My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Chapter 15


__ADS_3

"Zra..."


"Ezra..."


"Ezra!"


"Hah??"


Ezra tersentak, mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyadarkan diri dari kegiatan melamunnya.


"Mikirin apa sih, tumben aku nya di cuekin."


"Eh, apa ya? Aku juga gak tau mikirin apa Naz hehe." Cengirnya.


Nanaz menggelengkan kepala, membuka bungkus rotinya. Namun entah kenapa sulit sekali untuk dibuka, Nanaz sampai bolak-balik tukar posisi bungkus roti.


Ezra yang memperhatikan terkekeh melihat wajah serius Nanaz. Mengambil alih bungkus roti coklat itu dan membukakannya.


"Makasih hehe."


Ezra mengangguk, "Emang Nanaz kenyang makan roti aja?"


"Kenyang kok, kamu kok tadi nggak beli sesuatu?"


"Gak selera."


"Hm? Tadi pagi udah sarapan?"


"Belum."


"Lah jadi kenapa sekarang gak makan?"


"Gak papa Naz, udah Nanaz sayang makan aja. Liat Nanaz makan aku juga nanti kenyang sendiri."


Nanaz mendengus, "Mana bisa kayak gitu?"


"Bisa dong. Kan dulu aku pernah bilang, karena aku ganteng apa yang gak mungkin jadi mungkin."


"Astaga apa hubungannya sama ganteng Ezraa."


"Pokoknya kalau ganteng tuh bebas Naz. Inilah keuntungan dari ganteng hehe."


"Pede banget sih." Cibir Nanaz.


"Lah Nanaz gak ngakuin aku ganteng?"


"Iya-iya, Ezra pacarnya Nanaz gantengnya ngalahin aktor papan atas."


Tangan Nanaz baru terangkat ingin mengelus rambut Ezra. Tapi cowok disampingnya itu menahannya sebelum tangannya menyentuh rambut Ezra.


Nanaz menatap pergelangan tangannya yang masih ditahan. Menatap Ezra bingung dengan salah satu alis terangkat. Ingin membuka suara untuk bertanya namun lebih dulu di sela.


"Kali ini, biar aku yang ngelus rambut kamu."


Senyum manis perlahan terbit di wajah sang gadis. "Tumben?"


"Ehehe gak papa. Sekali-kali aku yang buat Nanaz baper."


"Oh ya? Tapi aku gak baper tuh."


"Hah?!" Kaget Ezra.


"Ha?" Beo Nanaz.


"Nanaz jahad! Bilang iya kek biar nyenengin aku."


"Idih, kok ngambek sih? Kan aku jujur Zra." Nanaz terkekeh di akhri kalimatnya.


Ezra mencebikkan bibirnya, memalingkan muka dengan tangan yang di lipat di depan dada. Nanaz gemas sendiri, menarik tangan Ezra dan menautkan jari-jari mereka. Menggenggamnya erat.


"Kenapa pegang-pegang, katanya gak baper."


Nanaz terpelongo, "Ya ampuuun pacarnya siapa inii." Geramnya.


"Dih, beneran ngambek nih?"


"Yaudah iya aku baper deh."

__ADS_1


Nanaz mencubit pipi Ezra dengan tangan kirinya yang bebas. Ezra meringis pelan, mulutnya bilang sakit tapi hatinya teriak kesenengan.


"Gwak bwisa Naz, udah telat."


Nanaz melepas cubitan dipipi Ezra, mengerjapkan matanya berkali-kali, bingung melihat Ezra.


"Ceritanya aku masih ngambek."


"Ceritanya?"


Ezra mengangguk cepat, "Aku ngambek bohongan lah Naz. Masa' iya ngambek beneran sama kamu."


"Aku kan gak bisa jauh-jauh dari Nanaz."


"Lah kamu ngaku?"


Ezra menggaruk tengkuknya sendiri, diam sejenak dan memikirkan perkataanya barusan.


"Lah iya, goblok banget gue."


"Ekhem!" Ezra berdehem pelan,


"Ecek-eceknya kamu tadi gak denger aku bilang apa ya Naz."


"Gak bisa gitu dong, aku punya dua telinga. Udah terlanjur denger, gimana?"


Ezra merengut sebal, "Kan aku bilang ecek-eceknya Nanaaaz."


"Udah deh gak jadi." Geramnya.


Nanaz terkikik sendiri, enak banget gangguin Ezra pikirnya. "Eh Ezra.."


"Hm?"


Ezra tak menoleh, fokus pada buku yang sebelumnya ia bawa. Sebenarnya, saat ini mereka tengah duduk dibawah pohon beralas rumput bersih di taman belakang.


Yang nyuruh kesini tentu saja Ezra, ia tak ingin acara berduaan dengan Nanaz nya di ganggu bocah laknat yang selalu ngintilin Nanaz.


Nanaz berdehem, ragu-ragu ingin bicara, "Aku mau ngegombal." Tuturnya.


"Hah?!"


Ezra menunjuk dirinya sendiri, kaget dengan ucapan Nanaz. Buku pelajarannya bahkan di lempar sembarangan. Ia buku pelajaran kok, habis ini Ezra ada ujian lisan.


Nanaz mengangguk, "Iya, makanya dengerin. Ok?"


"Oh, O-oke."


"Ezra tau gak, persamaan aku sama mama-mama kamu?"


Ezra mengernyit bingung, "Tunggu-tunggu Naz," Jedanya.


"Mama-mama aku?"


"He-em, Almarhumah Mama Ezra sama Tante Fira dong."


Deg!


Detik itu Ezra tercekat, bayangan wajah Ibu kandungnya tiba-tiba tergambar jelas di kepalanya. Wajahnya berubah pias sejenak membuat Nanaz panik.


"Ezra??"


"Ha!" Ezra tersentak


"Ehe, Mama Fira aja Naz. Kan sekarang aku cuman punya satu mama muda mwehehehe." Cengirnya dengan senyum lebar.


Nanaz menatap penuh selidik, tak ada lagi ekspresi terpaku di wajah tampannya. Ezra mudah sekali memainkan ekspresinya. Justru hal ini membuat Nanaz khawatir dan bingung, ia jadi tak tau apa yang sebenarnya dirasakan pacarnya ini.


"Kamu gak papa?"


"Lah, emangnya aku kenapa Naz-Naz." Jawabnya pamer gigi sambil mengacak rambut Nanaz.


"Lanjut-lanjut! Aku penasaraan, Nanaz gombal gimana."


"Ehmm, oke? Aku ulang ya."


Ezra mengangguk semangat, menatap dengan mata tak sabaran menanti-nanti gombalan dari pacar kesayangannya.

__ADS_1


"Ezra tau gak, apa persamaanya aku sama mama kamu?"


Ezra tampak berfikir sejenak, "Oh! Sama-sama cantik kan?!"


"Ehe, bisa jadi. Yang lain-yang lain coba," katanya terkekeh.


"Hmmm...."


Ezra memejamkan mata sambil mengernyitkan dahi, membiarkan semilir angin menerpa rambut dan wajah tampannya. Mencoba berfikir sambil melipat tangan di depan dada.


"Gantengnya."


Nanaz menahan tawa sendiri dengan batinnya. Menunggu Ezra yang masih tampak berfikir, hingga akhirnya matanya terbuka.


"Gak tau lagi."


"Nyerah?"


Ezra mengangguk, "Emang persamaanya apa lagi?"


"Kayaknya gak ada kata lain selain cantik yang menggambarkan kalian berdua deh."


Ugh!


Nanaz merona malu, kepalanya menggeleng ringan sambil menepuk-nepuk pipinya pelan. Untung Ezra lagi liat ke arah lain masih memikirkan jawaban dari gombalannya.


Aduh, ini yang di gombalin siapa sih? Kok Nanaz yang kesemsem gini. Berdehem pelan, Nanaz menetralkan kembali perasaanya.


"Gak tau deh Naz, aku nyerah."


Nanaz tersenyum, mengangkat pegangan tangannya dengan Ezra perlahan.


"Kami berdua sama-sama mencintaimu hehe."


Ezra terpaku, matanya membulat sempurna kala melihat sorot mata Nanaz yang menyiratkan perasaan tulus. Senyum manis di wajah cantik kekasihnya mungkin akan terus diingatnya hingga di alam mimpinya nanti.


Ezra tau. Iya, Ezra benar-benar tau kalau Nanaz mencintainya begitu pula dengan dirinya. Tapi mendengar Nanaz mengucapkannya secara langsung benar-benar membuat detak jantungnya tak terkontrol.


Tapi kelihatannya bukan Ezra saja, Nanaz kini tengah menunduk tersipu dengan ucapannya sendiri. Rona merah bahkan menyapu hingga ke kedua telinganya.


"Naz..."


Nanaz mengangkat wajahnya, menangkap tatapan dalam milik Ezra kepadanya.


"Iya?"


"Nikah sekarang aj--"


"WOI KALIAN NGAPAIN?!"


sial!


Nanaz dan Ezra tersentak kaget dengan teriakan seseorang.


Berjarak sekitar tujuh langkah dari mereka, Doni datang diwaktu yang tidak tepat sambil menyeruput es teh nya. Sepertinya cowok ini belum menyadari tatapan malaikat maut dari Ezra sekarang.


"Kalian ngapain disini woi, Pacaran?" Ulangnya.


"GAK! GUE LAGI BERTELOR!!" Teriak Ezra.


"Hah?!"


Doni menelan ludahnya susah payah, menatap was-was siap lari saat melihat Ezra melepas kedua sepatunya. Siap melayang menerjang kepala Doni.


Rafa yang kini telah disampingnya terkekeh-kekeh, menyikut lengan Doni. Ikut menakuti-nakutinya.


"Ppffft, kabur sana Don! Cepetan tulis surat wasiat selagi sempat."


"Sialan lo Raf!"


"WOIII! MAJU SINI LO BANGSAT GANGGU ORANG PACARAN AJA!" Teriak Ezra sambil berlari.


Nanaz bangkit dari duduknya, mengelap rok bagian belakangnya dengan tangan. Ikut tertawa saat melihat raut wajah Doni yang ketakutan sambil berlari kelabakan.


Dan, part kali ini pun ditutup dengan aksi pencabutan nyawa Doni. Canda hehe, part kali ini ditutup dengan aksi kejar-kejaran Ezra dan Doni.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2