My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Chapter 25


__ADS_3

"Beneran gak papa?"


"Gak papa loh Yun, astaga."


"Tapi lo kan masih pusing Naz."


"Cuman pusing enggak sampai buat aku gak bisa jalan."


Nanaz tersenyum, menyandang tas coklatnya di pundak dan bangkit dari duduknya. "Tenang aja, gue bisa pulang sendiri hehe." Ungkapnya meyakinkan.


"Telpon kak Karin aja gimana? Telpon aja deh," Kedua gadis ini tengah berjalan keluar kelas sekarang. "Lo masih pucat Naz, bahaya kalau pulang sendiri." Sambungnya.


"Maunya gitu, cuman tadi pagi gue liat dia buru-buru. Kalau sibuk gimana?"


"Terus lo pulang nya gimana? Please gue gak bisa tenang kalau lo pulang sendiri. Apa gue gak usah latihan Nari ya?"


Nanaz yang baru saja menyapa Arkan yang masih di luar kelas sontak menoleh. Mengernyitkan dahinya sambil memukul bahu Yuna pelan.


"Jangan ngaco ih, yang bilang deg-degan karena kepilih ikut lomba perwakilan sekolah siapa kemarin?"


"Ya gue sih, " Yuna menghela nafas. "tapi gak latihan satu hari gak ngaruh. Gak papa yang penting lo--"


"Ssttt! Udah-udah, gue pulang naik ojek online, oke? Bukan naik angkot."


Yuna mengerucutkan bibirnya, sebenarnya ia juga sedang malas latihan nari saat ini. Kalau ia ikut mengantar Nanaz ia bisa membuat alasan untuk tidak latihan, dan sekalian main ke rumah Nanaz. Yah bisa dibilang hanya alasannya saja.


"Yauda deh, jadi lo mau langsung pulang? Mau gue temenin dulu ke depan?"


Nanaz menggeleng tanpa menoleh, "Gak usah, gue mau ke tempat Ezra dulu. Mulai hari ini hukuman nya di mulai."


Fyi, mulai hari ini tepatnya setelah pulang sekolah ini, hukuman Ezra dan teman-temannya di mulai. Masih ingat pertengkaran Ezra serta DoRa dengan kakak kelas? Saat itu Bu Dara memberi hukuman membersihkan seluruh toilet SMA MEGANTARA selama seminggu.


"Yaudah deh, gue mau ke ruang latihan. Hati-hati ya!" Ucapnya sambil melambaikan tangan kemudian pergi meninggalkan Nanaz.


Nanaz ikut melambai, tersenyum sambil memperhatikan punggung teman yang sangat khawatir padanya itu menghilang di balik tembok. Kemudian kembali melangkahkan kakinya, sesekali tersenyum pada siswa lain yang menyapanya di koridor.


Kalau tidak salah, Ezra bilang ia kebagian membersihkan toilet terbengkalai bagian belakang sekolah. Maka dari itu gadis ini berbelok ke kiri, berjalan ke arah yang berlawanan dari siswa-siswi yang hendak keluar sekolah.


Semakin hampir sampai tujuan semakin sepi disekiar, tinggal beberapa siswa yang terlihat di dalam kelas sedang melakukan kewajiban kebersihan setiap pulang sekolah.


Kemudian gadis ini tersenyum, karena suasana yang sunyi dari sini ia dapat mendegar suara yang dikenalnya tengah berteriak kesal. Terdengar marah-marah pada seseorang dan suara gaduh lainnya.


Nanaz terkekeh, setelah melewati bangunan besar ini ia akan melihat kekasihnya.


***


"TOLOL ANJING, UDAH DI BILANG INI DIBILAS DULU!"


"Kalem Zra, Bu Dara baru aja pigi. Ntar balik lagi terus hukuman ditambah emang lo mau? Gue udah pengen ketemu Salma."


Doni mendengus, berkacang pinggang setelah menggulung celananya sampai betis. "Makin hari lo makin bucin ya? Jijik gue anying."


"Udah lah Don, kalau iri bilang. Mendingan lo cari pewangi lantai sana. Biar kehadiran lo sedikit berguna." Balas Rafa.


"Kok ngatur?" Doni memandang sengit. "Gue baru aja gotong air dua ember, lo bilang masih gak guna?!"


"Baru juga dua ember udah ngeluh, Lo Cowok kan?"


"Heh Raf, lo mau ngajak gelut hah?! Sini maju kita by one!"


Doni mulai bergaya, kedua tangannya yang siap mencakar melayang di udara. Mulai mengeluarkan suara khas kucing bertengkar.


"Jangan salahin gue kalau ditinggal Salma karna wajah lo jadi jelek ye."


"Salmanya gue gak madang fisik."


"Kebanyakan ngom-


Byurrr!


"Anjir! Siapa yang nyiram!?"


"Gue."


Ezra memandang datar, hatinya sangat puas sekarang. "Gak usah banyak tingkah! Kalau mau berantem sana ke kebon binatang!"


"Ezra sayang, gue mah masih manusia. Ini si Rafa yang menjelma jadi babi."


"Asu!"


"Diam!"


Teriak Ezra, kemudian melempar asal ember bekas air yang ia gunakan untuk mengguyur Rafa dan Doni. Beralih menatap seorang diantara mereka yang lebih mudah setahun. Terabaikan keberadaanya sedari tadi.


"Heh sini lo."


"Saya bang?"


"Gak usah sok bego, cepetan ke sini sebelum gue yang kesana sekalian nyabut nyawa lo!"


Yang diancam pun buru-buru mendekat, takut yang dikatakan Ezra bukan sekedar ancaman biasa.


"Lo yang disuruh bu Dara ngawasin kita kan?"


"Iya bang."


"Lo pilih mana, ngikutin perintah Bu Dara tapi jangan harap habis ini bisa lepas dari gue, atau ngikutin perintah kami."


"Ng-ngikutin gimana?"


Doni dan Rafa yang sebelumnya masih protes akibat bajunya yang basah kini ikut masuk ke obrolan mereka. Memasang wajah menyeramkan, dan tatapan mengancam pada adik kelas tak berdosa satu ini.


"Gampang kok." Jawan Ezra, diangguki oleh Rafa dan Doni.


"Lo yang bersihin toilet ini, habis itu pulang deh dengan selamat."


"Gimana?" Tanya Rafa


"Awas aja lo nolak ya, lo tau Ezra kan? Sama kayak naruto yang punya kurama, si Ezra juga punya macan kurang belaian dalam dirinya. Kalau ngamuk bahaya lo." Timpal Doni.


Zaki yang saat ini terlihat seperti hamster kecil yang siap dimangsa tengah menelan ludahnya. Dengan takut-takut memberanikan diri untuk menjawab pilihan yang paling tepat untuknya.


"M-maaf bang! Tapi saya lebih milih Bu Dara!" Teriaknya sambil memejamkan mata.


Doni menghela nafas, terlihat lesu. "Emang ya good looking selalu di bela."


"Gak gitu juga goblok kan emang kita yang salah." Tegur Rafa.


Ezra mendengus, "Yakin lo!?" Bentaknya


"A-ancaman Bu Dara lebih bahaya, kalau abang-abang gak bersihin toiletnya rambut saya bakal di botakin. Tolong ya bang, minggu depan saya mau nembak gebetan soalnya."


"Ck! Sialan lah!"

__ADS_1


"Lagian Bu Dara apaan sih? Kenapa kita kebagian Toilet belakang sekolah coba?! Mana yang paling buluk, air nya gak ada!"


"Gini bang kita semua kan tau toilet belakang sekolah udah gak dipakai lagi, makanya gak ada airnya. Karena itu Bu Dara menyuruh abang-abang sekalian unt---"


"Udah stop gak usah banyak bacot." Ketus Ezra


"Udahlah Zra, kita sabar aja. Mungkin ini latihan buat kita jadi Cleaning Service di masa depan." Sahut Doni.


"Lo aja Don, gue kagak ikutan, mau makan apa Nanaz dimasa depan nanti kalau gue cuman jadi Cleaning Service?!"


"Makan hatilah."


"Yaelah kalian dua. Gue kan cuman bercanda."


"Yaudah lah ayo di bersihin, dari tadi ngoceh mulu. Gue uda kangen Nan──Eh?"


"NANAAAZZ!!"


Ezra berteriak kaget sekaligus senang saat gadis tercintanya terlihat berjalan ke arah mereka. Tapi Ezra tak mau menunggu dan membuat Nanaz capek berjalan.


Maka dari itu cowok ini memberikan kain pel yang sebelumnya sempat ia pegang pada Doni dan berlari kecil ke arah Nanaz.


"Nanaz belum pulang? Nanaz kok kesin──Ehh?! Nanaz masih pusing ya! Kok pucat gini?!"


"Ezra aku──"


"Heh Doni! Bawa kursi kemari cepetan!!"


"Hah! Cari kursi dimanaa?"


"Ya cari goblok!"


Doni menghela nafas, mengikuti perintah Ezra mencari kursi. "Sejak kapan gue jadi babu tanpa digaji ya?" Gumamnya.


"Ezra aku gak papa. Cuman mau liat kamu sebentar terus pulang."


Tidak, sebenarnya ia tidak baik-baik saja. Saat hampir sampai kesini tiba-tiba kepalanya sangat pusing bahkan perutnya mual. Ia memutuskan untuk berbalik arah ke toilet dahulu, itu sebabnya ia baru sampai sini saat ini.


"Yaudah, Nanaz tunggu sebentar ya. Aku mau izin sama mereka dulu."


"Eh enggak usah. Nanti aku pesen ojek online aja."


"Kalau masih ada aku ngapain mesen ojek Naz? Pacar Nanaz kan aku bukan kang ojeknya." Ucapnya dengan wajah sedih.


"Kalau kang ojeknya terpesona sama kecantikan Nanaz, terus Nanaz di bawa kabur gimana? Emang Nanaz mau liat aku jadi gak waras ditinggal Nanaz?"


Tetap dengan ekspresi yang sama namun dengan nada ciri khasnya saat berbicara dengan Nanaz. Sementara Rafa mulai memperingati Zaki yang ikut terpelongo melihat tingkah Ezra.


"Gak usah kaget ya."


Zaki memandang bingung saat Rafa melipat kedua tangannya. "Itu wujud macan kurang belaiannya si Ezra kalo lagi sama pacarnya. Alay emang."


"Hah?" Nanaz terkekeh.


"Apa sih Zra, jangan lebay ah." Suaranya serak, tawanya berubah menjadi batuk membuat Ezra semakin khawatir.


"Tuh kan Naaas, Nanaz batuk! Udah ayok pulang biar aku yang antar sekalian ke klinik aja gimana?!"


Nanaz tak menjawab, masih sibuk dengan batuknya.


"Woi Rafa! Cari minum sana!" Perintah Ezra.


"Nanaz, ternyata lo disini?"


"Miko?"


"Ngapain lo kesini?" Tanya Ezra.


"Gue tadi liat lo masuk toilet, wajah lo keliatan pucat. Jadi gue beli minum buat lo, pas gue balik lo udah gak ada. Ternyata disini." Jelasnya pada Nanaz.


"Lo ngikutin Nanaz ke toilet?"


Miko menoleh, "Bukan, kebetulan gue liat Nanaz masuk toilet."


"Kebetulan? Bukannya semua toilet cewek sama cowok jaraknya jauh banget. Ngapain lo ke area toilet cewe?" Sarkasnya.


"Nanaz masuk ke Toilet cewe yang di dekat kantin kecil. Kebetulan gue lagi ada disana."


Ezra tertawa sinis, "Hidup lo kebanyakan kebetulan ya kayaknya."


"Ezra." Tegur Nanaz. "Aku emang masuk ke toilet itu karena jaraknya deket dari sini."


"Kalau mau lebih jelas lagi kantin kecil itu deket sama ruang OSIS. Gue yakin lo juga tau kalau gue salah satu anggota OSIS kan?" Jelasnya.


Nanaz mengangguk membenarkan, kemudian menatap Ezra yang kini ikut membalas tatapannya. Ia juga ya, pikir Ezra. Lagi pula Miko itu gebetannya Yuna, jadi ia tak perlu waspada. Yang perlu ia waspadai seharusnya adalah Lucas.


Dan lagi, setau Ezra Miko yang membantu Nanaz ke UKS saat diganggu Jinan tadi. Seharusnya ia tak bersikap seperti ini.


"Oh gitu. Yaudah mana, itu minumnya buat Nanaz kan?"


Miko mengangguk, hendak memberikan pada Nanaz tapi disambar lebih dulu oleh Ezra. Cowok itu membuka tutup yang masih tersegel, segera memberikannya pada Nanaz.


"Minum Naz."


Nanaz mengangguk dan segera meminumnya. Cukup melegakan tenggorokannya karena batuk tadi. Dan sejujurnya ia cukup haus, air minumnya sudah habis di ambil Arkan saat ia tinggal di UKS.


"Makasih banyak ya Mik, lo baik deh."


Miko tersenyum, "Sama-sama Naz."


Raut wajah Ezra mengekerut begitu melihatnya. "Aku gimana Naz?" Tanya nya.


"Gimana apanya?" Bingung Nanaz.


Garis bibirnya melengkung kebawah. Tak perduli ada Miko disampingnya, cowok tampan ini mengeluarkan nada sesedih mungkin.


"Aku yang bukain botol minumnya loh Naz, pake tenaga lagi. Kok yang di puji cuman dia doang."


Nanaz terkekeh kembali. "Oh iya, aku lupa. Makasih ya Zra."


"Ulang-ulang Nas, belum lengkap kalau gak pakai puk-puk di kepala." Ucapnya sambil mengusap kepala nya sendiri.


Miko tiba-tiba bergidik ngeri, begitu pula dengan Zaki yang dari jauh sedari tadi memperhatikan. Lain halnya dengan Rafa yang sudah terbiasa dengan hal yang menurut nya sangat alay ini.


"Iya-iya, makasih ya Ezra. Emang Ezra yang paling baik deh." Ucap Nanaz.


Tangan gadis itu terulur mengacak gemas Rambut Ezra mencoba tersenyum, mengabaikan pusingnya yang mulai kembali.


"Ehehehe."


"Ekhem." Miko berdehem, kemudian mengelus tengkuk lehernya. Merasa aneh dengan sifat Ezra.


"Eh, ngapain masih disini?" Tanya Ezra.

__ADS_1


"Oh minta ganti uangnya ya, bentar-bentar."


Ezra merogoh kantung celana nya, mengambil dompet dan memeriksa uang disana. Kemudian mengeluarkan selembar uang bewarna biru dan memberikannya pada Miko.


"Nih, gue tau itu air putih palingan cuman goceng. Tapi karena gue baik gue kasih lebih, sisanya buat jajan ya, tapi jangan di habisin, harus di tabung." Kata Ezra sok memberi nasihat.


Miko sedikit kaget, menggelengkan kepalanya sambil mendorong uang pemberian Ezra.


"Eh, gak perlu."


"Halah gak usah malu-malu, gue kaya kok. Cuman lima puluh ribu gak bikin gue jadi gembel."


Miko menatap datar, kemudian tersenyum lebar namun dari tatapannya kentara sekali bahwa ia sedang kesal dengan tingkah Ezra yang menyebalkan.


"Gak usah khawatir, gue juga kaya tujuh turunan."


Nanaz hanya meringis memperhatikan. Kedua cowok di depannya saling tersenyum namun siapapun yang melihatnya pasti tau keduanya terlihat saling tak suka.


"E-ezra, kalau gitu aku pulang duluan ya?"


"Nanaz mau pulang? Bareng sama aku aja gimana?"


Ezra mendelik kaget, tangan yang awalnya hendak meraih Nanaz beralih menunjuk Miko.


"Heh! Jangan sok deket ya, berani banget lo ngajak cewe orang pulang bareng di depan pacarnya." Emosinya.


"Ezra..."


"Eh Sorry, gue cuman nawarin. Lagian dari pada Nanaz pulang sendiri kan?"


Nanaz tersenyum, kemudian menggeleng pelan. "Nggak apa-apa kok, ntar malah bikin lo repot lagi." Tolaknya.


Tangan gadis itu bergerak menyentuh tangan lain milik seorang yang masih terlihat emosi disana. Ibu jarinya mengelus pelan, membuat Ezra yang sebelumnya menggertakan gigi nya dan menatap Miko marah melunak kembali.


"Nanaz udah bilang enggak kan, masih ada gue cowoknya. Pulang sana lo."


"Sama sekali gak ngerepotin kok Naz, rumah lo di Jalan Pemuda No. 12C kan? Searah sama rumah gue kok."


Nanaz diam sebentar, mengabaikan Ezra yang mulai ribut kembali meladeni tawaran Miko untuknya. Kalau memang begitu tak ada salahnya kan, dari pada pesan ojek online dengan orang asing tak dikenal, bukankah lebih baik diantar oleh Miko.


Lagi pula, sebenarnya ia sudah sangat sangat pusing, ingin cepat minum obat dan segera tidur di rumah. Jangan sampai ia pingsan di jalan dan malah merepotkan orang lain nanti


"Eum... beneran enggak papa Mik?"


Keduanya menoleh, menatap gadis paling pucat di antara mereka. Ezra yang baru sadar dan khawatir hendak berbicara terpotong oleh Miko.


"Enggak apa-apa, lo kan temen deket nya Yuna. Udah sewajarnya gue bantu kan?"


Mendengar kata Yuna membuat Nanaz tersenyum, tak ragu lagi untuk menerima tawaran Miko.


"Tapi Naz, aku juga bisa nganter kamu pulang kan." Cegah Ezra.


"Maaf bang gak bisa. Bentar lagi Bu Dara pasti datang buat meriksa pekerjaan abang-abang udah sampai mana." Ucap Zaki yang tiba-tiba muncul di antara mereka.


"CK! Sialan lo!" Decaknya kesal.


"Tenang aja Zra. Gue pasti antar Nanaz sampai rumahnya."


"Awas aja kalau nyasar ke rumah lain. Gue bunuh lo."


Miko hanya tersenyum menanggapi ucapan Ezra yang entah hanya sekedar bercandaan atau beneran.


"Ayo Naz."


"Nanaz kalau udah sampai rumah kabarin aku yah, nanti selesai dari sini aku bakal langsung ke rumah Nanaz.


Nanaz hanya mengangguk sambil tersenyum, malas bicara karena kepalanya yang semakin pusing.


"Hati-hati bawa motornya! Kasih Nanaz helm, awas aja kalau sampe Nanaz gak pakai helm. Liat-liat dari spion kalau Nanaz kenapa-napa, jangan sampai dia pingsan di jalan! Kalau misalnya hujan lo har──"


Ucapan Ezra terhenti saat merasakan lilitan tangan di pinggangnya. Nanaz tiba tiba menubruknya dengan pelukan, gadis itu bahkan mengadahkan kepalanya ke atas dan tersenyum lebar.


"Ehehe~ udah ya Ezra. Kami pulang duluan yaaa nanti jangan lupa bawa martabak waktu datang."


Ezra yang masih belum siap hanya mampu mengangguk dengan pipi yang mulai bersemu. Bahkan sampai gadis itu melepas pelukannya dan mulai melangkah pergi sambil melambaikan tangan, Ezra masih diam terpaku dengan senyumnya yang mulai melebar. Cowok itu bahkan tertawa sambil memeluk dirinya sendiri.


"Ehehe, gue dipeluk Nanaz. Mwehehehehehe──"


"Bang."


"Anjir! Gak usah ngagetin lo."


"M-maaf bang, ayo lanjut lagi bersihin toiletnya."


"Ck, iya-iya! Sewot banget sih."


Ezra melangkah ke arah Rafa, cowok itu melemparkan kain pel nya pada Ezra.


"Heh! Sialan, kalau tadi baju suci bekas pelukan Nanaz jadi kotor gimana hah!?"


"Yaelah, sampai segitunya. Ya maap Zra, lagian tumbenan Nanaz berani meluk banyak orang gini."


"Eh iya juga ya, apa jangan jangan demam buat Nanaz jadi ngawur."


"Bisa jadi sih, adek gue kalau demam juga jadi manja." Kata Rafa, "Wah nanti kalau di atas motor Nanaz meluk Miko juga gimana ya?"


"Fak! Iya juga! Gak bisa di biarin ni."


"Wiuu wiuu wiuuu tenonett." Suara sirine ambulans yang terdengar ngawur keluar dari mulut Doni.


Dengan kursi yang ia angkat di atas kepala, cowok itu berjalan setengah berlari mendekati teman-temannya.


"Nah kursi nya, gue pilihin yang paling bagus. Ahaha! Baik banget kan gue."


"Telat lo, si Nanaz udah pulang."


"Hah?"


Doni melihat kesekitar, memang benar tak ada lagi gadis itu disana. "Yahh, sia-sia dong gue debat ma kakak kelas perkara pinjam kursi doang."


Ezra merebut kursi kayu yang baru saja di turunkan Doni. Mendudukinya sambil berfikir keras dengan tangan yang saling menyatu.


"Gak usah banyak bacot, cepetan bantuin ini. Kelamaan lo, jangan-jangan sengaja tadi ya biar gak ikutan ngepel."


"Heh! Gak usah fitnah deh. Lo pikir nyari kursi gampang, kelas kelas dah pada di kunci."


Rafa hanya mendengus, memasukan kain pel kedalam ember berisi air bersih dan mencucinya.


"Kenapa lo Zra?" Tanya Doni.


Ezra menyentuh kepalanya, fokus dengan pikirannya sendiri. Kemudian memasang wajah terkejut seolah menyadari apa yang sedari tadi mengganjal dipikirannya. Membuat kedua temannya ikut menoleh kearahnya.


"Si Miko, kok bisa tau rumah Nanaz di jalan Pemuda ya?"

__ADS_1


__ADS_2