My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Gadis Bernama Intan


__ADS_3

Intan.


Nama lengkapnya Intan Mutia. Setelah pertemuan kami di minimarket waktu itu, entah kenapa aku dan Intan sering sekali bertemu. Tidak heran sih karena sebenarnya Intan tinggal di kompleks yang sama denganku. Hanya saja, rumahnya berbeda jalur. Rumah Intan berada lebih dekat dengan jalan utama ketimbang dengan rumahku.


Karena sering bertemu, aku rasa tidak ada salahnya mengajak Intan berteman. Kami berteman, bertukar informasi kontak dan akun sosmed lainnya. Karena Intan berada di Universitas yang sama dengan Nenra, aku jadi sering menanyakan banyak hal padanya.


Ngomong-ngomong Intan itu punya pacar. Namanya Deni. Aku nggak pernah melihat wajahnya langsung, hanya dari foto di galeri ponsel Intan. Lagian Intan dan Deni itu menjalani Long Distance Relationship atau bahasa kerennya, LDR. Karena Deni kuliah jurusan manajemen informatika di Bogor. Tenang saja, mereka itu kenalan sudah lama dan bukan dari sosial media. Jadi bisa kupastikan hubungan yang mereka jalani serius.


Maaf, aku tidak bilang kalau yang kenalan di medsos itu tidak serius ya? Hanya saja, terkadang memang begitu adanya. Tapi tidak jarang juga kok mereka yang kenalan di media sosial akan sampai di pelaminan. Mungkin kamu nanti salah satunya.


Baiklah, siang ini aku menghabiskan waktu di kantin sekolah dengan dua temanku yang super berisik. Geby dan Dita. Kami beda kelas walaupun satu jurusan. Itulah kenapa jika mengerjakan tugas aku akan seorang diri karena Geby juga Dita berada di kelas yang sama.


Jujur saja itu menyebalkan. Aku tidak dekat dengan siswa maupun siswi lainnya selain duo berisik itu. Meskipun aku aktif dan banyak tingkah, aku merupakan gadis yang cukup menutup diri. Aku tidak suka ada orang asing yang tanpa permisi masuk ke zona nyamanku. Intan pengecualian karena aku nyaman dengannya.


"Kei, caranya dapet pacar gimana sih?"


Itu suara Dita. Gadis dengan rambut lurus sepunggung itu menatapku dengan cemberut sambil mengaduk-aduk minumannya.


"Iya Kei, gimana caranya?" Geby juga ikut-ikutan.


Benar deh, ada apa dengan mereka berdua?


Sebenarnya mereka itu lumayan kok. Mereka punya sifat yang baik dan wajah yang cantik. Meskipun tidak begitu pandai, namun di kelas mereka termasuk 15 besar dari 35 siswa. Hanya satu hal yang membuatku merasa itu alasan sempurna mengapa mereka tidak punya pacar.


Geby dan Dita itu terlalu berisik. Juga, cukup jahil. Mereka adalah duo terkenal yang tak kan terpisahkan sampai kapanpun. Dan well, aku terjebak dalam medan mereka.


Aku menghela napas, mencoba mencari kalimat yang setidaknya membuat mereka puas.


Tapi nihil.


Tak ada satu pun ide terlintas.


"Kenapa kalian malah mikirin pacar?" Tanyaku. Aku menatap mereka penuh tanya. "Ujian akhir bulan ini loh, daripada kalian mikirin pacar mending belajar deh."


Kulihat Geby dan Dita mendengus.


"Gimana mau fokus ke ujian coba kalau lu nya waktu ngajarin kita pasti masih sempat-sempatnya telponan ama ayang bebeb kau itu!" Tukas Dita.


Geby mengangguk. "Bener tuh. Bikin iri tau nggak."


Aku menggaruk telingaku yang tak gatal sambil tersenyum.


Jadi, ini salahku begitu? Dasar para jomblo, mentang-mentang aku punya pacar langsung saja disalahin. Padahal kan salah nasib kalian sendiri yang nggak punya pacar.


Bukan nggak punya sih, tepatnya belum.


"Yaudah terserah kalian. Aku angkat tangan pokoknya." Fix, aku malas menanggapi kembali ucapan mereka tentang 'Mengapa mereka jomblo' atau 'Kenapa mereka tak punya pacar' -- itu.


Sambil menyeruput segelas jus sirsak yang kupesan, mataku secara otomatis melirik ponsel. Tumben sekali Nenra belum menghubungiku. Biasanya dia akan menelpon saat jam makan siang tiba.


"Ciee yang nungguin di telpon."


Aku memutar mataku malas menanggapi kalimat Dita. Dia itu yang paling berisik seantero sekolah. Meski Geby juga cerewet, Dita itu luar biasa lebih lagi. Hobinya yang suka menggodaku itu sedikit menyebalkan.


"Dita mah gitu." Kataku. Sambil memasang wajah cemberut aku memainkan ponsel.


"Ehehehe, ngambek~"


Aku nggak ngambek. Serius. Hanya saja, Dita itu lebih baik di diamkan. Kalau tidak begitu, dia akan semakin menjadi saja.


Sedang asyik memainkan ponsel, mataku menemukan salah satu akun media sosial Intan yang aktif. Penasaran sekaligus gabut, aku lantas mengirim pesan padanya.


To : Imut


Kok aktif? Nggak kuliah?


Begitu pesan terkirim, pesan itu terbaca dua detik kemudian. Intan mulai mengetik balasan.


From : Imut


Jam udah kelar Kei. Ini lagi di kantin kampus.


Aku mengangguk-angguk.


To : Imut


Liat Nenra nggak?


Bukannya membalas pesanku, Intan malah menelpon. Sedikit bingung, tapi akhirnya panggilan itu kuangkat.


"Kenapa?" Tanyaku.


Terdengar suara Inta yang tertawa. "Nggak apa-apa, aku cuma lagi makan jadi nggak bisa ngetik." Katanya.


"Lah yaudah makan aja dulu."


"Nggak deh, dah mau selesai soalnya." Terdengar suasana berisik di seberang sana. "Ngomong-ngomong kak Nenra ada di lab. Lagi buat eksperimen sama dosen pembimbing nya."


Lab?

__ADS_1


Aku berpikir sebentar. "Kira-kira kapan selesainya?" Tanyaku.


Intan tampak bergumam. Entah apa yang ia lihat. "Masih lama sepertinya. Soalnya mereka serius banget tadi."


Aku menghela napas. "Yaudah deh."


"Kangen ya? Ehehehe..."


Mendengar Intan terkekeh membuatku ikutan tertawa. Dia itu sangat lucu. Selain sifatnya yang menyenangkan, pribadinya juga sangat baik. Berbeda dengan duo yang selalu mengelilingiku.


Aku melirik Geby dan Dita dari ekor mata. Tampaknya mereka penasaran pada siapa yang menelponku. Ngomong-ngomong meski aku dan Intan sudah berteman hampir dua minggu, Geby dan Dita sama sekali tidak tahu. Karena aku memang tak mau bercerita.


"Mau nanya apa lagi?" Kembali suara Intan terdengar. Aku lantas menggeleng. Sadar Intan tak dapat melihat, Aku buru-buru berdehem.


"Nggak ada lagi." Kataku.


Terdengar tarikan napas. "Yaudah deh. Udahan ya Kei? Aku ada kelas dadakan."


Aku hanya bergumam menanggapi pamitan Intan. Sampai kemudian ia memutuskan panggilan.


"Eh, siapa yang nelpon Kei?" Geby bertanya. Aku menyeruput jus di gelasku dahulu sebelum memutuskan untuk menjawab.


"Adik tingkat Nenra di kampus. Namanya Intan." Jawabku. Dita dan Geby terlihat mengangguk-angguk. Mereka saling menatap.


Melihat mereka seperti itu membuatku mengernyit tak mengerti.


"Kenapa sih?" Tanyaku akhirnya.


Dita menggeleng. "Tumben aja gitu. Biasanya kamu ogah banget kenalan sama orang lain." Terangnya.


"Intan itu beda."


"Apa bedanya?"


Ya, aku bertanya-tanya kenapa aku menganggap Intan berbeda? Apa karena sosoknya yang tampak seperti gadis baik-baik?


Well, sepertinya bukan itu alasannya.


Aku tertarik untuk berteman dengan Intan karena dia punya pandangan yang teduh. Untuk pertama kalinya aku bertemu dengan seorang gadis yang menatap Nenra dengan pandangan biasa saja.


Sudah kukatakan kalau Nenra itu manis bukan? Dia bisa dengan mudah menarik perhatian. Karena kebetulan aku adalah sosok yang pecemburu, aku tidak suka melihat ada gadis lain yang menatap kagum pada Nenra.


Aku tidak suka.


Di awal pertemuan kami, Intan tampak memasang wajah yang ramah. Ia menatap Nenra dengan raut penasaran namun tidak lebih dari itu. Padahal biasanya banyak perempuan yang menatap Nenra tertarik. Ugh, memikirkannya saja membuatku kesal tiba-tiba.


Kurasa Intan adalah gadis yang setia. Dia hanya akan menjaga satu hati yaitu milik kekasihnya. Hah, semoga itu benar.


.


"Nenra~"


Nenra menoleh padaku yang memanggilnya. Seperti biasa, dia menjemputku di sekolah untuk pulang bersama.


Hmn, entah kenapa kesannya Nenra seperti supir pribadiku ya?


Ehe, tentu tidak. Nenra mengantar jemputku setiap hari hanya untuk menghabiskan waktu berdua. Pasalnya kami sama-sama sibuk, jadi sulit bertemu di waktu lain kecuali hari minggu.


"Gimana eksperimen kamu sama dosen pembimbing?" Aku melayangkan tanya ketika mobil Nenra telah melaju.


Pacarku itu sedikit melirik kearahku sebelum kembali menatap pada jalan.


"Kamu tahu dari Intan?" Bukannya menjawab, Nenra malah bertanya. Aku mengangguk saja.


Nenra menghela napas. "Belum selesai. Habis nganter kamu, aku harus balik lagi ke kampus."


Hehh?


"Lah, kamu gimana sih?" Bingungku. Jadi saat ini Nenra membolos begitu? Sungguh?


Seolah mengetahui isi pikiranku, Nenra menggeleng. "Nggak bolos Kei. Tadi emang udah waktunya balik. Tapi nanti aku balik lagi karena ada janji sama dosen." Jelasnya.


Aku mengangguk paham. "Dosennya cowok?" Tanyaku.


"Iyaa..."


Aku mendesah lega.


Yah, setidaknya Nenra mendapatkan dosen pembimbing laki-laki. Bisa galau semalaman aku kalau dosen pembimbing Nenra adalah perempuan. Apalagi masih muda. Aku menggeleng. Jangan sampai pokoknya.


"Kamu kok makin akrab sama Intan?" Pertanyaan Nenra membuatku menoleh. "Ini Intan loh."


Aku mengernyit. "Kenapa memangnya?" Tanyaku nggak paham.


"Intan itu walaupun terlihat sangat ramah dan baik, dia hanya punya sedikit teman. Dari yang aku dengar dia suka memberi batasan pada orang lain agar berhenti memasuki zona nyaman nya."


Tunggu.


Sebentar.

__ADS_1


Kenapa Intan bisa punya pemikiran yang sama denganku?


"Aku dengar dia pernah jadi korban bully saat masih sekolah."


Penjelasan terakhir dari Nenra itu membuatku mengangguk paham. Jika memang apa yang Nenra katakan benar adanya, sepertinya aku mengerti.


"Ngomong-ngomong, kamu udah makan siang?" Aku menatap Nenra yang sibuk mengemudi. Mendengar aku bertanya, dia menggeleng.


Benar dugaanku. Sedari tadi aku berpikir apa Nenra sempat makan siang? Pasalnya saat waktu makan siang tadi dia masih sibuk dengan dosennya.


"Nanti mampir cari makan deh." Kataku. Kulihat Nenra melirik bingung.


"Kamu lapar?" Tanyanya.


Aku menggeleng.


"Kamu yang makan."


Nenra sedikit tersenyum mendengar jawabanku. Uwah, dia manis sekali saat tersenyum begitu!


"Aku nggak lapar kok Kei." Kata Nenra. Dia masih fokus menyetir.


Aku menggeleng tentu saja. Jangan kira hanya Nenra yang keras kepala disini. Aku lebih keras kepala dibanding Nenra.


"Nggak mau tahu deh ya." Kataku akhirnya.


Nenra menghela napas. "Serius deh, aku malas mampir. Nggak baik lagian Kei."


Astaga, Nenra sangat keras kepala! Kesal sekali aku dibuatnya.


"Yaudah nanti kamu makan di rumah aku aja." Putusku. "Nggak ada penolakan pokoknya!" Aku menekankan kalimat terakhir saat melihat Nenra akan kembali protes. Laki-laki itu, dia sangat keras kepala.


Aku melirik Nenra, wajahnya sedikit cemberut. Sepertinya ia merasa tak terima dengan keputusan sepihakku.


Hei, siapa yang harusnya marah disini? Bukankah aku benar? Soalnya Nenra itu, kalau dia sudah sibuk dengan belajar dan bla.. bla.. bla.., dia akan lupa pada dunianya! Yaampun dia benar-benar membuat stres saja!


"Aku nggak mau ngomong sama Nenra kalau begini."


Entah apa yang ku pikirkan saat berkata demikian. Aku hanya membuang wajah ke arah lain saat tahu Nenra tak terima dengan keputusanku itu.


"Eh, Kei..."


Panggilan Nenra tak ku perdulikan. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku nggak akan menoleh sampai Nenra mau disuruh makan. Ayolah, aku hanya mau dia makan.


Bisa aku dengar helaan napas samar dari sosok di sebelahku.


"Kei..."


Aku nggak merespon. Bodo amat lah. Mau Nenra memanggilku berapa kali pun, aku nggak akan menoleh. Pokoknya nggak akan.


Jangan anggap aku kekanakan oke? Ini salah Nenra yang nggak mau mendengarkan aku. Dia terlalu keras kepala. Aku benar kok dengan menyuruhnya untuk makan.


Mobil berhenti tiba-tiba di samping jalan yang cukup sepi. Aku melihat keluar jendela. Ini bukan di jalan raya, jadi hanya ada beberapa pengendara yang lewat.


Kenapa Nenra berhenti?


"Kei..."


Lagi-lagi Nenra memanggil. Aku nggak menoleh. Ingat perkataanku tadi bukan? Aku---


"---uwaaah!"


AKU KAGET ASTAGA!!


Tiba-tiba Nenra menarik ku agar menatapnya. Aku yang tengah melamun tentu terkejut dengan tarikan tiba-tiba itu. Saat menatap wajah Nenra, dia terlihat bingung.


"Kok teriak? Kamu melamun?" Tanyanya. Wajahnya jelas sekali seperti menahan tawa.


Aku tidak membalas pertanyaan nya.


Nenra menghela napas. "Aku bercanda doang tadi Kei." Katanya. "Nanti aku makan kok."


"Beneran?" Tanyaku. Aku menatapnya sangsi.


Nenra mengangguk. Ia tersenyum padaku.


"Yaudah nanti kamu mampir di rumah." Kataku akhirnya. Nenra mengangguk saja.


Setelahnya mobil kembali jalan.


Aku tak bersuara. Begitu pula Nenra. Bukannya kami kehabisan obrolan, hanya saja aku memang sedang tidak ingin mengobrol.


Bahkan sampai mobil Nenra memasuki area parkiran, aku masih diam saja. Pikiranku sedang fokus pada hal lain. Aku sibuk memikirkan tentang...


... gadis bernama Intan.


Bersambung...


An:

__ADS_1


Baiklah, aku lagi mau munculin konflik 😁 stay ya! Pantengin terus.


__ADS_2