
Penyebab Nanaz bisa datang mencari Ezra di kantin adalah jam kosong. Alasannya karena guru-guru mengadakan rapat. Pantas aja tadi Bu Dara cepat-cepat mengusir Ezra dan temannya tadi.
Ezra yang tengah duduk di samping Nanaz memasang wajah berapi-apinya. Menatap kedua makhluk di depannya. Siapa lagi kalau bukan Rafa Doni yang habis-habisan mengejeknya.
"Tadi gue gak salah denger kan Raf?"
"Enggak Don, kali ini telinga lo gak konslet. Ezra emang anak mama."
"Wkwkwk anjer! Apa tadi katanya Raf ya ampun dah!"
"Kenapa gak kita rekam terus share ke grub sekolah."
Rafa menghentikan tawanya, berdehem sebentar sebelum meniru suara Ezra sebelumnya.
"Iya Nanaz! Aku sayang mama."
"Pfffttt bawahahaha! Macan kurang belaian anak mama ternyata."
Masih aja mereka ketawa, tangannya bahkan sampe mukul-mukul meja. Beberapa siswa yang di kantin sampai melihat ke meja mereka.
"Nanaz, aku boleh bunuh orang gak? Hehe, gak ada pisau tusuk sate pun jadi loh, woahh.
Nanaz terbelalak, begitu pula Rafa dan Doni yang refleks diam. Memperhatikan Ezra yang tersenyum horor sambil mengelus ujung tusuk sate.
"Ih Ezra aku serem tau liat kamu kayak gitu."
"Eh? Naz tenang aja! Nanaz gak bakalan aku apa-apain kok."
Rafa menatap hati-hati, "Lah jadi kami beneran mau di apa-apai?"
"Mwehe! Eh Zra bunuh orang masuk neraka loh."
Doni menyatukan tangannya, tersenyum ragu sambil terkekeh. Mulai berseru kembali membuat Ezra memandanganya malas.
"Nah, emang lo mau kepisah sama Nanaz yang nantinya bakal di surga? karna Nanaz baik hati, cantik, ramah, dan tidak sombong."
Ezra tampak diam berfikir, menatap sengit kedua teman yang duduk di hadapannya dengan gelagat waspada. Nanaz sampai menahan senyumnya, hendak tertawa lucu.
"Dasar kalian! Padahal kalao gue bunuh juga orang tua kalian bakal seneng, beban hidupnya berkurang satu."
"Duh Ezra udah dong bercandanya, kasian tau mereka."
"Nah kan! Kayaknya Nanaz emang jelmaan bidadari yang di utus jadi pawang Ezra!"
"Lebay lo njir." Sahut Rafa.
Ezra menghela nafas, mengambil satu tusuk sate ayam lagi dan memakannya. Ya mana mungkin Ezra nusuk mereka beneran, enggak lah!
"Eh gue mau nemuin Salma dulu deh."
"Lah anjir! Masa' gue di tinggal sendiri sama orang pacaran."
"Derita lo, makanya ke tukang permak wajah sana. Biar laku."
"Sialan lo Raf! Awas aja balik lagi kesini ngadu di putusin."
Rafa mengabaikan, pergi dari sana sambil melihat layar ponselnya. Pesan dari Salma ngajak makan bekal buatannya di taman, Rafa gak boleh telat dong.
Doni mendecih, sekarang di depannya Ezra sama Nanaz lagi mesra-mesra an gak ingat tempat. Mereka sama sekali gak perduli ada Doni yang lagi bertopang dagu menahan jiwa iri nya yang bergetar.
"Ezra, mendingan luka nya di bawa ke uks aja yuk?"
Menatap raut khawatir Nanaz, Ezra jadi merasa bersalah. Namun disisi lain, hatinya menghangat karena melihat keperdulian Nanaz pada dirinya.
"Nanaz masih khawatir yah?"
"Siapa yang gak khawatir liat pacarnya luka begini?"
"Kita uks aja ya, emang buat makan pipi nya gak sakit?"
"Gak mau Nanaz, di UKS gak enak."
"Ini gak sakit kok, lagian asalkan ada Nanaz disini lukanya langsung otomatis sembuh sendiri!"
Nanaz menghela nafas, "Aku bukan dokter Zra, gak ngaruh."
__ADS_1
"Iya, Nanaz emang bukan dokter. Tapi Nanaz itu sumber kekuatan khusus buat aku, jadi kehadiran Nanaz disini udah cukup hehe."
"Hoeekk mo muntah gue njir." Doni menatap geli.
"Beneran?"
"Iya dong Naz!"
"Nanaz juga vitamin kebahagian, begitu liat Nanaz rasa kesal aku langsung hilang!"
"Hebat kan?! Hehehe dan..."
"Dan??"
Nanaz memiringkan kepalanya, mengikuti ucapan Ezra dengan pipi yang mulai bersemu.
"Senyuman Nanaz itu candu!"
"Senyum yang buat aku susah pergi jauh dari Nanaz."
"Kalau liat Nanaz senyum rasanya seakan dunia berubah, semuanya jadi tentang Nanaz!"
Ezra manarik kedua sudut bibirnya, tersenyum tulus sambil mengunci Nanaz dengan tatapan penuh kehangatan.
"Karena senyuman Nanaz, aku jadi hilang fokus. Selalu berfikir gimana caranya biar aku bisa liat senyum Nanaz lagi."
"Lagi, lagi dan lagi setiap harinya!"
"Dan terakhir, "
Ezra memberikan tatapan sendu, menatap sorot mata Nanaz dalam dan menggenggam tangan gadis itu erat.
"Senyum Nanaz selalu berhasil buat aku jatuh cinta berulang kali setiap hari, bahkan setiap waktu."
"Hehe, jadi Nanaz jangan khawatir lagi ya!"
"Cukup tersenyum seperti biasa aja, karna senyum Nanaz itu kebahagiaan Ezra!
Deg! Deg! Deg!!
Nanaz malu!
Mendadak berubah gugup, salah tingkah sendiri. Ditambah Ezra yang mengganti kata 'aku' dengan namanya sendiri di akhir kalimat tadi semakin membuatnya tak mampu mengontrol detak jantung.
Senyum di wajah Ezra masih terukir menghiasi wajah tampannya. Bukan hanya Nanaz, Doni bahkan ikut terpukau, pipinya sedikit memerah. Hanya masih tak menyangka, Ezra benar-benar bisa berlaku manis pada seorang gadis.
"Ka-kalau gitu, aku cu-cuman perlu senyum kan?"
"Iya!"
"Eh tapi Nanaz! Senyum nya liat ke aku dong! Masa' ke arah lain sih."
"Ih ya-yang penting kan aku udah senyum."
"Heeee?!"
"Gak bisa! Kalau senyum ke arah lain ntar senyumnya di ambil orang!"
"Senyum Nanaz cuman buat aku."
Ezra mulai protes dengan wajah cemberutnya, kedua tangannya memegang pipi Nanaz yang semakin memerah. Membawa wajah Nanaz agar terus menatap ke arahnya.
"Nah gini baru pas, Nanaz yang cantik di tambah senyum manis ke arah Ezra. Seperti lukisan paling indah sedunia hehe."
"Semua laki-laki di dunia pasti bakalan iri, cuman aku seorang yang dapat ngeliat senyuman Nanaz!"
"Naz-Naz, pulang dari sini kita ke KUA aja yuk. Nikah muda kayaknya enak, bisa barengan sama Nanaz terus."
Mata Nanaz rasanya berputar-putar, pipi nya hanya semakin memerah mendengar perkataan Ezra, sama sekali tak sanggup untuk berbicata.
Apa lagi kedua tangan cowok itu masih menangkup pipinya. Jantungnya berdetak hebat, rasanya panas sekali ia benar-benar seperti direbus.
Hanya Doni yang menyadari hal itu sepertinya, Doni sampai terkekeh melihat Nanaz tersipu malu setengah mati seperti itu.
Karena kasihan Doni memberanikan diri menyela Ezra yang masih membicarakan masa depannya bersama Nanaz dengan wajah yang berbinar antusias.
__ADS_1
"Kalau setiap bangun pagi aku langsung di kasih senyuman Nanaz pasti dokter bakal repot."
"Soalnya kadar gula darah aku bakalan naik terus saking manisnya hehe."
"Terus yah Naz! Kal---"
"Oi Zra."
Ezra memicingkan matanya, menoleh cepat dengan tatapan mematikannya. Rautnya menunjukkan bahwa ia sedang tak ingin di ganggu sekarang.
"Apa?!"
Doni menelan ludahnya gusar, "Buseet, cepet banget wajahnya berubah."
"Ka-kasian itu si Nanaz woi, ntar kalo pingsan gimana?"
Ezra menoleh kedepan kembali, wajah merah merona milik sang kekasih baru terlihat di matanya. Nanaz memang masih terlihat setengah tersenyum namun jiwanya sudah terbang ke angkasa.
Tubuhnya bahkan mendadak loyo, seperti jeli yang terombang ambing. Kalau saja kedua tangan Ezra tak memegangi bahunya mungkin sudah pingsan.
Kan gak lucu kalau jadinya Nanaz yang di bawa ke UKS. Pingsan karena gak tahan nampung keuwuan yang dikirimkan bertubi-tubi oleh pacarnya.
Ezra mendadak panik, menepuk-nepuk pipi sang gadis yang masih tampak bersemu merah.
"Nanaaaz!"
"Nanaz kenapa Naz!?"
"Nanaaaaaaaaaaaaz"
"Lo sih zra, ngegombalnya gak ngasih kesempatan buat narik nafas."
"Heh! Siapa bilang gue gombal hah?!" Elak Ezra
"Senyum Nanaz memang yang paling sempurnah! Paling cantik sedunia, bahkan ngalahin bung--"
"Sssttt!"
Doni meletakkan jari telunjuk didepan bibirnya sendiri.
"Udah stop woi, ntar beneran melayang nyawa si Nanaz."
Ezra terbelalak, kembali menghadap Nanaz yang tampak mulai senyum-senyum sendiri. Nyawanya belum balik ternyata.
Doni bersedekap dada, menatap Ezra di depannya yang sibuk memanggil sambil mengguncang bahu Nanaz. Berdehem sebentar kemudian segera bangkit dari duduknya.
Mengambil satu sate ayam dan mendekati pasangan bucin di hadapannya.
Pletak!
"Anying! Sakit woy."
"Ngapain lo goblok?!" Bentak Ezra setelah memukul kepala Doni.
"Ck! Siapa tau si Nanaz sadar kalau nyium bau ayam!"
"Bego! Emang lo pikir Nanaznya gue otaknya kayak lo hah?!"
"Kan siapa tauu Ezraaa." Geram Doni.
Ezra menatap sengit, satu tangannya memegangi Nanaz sedangkan satunya lagi mengepal di udara. Jaga-jaga kalau Doni berani ngeletakkin sate ayam ditangannya ke hidung Nanaz lagi.
"Eh apa gue cium aja ya?" Cetus Ezra tiba-tiba.
"Makin pingsan si Nanaz nanti njir."
"Sok tau lo nyet, yang gak punya pasangan hidup diam aja!"
"Dasar macan kurang belaian!"
"Woi bilang apa lo setan?!"
Doni harus bersyukur dengan posisinya saat ini, kalau Ezra gak megangin Nanaz mungkin Doni bakalan kena hajar.
"Ng-nggak, gak ada! Salah ngomong gue, salah ngomong!"
__ADS_1
Dan kali ini berakhir dengan Ezra dan Doni yang saling adu mulut, melupakan Nanaz yang masih bersemu merah. Setengah sadar dengan jiwa yang melayang membawa perasaan Eufloria di hatinya.
Tbc,