My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Chapter 20


__ADS_3

Ezra berjalan santai, sambil bersiul melewati  koridor sekolah. Tangan kanannya di masukkan ke saku celana, sedangkan yang satunya memegang tas yang hanya tersampir di bahu kiri saja.


Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa waktu lalu. Dan tujuannya sekarang tentu saja adalah kelas Nanaz. Kali ini pokoknya harus pulang bareng Nanaz. Harus!


Biasa Nanaz bakalan pulang bareng sama Yuna, karena Yuna menginap dirumahnya. Ezra mendecih, Yuna kadang lebih parah dari Lucas kalau nempel sama Nanaz.


Berdoa aja, si Yuna cepet jadian sama Miko. Biar Ezra bisa main sepuasnya sama Nanaz tanpa ada yang menggangu.


Baru aja Ezra mau belok ke kiri, kedua kakinya harus berhenti mendadak. Ezra sedikit kaget melihat kehadiran gadis di hadapannya secara tiba-tiba. Untung ini tas belum terlempar.


"Oi minggir!"


Beberapa detik tak ada jawaban, Ezra berdecak. Memandang Jinan sengit, sedangkan cewek itu hanya menatapnya saja, kemudian tersenyum ceria membuat Ezra mengernyit heran.


"Hehe."


"Heh kemasukan setan lo ya?!"


"Apasih?"


"Lo yang apa goblok! Minggir sana." Kesal Ezra.


Jinan mendengus, menghela nafas sebentar, "Kasar banget sih."


"Gue cuman mau liat lo doang, kangen." Sambungnya sambil mengulas senyum.


Ezra terbelalak, ingin menyahuti dengan ocehan pedas namun disela dulu oleh ucapan Jinan kembali.


"Udah itu doang, yaudah sana! Lo mau jumpain si rujak kan?"


"Siapa yang lo bilang rujak hah?! Dasar cewek bar-bar."


Ezra berbalik, memandang punggung Jinan yang menjauh darinya. Gadis itu tampak mengendikkan bahunya tak acuh mendengar umpatan Ezra untuknya.


"Cih, sialan! Ngerusak mood aja itu cewek."


Ezra melanjutkan perjalanannya, sekarang dari sini kelas Nanaz sudah kelihatan. Beberapa siswa lain tampak keluar kelas, Ezra mengulas senyum saat melihat gadis bertas coklat yang akhirnya keluar juga.


"Nanaaaaaz!"


Nanaz menoleh, ada Ezra yang setengah berlari padanya. Cowok itu merentangkan tangan, dengan cepat menabrak Nanaz dengan pelukan.


Merasa kaget dan belum siap dengan serangan mendadak yang menyerangnya, Nanaz terdorong beberapa langkah ke belakang.


"Ehehe, Nanaz kangen~"


"E-ezra, lepas dulu ah."

__ADS_1


"Tau tuh! Datang-datang main nyosor aja."


"Kenapa lo, iri?"


Masih dalam keadaan memeluk Nanaz yang lebih pendek darinya, Ezra memicing, memandang Yuna dengan tatapan permusuhan.


"Heh! Pokoknya Nanaz pulang sama gue, awas aja berani culik dia!" Kata Ezra sambil mengeratkan pelukannya.


Yuna menghela nafas, "Iya-iya serah lo deh, lagian hari ini gue udah gak nginep kok."


"Wah seriusan?! Akhirnyaaaa, kenapa gak dari dulu lo pigi sih."


"Ehehe Naz, nanti malam aku main ya, aku bawain martabak combo spesial cuman untuk Nanaz!"


Nanaz melepas pelukan Ezra, kalau lama-lama nanti dia bisa pingsan kayak di kantin tadi.


"Iya, nanti kita makan bareng ya."


"Yes! Makan martabak spesial berdua bareng Nanaz, spesialnya berlipat ganda!"


Nanaz tersenyum sambil menggeleng pelan, "Bukan berdua ih, tapi bertiga." Koreksinya.


Ezra menghentikan kegiatan menari ngawurnya, menoleh cepat ke arah Nanaz.


"Kak Karin udah pulang sore ini hehehe."


"Pffft, kasiannya. Lagian lo beduaan mulu ama Nanaz tengah-tengah setan loh."


Ezra berdecih, mendelik sebal pada Yuna. "Ck! Gue berduaan ama Nanaz, lo yang jadi setannya!"


"Dasar pengganggu, pulang lo sana."


"Iya-iya! Gue ini juga mau pulang, bye."


"Loh, lo gak mau ke depan bareng Yun?"


Yuna mengangkat ponselnya, "Enggak usah, gue di chat Miko buat pulang bareng hehe."


"Dadah kalian!"


Nanaz memperhatikan Yuna yang mulai menjauh dari mereka, gadis itu tampak berlompat kecil. Nanaz menerbitkan senyumnya, ikut senang karena sepertinya hubungan temannya itu berjalan lancar. Tinggal menunggu saja kabar baik dari Yuna kalau mereka resmi berpacaran.


"Nanaz."


"Hn?"


"Kalau senyum buat Yuna nya manis kayak gitu aku bisa cemburu loh, huh!"

__ADS_1


Nanaz menoleh, menatap Ezra yang memandang ke arah lain sambil mencebikkan bibirnya.


"Dih, Yuna kan cewek zra, masa' kamu cemburu sama cewek?" Jawabnya sambil terkekeh di akhir kalimat.


"Tetep aja! Selama Nanaz sama aku, seluruh perhatiannya buat aku aja!"


"Duh, iya-iya hehe."


Ezra menunjuk rambutnya sambil terkekeh, kode minta di elus. Nanaz yang mengerti kembali mengulas senyum, sedikit berjinjit untuk mengelus rambut Ezra. Rasanya, akhir-akhir ini Ezra jadi jauh tambah tinggi.


Mereka berdua, kalau udah manis seperti ini bakal gak ingat tempat. Gak perduli sama beberapa siswa yang lewat di depan kelas Nanaz.


Yah, tapi bagi sebagian siswa ini pemandangan yang menarik sih. Terutama buat para cewek, mereka cuman bisa liat Ezra bertingkah manis hanya jika ada Nanaz.


Ezra menawarkan tangannya untuk di gandeng. Mereka berjalan berdua sambil mengayunkan tangan menuju ke parkiran sekolah.


"Naz,"


"Yaa?"


"Nanaz lucu kalau wajahnya lagi merah hehe."


Nanaz sedikit tersentak, sejenak memperlambat jalannya. Ingatan memalukan di kantin tadi terputar di kepalanya.


"Hwaaaa! Yang tadi lupain ajaaa."


"Gak bisa dong! Udah terpotret dengan jelas di ingatan aku."


"Kecantikan Nanaz bertambah seribu persen kalau lagi malu hehehe!"


"Ap-apan sih Ezraa, aku gak malu tuh!"


Nanaz menoleh kan kepalanya ke arah lain sambil menggembungkan pipinya. Menyembunyikan rona merah yang mulai terlihat kembali.


Ezra tersentak kaget melihatnya, "Sialan! Imut banged pacar gue!"


Melepas gandengannya, Ezra mengacak rambut Nanaz gemas membuat gadis itu menoleh kemudian merangkul bahu Nanaz sambil berteriak.


"Beli batik merah warnanyaa!"


"NANAZ CANTIK EZRA YANG PUNYAAAAA."


Gadis itu terpelongi, membawa kedua tangan untuk menutup wajahnya, berjalan duluan meninggalkan Ezra.


"Ezraa maluu tauuuu!"


"Nanaaz tungguuu!"

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2