
Jam setengah empat sore, mereka berdua berada di taman bunga di tengah kota. Hari ini ramai sekali, banyak yang berkunjung. Mulai dari keluarga, pasangan atau orang-orang yang singgah dari perjalanan untuk bersitirahat
Ada yang menggelar tikar di atas rumput, ada pula yang duduk di bangku taman. Seperti Ezra dan Nanaz saat ini, mereka tengah duduk dengan nyaman dengan Nanaz yang sedang membaca Novel.
"Nanaz."
"Hn?"
"Nanaz, oh Nanaz."
"Saya Ezraa?"
"Nanaz nyahut tapi lihatnya ke buku, Nanaz mau kencan sama buku atau sama aku sih!"
Nanaz menghela nafas, menutup novelnya dan memasukkan ke tas. Duduk menghadap ke Ezra yang tengah mencebiikan bibirnya kesal.
"Iya-iya, terus kita mau ngapain, lihat bunga mau?"
Ezra bersedekap dada, menggelengkan kepala. "Nggak mau ah."
"Eh, kenapa? Bunganya cantik-cantik tau."
"Ntar aku jadi bingung Naz,"
"Bingungnya?"
"Ya bingung dong!"
"Kalau Nanaz berdiri di antara bunga-bunga, aku bakalan susah bedain mana yang Nanaz mana yang bunga hehe."
"Duh mulai deh gombalnya."
"Kok di katain gombal sih, ini fakta Naz! Atau bisa aja kita di suruh ganti rugi."
"Hah?"
Nanaz sedikit membuka mulutnya, bingung dengan ucapan Ezra.
"Iya, bunga nya jadi layu semua gara-gara iri liat kecantikan Nanaz. Terus kita disuruh ganti deh."
"Pffftt," Nanaz menutup mulutnya, menahan tawanya yang akan keluar. "Apaan sih Zra, aku kira kamu tadi mau ngomong serius tau gak."
Ezra diam sejenak, wajahnya tampak bersemu saat menatap Nanaz yang kini mulai tertawa. Semilir angin tampak bermain, menerbangkan anak rambut sang gadis yang berjatuhan. Cantik sekali.
"Naz udah dong ketawanya."
"Eh, ketawa aku aneh ya?"
Ezra menggeleng, "Nanaz kalau ketawa cantiknya berlebihan. Aku jadi overdosis Naz."
Nanaz tersipu, entah sudah berapa kali pipinya disapu oleh warna merah dalam satu harian ini. Tentu saja, hanya Ezra yang bisa melakukan ini padanya.
Nanaz berdehem singkat, "Yaudah. Kalau gitu biar aku buat kamu overdosis sekalian. Biar rasa sukanya ke aku gak hilang-hilang hehe."
"Bukan rasa suka lagi Nanaz! Rasa cinta! Cinta!"
"C-I-N-T-A "
Ezra memperjelas kata cinta sambil mengeja nya. Sedikit protes pada Nanaz karena salah pengucapan.
"Hehe, iya-iya cinta deh."
"Huh Nanaz ini." Geram Ezra.
"Ehehe."
"Naz, Naz."
Nanaz menoleh, menatap Ezra yang bangkit dari duduknya.
"Nanaz lapar gak, mau beli sesuatu?"
"Ehmm, sebelum ke sini kan kita udah makan bakso."
Ezra mengangguk, membenarkan perkataan Nanaz. "Kalau gitu, mau jajan gak?"
"Apa yah?"
__ADS_1
Nanaz tampak berfikir, sambil mendongak menatap Ezra yang masih berdiri di depannya.
"Es krim! Aku mau es krim aja deh, yang rasa coklat yah."
"As you wish, my princess!"
Setelah memberikan tanda penghormatan ala-ala pangerannya Ezra langsung pergi ke arah penjual Es krim. Nanaz terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, ada saja tingkahnya.
Sambil menunggu Ezra, Nanaz mengambil ponselnya di tas untuk di mainkan. Kebetulan, ada notifikasi masuk dari Karina. Nanaz segera membuka room chatnya.
Nanaz terkekeh membaca pesannya dengan Karina. Sedikit tenang karena Karina sudah pulang walau terlambat. Sebenarnya memang tidak seperti yang di janjikan wanita itu, yang katanya hanya pergi seminggu. Nyatanya, Karina pergi selama dua minggu.
Baru saja Nanaz hendak memainkan jari tangannya di atas keyboard untuk membalas stiker Karina, suara teriakan dari seorang anak kecil dan pria yang di kenalnya membuatnya kaget. Nyaris membuat ponselnya terpental.
"AKH! HWAAAA HIKS... HWAA..."
"ARRGGH! ES KRIM BUAT NANAAAZ."
"HEH! BOCAH SIALAN, LO YANG NABRAK LO YANG NANGIS!"
"HWAA MAMAA...."
Sekitar sepuluh langkah darinya, seorang anak kecil berseragam putih merah yang masih memakai tasnya terduduk di rumput. Menangis kencang sambil menatap lututnya yang terluka.
Sementara Ezra, sehabis berteriak pada anak laki-laki itu, dirinya langsung meratapi dengan tragis dua es krim coklat yang mendarat di rumput.
Bahkan mendramtisir keadaan, Ezra berjongkok. Mengacak rambutnya di depan mayat Es krim dengan naas. Mengabaikan bocah kecil yang menangis di dekatnya.
Merasa khawatir Nanaz segera berlari kecil, tergesah-gesah menghampiri bocah SD yang masih menangis.
"Astaga, adek gak papa?"
"Hwaaaa, sa-sakiit. Hiks... huu."
Nanaz meringis melihat lutut bocah lelaki itu yang tergores dan berdarah. Anak kecil itu bangkit dari duduknya, di bantu dengan Nanaz yang memeganginya. Masih terus menangis mengadu sakit.
"Nanaz! liat es krim kit--"
"Ezra, kamu beliin plester luka ya? Di toko-toko biasa ada kan?"
Ezra tercengang, menatap Nanaz yang tengah menuntun bocah laknat yang terus menangis. Benar-benar menggangu bagi Ezra, apalagi melihat raut wajah Nanaz yang khawatir. Membuatnya jadi kesal.
"Kok aku yang beli sih Naz?" Protesnya sambil mengikuti mereka dari belakang.
Nanaz membantu anak kecil itu duduk dibangku sambil menenangkannya. Mengusap-usap pipinya yang basah.
"Naaaz~" Rengeknya.
"Yaudah, aku aja yang beli. Kamu tungguin dia disini."
"Bu-bukan gitu Nanaaz," Panik Ezra sambil menahan Nanaz agar terus duduk. "Yaudah, biar aku yang beli deh."
"Hiks, lutut Faro sakit hwaaa."
"Heh bocah! Kebanyakan drama lo, kegores dikit gitu doang nangis."
"Ngerepotin orang aja!"
"Hwaaaaaa! Hiks-hiks."
"Anjim." Ezra tersentak kaget saat tangisan anak bernama Fero itu semakin kencang. Benar-benar membuatnya pusing.
"Ezra!" Tegur Nanaz.
"Faro jangan nangis lagi ya, nanti lututnya tambah sakit. Biar kakak bersihin dulu ya,"
Ezra mendengus, gara-gara bocah sialan ini kencannya jadi terganggu.
"Ezra aku bisa minta tolong kan?"
__ADS_1
"Iya-iya Nanaz sayang, aku beli dulu ya."
'Bocah sialan!'
Setelah kepergian Ezra dengan perasaan yang dongkol, Nanaz kembali menenangkan Fero yang kini masih sesunggukan. Mengajaknya berbicara sambil mebersihlan lukanya dengan tisu, dan membasuh lukanya dengan air.
Sebenarnya tidak parah sih. Hanya tergores dan mengeluarkan darah, tapi tetap saja Fero hanyalah seorang anak kecil yang mudah mengadu sakit.
"Fyuh~ Fyuh~ cepat sembuh kakinya Fero."
Nanaz meniup lutut Fero setelah dibersihkan. Tinggal menunggu Ezra untuk untuk ditutup dengan plester luka.
"Ah, Fero kan laki-laki pasti segini aja gak sakit kan?"
Fero mengusap air matanya, menatap Nanaz yang lebih rendah karena berjongkok di hadapannya. Pipi anak ini sedikit memerah melihat senyuman Nanaz yang cantik.
"I-iya gak sakit kok!"
"Fero kan kuat!"
Nanaz terkekeh, mengacak rambut Fero yang menghapus jejak air matanya di pipi.
"Woaah Fero kuat ya, kalau gitu sekarang kita tinggal tunggu kakak yang tadi. Biar lukanya di tutup."
"Ka-kakak yang galak tadi?"
Nanaz terkekeh, "Namanya Kak Ezra, orangnya baik kok. Cuman sedikit emosian hehe."
"Galak!"
"Kakak yang tadi galak kayak macan ngamuk, Fero gak suka!"
"Ooh, jadi gue kayak macan ngamuk ya?"
"Pas banget macannya lagi lapar, kayaknya bocah sialan yang gak tau diri ini enak banget dibuat manusia geprek. Terus di makan pake sambel."
Ezra yang mendadak datang menyeringai seram pada Fero sambil membunyikan jari-jarinya. Bocah yang kaget sekaligus takut itu refleks lompat kepelukan Nanaz. Melupakan rasa perih di lututnya.
"HWAA!"
"Heh bangsat! Ngapain lo meluk Nanaz gue sialan!"
"Astaga Ezra!"
Ezra menarik kerah bagian belakang seragam Fero. Membuatnya menjauh dari Nanaz dan melototinya. Kembali membuat Fero menangis.
"Hwaaaa mamaa Fero takut hiks."
"Cih, percuma berburung kalau penakut! Kayak cewek anjim."
"Ezra!"
Nanaz menghela nafas melihat Ezra yang masih mencengkram kerah Fero dan membuatnya menangis. Kemudian membawa anak itu kepelukannya dan mengelus rambutnya.
"Naz, jangan peluk-peluk dia dong!"
"Ezra Fero masih anak-anak tau, kok kamu tega sih bilang gitu?"
"Ya ampun Nanaz sayang, justru itu kecil-kecil udah berani peluk cewek gimana besarnya nanti?"
"Walaupun bocah dia itu cowok Nanaz!"
"Calon pakboy dimasa depan. Harus di jauhin dari Nanaz pokoknyaa!" Cerocosnya.
Nanaz hanya memandang Ezra, mencoba memaklumi sifat pacarnya itu. Saat ini dia tidak behadapan dengan satu anak-anak, tapi dua.
"Hiks, ka-kakak pakboi itu apa? Fero pakboi ya?"
Nanaz menghela nafas panjang,
"Bukan apa-apa, jangan di dengerin yah kak Ezra cuman bercanda."
"Udah yah jangan nangis lagi, nanti gantengnya hilang loh."
Ezra mendengus, melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap sengit bocah yang menerima perlakuan manis Nanaz yang seharusnya diberikan padanya. Mengacak rambut dan memberikan senyum manis. Fero benar-benar mengambil tempatnya saat ini.
Tbc,
__ADS_1
Oghey, jangan lupa vote komennya ya!! biar aku semangat terus. Follow akun aku jugaa
Rin babay duluuu