My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Dia cemburu?


__ADS_3

Lega.


Satu kata itu kuucapkan dengan penuh kelegaan. Akhirnya tepat hari ini tanggal 21 Maret, aku menyelesaikan ujian sekolah yang telah berlangsung selama empat hari.


Seluruh mata pelajaran sudah selesai diujikan dalam kurun waktu yang singkat. Walaupun, dalam satu hari aku harus berkutat pada layar monitor selama kurang lebih empat jam.


Bayangkan, empat jam!


Kenapa sih ujian zaman sekarang ini harus serba online? Kenapa tidak manual saja? Kenapa harus menggunakan perangkat entah komputer atau laptop? Aku rindu ujian dengan kertas dan pensil seperti saat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dulu. Tapi sekalipun aku berharap, itu tidak akan mungkin terjadi lagi.


Ini zaman informatika dimana semua hal serba canggih dan dilakukan secara online. Belanja saja bisa online iya kan? Berharap segala hal menjadi seperti dulu itu mustahil. Seperti kamu mengharapkan dia tapi dia menatap orang lain.


Ah maaf, jangan galau kumohon.


Hari ini dingin sekali. Sudah masuk musim penghujan jadi udara rasanya sangat lembab dan begitu dingin. Aku mengeratkan jaket yang kukenakan sambil berjalan keluar area sekolah. Beberapa kali teman-teman seangkatanku menyapa yang kemudian kubalas dengan anggukan.


Aku berjalan, setengah berlari ke arah gerbang sekolah. Rasanya dingin sekali siang ini.


"Kei?"


Aku menoleh. Kevin disana, di depan gerbang sekolah.


Apa dia benar-benar menungguiku?


Di kelas tadi, Kevin bilang akan menungguku untuk pulang bersama. Tapi aku nggak tahu bahwa ia benar-benar menungguku. Selama ujian sekolah ini, aku memang sering pulang dengan Kevin. Selain karena aku yang tidak punya tumpangan untuk pulang, sebenarnya arah rumah kami juga sama.


"Kamu belum pulang?" Aku bertanya. Kupikir Kevin akan pulang duluan mengingat dia telah selesai mengerjakan ujian lima belas menit lebih cepat dariku.


Kevin tertawa. Dia menggeleng tak percaya.


"Lu gimana sih Kei? Kan tadi gue bilang kita balik barengan. Nggak mungkin lah gue ninggalin lu." Katanya.


Aku mengerjap. "Siapa tau."


Kevin tertawa lagi. Dia menyerahkan helm padaku lalu mengenakan helm nya sendiri.


"Mau langsung pulang nih?" Tanya Kevin lagi. Ia menatapku.


Aku terdiam sebentar.


"Sebenarnya aku mau nyari buku di toko." Kataku. Aku ingat ada buku novel dari penulis favorit ku yang baru rilis. Rasanya aku ingin beli.


"Yaudah kita mampir ke toko buku dulu."


Aku menggeleng. "Nggak usah deh Vin. Ntar repot kamunya."


Kevin tersenyum. "Nggak apa-apa Kei. Serius." Ujarnya. "Lagian gue juga mau nyari komik One Piece yang baru rilis. Mumpung udah kelar usek nya."


Aku menatap Kevin. "Serius nih nggak apa-apa?" Tanyaku lagi memastikan. Takut jika aku benar-benar akan membuatnya repot.


Kevin mengangguk.


Akhirnya aku menghela napas dan mengiyakan ajakan Kevin untuk mampir ke toko buku.


~♡.♡.♡~


Suasana toko buku tampak tidak terlalu ramai. Maklum saja, sudah kukatakan sebelumnya kalau zaman seperti ini segala hal dilakukan secara online. Jadi mungkin beberapa orang merasa lebih baik membaca buku dari sebuah aplikasi dibanding dari buku aslinya. Padahal jika dipikir-pikir lagi, membaca di buku itu sangat menyenangkan. Tapi sudahlah.


Beberapa anak kulihat berdiri di jejeran buku khusus anak-anak. Sementara itu, ada beberapa laki-laki yang sibuk di deretan komik. Aku heran, kenapa kebanyakan laki-laki suka baca komik? Aku juga suka baca komik sebenarnya. Tapi aku juga suka baca novel. Laki-laki jarang ada yang suka baca novel. Mereka lebih suka baca komik.


Kecuali Nenra. Karena dia suka membaca buku ensiklopedia.


Iya-iya, tidak hanya Nenra.


Ada juga laki-laki yang suka baca novel atau buku pengetahuan lainnya. Hanya saja, kebanyakan laki-laki itu suka baca komik. Tidak seluruhnya, tapi 80% dari spesies mereka itu suka baca komik. Selebihnya? Kalian ajaib.


"Gue ke sebelah ya Kei? Nanti kalau lu udahan, tungguin aja gue di tempat parkir."


Aku mengangguk. Dengan segera Kevin lantas melesat ke arah komik-komik yang berjejer rapi. Aku sendiri lantas menuju rak yang menyusun ratusan judul novel. Beberapa rak diatur berdasarkan genre san sebagian novel terkenal di susun berdasarkan penulisnya.


Aku mulai mencari-cari. Sebagai awalan, aku melangkah ke deretan novel yang disarankan. Ada sebuah judul novel horor yang sedang booming. Novel yang ditulis oleh Arumi E yang difilmkan tahun ini. Tepatnya 5 Maret yang lalu. Aku sudah sempat membaca novel itu lewat aplikasi sebelumnya, tapi ada bagian di chapter 16 sampai 45 yang dihilangkan untuk keperluan percetakan.


Aku mengambil novel dengan sampul bergambar beberapa artis papan atas itu. Meskipun film nya telah ditayangkan, aku masih ingin membaca novelnya. Soalnya dari yang aku tahu, ada banyak bonus cerita di dalamnya.


Aku kembali melangkah mencari buku fiksi yang kuimpikan. Dan di suatu sudut, kutemukan keberadaannya. Langsung saja aku mengambil buku itu dan dengan segera menuju ke kasir. Aku tak mau melihat-lihat lagi. Karena jika aku berlama-lama disana, maka uang simpanan ku akan terpakai untuk membeli novel-novel disana.


Kevin sudah berada di kasir lebih dulu. Dia tampak menerima plastik berisi komik-komik yang dibelinya. Pemuda itu menatapku kemudian tersenyum.


Aku membalas senyum Kevin sambil menyerahkan dua buah buku pilihanku pada kasir.


"Kamu masih mau baca buku itu?" Tanya Kevin. Ia menatap buku karya Arumi E yang kuambil.


Aku mengangguk. "Kenapa?"


Kevin terdiam. "Film nya kan udah tayang. Gue udah nonton bareng Rama di bioskop waktu penayangannya." Kata Kevin. Ia menatapku. "Endingnya nanti----"


"Ssssuuhhh..." aku menepuk pipi Kevin. Enak sekali dia mau menceritakan ending dari novel yang belum kubaca sampai akhir.


"Aku suka baca novelnya, jadi jangan spoiler." Kataku. Kulihat Kevin melongo sebentar sebelum mengangguk.


"Refleks, sorry."


Aku hanya tertawa pelan. Kevin itu benar-benar aneh.


Setelah membayar novel ku, kami lantas keluar dari toko buku. Kulihat jam sudah menunjukan pukul tiga. Sepertinya aku menghabiskan banyak waktu di dalam toko. Karena dari sekolah tadi, jam masih menunjukan pukul dua siang lebih lima belas menit.


"Langsung pulang?" Kevin bertanya. Ia menatapku. Tanpa menjawab, aku mengangguk. Kurasa Kevin mengerti karena kemudian dia melajukan motor ke arah kami pulang.


...


"Makasih Vin." Ujarku. Kami telah sampai tepat di depan gerbang rumahku.


Kevin mengangguk. Ia melambaikan tangan kemudian berlalu pergi dengan motornya. Aku menatap siluet teman kelasku itu sampai hilang di belokan kompleks.


Aku menarik napas.


Tiba-tiba aku merasa merindukan Nenra.


Dia seharusnya pulang malam ini kan? Ini sudah seminggu sejak Nenra pergi untuk melakukan seminar di Bandung. Aku nggak sabar ingin bertemu pacar manisku!


"Kei kok baru balik?"


Aku tersentak.


Perasaan ku saja atau memang aku mendengar suara Nenra? Apa karena sangat merindukan Nenra membuatku berhalusinasi mendengar suaranya?


"Kei kok diem aja?"


Aku menoleh cepat.


Kurasakan mataku melotot tak percaya melihat pacarku berada tepat di belakangku. Nenra di sana. Ia menatapku dengan alis yang bertaut kesal. Wajahnya yang manis masih terlihat menawan walau gurat kelelahan masih tampak sangat jelas di wajahnya.


"Nenra?" Aku memanggil. Memastikan ini bukan halusinasiku semata. Kan sakit kalau ternyata ini mimpi.


Aku menyentuh wajah Nenra, menepuknya sesekali.


"Sakit Kei..." Nenra meringis begitu aku mencubit dan menarik pipinya.

__ADS_1


Ini benar-benar Nenra!


"Kamu udah pulang? Kok nggak ngabarin? Katanya pulang malem?"


Nenra menatapku cemberut.


Eehh aku salah apa?


"Kenapa? Sakit ya?" Aku mengelus pelan pipi Nenra, takut jika cubitanku tadi menyakitinya.


Nenra diam.


Dia kenapa?


"Kenapa sih? Udah ketemu mama?" Tanyaku.


Nenra hanya mengangguk.


"Terus kamu mau pulang?"


Dia menggeleng.


Astaga dia ini maunya apa?


"Ngantuk?"


Nenra menghela napas. Ia tiba-tiba menarik ku dalam pelukannya.


Astaga, Nenra benar-benar manis~


"Aku kangen Kei." Bisiknya.


Aku lantas tersenyum. Ku elus pelan punggung Nenra. "Masuk dulu yuk. Aku mau ganti pakaian." Kataku.


Lagi-lagi Nenra menghela napas. Ia melepaskan pelukannya dan berjalan mengekoriku dari belakang.


"Mama, Kei pulang..."


Aku masuk ke dalam rumah mencari keberadaan mama. Sepertinya mama ada di dapur mengingat biasanya mama sibuk dengan oven menjelang sore begini.


"Kok baru pulang?" Tanya mama. Ia menatapku heran yang kubalas cengiran.


"Tadi mampir dulu ke toko buku." Jawabku.


Kulihat mama bergumam pelan. "Tadi Nenra jemput kamu lho. Katanya kamu udah balik. Tapi ternyata kamu baru pulang."


Aku mengerjap.


"Nenra jemput Kei tadi?"


Mama menjitak pelan kepalaku. "Kakak ih. Kebiasaan. Nenra lebih tua, ingat?"


Aku cemberut. "Iya-iya." Kataku.


Mama tersenyum. "Hayoloh, Nenra marah tuh pasti karena kamu kelayapan dulu."


"Emang mama nggak marah?"


Mama menggeleng. "Mama marah juga kamu malah bikin ketawa. Jadi nggak ada gunanya."


Wah.


Yang mamaku itu sebenarnya mama atau Nenra? Kenapa mama nggak marah kalau aku kelayapan sebelum pulang?


Ralat, aku nggak kelayapan. Aku cuma mampir buat membeli buku.


Mama mengangguk.


Langsung saja aku berlari ke arah kamarku di lantai dua.


Aku membuka tas yang kuletakkan di atas kasur saat masuk kamar. Mengeluarkan novel yang baru ku beli dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja belajar. Aku lantas mulai berganti pakaian.


Setelah mengganti seragam dengan pakaian santai, aku keluar dari kamar. Kulihat Nenra duduk di sofa ruang keluarga  seorang diri. Matanya terpejam entah tidur atau apa.


"Nen," panggilku.


Nenra membuka matanya pelan. Ia menatap ke arahku.


"Udah makan siang belum?" Tanyaku kemudian.


Nenra menggeleng.


Aku menghela napas. Aku tidak mengerti ada apa dengan pacarku itu. Tapi sepertinya ia sangat kelelahan. Dengan segera aku menarik Nenra agar berdiri dan mengikuti. Awalnya ia menolak, tapi setelah kuancam dengan berbagai kalimat, Nenra mengiyakan.


Aku dan Nenra lantas mulai makan siang bersama di ruang makan.


~♡.♡.♡~


Pukul lima sore.


Aku baru selesai membersihkan dapur dengan mama. Tadi aku sempat membantu mama membuat kue kering selepas makan. Sekarang mama sedang keluar, katanya mau memberikan buah tangan pada tetangga baru.


Aku tidak tahu tentang itu. Mama bilang ada keluarga yang baru pindah di depan rumahku. Entah siapa karena aku sendiri tidak tahu apa-apa.


Aku menuju ruang keluarga, tapi tak kudapati sosok Nenra. Berjalan sebentar ke ruang tamu, disana juga tidak ada siapa-siapa. Hanya ada pembantu mama yang sedang sibuk membersihkan jendela.


Apa Nenra sudah pulang?


Aku menengok keluar, melihat ke arah bagasi dimana mobil Nenra masih terparkir disana. Well, itu berarti pacarku itu belum pulang dan masih ada disini.


Tapi dimana?


Aku teringat satu tempat yang menjadi favorit Nenra jika berkunjung kemari.


Kamarku.


Dengan segera aku menuju kamar. Tidak buru-buru karena aku takut jatuh dari tangga. Kulihat pintu kamarku tertutup jadi aku tak yakin apa Nenra disana. Tapi begitu aku membuka pintu, kulihat sebuah gulungan besar seperti kepompong di atas ranjang.


Dia disana.


"Nen?"


Nenra tidak menyahut. Dia diam saja. Maka dengan penasaran aku mendekat dan menyadari bahwa Nenra sedang tidur. Wajahnya tampak sangat lelah. Dia seperti tidak tidur berhari-hari. Meski warna hitam di bawah matanya tak begitu nampak, tapi aku sadar Nenra kurang tidur.


"Nice dream big baby."


Aku membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh Nenra. Kudengar suara panggilan masuk pada ponsel Nenra di atas nakas. Melihat nama mami-nya, aku mengangkat panggilan itu.


"Halo Mi?" Sapaku.


Tak ada jawaban sebentar.


"Lho, Kei ya?"


Aku tersenyum. "Iya mi. Nenra nya lagi tidur, jadi Kei yang angkat deh." Jelasku. Aku tak mau mami Nenra khawatir pada putra kesayangannya ini karena tidak mengangkat panggilan.


"Yaampun anak itu. Padahal tadi mami udah nyuruh dia tidur lho. Tapi Nenra malah ngotot bilang mau nemuin Kei." Kudengar mami terkikik di seberang sana.

__ADS_1


Aku terdiam.


Menoleh pelan, aku menatap Nenra yang masih tertidur. Aku tahu Nenra itu orangnya nekat. Dia kadang sulit mendengarkan ucapan orang lain kecuali maminya. Aku yakin, dia pasti memohon pada mami agar dibolehkan untuk menemuiku tadi. Sedangkan mami sendiri, dia lemah pada permohonan Nenra.


Keluarga yang lucu.


"Kei.."


Aku berdehem. "Iya mi?" Sahutku. Kudengar suara nafas teratur mami di seberang telepon.


"Jagain Nenra ya? Dia itu keras kepala sekali."


See? Apa kataku? Mami-nya bahkan berkata demikian.


"Iya mi, pasti kok."


"Biarin Nenra disana aja. Kalau mau nginap juga nggak apa-apa. Kebetulan hari ini mami mau ke rumah mama kamu."


Aku mengangguk. "Oke mi. Kei tungguin nih." Kataku setengah bercanda.


Mami tertawa. "Mami datengnya malam Kei, astaga." Kudengar mami terkikik. "Yaudah bye sayang~"


"Bye mami~"


-tut.


Panggilan terputus.


Aku menghela napas. Meletakkan kembali ponsel Nenra di atas Nakas, aku lantas menghampiri pacarku yang tengah tidur itu.


"Mami ngomong apa?"


Aku terkejut untuk yang kedua kalinya. Kenapa hari ini Nenra begitu senang mengejutkan ku? Aku mendekat, menatap wajah Nenra yang membelakangiku.


Matanya terpejam.


Dia masih tidur? Atau sudah bangun? Yang tadi itu aku salah dengar? Atau Nenra ngigau?


"Mami ngomong apa Kei?" Suara Nenra terdengar lagi. Kali ini kedua matanya terlihat mencoba terbuka.


Nenra menatapku dengan mata khas bangun tidurnya. Dia terlihat manis saat menatapku dengan setengah jiwa yang masih di awang-awang.


"Mami cuma nanyain kamu. Suruh kamu tidur." Ujarku menjawab pertanyaan Nenra sebelumnya. Dia menatapku lama lalu kembali memejamkan mata.


Nenra ngantuk lagi kah?


"Aku nginap."


Aku mengernyitkan dahi. Kupikir Nenra kembali tidur, tapi yang terjadi malah kebalikannya. Dia membuka matanya lalu bangun perlahan. Setengah tubuhnya masih tertutup oleh selimut dengan penampilan acak-acakan.


Aku tak tahan untuk mengacak rambut yang mencuat ke sana sini. Tanganku terulur, mengacak rambutnya yang berantakan.


"Uwaaa, rambut singaa~" pekikku gemas. Aku tertawa melihat Nenra melirik ku seakan tak terima.


Aku sudah mendudukkan diri di atas kasur, tepat di depan Nenra yang kini menoleh ke arah lemari besar yang terletak cukup jauh di sampingnya. Ku lihat Nenra memegang rambutnya sendiri sambil mengernyitkan dahi.


Nenra manis sekali~


"Beneran seperti singa..."


Bisikan itu sangat kecil namun aku bisa mendengarnya. Aku tertawa, membuat ia menatapku lalu cemberut. Aku lantas menyadari sesuatu.


Aku belum melihat Nenra tersenyum sejak kami bertemu tadi.


Well, ada apa?


Tadinya kupikir tak ada yang aneh. Tapi setelah melihatnya beberapa kali aku jadi sadar ada yang nggak beres dengan Nenra.


"Nenra kenapa sih? Capek?" Tanyaku. Nenra hanya menggeleng. Ia menatapku sebentar kemudian tidur di pangkuanku. Tangan Nenra memeluk pinggul lalu kepalanya terbenam di dalam perutku.


Aku menghela napas. Diam-diam aku tersenyum melihat tingkah manisnya.


"Itu cowok siapa?"


Hah?


Aku menatap Nenra bingung. Cowok? Yang mana?


Seolah mengerti kebingungan ku, Nenra mengadah. Ia mematapku dengan cemberut, lagi.


"Yang nganterin kamu pulang." Katanya.


Aku mengerjap sebentar sebelum menjawab. "Itu Kevin. Kamu lupa sama dia? Bukannya udah kenalan yah?" Tanyaku balik.


Yah, setahuku Nenra sudah mengenal Kevin. Mereka bertemu saat aku menginjakkan kaki di kelas sepuluh. Tapi kenapa Nenra bertanya? Ia tidak lupa kan?


"Ck, ngapain pulang sama Kevin? Lama banget lagi." Nenra bertanya lagi. Kali ini ia berdecak.


Aku menatap Nenra bingung.


"Rumah kita kan satu arah. Kebetulan Kevin nawarin buat bareng dia. Itu lebih baik daripada aku naik bus kan?" Nenra mengangguk mendengar ucapanku. "Biasanya langsung pulang kok. Tapi tadi aku mampir ke toko buku dulu karena mau beli novel ke sukaan aku."


Aku melirik ke arah novel yang kuletak kan di atas meja. Nenra menatapnya lalu kembali menatapku.


"Kenapa pergi bareng Kevin? Kenapa nggak nungguin aku aja? Emang nanti abis kalau nungguin aku pulang?"


Aku menggeleng.


Sambil menghela napas, aku berusaha menahan diri menghadapi tingkah langka Nenra.


"Tadi Kevin nawarin lagi. Katanya sekalian mau beli komik. Aku nggak enak buat nolak. Ya habis aku kan numpang sama dia, masa nggak mau ikut nganter dia. Kan kasian." Terangku.


Nenra menghela napas. Dia menatapku, lalu mendekat.


Cup!


Aku menatapnya yang barusan mencium pipiku kilat. Tapi Nenra malah kembali memeluk pinggang ku dan menenggelamkan kepalanya di sana.


"Aku nggak suka liat Kevin."


Hah?


Aku menatap bingung. Sejak kapan Nenra tidak suka pada Kevin?


Ah, sebentar.


Satu kalimat terpikirkan olehku tiba-tiba. Dari sikap Nenra sejak kami bertemu pukul tiga tadi hingga menjelang pukul enam ini, kurasa aku menyadari sesuatu.


Apa...


dia cemburu?


Bersambung...


An:


Chap terpanjang setelah lima bab. Tepuk tangan *prokprokprok*

__ADS_1


Jangan lupa like dan penilaiannya~


__ADS_2