My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Wo ai Ni


__ADS_3

Aku kesal.


Hei, apa-apaan ini?


"Geby, Dita. Kalian ngapain sih?" Aku menatap ke arah dua sahabat ku yang tengah duduk anteng di sofa ruang tamu.


Ini hari minggu.


Kalian tahu apa artinya itu? Ya, itu artinya ini hariku dengan Nenra. Tapi entah kenapa dua makhluk yang mengaku sebagai temanku itu malah datang berkunjung dengan alasan...


... ingin bermain.


Oh astaga.


Boleh aku berteriak sekarang? Aku benar-benar ingin mengusir Geby dan Dita. Sungguh.


"Mukanya kecut banget sih..."


Aku menoleh ke asal suara. Kulihat Nenra berjalan dengan beberapa plastik belanjaan menuju dapur. Di belakangnya ada mami juga mama.


Pacarku itu tadi sedang mengantar para ibu berbelanja. Seperti biasa, mereka pasti ingin bereksperimen di dapur seperti minggu biasa. Aku tak sempat ikut karena Geby dan Dita telah tiba lebih dulu.


Kesal?


Aku. Sangat. Kesal.


"Ma, Kei boleh usir Geby sama Dita nggak?"


"Woy!"


"Gila, jahat banget Keisha mah."


Aku melirik Geby dan Dita yang menatapku tak percaya. Tiba-tiba saja aku merasakan kepalaku di jitak. Aku menoleh, menatap pelaku penjitak kepalaku.


"Nggak boleh gitu." Larang mama. Ia tersenyum pada Geby juga Dita. "Maafin Kei ya? Kalian kalau mau main silahkan kok."


Mami Nenra tertawa. "Kei ada-ada saja." Ujarnya.


Aku mengerucut kesal.


"Geby sama Dita ganggu sih." Kataku.


Nenra yang baru kembali dari dapur lantas menghampiriku. Ia sempat melirik pada Geby dan Dita guna tersenyum menyapa.


"Kalian main? " Tanya Nenra. Ia sudah menduduk kan diri di sebelah kananku. "Tumben banget."


Lihat? Nenra bahkan berpikir demikian.


Bagaimana tidak? Hal seperti ini benar-benar jarang ditemukan. Geby dan Dita sangat jarang main ke rumahku. Kalaupun main, mereka pasti akan memberi kabar dan pastinya bukan di hari minggu.


Aku menghela napas sebal. "Kalian ngapain? Tumben main hari minggu." Tanyaku akhirnya. Aku gatal ingin bertanya dari tadi.


Geby mengambil toples berisi keripik di atas meja. Ia melirik ke arah Dita. Aku pun lantas menatap giliran ke arah Dita.


"Oke. Jadi, dimana rumahnya Intan?"


What??


Tunggu.


Sebentar.


Heh, katakan ini bercanda! Mereka tidak datang tiba-tiba hanya untuk bertanya padaku dimana rumah Intan kan?


"Intan?" Ulangku. Geby dan Dita mengangguk tanpa rasa bersalah. Saat itu juga rasanya aku ingin menenggelamkan mereka di palung terdalam sedunia.


Aku menarik napas sabar.


Nenra menoleh. Tangannya menyentuh lenganku, bertanya. Menatap sekilas pada Nenra, dengan refleks tanganku melingkari pinggangnya.


Aku memeluk Nenra, sambil menenggelamkan wajahku di dada bidangnya yang nyaman. Mataku terpejam.


"Eh, Kei----"


--- "Woy, apa-apaan nih?!" Suara tak terima dari Geby terdengar memotong ucapan yang akan Nenra keluarkan.


Membuka mata, aku melirik Geby yang menatapku gemas.


"Apa sih? Iri banget sama yang punya pacar." Kataku. Geby menekuk wajahnya kesal sementara Dita terkekeh karenanya.


Nenra menahan senyum. Tangan kirinya ikut melingkari pinggangku, sementara tangan kanannya masih setia berada di samping tubuh. Aku melirik Geby yang sedikit mencuri pandang ke arah Dita, begitu pula sebaiknya. Seolah ada hal yang mereka ungkapkan lewat tatapan mata.


"Jangan kode-kodean please." Ketusku. Aku menatap Geby dan Dita yang tertawa canggung.


"Sebenarnya Kei..."


...


Aku menatap gelisah jam di atas dinding. Sesekali aku melirik ponsel lalu kembali menatap jam. Nenra di sebelah hanya menatapku sementara Geby juga Dita telah pergi beberapa waktu lalu.


Setelah aku menyebutkan alamat rumah Intan, kedua temanku itu langsung pamit undur diri. Mereka bilang sesuatu terjadi namun aku tak tahu pasti.


Geby dan Dita memang menjadi sangat dekat dengan Intan. Entah kenapa gadis cantik yang baik itu begitu mudah menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.


"Kamu khawatir juga?"


Aku menoleh pada Nenra yang membuka suara untuk bertanya. Tak menjawab, aku hanya mengangguk. Nenra lantas tersenyum kecil.


"Mau ke rumah Intan juga?" Tanya Nenra lagi. Aku berpikir sebentar.


Jujur saja aku tertarik dengan tawaran Nenra itu. Tapi setelah kupikirkan kembali, aku jadi merasa itu akan merepotkan Intan. Aku tahu dia gadis yang seperti apa. Dia punya sifat yang baik, dan aku yakin dia akan merasa bersalah jika aku ke rumahnya saat hari minggu karena dia tahu hari ini waktu ku dengan Nenra.


Menghela napas, aku menggeleng.


"Aku kira kamu mau." Kata Nenra. Ia menatapku dengan pandangan tak percaya.


Aku tersenyum. "Intan nggak bakal senang kalau aku ninggalin kamu. Serius, dia gadis yang baik." Kataku.


Kulihat Nenra mengangguk. "Kamu benar." Katanya. "Intan itu benar-benar punya sifat yang baik. Selain dia ramah, dia juga pengertian."


"Kira-kira ada apa ya?" Tanyaku. Kembali aku menyender di tubuh Nenra. "Apa ada hubungannya sama Deni?"


Nenra mengangkat bahu. "Entahlah."


Aku terdiam. Entah kenapa aku berpikir ini ada hubungannya dengan Deni. Secara kata Geby dan Dita, Intan nggak terlihat cukup bersemangat.


Aku melirik Nenra. Satu pertanyaan gatal sekali ingin kulayangkan pada pacarku itu.


"Kenapa?" Tanya Nenra. Ia seperti tahu aku sedang menimbang-nimbang ingin mengeluarkan pertanyaan atau tidak.


"Nen." Panggilku. Nenra menatapku dengan pandangan bertanya. "Kalau tiba-tiba aku sama Nenra LDR-an gimana?"


Nenra mengernyitkan dahi. Dia menatapku tak terima. "Nggak mau." Ketusnya. Aku mengerjap bingung.


"Aku cuma nanya Nenra." Kataku.


Kenapa Nenra menanggapinya dengan serius? Aku tahu dia orang yang serius, tapi ini terlalu berlebihan kurasa. Seperti bukan Nenra saja deh.


"Aku nggak mau Kei. Aku nggak mau jauh-jauh dari kamu."


Aku menatap Nenra penasaran. "Kenapa?" Tanyaku.


Nenra menghela napas. "Nanti kamu deket-deket Kevin lagi."


Sontak aku bangun dari rebahan singkatku di tubuh Nenra. Aku menatap pacarku itu tak percaya.


"Apa sih!" Pekik ku tak terima. Aku menatap Nenra ketus. "Nggak usah bawa-bawa Kevin lagi deh. Anak orang di bawa-bawa mulu. Kasian."


Nenra mengernyitkan dahi. "Tuh kan kamu belain. Kamu naksir Kevin pasti."


Whuuuatt?


"Hah?"


Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku menarik napas pelan, mencoba tenang. Mataku sesekali melirik Nenra yang masih memasang tampang menyebalkan entah kenapa.


"Kamu nggak serius kan?" Tanyaku. Nenra tak menjawab, ia hanya menatapku dalam. Ya Tuhan, jangan katakan dia serius berpikir seperti tadi.


"Kalau Kei bisa curiga sama aku, kenapa aku nggak boleh?" Ujar Nenra. Aku menatapnya penuh selidik.


"Tolonglah, kamu dendam?" Tanyaku.


Nggak ada jawaban.


Ah, tebakanku benar ternyata.


Aku menarik napas lagi. Ini udah yang kesekian kalinya hari ini.


"Nenra..." panggilku. Nenra lantas menatapku. "Aku mencintaimu."


Hening.


Kicep.


Blushing.


Astaga, Nenra malu!


"Kei mah." Nenra tersenyum. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain.


Tuh kan.


"Hayoloh, Nenra nggak cinta aku."


Nenra sontak menatapku. "Aku cinta." Katanya.

__ADS_1


"Cinta siapa?"


"Kei."


Aku mendengus. Ayolah, apa sangat sulit mengatakan 'Aku mencintaimu juga' hah? Nenra benar-benar. Dia tak pernah mengatakan hal itu sebelumnya di depanku. Nenra selalu berkata dia mencintaiku tapi saat aku terlelap. Itu kan nggak adil.


Aku mengerucut sebal. Nenra benar-benar nggak asyik.


~♡.♡.♡~


Pagi yang menyenangkan.


Aku menatap sekeliling ruangan. Saat ini aku sedang di dalam kelas, menatap pemandangan yang sama seperti biasa. Dan seperti biasanya, aku hanya menatap teman-teman kelasku yang masuk satu demi satu.


"Pagi Kei."


Aku tersenyum pada Kevin yang baru memasuki kelas. Letak tempat duduknya yang besebelahan denganku membuat ia selalu menyapaku setiap pagi.


"Pagi Kevin." Balasku padanya.


Kevin melempar senyum. Ia meletak kan tas nya lalu mengambil posisi yang nyaman untuk duduk sementara aku kembali menatap pemandangan, kali ini keluar jendela.


"Gimana kabar Nenra?"


Pertanyaan tiba-tiba dari Kevin membuatku sedikit gagal fokus. Aku terdiam sejenak guna memproses pertanyaan tersebut.


"Oh, baik seperti biasanya." Kataku.


Kevin mengangguk. "Gue rada takut sama tatapan matanya kalau lihat gue. Serem banget."


Aku mengernyit. "Yang benar?" Tanyaku.


Kevin mengangguk. "Gue nggak tahu itu emang udah jadi tatapan dia atau tatapan itu cuma berlaku buat gue." Kevin lantas terkekeh.


Well, kurasa aku memilih opsen kedua.


Aku tersenyum minta maaf pada Kevin. Entah kenapa aku merasa nggak enak sama dia. Secara Nenra itu memang rada nggak suka sama Kevin sejak kejadian aku pulang dengan teman kelasku itu.


Aku nggak tahu dimana letak salahnya. Kupikir Kevin baik karena menawarkan tumpangan. Tapi bagi Nenra dan menurut Nenra, itu modus katanya.


Jah, modus. Modus darimana?


.


Jam sekolah berakhir.


Tepat saat itu juga, hujan turun sangat deras. Aku sudah terlanjur sampai di koridor saat hujan tiba-tiba makin deras. Ini benar-benar buruk. Aku nggak bawa payung!


"Kei!"


Aku menoleh. Kulihat Kevin mendekatiku dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.


"Nggak bawa payung juga ya?" Tanya Kevin. Ia menempatkan diri untuk berdiri tepat di sampingku.


Aku mengangguk. "Kamu nggak pulang?" Tanyaku. Setahuku Kevin naik motor, jadi kenapa dia masih berada di sini?


"Aku nggak mau hujan-hujanan. Bentar lagi ujian nasional soalnya."


Aku ber 'oh' ria.


Jika dipikir-pikir benar juga. Kevin pasti benar-benar mencoba menjaga kesehatannya. Pasalnya sebentar kami akan melaksanakan ujian.


Hening.


Tak ada yang membuka suara diantara kami. Hanya sesekali terdengar samar hembusan napas berat Kevin yang beradu dengan derasnya hujan.


"Kamu nungguin Nenra?"


Pertanyaan Kevin sedikit membuatku tersentak. Aku lantas segera menatapnya. Dan anggukan dariku menjadi jawaban atas pertanyaan Kevin.


"Mungkin dia lagi dalam perjalanan." Kata Kevin.


Aku tersenyum. "Mungkin."


Angin berhembus pelan. Aku benar-benar merasa sangat dingin. Sambil merutuki cuaca yang dengan begitu cepatnya berubah, aku menggosokan kedua telapak tanganku guna menciptakan hangat yang membuatku nyaman.


"Nih."


Aku mendongak. Kevin mengulurkan sebuah jaket tebal berwarna marun di hadapanku.


"Eh?" Aku mengerjap. Nggak mengerti sama sekali.


Kevin malah tersenyum. "Pake aja. Kamu kelihatan kedinginan banget." Ujarnya.


Aku nggak menolak juga nggak mengiyakan. Soalnya aku merasa sangat sangat dingin dan nggak ada niatan buat menolak kebaikan Kevin. Tapi aku tidak enak padanya.


"Udah nih nggak apa-apa." Ujar Kevin. Tanpa meminta persetujuanku, dia menyampirkan jaketnya pada tubuhku.


Hangat.


"Makasih ya." Aku menatap Kevin dengan senyum yang betah bertengger di wajah dinginku.


Kevin terdiam sejenak sebelum mengangguk.


"Kamu nggak dingin?" Tanyaku. Aku menatap Kevin yang menyembunyikan telapak tangannya dalam saku celana sekolah.


Kevin menggeleng. "Dingin, tapi bisa aku tahan." Katanya.


Ah, Kevin sangat jujur.


"Maaf ya, jaketnya aku pakai."


"Nggak apa-apa Kei. Aku tahu kamu nggak betah dingin." Lagi-lagi Kevin tersenyum.


Aku hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Kevin.


Kembali keheningan melingkupi kami. Kulihat beberapa anak perempuan keluar dari gedung sekolah dengan payung sementara para laki-laki dengan nekat menerobos hujan. Aku menatap mereka satu persatu hingga sepi.


"Udah sepi aja nih tetiba." Kataku. Aku menatap ke arah gedung sekolah kami lalu menghela napas.


Kevin ikutan menoleh. "Bentar lagi aku juga nekat nih hujan-hujanan." Ujarnya.


Aku melirik Kevin. "Kenapa?" Tanyaku.


Kevin menunjukan jam di pergelangan tangannya. Pukul empat sore. Ini sudah cukup lama sejak hujan turun.


"Semoga hujannya cepetan reda." Bisik ku.


"Hatchu!"


Aku terkejut. Dengan segera aku menatap Kevin yang menggosok hidungnya. Dia baru saja bersin, dan kurasa ini bukan pertanda baik.


"Kamu dingin Vin?" Aku bertanya. Tanganku bahkan refleks menyentuh telapak tangan Kevin yang memucat.


Dingin sekali!


"Uwaaahh maaf!" Kataku panik. "Jaketnya aku lepasin ya?"


Kevin mengangguk. "Udah nggak apa-apa. Gue emang sering bersin kalau hujan. Tapi daya tahan tubuh gue kuat kok."


Aku menatap Kevin menyesal.


Kevin menatapku. Ia tersenyum lalu menepuk puncak kepalaku. Entah kenapa wajahnya terlihat gemas.


"Lu kok lucu banget sih." Katanya. Bukannya menghentikan tepukannya pada kepalaku, Kevin malah mengusap-usap rambutku.


Dan sebenarnya itu sangat nyaman.


"Keii!!"


Aku menoleh kaget. Dari arah parkiran, kulihat Nenra berlarian dengan payung di kedua tangannya.


"Nen?" Panggilku memastikan.


Nenra menempatkan dirinya tepat di depanku. Ia melepaskan payung lalu menatapku dengan pandangan bersalah.


"Maaf ya, tadi aku mampir ke toserba buat beli payung. Terus jalanan licin jadi nggak bisa ngebut." Ujar Nenra. Ia melirik Kevin sebentar sebelum kembali menatapku.


Aku mengangguk. "Nggak apa-apa kok." Ujarku.


Nenra tersenyum. "Pulang yuk. Udah sore nih." Katanya.


Aku terdiam. Sejenak aku menatap ke arah Kevin yang hanya tersenyum.


"Payungnya kasih Kevin satu ya?" Tanyaku pada Nenra. Kulihat dua pemuda di sekitarku tampak terkejut.


"Eh, nggak usah Kei." Kevin menolak.


Aku menatapnya. "Nggak apa-apa. Kasian kamunya ntar masuk angin." Kataku. Aku lantas mengambil payung yang belum dibuka oleh Nenra dan menyerahkan pada Kevin.


"Udah ambil aja." Kata Nenra. Ia berbicara tanpa menatap pada Kevin.


Akhirnya Kevin mengambil payung yang aku sodorkan.


"Oke, makasih ya?" Katanya.


Aku mengangguk.


"Pulang yuk." Ajak Nenra. Ia baru akan melepas mantelnya saat tiba-tiba berhenti begitu saja.


Hening.


"Balikin nih jaket orang." Nenra berucap ketus tiba-tiba.


Aku melirik jaket yang sudah nyaman berada di tubuh. Bibirku mengerucut sebal.

__ADS_1


"Dingin..." kataku.


Nenra menatapku dengan pandangan memicing. "Pake punya aku aja nih." Katanya.


Aku menghela napas.


"Udah nggak apa-apa, bawa aja dulu. Kapan-kapan baru dibalikin." Kevin bersuara.


Aku menatap Kevin. Kasihan sekali aku melihatnya kedinginan begitu. Lantas aku membuka jaket, membuat udara dingin tiba-tiba saja menusuk kulitku.


"Aku balikin aja deh. Ntar kamu masuk angin. Kan kita bentar lagi ujian." Kataku menyerahkan jaket itu pada sang empunya.


Kevin menatapku sebentar lalu menghela napas. "Yaudah." Katanya sambil tersenyum.


Aku menghela napas.


Tiba-tiba saja kurasakan mantel tebal Nenra membungku kepala hingga lututku. Aku mengerjap menatapnya bingung.


"Ayo pulang."


Nenra menarik ku dalam pelukannya. Tangan kirinya memeluk pinggangku sementara tangan kanannya masih setia memegang payung.


Lantas bersama kami menerobos hujan. Aku menoleh ke arah Kevin yang tersenyum padaku. Refleks aku mengangkat tangan kiriku yang tenggelam dalam mantel Nenra.


"Dadahh!!" Teriak ku.


Aku merasakan cubitan kecil di pinggangku. Kesal, aku menyikut Nenra yang menjadi pelaku.


"Sakit ih." Kataku ketus.


Nenra hanya melirik sebelum kembali berjalan santai menuju mobil.


~♡.♡.♡~


Esoknya, tebak.


Nenra demam.


Aku menarik napas. Ini benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana bisa dia yang demam padahal aku yang hampir kehujanan? Sungguh nggak lucu!


"Nenra ada di kamar, Kei. Naik aja. Dia nggak mau makan tuh. Malah ngotot minta dibolehin berangkat ke kampus."


Aku menatap mami yang berbicara. Ia terlihat sedikit kesal, dan aku yakin ini pasti ulah si Nenra. Pacarku itu benar-benar kepala batu!


"Biar Kei yang bawain makanan nya Nenra mi." Kataku. Aku mengambil alih nampan berisi bubur dan air putih juga beberapa obat penurun panas.


"Pastikan Nenra makan ya Kei? Kalo nggak mami bawa ke rumah sakit."


Aku tersenyum. "Pasti mah. Nanti Kei ancam pake embel-embel putus."


Mama terkikik. "Jahat kamu sayang."


Aku ikutan terkekeh.


Langkahku pelan menaiki tangga menuju kamar Nenra di lantai dua. Ini bukan pertama kalinya aku berkunjung, jadi aku tahu betul letak ruangam di rumah besar ini.


Aku sampai di lantai dua. Ada ruangan santai yang di kelilingi beberapa pintu. Kamar Nenra tepat berada di depan ruangan santai itu. Pelan aku membuka pintu bercat coklat yang menjadi penutup kamar Nenra. Tidak terkunci jadi aku menengok ke dalam.


Kamar Nenra masih sangat rapi. Jendela besarnya yang menghadap timur membiaskan cahaya matahari dengan indah. Aku yakin mami yang membersihkan kamar ini.


Aku melirik jam di atas nakas.


Pukul sembilan pagi.


Jangan bertanya-tanya kenapa aku tidak sekolah karena kalian tahu pasti apa jawabannya.


"Nen..."


Aku mendekati Nenra yang terbaring di atas ranjang. Nampan berisi makanan sudah aku letak kan di atas meja.


"Nenra..." panggilku lagi. Aku mengguncang pelan tubuh Nenra, berharap pacarku itu segera bangun.


"Nenra bangun sayang~"


Nenra bergerak. Dia menutup matanya dengan lengan kanan sebentar sebelum menatapku.


"Kamu nggak sekolah?" Tanya Nenra. Ia menatapku dengan pandangan sayu khas orang sakitnya.


Aku menggeleng. "Izin tadi di guru piket. Abis ada yang sakit."


Nenra menarik napas.


"Aku mau kuliah Kei..."


Aku menatap Nenra. "Yang bener aja deh kamu Nen. Lagi sakit juga." Ketusku.


Nenra itu paling tidak suka sakit. Menurutnya itu sangat tidak enak dan menjengkelkan.


"Masa calon dokter sakit."


Aku melirik Nenra. "Dokter kan juga manusia. Apa salahnya?" Tanyaku kemudian.


Nenra menghela napas. "Nggak enak Kei~" rengeknya.


Aku tersenyum.


"Makan dulu yuk, abis itu minum obat. Masa calon dokter kepala batu sih..."


Aku mengambil mangkok bubur buatan mami. Lantas aku membantu Nenra untuk bangun dari tidurnya.


Nenra menatapku. "Kalau aku tidur karena obat, jangan kemana-mana ya? Di sini saja temenin aku." Pintanya.


Aku mengangguk. "Iya kok, pasti."


Setelahnya aku mulai menyuapkan sendok demi sendok bubur pada Nenra.


.


.


.


"Udah, bobo lagi gih."


Nenra baru selesai meminum obatnya. Ia menatapku yang juga menatapnya.


"Kenapa?" Tanyaku penasaran.


Nenra menggeleng. "Jangan tinggalin aku. Mami nggak di rumah pasti."


Aku mengangguk. "Iyaa..."


Mami Nenra tadi memang sedang keluar. Dia punya apotek yang harus dijaganya setiap hari, makanya mami memintaku untuk merawat Nenra.


Aku membaringkan kembali tubuh Nenra lalu menyelimutinya perlahan. Setelah itu aku menuju dapur, membawa serta nampan untuk dicuci.


Setelah beberapa waktu, aku kembali ke kamar Nenra. Pacarku itu sudah tampak terlelap dengan damai. Aku membawa beberapa buah lalu meletakkannya di atas meja, berharap Nenra memakannya nanti.


Jam masih menunjukan pukul sepuluh pagi. Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk membaca beberapa buku.


Tanpa terasa waktu berlalu.


Ketika aku menatap jam, jarum pendek itu telah menunjuk angka dua belas siang.


"Kei..."


Lenguhan itu membuatku menoleh. Nenra tampak mengerjap, ia menoleh ke arahku dengan tersenyum.


"Pagi..." sapanya.


Aku terkekeh dan mulai mendekatinya.


"Pagi..." balasku.


Tanganku terulur menyentuh dahi Nenra.


"Udah turun nih." Kataku. Lega rasanya melihat Nenra sudah membaik.


Nenra tersenyum. "Sini dong." Ia menepuk kasur di sebelahnya. Mengerti, aku lantas beranjak naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah Nenra.


Kembali Nenra tersenyum. Dia mendekapku pelan.


"Kei..."


Aku bergumam. Nenra terdiam cukup lama sebelum menarik napas pelan.


"Wo ai ni."


Tunggu.


Aku mendongak menatap Nenra yang juga menunduk untuk menatapku. Dia lagi-lagi tersenyum kemudian mengecup pucuk kepalaku.


"Wo ai ni..." bisiknya lagi.


Aku tersenyum.


"Wo ai ni...."


Bersambung...


Wo ai ni guyss 😙😙


Ehehehe...


Menjelang chap akhir nih ^&^// gimana?? Ehehe jangan lupa tinggalin jejak yee

__ADS_1


__ADS_2