My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
chapter 11


__ADS_3

"Ngapain lo kesini?"


"Dih, gak boleh?"


"Gak. Ngeliat muka lo bikin gue tambah sakit."


"Pulang sana!" Sarkasnya.


"Kok ngusir sih?"


"Seharusnya mereka tuh yang pulang. Kan udah jenguknya, sekarang gantian gue."


"Heh lo pikir ini rumah siapa hah?! Enak aja ngatur-ngatur."


"Terus kalau ini rumah lo kenapa? Emang gak boleh kalau gue ngusir mereka?!" Sebal Jinan


"Lo lagi Naz!"


Jinan menunjuk Nanaz yang duduk bersebrangan dengannya. Diantara Lucas dan Ezra. Sementara Jinan sendiri tengah duduk di samping Rafa sedangkan Doni duduk sendiri di sofa tunggal.


"Gue?" Tanya Nanaz.


"Ya lo lah. Siapa lagi?!"


"Pulang sana, gantian gue calon pacarnya mau jenguk."


"Anjir! Jinan mulut lo lama-lama minta di sumpel ya!"


"Berani lo bentak Nanaz gue gantung lo di jemuran!!"


"Hmm, gini nih kalau istri sah ketemu pelakor yang galak." Celutuk Doni memperparah suasana.


Jinan mengendikkan bahunya tak acuh. Mengambil jus jeruk dari meja dan meminumnya santai.


"Om Putra mana? Belum pulang kerja?"


"Oh iya, ngomong-ngomong mama tiri lo cantik juga."


Ezra mengerutkan dahinya bingung, "Tau dari mana lo nama Bokap gue Putra?"


"Apasih yang gak gue tau tentang lo?" Katanya tersenyum miring.


"Sorry ya Naz," Jinan memandang Nanaz remeh sambil meletakkan kembali gelasnya.


"Bukannya sombong, tapi gue jauh lebih tau tentang Ezra di banding lo."


"Pacar gak berguna kayak lo bentar lagi juga bakal di buang layaknya sampah,"


"Jadi mulai sekarang jauh-jauh dari Ezra, biar gak kaget nanti kalau di putusin." Jelasnya angkuh.


Semua orang disana menatap Jinan dengan ekspresi kaget. Termasuk Fira, yang sedari tadi menguping dari ruangan lain. Bukan apa-apa ia hanya penasaran dengan Jinan yang melabeli dirinya calon pacar Ezra.


Jinan terlalu berani mengatai Nanaz di depan Ezra. Tidak tau saja hati cowok yang sedang sakit ini tengah membara disiram api mendengar pacarnya di hina. Siapa Jinan berani-beraninya mengatakan Ezra akan memutuskan Nanaz?


Tidak! Sampai kapanpun mereka akan tetap bersama. Nanaz hanya milik Ezra, dan begitupula sebaliknya!


BRAK!!

__ADS_1


"Anjing! Kaget gue, tai lo Zra!" Umpat Doni sambil memegang dada saat Ezra memukul meja.


"PULANG!!" Bentak Ezra.


"PULANG ATAU GUE SERET LO KELUAR!!"


Semua pasang mata tertuju pada Ezra yang sudah berdiri dari duduknya. Dalam hati mereka merapalkan doa agar Ezra tak benar-benar kalut dalam emosi. Bisa-bisa, gelas di atas meja melayang dan menghantam lantai.


"LO BUDEK HAH?! BENERAN MAU GUE SERET!!"


Jinan menelan ludahnya, menatap Ezra nyalang namun dengan mata berkaca-kaca. Nanaz jadi tak tega melihatnya.


"Lo bentak gue?"


Ezra terkekeh, "Pake nanya? Lo ngerasa lagi gue puji HAH?!"


"Lo gak punya rasa malu apa?!"


"JAWAB!?"


"ANJING SIALAN! KELUAR LO BANGSAT!!"


"EZRA!!" Tegur Nanaz.


Gadis itu tak menyangka Ezra akan mengumpat sekasar itu pada Jinan. Ya Jinan memang salah, tapi tak seharusnya ia sampai berkata kasar seperti itu. Terlebih lagi Jinan perempuan.


Jinan bangkit dari duduknya, menatap Nanaz dengan tatapan kebencian. Kemudian mengambil tas ranselnya dan pergi dengan air mata yang jatuh.


"Ezra! Maksud kamu apa bentak bentak dia kayak gitu?!"


"AKU YANG SALAH?!!"


"Selama ini aku sabar ngehadapin cewek gak tau malu yang kegatelan kayak dia!"


"Kamu pikir aku gak tau di belakang aku dia sering ngehina kamu hah?!" Bentak Ezra emosi.


Ya memang benar, sebenarnya Jinan dan gengnya sering kali menghina Nanaz jika mereka berpapasan. Nanaz tak pernah mengadukannya pada Ezra, karena memang gadis ini hanya menganggapnya angin lalu. Selama mereka tak melakukan kontak fisik dengannya.


Ya walaupun, tak bisa di bohongi kalau sebenarnya ia juga merasa sakit hati. Tapi toh, mau sebanyak apa pun Jinan mengatakan hal buruk padanya nyatanya tak mengurangi rasa cintanya pada Ezra. Intinya, Nanaz hanya ingin percaya pada Ezra dan tak ingin memperbesar masalah.


Itu saja, jadi kenapa Ezra sampai emosi begini.


"Kamu marah sama aku??"


Ezra mengacak rambutnya kesal, "Nggak!"


"Aku gak marah. Aku cuma gak suka kamu diam aja dihina kayak gitu!!"


"Seenggaknya ngelawan!!"


"Hina balik!"


"Pukul wajahnya kalo perlu, bukannya diam aja kayak orang bodoh!!"


"Ezraa!!" Teriak Fira.


Lucas menahan emosinya. Bersyukur Fira datang, jika tidak mungkin kepalan tangannya ini benar-benar akan melayang pada wajah Ezra.

__ADS_1


Karena suasana yang menegang Rafa bangkit dari duduknya, begitu pula dengan Doni. Merasa was-was akan apa yang di lakukan Ezra selanjutnya dan khawatir terhadap Nanaz.


Apa ini?


Selama masa pendekatan sampai pacaran, baru kali ini mereka lihat Ezra yang selalu bersikap manja dan kekanakan pada Nanaz membentak bahkan mengatai pacarnya sendiri bodoh.


Mereka tau Ezra emosi tapi haruskah sampai seperti itu?


Fira berjalan mendekati Nanaz. Gadis itu tengah menunduk, mencoba menahan bendungan di matanya yang mungkin sebentar lagi akan bocor.


"Ezra, kalau kamu emosi seharusnya kamu tenangin diri,"


"Bukannya ngelampiasin marah sama orang lain kayak gini." Nasihatnya.


Nanaz mengangkat kepalanya saat merasakan sentuhan di bahunya. "Nanaz gak papa kok tante." Katanya sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi.


Ezra tekesiap.


Tatapannya melunak mendengar nada suara Nanaz yang memelan. Hatinya bahkan mencelos saat melihat gadisnya masih terus mengusap air mata yang tak mau berhenti mengalir.


Perasaan bersalah sekaligus menyesal mulai menjalar disekujur tubuhnya. Tangannya ingin bergerak, menghapus air mata yang jatuh karena dirinya. Namun belum sempat tangan itu menggapai Nanaz, Lucas lebih dulu menahannya.


Cengkraman dari Lucas membuatnya menoleh, menatap tajam sang pelaku yang ternyata juga memberi tatapan yang sama dengannya. Tak terima, Ezra menghempaskan tangan Lucas kasar.


Lucas mengalihkan tatapannya, menatap Nanaz yang mencoba tersenyum sambil menjawab pertanyaan khawatir dari Fira.


"Noona, biar aku antar pulang." Ucapnya lembut.


Fira mengangguk, "Iya, tolong anterin Nanaz pulang ya. Diluar juga udah mendung."


"Ha!? Enggak-enggak!"


"Naz, biar aku yang antar kamu pulang!" Bantahnya tak terima.


Doni berdehem takut-takut, "Ezra, mendingan lo ke dapur. Buka kulkas, ambil air es, terus lo siram ke kepala lo deh."


"E-eh itu cuman saran loh ya, jangan ngegas, dosa hehe." Ucapnya lagi saat Ezra menatapnya sangar.


"Biar Lucas yang anter pulang Nanaz." Tegas Fira kembali sambil menatap raut emosi Ezra.


"Naz, kamu mau kan di antar Lucas."


"Iya, tante. Nanaz pulang dulu ya." Ucapnya serak.


Nanaz baru ingin menyapa teman-temannya untuk pamit. Dan ingin menatap Ezra walau takut-takut, namun Lucas lebih dulu bergerak dari posisinya. Menggenggam tangan gadis itu erat dan membawanya pergi di ikuti dengan Fira.


Tangan Ezra terkepal melihat interaksi barusan, ingin mengejar namun lagi-lagi tangannya di tahan.


"Zra, lo baru aja nyentak dia kayak gitu, sadar diri."


"Lo pikir dia masih mau di antar lo pulang hah??" Sarkas Rafa.


Ezra menggeram kesal, berteriak mengumpat sambil mengacak rambutnya frustasi. Merasa bersalah, kesal dan marah bercampur menjadi satu.


"Sialan!"


Kita lihat saja, apa yang akan dilakukannya pada Lucas yang begitu berani padanya setelah ini.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2