
Kata kebanyakan orang, aku dan Nenra itu seperti saudara kembar. Mereka bilang kami punya kemiripan dari struktur wajah sampai hobi atau kebiasaan.
Aku suka membaca, menulis dan menyanyi. Nenra juga suka melakukannya. Selain itu kami sama-sama menyukai tempat yang tak begitu ramai. Selera makan kami juga sama, jadi tidak heran jika apapun yang aku makan akan dimakan juga oleh Nenra. Perbedaan kami terletak pada keahlian. Nenra sangat pandai di pelajaran berhitung, selain itu dia pandai hampir di semua pelajaran. Sementara aku, keahlianku dibidang sastra dan kesenian.
Bertolak belakang bukan?
Tapi hal itu yang membuat kami saling mengerti. Sebab kami percaya bahwa pada dasarnya semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti contohnya aku yang begitu aktif dan tidak tahu malu sementara Nenra yang pasif dan sangat pemalu.
Nenra itu benar-benar pemalu. Dia jarang sekali mengatakan kalimat cinta seperti kebanyakan laki-laki lainnya. Jarang bukan berarti tidak pernah. Nenra pernah bilang dia mencintaiku. Tapi saat itu dia berbisik dan mengira aku sedang tertidur di mobilnya.
Lucu kan?
Pacarku itu memang sesuatu yang berbeda.
*My Cute Boyfriend*
.
"Kei."
Aku masih sibuk dengan segala tulisan di dalam buku yang kubaca. Sesekali jariku menulis catatan kecil di beberapa kalimat dalam buku. Saat ini aku sedang sibuk mencari bahan untuk tugas makalah bahasa Indonesia.
Hehhh
Kesal tidak sih? Kemarin bahasa Inggris, sekarang bahasa Indonesia, besok Matematika dan lain sebagainya. Maunya para guru itu apa coba? Capek aku tuh tugas mulu. Kapan belajarnya kalau begini? Padahal minggu depan udah USBK, akhir maret nanti UANBK, tapi masih saja diberi tugas. Benar-benar.
"Keisha."
Aku tersentak.
Astaga. Aku lupa kalau pacarku ada disini. Dengan segera aku menoleh, menatap Nenra yang menatapku dengan mata teduhnya yang tanpa kacamata.
Ini hari minggu, pukul sembilan pagi. Setiap hari minggu, keluarga Nenra akan berkunjung ke rumahku. Terkadang sebaliknya. Keluarga kami memang dekat karena maminya Nenra itu sahabat baik mama sejak sekolah dasar sementara papinya Nenra itu bos papa di rumah sakit. Papaku seorang dokter bedah, sementara papi Nenra dokter spesialis penyakit dalam yang kebetulan pemilik cabang rumah sakit tempat papa bekerja. Itulah kenapa Nenra ngebet sekali ingin jadi dokter. Karena selain itu cita-citanya sejak kecil, Nenra bilang ia begitu mengagumi sosok papinya.
Kembali padaku yang menatap Nenra. Kami berdua sedang berada di kamar, kamarku tepatnya. Nenra menemaniku mencari bahan untuk bagian terakhir dari tugas terakhir makalahku. Hari ini pacarku itu tampil kasual. Dia mengenakan kaos warna krem dan celana hitam. Jaket levis yang tadi ia pakai sudah ia lepas. Kini Nenra menatapku.
"Kenapa?" Aku bertanya. Sesekali tanganku membuka-buka lembaran buku di depanku.
"Kamu sibuk?" Tanya Nenra. Aku menatapnya penasaran. Tumben sekali dia bertanya begitu setelah melihatku sibuk dengan buku. Padahal biasanya Nenra lebih memilih tidak bertanya karena takut mengganggu.
Aku melirik buku di tanganku. Sebenarnya tugas makalahku sudah hampir selesai. Aku hanya tinggal mencari satu bagian yang belum rampung dalam makalah buatanku.
Aku menggeleng. "Enggak juga. Kenapa?" Tanyaku.
Nenra terdiam sebentar. Ia seperti memikirkan sesuatu.
"Kalau kamu sibuk belajar, aku mau kok ngajarin kamu." Katanya.
Sontak saja aku menahan tawa. Yaampun, aku tak tahu ia akan berkata demikian. Pikirku dia akan mengajakku keluar karena sedari tadi sosoknya kuabaikan. But you see? Dia malah menawarkan diri menjadi guru dadakan lagi hari ini.
Aku tersenyum. "Boleh. Ayo, ajari aku bagian yang nggak kumengerti." Kataku lalu mendekatinya.
Lagi-lagi hari ini kami melakukan hal yang sama. Sudah hampir sebulan lamanya inilah hal yang kulakukan dengan Nenra saat bertemu di hari libur atau hari dimana kita bertemu. Walau kadang dia mengajakku keluar, pada akhirnya kami akan belajar bersama seperti ini.
Nenra itu sebenarnya kutu buku saat masih SMA, jadi nggak heran kalau dia punya sikap seperti itu. Aku tak keberatan. Karena bagaimanapun juga, aku lebih suka belajar dengan Nenra ketimbang harus belajar dengan guruku di sekolah. Soalnya belajar dengan Nenra lebih menyenangkan karena dia tampan. Sekali lagi, jangan munafik oke? Aku tahu kalian juga lebih suka diajari sosok yang tampan atau keren. Walaupun, kadang sering gagal fokus karena wajah pengajarnya lebih menarik ketimbang materi.
Aku benar kan?
...
Tanpa terasa setengah jam terlewat. Aku melirik jam di atas meja samping ranjang tempat tidurku. Pukul sembilan nyaris jam sepuluh. Tiba-tiba aku ingin makan sesuatu.
"Nenra, ke minimarket yuk." Ajakku.
Nenra yang sebelumnya sibuk membaca buku kini mengalihkan pandangannya padaku.
"Mau ngapain?" Tanyanya sedikit penasaran.
Aku menghela napas. "Di minimarket adanya apa sih? Kok kamu nanya gitu? Aneh tahu nggak." Kesalku. Bener deh, Nenra sering sekali seperti itu. Saat kuajak ke minimarket, dia akan bertanya mau ngapain kesana? Coba, apalagi yang akan kita lakukan di minimarket kalau bukan belanja? Berhutang? Nggak mungkin kan.
Nenra sedikit menarik sudut bibirnya menahan senyum. Ugh, dia mempermainkan aku.
"Aku tahu." Kata Nenra. Dia mengulurkan tangan menarik pelan pipi kananku. "Nggak usah cemberut Kei."
__ADS_1
Aku mendengus. Tapi buru-buru tertawa. Ah, susah sekali ngambek pada sosok Nenra yang manis itu.
"Yaudah ayo." Nenra berdiri. Dia mengambil jaket yang sebelumnya ia lepas.
Dengan segera aku mengambil sweater lembut berwarna abu-abu yang kusampirkan di kursi belajar. Sekarang sedang musim hujan, jadi diluar cukup dingin meski langit sangat cerah.
Nenra keluar lebih dulu. Aku menyusulnya setelah selesai menarik reseleting sweater hingga hampir menutupi leher. Kami menuruni tangga ke lantai satu karena kamarku di lantai dua. Suara bersisik dari arah dapur membuatku yakin kalau mama dan mami Nenra sedang sibuk disana. Mereka itu suka sekali menghabiskan waktu mengerjakan pekerjaan rumah seperti berkebun dan memasak saat bertemu. Entah dimana papa dan papinya Nenra. Biasanya mereka akan duduk bersama sambil bercerita tentang dunia kedokteran yang tak kumengerti.
"Mama~" aku memanggil. Langkahku sedikit berlari ke arah dapur.
Benar dugaanku, mama dan mami Nenra sedang sibuk membuat camilan berupa kue kering. Tapi tak jauh dari mereka, ada bi Lis, pembantu mama yang sedang sibuk dengan sayuran. Sepertinya mereka akan memasak makan siang setelah ini.
"Lagi repot ya?" Tanyaku. Tanganku gatal ingin membantu mama memasak. Biasanya kalau hari libur selain hari minggu, aku akan menemani mama memasak. Pengecualian untuk hari ini karena ada maminya Nenra.
"Nggak juga." Kata mama. Ia menatapku penasaran. "Mau keluar ya?" Tanya mama kemudian. Sepertinya mama pintar dalam menebak.
Aku mengangguk. "Kei sama Nenra mau ke minimarket bentar ma." Kataku. Bisa kulihat mami Nenra yang membawa panggangan kue kering ke arah mama.
"Kakak ih, Kei mah. Nenra itu lebih tua." Tegur mama. Lagi-lagi aku lupa. Mama itu tidak suka aku memanggil orang yang lebih tua tanpa embel-embel, tidak sopan katanya.
Aku nyengir. "Iya itu maksudnya."
Mama malah terkekeh.
"Mau nyari apa ke minimarket?" Kali ini mami Nenra yang bertanya. Ia bergerak meletakkan panggangan kue ke atas nampan sambil melirikku.
Aku berpikir sebentar.
"Mau beli jajan itu, Kei kan nggak bisa hidup tanpa susu dan coklat."
Aku menatap mama yang seenaknya berucap menjawab pertanyaan mami Nenra. Tidak salah sih, tapi tetap saja mama keterlaluan. Soalnya mama tertawa diakhir ucapannya.
"Mama mah." Kataku cemberut.
Mami Nenra ikutan tertawa.
"Yaudah sana, jangan lama-lama tapi. Udah mau masuk waktunya makan siang." Kata mama lagi. Entah kenapa rasanya seperti diusir.
Mama lantas mengambilkan beberapa.
"Jangan banyak makan manis Kei, entar kamu gendut Nenra nggak suka lagi."
Aku mendelik. "Mama mah ngomongnya gitu." Kataku. Mama itu suka sekali menggodaku begitu. Kan aku jadi kepikiran. Walaupun berat tubuhku susah sekali naik, tapi tetap saja aku was was.
"Mama kamu bercanda Kei. Udah sana." Kata mami Nenra. Ia tersenyum lembut padaku lalu menatap mama. "Kamu nih sama anak sendiri masih saja jahil."
Well, sepertinya sifat baik Nenra itu menurun dari maminya. Beliau sangat baik, dan tidak pernah kulihat dia marah. Kecuali waktu Nenra tidak mau makan dulu saat masih kecil. Walaupun mama juga baik, tapi mami Nenra lebih baik lagi. Soalnya mama sangat jahil. Dan kuakui sifat itu menurun padaku.
"Yaudah, Kei pergi dulu ya ma, mi?" Pamitku. Tanganku melambai ke arah mereka yang dibalas dengan lambaian. Aku memutuskan untuk sedikit berlari ke luar.
Nenra sedang berdiri di depan pintu teras. Pacarku itu terlihat mengutak-atik ponsel. Menyadari kehadiranku, Nenra menoleh. Ia tersenyum.
"Udah?"
Aku mengangguk. "Nenra mau?" Aku menyerahkan satu keping kue kering. Ukuran kue yang besar membuat aku kesulitan menghabiskan tiga keping kue itu.
Nenra mengangguk. Ia menerima kue dari tanganku lalu memakannya. Matanya melirikku sambil menahan tawa. Entah karena apa.
"Kamu belepotan." Kata Nenra. Jemarinya lantas mengusap pipiku, entah ada apa disana. Tapi jika Nenra bilang belepotan, mungkin ada beberapa remahan kue yang menempel.
Setelahnya Nenra menuju bagasi. Tadi Nenra kesini naik mobil keluarganya, tapi aku memberinya kunci motor beat ku untuk dibawanya.
Mataku menatap sekitar halaman rumah. Kulihat papa dan papi Nenra duduk bercengkrama di sebuah kursi dan meja putih yang ada di taman samping rumah. Mereka tampak begitu menikmati waktu.
"Kei."
Aku menoleh. Nenra sudah ada di depan gerbang. Dia tampak berusaha mengenakan helm. Dengan segera aku mendekati Nenra.
"Nih." Nenra menyerahkan helm yang lebih kecil. Ia masih sibuk memakai helm nya.
"Kita ke minimarket yang di persimpangan jalan itu ya?" Kataku setelah duduk di boncengan motor. Kulihat Nenra mengangguk dan mulai melajukan motornya.
Sepanjang jalan aku habiskan dengan bersenandung sendiri. Aku tak mungkin mengajak Nenra bercerita karena ia tengah mengemudi, terlebih jalanan cukup ramai jadi Nenra akan kesulitan mendengar perkataanku.
__ADS_1
Kami sampai di minimarket tak lama kemudian. Kurang lebih lima belas menit. Setelah selesai memarkirkan motor, aku dan Nenra berjalan beriringan menuju pintu minimarket.
"Kamu mau beli apa?" Tanya Nenra saat aku mengambil satu keranjang belanjaan.
"Susu sama coklat. Tadi pagi udah habis soalnya." Kataku. Kami berjalan ke arah rak yang terdapat deretan susu dan coklat.
"Itu doang?"
Aku menoleh pada Nenra. "Ya lihat aja nanti." Kataku.
Kami menghabiskan waktu tidak begitu lama. Setelah mengambil susu dan coklat, kami berjalan ke deretan cemilan. Meski mama suka membuat kue kering untuk camilan di rumah, tetap saja itu tak bertahan lama. Karena papa sangat suka makan kue kering buatan mama. Aku bahkan kadang tidak kebagian.
"Eh, kak Nenra?"
Aku tak mengenali suara yang memanggil Nenra itu. Suaranya lembut, membuatku menoleh ke asal suara. Seorang gadis dengan penampilan yang manis dan wajah yang cantik berdiri tak jauh dari kami.
Siapa gadis ini?
Aku melirik Nenra, memberi kode padanya agar menyapa balik gadis itu. Mengerti, Nenra tersenyum.
"Intan ya?"
Aku mengernyit. Nenra seperti ragu siapa nama gadis di depan kami ini. Gadis itu pun tertawa. Cantik sekali.
"Iya kak, saya Intan." Katanya. Ia melirikku sebentar. "Ini adiknya kak Nenra? Manis sekali~"
Apa kataku? Kami dikira saudara bukan? Sudah kukatakan wajah kami mirip.
"Bukan." Aku menggeleng. Sontak saja gadis bernama Intan itu memasang wajah tak percaya.
Nenra tersenyum maklum. Ia tahu orang akan menganggap kami saudara pada pertemuan pertama.
"Ini Keisha, pacarku."
Intan menganga lucu. "Serius?" Tanyanya dengan nada tak percaya. "Kalian mirip sekali. Sungguh!"
Aku tertawa melihat reaksinya. Dia mengerjap sebentar lalu ikutan tertawa.
"Gapapa deh ya, kan katanya orang mirip itu jodoh." Kata intan. Aku hanya mengangguk mengiyakan. "Oh iya kenalin, aku Intan. Adik tingkat kak Nenra di jurusan kedokteran. Aku di tahun ke dua."
Intan mengulurkan tangan. Dengan senang hati aku menerima uluran tangannya.
"Aku Keisha, salam kenal."
Intan mengangguk semangat. "Masih SMA ya?" Tanyanya. Aku mengangguk. "Kelihatan sekali masih sangat manis."
Aku rasa aku tersipu. Nenra di samping hanya menatapku penasaran. Mungkin ia heran dengan reaksiku.
"Aku duluan ya Kei? Sampai ketemu lagi!" Intan pamit undur diri. Aku lantas mengangguk.
Lama aku memperhatikan Intan yang berlalu menjauh.
"Itu kenalan kamu?" Tanyaku pada Nenra. Melihat ekspresi awal Nenra tadi, aku merasa Nenra tak begitu mengenali Intan.
Nenra terlihat berpikir. Agak lama sampai kemudian ia mengangguk. "Aku baru ingat dia salah satu mahasiswi yang berada di kelompok belajarku." Katanya.
"Kelompok belajar apa?"
Nenra menatapku. "Biasanya mahasiswa tahun pertama dan kedua diberi pembimbing dari mahasiswa tahun ketiga. Kebetulan Intan di bawah bimbinganku. Aku menyebut kelompok bimbingan itu sebagai kelompok belajar.
Aku mengangguk mengerti. Setelah merasa cukup dengan belanjaanku, aku dan Nenra lantas menuju kasir. Setelah membayar kami pun kembali ke rumah.
Aku dan Nenra tiba di rumah tepat saat jam makan siang. Mama dan mami Nenra memanggil kami yang baru tiba, mengajak makan siang. Di meja makan, sudah ada papa dan papi Nenra. Kami pun memutuskan untuk makan bersama.
Beginilah minggu pagiku dengan Nenra. Kami menghabiskan waktu dengan keluarga, tapi juga menghabiskan waktu berdua.
Karena ini tentang aku dan Nenra.
Bersambung...
An:
Ngebut banget nih tulisnya. Serius deh π btw aku nggak tau kalau nama panggilan Nenra bakal kena sensor. Maap ya admin π soalnya aku nggak tau arti nama Nenra. Lucu aja gitu. Tapi udah kuubah kok π
__ADS_1