallah Ezra, mulia sekali sifat mu nak, siapa yang ngajarin :) Ezra bahkan tak bisa menghentikan tawanya. Sambil memegang perut berusaha menutup mulutnya.


Nanaz melongo, merasa tak enak dengan Lucas yang terlihat Emosi. Nanaz tau Lucas sedang menahan emosi, kalau ia tak ada mungkin sudah terjadi baku hantam disini.


"Lucas, maaf ya Ezra kelewatan emang."


"Gak papa noona. Wajar kok, otaknya udah lain jadi ya gini."

__ADS_1


"Heh apa lo bilang?!" Berhenti juga ketawanya.


"Otak lo lain!"


"Operasi otak sana biar gak gila. Kasian banget Noona pacaran sama manusia minus akhlak kayak gini."


"Udah lah ayok pukul-pukulan sekarang aja. Gue siap lahir batin syaland!"


Ezra sudah menggulung lengan bajunya sampe bahu, disahuti oleh Lucas yang melempar sapunya ke sembarang arah dan memasang posisi siap berantemnya.


"Stoop!"


"Ini masih pagi, Kalian mau berantem?!"


"Gak malu apa di lihatin orang?!"


"Naz, jangan teriak nanti tenggorokan kamu sakit." Khawatir Ezra.


Nanaz menghela nafas, "Kalian kenapa sih kalau ketemu selalu gak akur?"


"Kamu lagi zra! Bisa gak, gak usah ngajak ribut terus sama Lucas?"


"Lucas juga! Si Ezra jangan di lawanin kalau ngulah."


"Kalau kalian gini terus aku bingung tau harus gimana! Apa sih susahnya akur?!"


"Padahal niat aku ngajak Lucas jenguk Ezra kemarin itu biar kalian jadi tambah deket!"


"Bukannya tambah musuhan kayak gini!"


Ezra Lucas, keduanya sama-sama menunduk. Tak berani memotong pembicaraan Nanaz yang sepertinya telah kehilangan kesabaran menghadapi mereka.


Jarang-jarang Nanaz marah kayak gini, sebenarnya dari pada benar-benar mendengarkan, mereka malah khawatir dengan Nanaz yang sudah marah pagi-pagi gara-gara mereka berdua.


Sudah mulai masuk jam sekolah, semakin banyak yang sudah datang, beberapa orang di taman menatap heran ke arah mereka. Nanaz menarik nafas panjang, ingin mengakhiri ini segera.


"Ngerti gak aku ngomong apa?" Nada nya mulai memelan, merasa bersalah sendiri.


"Ngerti."


Saling serentak, mereka menoleh saling menatap sengit.


"Maaf Noona, aku udah berlebihan."


"Maaf udah buat Nanaz marah pagi-pagi." Ucapnya dengan nada sedih.


"Kenapa pada minta maaf sama aku? Kalian yang seharusnya maaf-maafan."


"Hah?" Cengo mereka kompak.


"Ayo? Udah mau bel masuk loh."


Ezra dan Lucas saling menatap tak suka, kalau di kartun-kartun itu kayak ada sengatan sengatan listrik di antara tatapan mereka. Kemudian menghela nafas pasrah, mereka gak mau Nanaz marah lagi. Jadi lebih baik, kesampingkan dulu rasa emosi.


"Maaf."


Ezra mengulurkan tangan, Lucas memandang beberapa detik enggan untuk menjabat tangannya. Tapi akhirnya, setelah melirik Nanaz yang tersenyum padanya mau tak mau ia menjabat tangan Ezra.


"Iya, gue juga minta maaf."


Keduanya sama-sama tersenyum penuh arti lain. Jabatan tangan pun sengaja di remas, kuat-kuatan. Dalam hati sama-sama ngumpat, habis ini harus cuci tangan.


"Nahh gitu dong, kan kalau gini enak dilihatnya."


Nanaz tersenyum lega, berharap sih ini kata maaf nya beneran awet. Bukan kalau gak ada dia malah ngulah lagi. Nanaz heran kenapa sih mereka suka berantem?


"Yaudah, Lucas udah selesai piketnya?"


"Udah kok Noona."


"Yaudah ayo bareng masuknya."


"Nanaz udah gak marah lagi?"


Nanaz yang sudah berbalik arah menoleh, kemudian tersenyum tulus.


"Enggak kok, buat apa marah lama-lama hehe."


"Oh iya! Satu lagi..."


Ezra dan Lucas menatap Nanaz bersamaan, tanpa mereka sadari, mereka melakukan gerakan yang sama. Sama-sama menaikkan salah satu alis dan memiringkan kepala, duh kan Nanaz jadi gemes.


"Kalian sampai masuk sekolah harus gandengan tangan yah. Hehehe."

__ADS_1


"HAH?!"


Tbc,


__ADS_2