My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Terulangnya Kejadian Itu


__ADS_3

"Ntar kalau aku telat nelpon aja ya? Tungguin aku disini."


Kalimat yang Nenra ucapkan itu entah kenapa selalu kudengar akhir-akhir ini. Aku mengangguk saja. Tahu jika dia tidak ingin kalimatnya itu dibantah.


Sudah berlalu seminggu sejak kejadian Nenra yang cemburu pada Kevin.


Jujur saja itu sangat lucu. Nenra mengenal Kevin tapi dia masih cemburu. Apa yang sebenarnya ia pikirkan? Lagian aku nggak bakal berpaling ke makhluk lain selain dirinya. Bukankah Nenra tahu itu? Lantas kenapa dia masih saja cemburu?


"Kalau lama aku pulang naik taksi online." Kataku.


Kulihat Nenra menatapku tak terima.


"Nggak, udah. Tungguin aja aku di sini. Nggak bakalan lama." Katanya.


Aku menghela napas. "Kamu tuh ya, nanti kalau kamu ada praktek mendadak gimana? Mau kabur?"


Nenra tampak kebingungan.


"Nggak usah khawatir. Aku nggak bakal pulang bareng Kevin kalau mau kamu begitu."


Yah, aku sadar sebenarnya Nenra hanya tak ingin aku pulang di antar Kevin. Aku tak tahu alasan pastinya. Yang kutahu ia cemburu. Itu saja.


Nenra menatapku. Wajahnya tampak tak rela tapi tertutup oleh senyum manisnya beberapa saat kemudian.


"Jangan nakal." Katanya. Tangan Nenra mengelus puncak kepalaku pelan. "Udah sana masuk. Kasian pak satpam nya liatin kita mulu."


Aku terkekeh sambil menoleh ke arah pak Agung, satpam yang menjaga gerbang sekolah ku. Aku melambaikan tangan yang di balas pak Agung dengan anggukan.


Aku kenal pak Agung. Dia yang selalu menemani dan mengajak ku bercerita saat aku tengah menunggu Nenra. Dia sangat lucu jadi bisa menghilangkan rasa bosanku.


"Aku masuk ya?" Kataku. Aku menatap Nenra yang mengangguk. "Nggak usah ngebut Nen, hati-hati."


"Iya-iya." Nenra memperbaiki letak kacamatanya dan tersenyum. "Dah.."


Aku melambaikan tangan. Nenra mengangguk lalu masuk ke dalam mobil, melaju kembali menuju kampusnya.


~♡.♡.♡~


Pukul tiga sore.


Aku menatap jam di pergelangan tangan, memastikan bahwa aku tidak salah melihat waktu. Ini waktunya aku pulang, mengingat aku tak pernah punya kegiatan ekstrakurikuler disekolah.


Aku menuju gerbang sekolah dengan langkah santai. Sementara itu tanganku sibuk mengutak-atik ponsel, mencoba menghubungi Nenra.


Setelah nada sambung terdengar beberapa kali, berikutnya suara mba operator yang kudengar.


Nenra nggak aktif.


Aku menghela napas. Ini tepat seperti dugaanku. Nenra sedang ada ujian minggu ini jadi ia sangat sibuk. Dalam beberapa hari ini saja pacarku begitu memaksakan diri untuk menjemput aku pulang. Dan hasilnya, ia harus kembali ke kampus dengan ngebut.


Benar-benar membuat khawatir.


Setelah mengetik kan pesan bahwa aku tak kan menunggu, aku keluar dari gerbang sekolah. Mataku langsung saja menemukan sebuah mobil putih yang tampak sangat tidak asing.


Si pengemudi keluar dari dalam mobil. Menatapku, lalu tersenyum.


Intan.


"Kamu ngapain disini?" Tanyaku penasaran begitu dekat dengannya. Kulihat Intan terkekeh.


"Tadi waktu mau pulang nggak sengaja ketemu sama kak Nenra. Dia minta tolong buat jemput kamu dulu sebelum pulang." Terang Intan.


Aku menghela napas.


Nenra benar-benar. Apa yang dia pikirkan sebenarnya? Aku tak tahu dia bisa bersikap berlebihan jika sudah cemburu seperti kemarin.


Atau mungkin dia masih cemburu?


Entahlah.

__ADS_1


"Maap ya Tan? Nenra ngerepotin kamu banget." Kataku. Aku benar-benar merasa tidak enak.


Intan tertawa. "Santai aja Kei. Lagian aku juga nggak keberatan. Kan kita temenan. Rumah kita juga searah lho." Jawabnya.


Aku tersenyum.


Intan benar-benar sangat baik.


"Yaudah yuk pulang!" Intan menarik tanganku. Kami berdua lantas berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di samping jalan.


"Mau langsung pulang?" Tanya Intan. Ia menoleh padaku saat kami sudah berada di dalam mobil.


Aku mengangguk. "Pulang aja." Kataku. Aku merasa tidak mau kembali merepotkan Intan.


"Oh, oke oke."


Dengan begitu, mobil melaju dengan kecepatan sedang.


...


Drrt.. drrrtt...


Aku menatap ke arah ponsel yang ku letak kan di atas nakas. Meletakkan buku yang kubaca, aku mengambil ponsel yang masih bergetar.


Dari Nenra.


Aku melirik jam, pukul sembilan malam.


Well, aku nggak tahu sudah semalam ini. Keasyikan membaca membuatku tak tahu waktu.


"Hallo?"


"Ah Kei, syukurlah..."


Aku mengernyitkan dahi. Kenapa Nenra mengucapkan syukur seperti itu?


"Kenapa Nen?" Tanyaku. Aku mencoba bersandar, mencari tempat yang nyaman.


"Aku kangen Kei."


Aku terkekeh. Nenra benar-benar sangat lucu. Ia sama sekali nggak bisa ditebak. Dia itu kaku dan pasif. Tetapi, begitu mudah membuatku terpesona pada sosoknya. Bisa kurasakan dadaku berdetak cepat.


Ah, aku malu...


Aku berdehem. "Apa-apaan sih kamu? Belum makan? Kelaparan ya?" Aku tahu pertanyaan itu sama sekali tidak nyambung. Sama sekali.


"Kei nggak kangen aku?"


Wah, baru kali ini kudengar dia bicara begitu dalam jarak kami yang sedekat ini. Saat kami jauh, kalimat seperti ini tidak lah aneh. Tapi saat kami dekat, rasanya lucu.


"Aku juga kangen Nenra." Tuturku. Aku menghela napas, menahan tawa yang ingin keluar.


"Tadi Intan jemput kan? Kamu nggak apa-apa kan?"


Aku mengangguk. "Iya." Jawabku. "Oh iya Ren, lain kali jangan ngerepotin Intan lagi ya? Kan kasian..."


"Tadi Intan yang nawarin kok. Katanya kalau aku lagi sibuk di kampus, dia mau buat jemput kamu pulang."


Intan tidak bilang begitu padaku. Sepertinya dia malu, mengingat sifatnya yang sulit berterus terang.


"Yaudah deh." Kataku. "Kamu dimana? Belum pulang?"


"Udah sih tadi sore, tapi balik lagi nih."


Aku menghela napas.


Tidak heran sih jika Nenra sibuk. Ia sudah semester tiga. Harusnya aku tahu itu.


"Kak, udahan nelponnya? Dipanggil tuh."

__ADS_1


Aku mengernyit.


"Siapa tuh?" Tanyaku. Aku tahu betul itu suara perempuan. Suaranya lembut dan terdengar sangat feminim.


"Adik tingkat, Shireen namanya." Jawab Nenra. Ia menghela napas.


"Perasaan adik tingkat kamu cewek semua deh." Kataku. Aku yakin wajahku sudah benar-benar cemberut.


"Kamu cemburu?"


Aku tidak mengelak. Tapi aku juga tidak mengiyakan. Jika dibilang cemburu, yah... aku merasa begitu. Pasalnya, Nenra itu sosoknya sangat baik. Dia kadang punya perasaan tidak peka yang kian bisa membuatnya memberi harapan pada banyak gadis. Sudah pernah kukatakan kan?


Hhh... Nenra ku.


"Hati-hati ya Nen?"


"Pasti." Jawab Nenra. "Kamu tidur gih. Udah malem nih."


Aku mengangguk. "Kamu juga jangan lupa tidur. Tapi tidurnya jangan di kampus. Di rumah aja. Ntar kamu di gerepe orang."


Bisa kudengar Nenra terkekeh. "Iya-iya Kei. Yaudah, nice dream..."


"Nice dream."


Panggilan terputus.


Aku menghela napas.


Menurut kalian, bagaimana perasaanku saat ini? Mengetahui fakta bahwa Nenra nggak sendirian dan ditemani seorang gadis membuatku sedikit khawatir.


Tidak-tidak, bukan berarti aku nggak percaya sama Nenra. Aku percaya sama dia. Sangat malah. Tapi aku khawatir dengan fakta bahwa ada seorang gadis dalam lingkup Nenra saat ini.


Ah, aku benar-benar labil.


"Nenra..."


Aku menghela napas untuk yang kesekian kalinya malam ini. Membaringkan tubuh, mataku menatap langit-langit kamar. Pikiranku jatuh pada sosok Nenra. Laki-laki yang menjabat sebagai pacarku itu punya feromon yang kuat. Mungkin dia nggak sadar kalau dirinya begitu menarik perhatian. Seperti layaknya omega yang bisa mengeluarkan wangi yang membuat para alpha berlomba untuk mendekati.


Bedanya, Nenra seorang alpha.


Aku...


... jujur saja aku takut.


Takut untuk segala kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.


Karena pada awalnya, aku dan Nenra hanyalah teman masa kecil yang seperti saudara kandung mengingat kami sangat mirip. Dan kadang aku sempat berpikir tentang alasan Nenra menerimaku dulu. Aku...


Kenapa aku merasa begitu ragu?


Kenapa aku berpikir bahwa Nenra selama ini hanya salah mengartikan perasaannya?


Akhhh apa sih yang aku pikirkan?


Menggeleng sambil menggerutu, aku membenamkan kepalaku di dalam bantal. Rasanya aku ingin berteriak kencang!


Perasaan seperti ini tak pernah muncul sebelumnya tapi...


Kenapa jadi seperti ini?


Aku takut...


Aku takut...


Aku takut...


Aku takut pada segala kemungkinan yang sempat terpikirkan dalam benak ku sedari tadi. Tapi sebenarnya yang paling aku takuti adalah...


... terulangnya kejadian itu.

__ADS_1


Bersambung...


Uwaaa maap ya baru up >//< efek dari virus wb *eheehee btw bntar lagi bakal end kok jadi yaudahlah~~


__ADS_2