
"Gak usah banyak alasan! Lo sengaja kan nabrak Nanaz?!"
"Ck, gue gak budek! gak usah teriak anjir."
Yuna memandang sinis, mengabaikan Miko yang berusaha meredakan amarahnya.
"Lagian loyo banget sih, kesenggol dikit langsung jatuh, pakai gak bisa berdiri lagi."
Jinan bersedekap dada, memandang Nanas yang tengah duduk bersandar di atas kasur dengan wajah pucatnya. Kemudian berucap ketus. "Ck, drama."
"Drama?" Yuna mendelik sinis.
"Lo bilang dramaa?! Please ya Jinan siapa yang gak jatuh di tabrak gajah kayak lo hah??"
Jinan melotot kaget, merasa terhina tubuh semampainya di samakan dengan gajah.
"Lo buta hah?! Iri badan lo datar makanya badan bagus gini di katain gajah!"
"Heh jangan buat gue muntah deh, ngapain gue iri sama lo hah? Badan hasil grepean aja bangga. Cih."
"Mulut lo di jaga anjing!"
Terpancing emosi, Jinan mengangkat tangannya hendak menjambak rambut terurai Yuna namun di tahan oleh Miko.
"Gak usah main tangan." Ketusnya.
Yuna tersenyum sinis, memandang Jinan yang tengah menggertakan giginya. Menarik kembali tangan yang di tahan Miko, dibarengi dengan pintu UKS yang terbuka. Doni masuk setelah selesai mengabari Ezra.
"Waw, apa ni? Gue ketinggalan drama apaan."
Tak ada yang menjawab, Miko mengambil nafas panjang. Menoleh ke arah Yuna.
"Yuna juga, tahan emosinya. Ini di UKS dan Nanaz lagi sakit, sebagai temennya seharusnya lo ngerti kan Yun?"
Gadis itu tertegun, segera memandang Nanaz. Kini gadis yang terlihat sangat tak sehat itu memejamkan matanya, keningnya sedikit mengerut menahan pusing.
"Naz, lo gak papa?" Khawatirnya, duduk di kursi sambil menggenggam tangan Nanaz.
Hanya mengangguk, gadis itu membuka tutup minyak kayu putih di tangannya. Yuna yang mengerti langsung membantu mengoleskan di kening dan leher Nanaz.
"Kok bisa sampai pucet gini sih Naz, Tabrakannya Jinan dahsyat banget ya?" Tanya Yuna, kembali memancing emosi Jinan.
Nanaz menggeleng, "Hari ini aku emang lagi gak enak badan Yun, bukan salah Jinan."
"Kalau gak sehat kenapa sekolah tadi? Dipaksain gini kan jadi makin sakit."
"Udah Naz, tenang aja. Berterima kasihlah pada Doni yang tamvan. Gue uda bawain obat lo kesini mwehehe."
"Obat apaan? Di UKS juga ada kok." Sinis Yuna.
"Bukan obat yang itu anjir, lagi otewe ni obatnya. Ntar lagi juga dat---
Braakk!!
"NANAAS!!"
Ezra datang menggebrak pintu. Raut yang sebelumnya khawatir kini semakin campur aduk saat melihat wajah gadisnya yang pucat.
"Nanaz kenapa! Siapa yang buat kayak gini---
Kalimat dan langkah kakinya terhenti saat melihat Jinan. Perlahan tatapannya menajam, menghampiri gadis yang tersenyum manis itu.
"Lo lagi?"
"Iya ini gue dong hehe."
"Ngapain lo disini?"
"Liat drama pacar lo lah, ngapain lagi?"
Ezra mengerutkan keningnya, "Lo apain Nanaz."
Jinan menghela nafas, kini berdecak sinis memandang Ezra. "Gak usah lebay, cewek lo yang letoy ketabrak dikit jatoh."
Ezra melotot kaget, mencoba menahan emosinya. "Ketabrak dikit lo bilang?"
"Kayaknya lo bener-bener gak bisa di diemin ya?"
"Berani lo tabrak dia, gue tabrak lo pake motor. Berani lo ganggu dia lagi!!
__ADS_1
Ezra menggantung kalimatnya, mengatur emosinya yang hampir meledak. Rahangnya bahkan terlihat mengeras sekarang.
-jangan harap lo bisa selamat pulang nanti. Ngerti lo?"
Jinan tak menjawab, hanya diam memandang datar Ezra. Begitupun yang lain, tak berani menggangu Ezra saat ini.
"Kalau gue tanya di jawab! Ngerti gak lo hah?!"
Nanaz tak tahan, kasihan dengan Jinan namun kepalanya sangat pusing sekarang.
"Zra tenang dul---
Bugh!
"Gak bisa jawab hah!! Gak punya mulut lo?!" Bentaknya sambil memukul dinding di sampingnya.
Semuanya menahan nafas, Nanaz ikut tertegun sambil memijit keningnya. Apalagi Jinan yang tepat di hadapan cowok yang gagal menahan emosinya itu.
Mundur beberapa langkah, menunduk dengan air mata yang mulai mengalir perlahan.
"Ezra..." lirih Nanaz, "Kepala aku sakit, jangan teriak-teriak aku gak suka."
Ezra menoleh, tatapannya melunak saat melihat Nanaz yang menahan sakit, mata gadis itu bahkan berkaca-kaca sekarang.
Yuna segera bangkit, memberikan tempatnya. Membiarkan Ezra duduk di samping Nanaz. Memberi kode agar mereka keluar, mengabaikan Doni yang mulai protes karena ingin melihat adegan romantis secara real life.
"Maaf Nanaz, sakit banget ya? Aku nggak teriak lagi. Jangan duduk kayak gini ya, tiduran aja. Biar aku bantu."
Jinan masih diam di tempatnya, menatap ke lantai dengan air mata yang mulai mengalir. Jantungnya masih berdegup kencang akbiat bentakan Ezra.
"Ngapain lo masih disana? Perlu gue seret keluar lo?"
Tersentak, gadis itu mengangkat kepalanya. Matanya beradu dengan tatapan sinis Ezra. Setelah mengusap air mata di pipinya gadis itu pergi keluar tanpa bicara.
"Nyaman?"
Nanaz mengangguk, menatap Ezra yang membenarkan letak bantalnya.
"Masih sakit?"
Ezra mengoleskan minyak angin di pelipis Nanaz saat gadis itu mengangguk sebagai jawaban. Memijatnya pelan-pelan dengan raut cemasnya.
"Kenapa bisa sakit gini, Nanaz di apain Jinan?"
Ezra menghela nafas, "Intinya dia nabrak kamu kan? Ini lebam di siku karena kamu jatuh di tabrak dia. Dan aku gak seharusnya marah sama dia gitu?"
"Bukan gitu Ezra, maksud aku kamu berlebihan. Aku memang jatuh di tabrak dia, tapi aku memang sakit dari awal kan, sekarang yang sakit juga kepala aku. Bukan siku yang lebam karna di tabrak jinan."
"Coba pikirkan apa yang Jinan rasain tadi waktu kamu marah kayak gitu."
Ezra menatap Nanaz dalam, tatapan yang sulit diartikan. Entah kesal, kaget, namun juga tajam. Pastinya cukup membuat Nanaz menelan ludah dan membuatnya berfikir, 'Ezra mode imut sedang tidak aktif saat ini.'
"Oke terus kamu mau nya apa? Aku minta maaf sama dia sekarang, gitu? Jangan harap Naz, ngapain aku mikirin perasaan Jinan dia bukan siapa-siapa aku. Nanaz yang seharusnya aku perhatikan sekarang, pacar aku kamu kan? bukan dia." Ketus nya panjang lebar.
Nanaz mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Aku cuman kasihan sama Jinan kamu bentak kaya gitu."
"Berhenti merasa kasihan sama orang yang bahkan gak perduli sama kamu Naz!"
"Nanaz ngerti gak sih, perlu aku perjelas lgi hm? Jinan itu jelas jelas suka sama aku. Kalau Nanaz masih nganggap aku pacar Nanaz, seharusnya Nanaz gak kasihan sama Jinan kan?"
"Nanaz gak takut aku di ambil dia? Gitu ya?" Kesalnya.
Ezra benar-benar sangat geram dengan sifat pacarnya saat ini. Ia hanya ingin memperhatikan perasaan Nanaz, kenapa harus repot-repot memikirkan perasaan orang lain yang bahkan telah mengganggu pacarnya.
Ia bahkan tengah mati matian mencoba menahan emosinya sekarang jangan sampai ia terbawa emosi kembali dan berakhir nanaz yang menangis kembali.
"Maaf."
Ezra menoleh. "Maaf zra, aku yang ga mikirin kamu karna bicara seenaknya."
"Jangan minta maaf Naz, kamu gak salah apa-apa. Aku yang terbawa emosi."
"Jangan marah ya, aku gak mau berdebat sama kamu."
"Kenapa aku harus marah, Nanaz lagi sakit harusnya aku sayang-sayang bukan aku marah."
Nanaz hanyadiam, sepertinya masih kepikiran perdebatan mereka. Ezra yang peka akan hal itu segera mungkin mentralkan emosinya, mengganti suasana di antara mereka.
"Masih sakit kepalanya?"
__ADS_1
"Gak terlalu."
"Tapi wajah Nanaz masih pucat, buat aku takut." Ucapnya sambil memandangi wajah Nanaz, matanya sayu, bibir merah mudanya yang biasa tersenyum pun berganti putih pucat.
"Takut kenapa?"
"Kalau Nanaz sakit, kalau besok Nanaz Izin sakit, apa lagi alasan aku datang ke sekolah besok hm?"
Nanaz melukis senyum dibibirnya, tak selebar biasanya namun tak mengurangi aura cantiknya.
"Jadi selama ini kamu gak niat sekolah?"
"Bukan gitu, kalau ada Nanaz aku jadi tambah semangat. Hujan badai pun aku tempuh ke sekolah."
Awalnya kekehan ringan, namun berganti batuk yang menyerang. Ezra refleks bangkit, hendak mengambil air di dispenser UKS namun isinya kosong.
"Nanaz tunggu ya, aku ambil minum."
"Jangan!"
"Jangan Zra, di sini aja."
"Nanaz batuk kayak gitu, aku cuman sebentar."
"Gak mau Ezra. Kalau aku bilang tetep disini ya disini aja!"
Ezra tertawa ringan, jarang sekali Nanaz manja begini. "Iya, aku gak kemana-mana."
Nanaz kembali menarik senyumnya, membawa tangan Ezra ke kepalanya. Ezra yang awalnya hanya memperhatikan mulai mengerti, mengusap kepala Nanaz pelan.
"Bukan gitu Ezra, maksud aku pijet kepalanya."
"Oh? Hehehe. Nanaz tidur aja, nanti aku bilang ke Yuna biar di izinin ke guru yang masuk kelas Nanaz."
"Gak usah, aku takut kalau sendirian disini. Bentar lagi pusingnya hilang kok."
"Kata siapa sendiri? Kan aku temenin Naz, kalau dipaksain nanti Nanaz makin sakit. Jangan bantah sama calon suami, jangan buat orang khawatir Naz. Denger Nanaz masuk UKS aja jantung aku hampir copot."
Nanaz yang sedari tadi memejamkan matanya kini menatap Ezra. Cowok itu benar-benar terlihat khawatir, Nanaz merasa tak tega tapi disisi lain juga tak dapat menahan senyumnya. Raut wajah khawatir Ezra benar-benar membuatnya bersemu. Sulit mengatakannya, bagaimana Ezra bisa terlihat tampan dan imut secara bersamaan?
"Kalau gitu Ezra bolos?"
"Biarin."
"Tapi aku gamau kamu bolos pelajaran cuman karena nemenin aku disini."
Ezra menaikan salah satu alisnya, "Cuman nemenin? Yang Nanaz bilang cuman nemenin ini lebih penting dari pelajaran selanjutnya nanti! Gimana kalau pas aku tinggal Nanaz kenapa-napa? Ini juga UKS mana penjaganya. Siapa nama penjaganya biar aku laporin ke kepala sekolah. Dasar makan gaji buta!" Ujar Ezra menggebu-gebu, tangannya masih memijit kepala Nanaz pelan.
Nanaz melongo, kemudian tertawa pelan. "Pfft, apasih? Kok kamu jadi marah-marah gitu. Nanti kamu cepet tua masih muda ada rambut putihnya, emang mau?"
Ezra menggeleng, "Biarin, tinggal di cat pirang. Kan keren kaya bule-bule, tambah ganteng lagi. Siapa tau followers ig naik terus dapat endorsan mwehehe."
"Ppfftt, Bwahahahaha!"
Nanaz tertawa ngakak, bahkan sampai menutup mulutnya dan membelakangi Ezra. Punggungnya terlihat bergetar akibat tawanya.
Ezra yang awalnya kaget kini menarik senyumnya. Tangannya yang sempat berhenti memijit kepala Nanaz kembali menggapai puncak kepala sang gadis yang masih tertawa itu.
Kalau sudah bisa tertawa seperti ini berarti sudah tidak terlalu pusing lagi kan? Syukurlah, Ezra benar-benar lega sekarang.
Nanaz yang menyadari usapan di rambutnya kini kembali berbalik menghadap Ezra. Menghapus air yang keluar dari sudut matanya, masih tertawa kecil.
"Kamu pede banget sih."
"Biarin, Nanaz receh banget sih. Sampai ketawa gitu."
"Ehehe, abisnya kamu ngomong pakai wajah sok begitu. Gimana gak ketawa pfftt bwahaha."
Ezra ikut terkekeh, "Udah ilang pusingnya?"
"Udah! Aku jadi pingin berterima kasih sama Doni deh."
Raut wajah bahagia Ezra berubah mendadak. "Hah?! Kok jadi Doni sih Naz? Jangan-jangan dari tadi Nanaz halu kalau aku Doni!"
"Soalnya Doni udah manggil kamu ke sini."
Nanaz mengambil tangan Ezra di kepalanya, menggenggamnya erat dan menatap Ezra dengan senyum di wajahnya.
"Obat yang paling tepat buat aku."
__ADS_1
Tbc,
jangan lupaaa sebelum keluar vote dulu yaaa