My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Chapter 9


__ADS_3

Sekarang jam setengah sepuluh pagi.


Seharusnya Ezra ada disekolah saat ini, biasanya jam segini Ezra mulai mengeluh ingin cepat-cepat istirahat agar bisa langsung berlari ke kelas Nanaz.


Ya, biasanya begitu. Tapi sayangnya cowok dengan rambut acak-acakkan ini tengah berbaring di atas kasur sambil menatap jendela kamarnya.


Sudah dua hari ia tak masuk sekolah. Ini salahnya sendiri, dua hari lalu hujan turun dengan derasnya. Ezra yang saat itu berniat menutup pintu rumah tergiur untuk ikut mandi hujan dengan anak-anak kompleks rumahnya.


Dan disinilah ia berakhir, dengan kepala yang terasa berat dan badan yang lemas. Tak ada yang ia bisa lakukan selain menghela nafas sambil uring-uringan di kasurnya.


Mau bangkit pun terasa berat, melihat handphone saja kepalanya langsung pusing. Padahal rasa rindu pada Nanaznya sudah menggebu-gebu ingin segera bertemu. Sial sekali rasanya.


Ezra menghela nafas kesal saat batuknya kembali datang. Segera ia melirik nakas namun ternyata hanya gelas kosong disana, mau tak mau ia harus turun kebawah untuk mengambil minum.


Setelah memaksakan diri untuk duduk, Ezra meregangkan badannya yang terasa kaku. Kemudian berjalan dengan pelan ke arah cermin yang tertempel di sebelah lemari pakaiannya.


"Hehe, sakit aja masih ganteng." Pujinya dengan suara serak.


Ezra berdehem sebentar, kemudian berjalan keluar kamar. Menuruni tangga dengan pelan-pelan kemudian menuju ke arah dapur.


Saat tiba di depan dapur Ezra berhenti sebentar, disana terlihat wanita muda yang tengah berdiri membelakanginya sambil mengaduk masakannya. Dari aroma yang tercium di hidung mancungnya, Ezra tebak wanita itu tengah memasak sup.


Pelan-pelan ia mengambil gelas baru yang ada di atas meja makan. Kemudian mendekati dispenser untuk mengisi gelasnya.


Wanita dengan baju terusan selutut bewarna biru muda itu menoleh saat mendengar suara. Ia sedikit kaget saat melihat kehadiran Ezra disini.


"Loh, E-ezra kok turun?"


"Haus."


"Kenapa gak manggil aja?"


Ezra hanya mengendikkan bahunya sambil meminum airnya.


Wanita cantik itu terlihat sedikit canggung, sambil menyatukan kedua tangannya.


"Ezra masih sakit? Kepalanya masih pusing? Belum minum obat kan?"


Tak ada jawaban, manik mata wanita itu mengikuti pergerakan Ezra yang tengah meletakkan gelas kosongnya ke atas meja makan.


"Ma-makan dulu ya, habis itu biar minum obat. Mau di ambilin sekarang? Atau biar di anter ke atas aja makanannya?"


Ezra menghela nafas, mencoba menatap balik wanita yang terlihat bingung dan gugup.


"Ck! Aku bukan anak kecil lagi, kalau mau makan bisa ambil sendiri. Jangan bawel." Katanya.


Wanita itu sedikit kaget sambil menundukkan kepalanya, raut wajahnya terlihat sedih. Ezra yang menyadari itu menghela nafas, sedikit merasa bersalah.


"Aku mau ke atas."


"Ma-mama tolong anterin makanannya ke kamar. Aku makan sekarang aja." Ucapnya kikuk.


Setelah mengatakan itu Ezra buru-buru pergi dari dapur. Merasa malu sekaligus menyesal dengan apa yang di ucapkannya.


Wanita muda itu sendiri menatap kaget dengan jantung yang berdetak kencang. Mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyadarkan dirinya apakah ia salah dengar tadi.


Walaupun nada bicaranya datar dan terdengar ketus tapi ia senang Ezra mau memanggilnya Mama. Wanita cantik ini menepuk kedua pipinya.


"Se-semangat Fira! Seenggaknya Ezra udah mau manggil kamu mama!" Kata Safira menyemangati dirinya sendiri.


🐱🐱🐱

__ADS_1


Nanaz menatap siomay di hadapannya dengan malas, tak selera makan padahal perutnya lapar. Walau ia di kantin sekarang, namun pikirannya sedang melayang di awang-awang. Memikirkan pacar imutnya yang sedang sakit.


Sudah dua hari ia tak bertemu, selama dua hari pula ia tak berbicara dengan cowok itu. Nanaz ingin menelpon Ezra, tapi takut menggangu waktu istirahatnya.


"Naz minta siomay lo ya."


"Heh! Beli sendiri sana biar tau harga."


"Kok jadi lo yang sewot Yuna?"


Yuna merotasikan bola matanya malas, "Denger ya Don, Nanaz tuh lagi sedih. Gak usah ganggu dia! Lagian ngapain sih kalian berdua ada di sini hah?!"


"Yaelah neng, nyolot amat sih. Emang gak boleh kita ikutan makan di sini?" Kata Rafa buka suara.


"Tau tuh! Dari pada kita, seharusnya dia yang di pertanyakan."


"Sejak kapan kita punya anggota baru?"


Doni dan Ezra menatap seorang pria muda yang duduk dengan kalem sambil memakan makanannya. Lucas sama sekali tak terlihat perduli dengan tatapan yang di berikan padanya.


"Ini Lucas, adek kelas kita."


"Iya gue tau namanya Lucas Naz, ngapain dia disini?"


"Lo buta ya Don? Gak liat dia lagi makan?" Ketus Yuna.


"Yun, lo kayaknya gak suka banget ya liat gue. Ketus amat dari tadi."


"Pffft, baru sadar lo Don? Jauh-jauh lo sana, meja ini khusus buat manusia good looking saja."


"Sok ganteng lo njir!"


Melihat tawa Nanaz yang kini menghiasi wajahnya membuat teman-temannya merasa lega. Pasalnya dari kemarin Nanaz terlihat tak bersemangat seperti tak bertenaga.


Lucas yang duduk di samping Nanaz menghentikan makannya. Mengamati wajah ayu milik gadis itu, Nanaz terlihat sangat cantik saat tertawa lebar seperti saat ini.


"Pulang sekolah nanti kita jenguk Ezra." Kata Doni.


Nanaz mengangguk, itu yang mau di ucapkannya tadi.


"Lo ikut kan Raf?"


"Ohiya jelas. Sekalian mau cuci mata liat mama muda, ehehehe."


"Jangan berani ya Raf, calon mertua gue itu." Kata Nanaz.


"Mamanya si Ezra ya? Gue belom pernah liat ih."


"Iya Yun, mama muda lagi. Lo mau juga Yun jadi mama muda? Biar gue yang jadi papa mudanya."


"Idih! Jauh-jauh sana lo!"


"Bwahahahaa, udah lah Don! Masih belum nyerah juga lo." Ejek Rafa.


"Mama tirinya seumuran Kak Karina kan?" Tanya Yuna.


"Iya, temen sekolah Kak Karin dulu pas SMA" Jawab Nanaz.


"Seru dong punya mertua gaul haha."


"Lo ikut kan Yun?"

__ADS_1


"Duh, sorry banget Naz. Gue penasaran banget ama mamanya si Ezra. Tapi gue gak bisa."


"Yah! Kok gak datang sih Yun? Gak seru dong."


"Diem lo!"


Rafa terkekeh-kekeh, sambil mengelus punggung Doni sok iba. Apa salah Doni? Padahal Doni baik ganteng ramah dan tamah. Nasib aja kali ya?


"Mau kemana emang?"


"Ehe, mau bareng Miko nanti." Katanya malu-malu.


"Eh seriusan? Udah ada kemajuan? Kalian udah jadian?"


Yuna mengangguk cepat, "Ih ya gak secepat itu kali Naz. Intinya gue udah deket sama dia."


Nanaz tersenyum saat Yuna mulai bercerita tentang Miko. Merasa ikut senang akan kemajuan hubungan sahabatnya. Rafa dan Doni yang duduk di hadapan mereka mulai saling mengejek jomblo. Padahal mereka berdua sama-sama tak berpasangan.


Sampai tiba-tiba yang sedari tadi diam mengangkat suara.


"Noona."


"Eh iya Lucas??"


"Saya boleh ikut juga?"


"Eh! Ya boleh dong. Biar ramai nanti, siapa tau Ezra jadi semangat terus cepet sembuh."


"Makin sembuh dari mana? Gue yakin malah makin sakit karna gelud" Batin Rafa.


Lucas tersenyum, memamerkan gigi kelincinya. Nanaz sampai geram melihat adek kelasnya yang satu ini. Pengen cubit pipinya rasanya.


"Ih Naz! Lo dapat darimana sih si Lucasss. Jadi adek gue aja deh imut banget Ya Allah!"


Kalau Yuna ada disamping Lucas, mungkin Lucas sudah habis berantakan dibuatnya. Sayangnya saat ini ia terhalang Nanaz yang duduk di antara mereka.


"Naz lo emang suka yang imut-imut ya?" Tanya Rafa.


"Hm? Enggak juga kok."


"Kirain, soalnya gak Ezra gak Lucas gampang banget deket sama lo."


"Oi Raf, lo ngakuin si Ezra imut?"


"Eh iya ya? Si Ezra bukan imut, amit-amit yang ada."


"Galak lagi, kalau ngamuk kayak macan kurang belaian."


"Mari sama-sama kita doakanĀ  teman kita Ezra semoga nyawanya segera diangkat agar dunia damai." Kata Doni sambil mengangkat tangannya.


Nanaz dan Yuna refleks menoleh dan melempar Doni dengan siomaynya. Untung Rafa sempat menghindari serangan dadakan itu. Sementara Lucas sibuk mengaminkan dalam diam.


"Naz siomay lo kena mata gue sialan perih!"


"Lo nya sih, ucapan itu doa tau!" Ucap Nanaz kesal sambil memberikan tisu. Sedikit merasa bersalah ternyata.


"Tau tuh! Kalau nanti pas kalian jenguk beneran bendera kuning gimana." Kata Yuna


"Becanda sayang."


"Dih! Najis gue di panggil sayang."

__ADS_1


__ADS_2