My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
chapter 12


__ADS_3

Hujan benar-benar turun dengan derasnya saat mereka di perjalanan pulang. Lucas mau tak mau harus menepikan motornya ke salah satu warung makan yang terlihat di matanya.


Mereka masuk ke dalam warung, Lucas nyuruh Nanaz duduk dan memesan dua gelas teh hangat. Kasihan dengan Nanaz yang kebasahan, padahal tadi sebelum berangkat Lucas udah antisipasi duluan ngasih jaketnya ke Nanaz.


Apa lagi waktu liat raut muka yang gak berubah sedikit pun saat mereka keluar dari rumah Ezra. Wajahnya murung terus, sedih bikin Lucas ikut merasakan apa yang dirasakan Nanaz.


Pipinya basah, entah bekas air hujan atau bekas tangisnya. Yang pasti saat melihat mata Nanaz yang berair dan garis bibir yang melengkung ke bawah, Lucas yakin tadi Nanaz nangis di motor.


"Noona?"


Nanaz menoleh, menyadari baju Lucas yang lebih basah darinya bikin Nanaz tersadar dan terlonjak kaget.


"Astaga! Lo jadi kebasahan gitu, ya ampun gimana ini." Paniknya sendiri.


Lucas terkekeh, gemas sendiri melihat tingkah Nanaz yang kelabakan gitu. Tiba-tiba teringat ucapan Ezra yang membentak Nanaz, wajahnya berubah masam seketika.


"Kalau habis ini lo yang sakit gimana, aduh seharusnya tadi lo aja yang pake jaket."


"Gak apa-apa kok noona, cuman air hujan gak akan bikin aku sakit, apalagi sampai gak masuk sekolah."


Nanaz memperhatikan Lucas yang meminum teh hangatnya, sepertinya Lucas sedang menyindir seseorang.


Akhirnya senyumnya terbit, sejenak melupakan masalah dan ikut meminum tehnya. Hangat, Nanaz menghela nafas.


Memandang ke arah jalanan, terlihat seorang sepasang kekasih mungkin? Tengah berjalan di bawah payung yang sama.


Gadis ini kembali mengluas senyum, tanpa disadari Lucas yang memperhatikan nya pun diam-diam ikut tersenyum.


Walau garis bibirnya melengkung ke atas tapi pikirannya kemana-mana. Selalu kembali lagi ke Ezra, Nanaz tidak marah dengan pacarnya itu, Nanaz sangat tau kalau Ezra sama sekali tak bermaksud untuk membentaknya.


Nanaz hanya, ya mungkin bisa di katakan sedikit kaget karena baru kali ini Ezra membentaknya. Gadis ini tak bisa di bentak, apalagi oleh orang yang sangat di sayanginya.


Memang bukan sekali dua kali Nanaz melihat Ezra berteriak, marah, mengumpat, bertengkar atau menghajar seseorang. Tapi itu kan tidak di tujukan padanya, jadi wajar saja kalau Nanaz sampai nangis karena bentakan Ezra tadi.


Apalagi, Ezra yang notabene nya selalu menampilkan sisi imut, manja dan menggemaskannya di mata Nanaz.


Nanaz yang tengah berkutat dengan pikirannya tiba-tiba menggeleng, Lucas yang hendak menghabiskan teh nya melirik bingung.


"Udah jangan dipikiri Nanaz! Maksud Ezra baik tau, besok pasti udah baikkan lagi. Pasti."


Batin Nanaz sambil menyemangati dirinya sendiri. Gadis ini membenarkan posisi jaket Lucas di tubuhnya dan menghabiskan Teh hangatnya.


Lucas yang menyadari perubahan ekspresi Nanaz diam-diam mendesah lega. Ia sempat bingung mau bagaimana lagi harus menghibur Noona nya ini.


"Lucas,"


"Ya Noona?"


"Gue jadi laper hehe, pesen makan yuk. Gue yang bayarin." Tawarnya sambil terkekeh.


"Eh, biar aku aja yang bayar noona."


"Dih, gak berguna dong gue sebagai Noona lo." Candanya.


Menyadari raut wajah Lucas yang masih merasa tak enak, Nanaz kembali berseru, mengganti nada bicaranya.


"Hehe, nggak apa-apa kok, lain kali Lucas yang traktir Noona deh, ok?"


Setelah itu Nanaz beranjak dari duduknya untuk memesan makanan. Lucas dengan segala muka cengo nya membawa telapak tangan ke depan dada. Merasakan debaran jantung dengan pipi yang mulai bersemu merah.


🐱🐱🐱


"Naz, makasih ya."


"Iya sama-sama."

__ADS_1


"Emang deh lo pahlawan gue." Lebay Arkan sambil menutup bukunya.


"Yeee, pahlawan-pahlawan! Ketua kelas apaan lo nyontek mulu." Ketus Yuna.


"Kok lo yang heboh si Yun? Nanaz nya aja ngasih kok."


Yuna mendelik sebal, beralih ke Nanaz yang tampak melamun. Menatap tugas Fisika yang baru saja di salin oleh Arkan.


"Lo lagi Naz, ngapain sih di kasih? Biarin aja dia hukum sama Bu Jeje."


"Astagfirullah Yuna kamu ini berdosa bangeet." Dramanya.


"Gak papa, sekali-kali aja kok. Lagian Arkan bela-belain datang pagi buat liat tugas gue, kalau gak gue kasih kan sia-sia." Terangnya.


Ya ini memang masih jam setengah tujuh lewat lima menit. Sedangkan bel pelajaran di mulai jam tujuh lima belas.


Masih ada banyak waktu untuk sarapan, atau mengerjakan PR dari Bu Jeje seperti Arkan dan beberapa temannya yang lain. Padahal namanya PR, tapi di kerjakan di sekolah :)


"Tuh kan, astaga. Lo mau banget duduk sama Yuna Naz, julid gitu."


"Anjir lo bilang apaan hah??" Tangan Yuna terah terangkat memegang tempat pensilnya untuk di pukul ke Arkan.


"Heh becanda-becanda! Sakit woy."


"Duh kok kalian jadi berantem sih? Nanti jodoh loh." Tegur Nanaz.


"Ih Nanaz!"


"Enggak ah, jodoh gue Miko pokoknya. Amit-amit Ya Allah."


Nanaz terkekeh saat melihat yuna menggetuk-getuk meja dan kepalanya. Arkan sendiri setelah melontarkan ejekannya ke Yuna langsung berlari keluar kelas, meninggalkan Yuna yang kembali emsoi hampir mengejar.


"Gerem banget gue sama tuh anak! Gak guna jadi ketua kelas, ganti aja kenapa sih." Gerutunya kesal.


"Ih lain kali jangan di kasih PR Naz. Alasannya aja lupa, palingan tadi malam dia main game."


Nanaz menatap Yuna penuh selidik, bibirnya tersenyum penuh arti.


"Acieee, Lo kok tau banget sih tentang Arkan. Hayoloh Arkan, Doni atau Mikoo?" Godanya.


Yuna menghela nafas kesal, "Miko lah! Mau banget gue sama dedemit kelas."


Yuna ikut menyimpan kotak pensilnya ke laci meja, tadi di pinjam Arkan buat nyalin tugas. Emang yah, udah nyontek, pulpennya minjem pula. Kayaknya si Arkan emang gak niat sekolah deh.


Hayo siapa yang kayak Arkan juga?


"Eh dari pada bahas gue gak jelas gini,"


Yuna menghentikan kalimatnya sebentar, membenarkan ikatan rambutnya yang agak longgar.


"Kemarin kalian jadi jenguk Ezra?"


"Gimana tuh macan, udah sembuh? Sekolah hari ini?" Tanya-nya beruntun.


Nanaz diam sejenak, bingung harus menceritakan Jinan yang datang dan Ezra yang membentaknya atau tidak. Wajahnya kembali murung, tak bisa di pungkiri, walau sudah berfikir positif pasti pikiran negatifnya tetap menyerang.


Seperti tadi malam, ia tak bisa tidur karena kepalanya terus memikirkan Ezra.


Kenapa Ezra tak menelponnya?


Kenapa tidak mengirim pesan padahal biasanya gak di balas semenit aja langsung ngespam.


Ezra beneran marah?


Menyadari raut wajah yang berbeda, Yuna menggeser duduknya menghadap Nanaz, mencari tau rasa penasarannya dengan cara bertanya kembali.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Hm?" Nanaz menoleh,


"Ndak papa kok, kemarin kami udah jenguk Ezra, cuman gue kurang tau dia masuk hari ini atau enggak."


Ya Nanaz memang tidak tau, tapi saat datang tadi Nanaz sempat mampir ke kelas Ezra dan pacarnya itu tidak ada. Wajar sih masih pagi, Doni sama Rafa juga belum keliatan tadi.


Yuna semakin menatap penuh selidik, gak mungkin banget dia gak sadar ada sesuatu yang terjadi. Dia temenan sama Nanaz bukannya baru setahun-dua tahun, dari SMP malah.


"Ada apa sih Naz? Ezra makin parah sakitnya? Bukannya dia demam ya."


Nanaz menggeleng cepat, "Nggak kok, Alhamdulillah sih udah baikan, udah bisa teriak-teriak juga." Nanaz terkekeh pelan.


"Terus, raut wajah lo kenapa gitu? Ada masalah?"


Nanaz menghela nafas, merosotkan bahunya lesu dan menatap Yuna penuh rasa sedih dengan bibir bagian bawah yang sedikit di majukan. Yuna sampe kaget, jarang-jarang Nanaz pasang ekspresi gini.


"Yunaaaa." Rengeknyaa.


Yuna semakin kaget saat Nanaz tiba-tiba memeluknya.


"Gimana inii hwaaaa."


"Eh-eh lo gak papa Naz." Paniknya.


Dapat Yuna rasakan Nanaz menggeleng di bahunya. "Terus kenapa? Jangan buat gue bingung gini."


Nanaz melepas pelukannya, kembali menatap Yuna dengan raut wajah yang sama seperti tadi. Tapi kali ini sedikit berkaca-kaca, tidak tau kenapa Yuna jadi geram sendiri melihatnya.


Nanaz menceritakan semuanya, dari menjenguk Ezra yang berjalan lancar, betapa senangnya Nanaz saat bisa bertemu Ezra kembali.


Sampai Jinan yang datang, Ezra yang marah dan mengusir gadis itu hingga Ezra yang membentaknya.


Yuna melongo mendengarnya,


Ezra bentak Nanaz?!


Seriusan demi apaaaa?? Pikirnya.


Jangan-jangan itu bukan Ezra lagi. Gadis ini menggelengkan kepalanya cepat.


Yuna jadi menyesal kemarin malam tidak menginap di rumah Nanaz. Kemarin waktu habis pergi dengan Miko, Yuna ingin mengambil baju dulu dirumahnya


Tapi saat tiba di rumahnya, neneknya datang dan ia harus tidur dirumah dulu.


"Kurang ajar banget si Ezra berani bentak-bentak temen gue." Emosinya.


"Tapi kayaknya, emang gue yang salah."


"Enggak! Dia yang salah, kenapa pakai bentak kayak gitu? Ngatain lo bodoh lagi. Kan minta di pites itu anak awas aja kalau ketemu."


Nanaz mengucek matanya yang agak berair, "Emang lo berani?"


"Enggak sih, ehehe." Cengirnya membuat Nanaz mendengus.


"Tapi seriusan Naz, bakalan gue gampar tuh anak!" Ujarnya menggebu-gebu, Nanaz jadi terkekeh.


"Jangan sedih lag--"


Ucapan Yuna terpotong oleh suara ketus milik seseorang.


"Siapa yang mau lo gampar hah?"


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2