
Saat langkah pertama mereka memasuki kantin, ketiganya sedikit kaget. Banyak siswa masih berkeliaran disini, padahal tadi waktu di ruang BK kayaknya bel masuk udah berbunyi.
Mengabaikan hal itu sejenak, mereka mengambil posisi pada salah satu meja kosong disana. Doni yang baru aja duduk langsung teriak-teriak karna celana bagian belakangnya basah. Bangku bagian tempat ia duduk ada airnya ternyata.
"Anying celana gue basah!"
"Lepas Don, lepas trus jemur diluar sono mumpung masih panas." Usul Rafa
"Terus gue pake apaan nanti?"
"Pinjem kaen lap ama Bu Dona."
"Buat ngelap?"
"Buat lo pake lah ogeb! Cosplay jadi orang gila cocok banget, wajah lo memadai soalnya."
"Gue kira serius anjim!"
"Gak usah ribut! Gue tendang juga lama-lama."
Doni dan Rafa berdehem pelan, "Napa lo Zra?"
"Gak."
"Waw singkat amat, kayak umur hidup si Rafa."
Rafa menatap malas cowok disampingnya, kalau di ladeni pasti makin rusuh terus, mereka beneran di tendang sama Ezra. Gak lah ya, tadi badan udah sakit berantem, Rafa gak mau kena tendangan Ezra yang punya tenaga macan kurang belaian.
"Masih mikirin yang tadi? Tentang bawa orang tua?" Rafa peka juga.
Ezra menoleh, "Hn."
Rafa menatap dalam, kayaknya Ezra udah terlanjur bad mood duluan. Jangan sampe ada yang buat dia emosi biar gak ngamuk beneran. Untung Doni udah beranjak dari duduknya, mau mesen makanan katanya.
"Emang Om Julian belom balik?"
"Kalau udah balik ngapain gue pikirin goblok!"
"Kan ada mahmud."
"Sapa lagi mahmud anjir!" Tanya-nya emosi.
"Mamah muda maksudnya aelah!"
Ezra melotot, memandang sengit Raga. Percuma aja Doni gak ada, nyatanya Rafa sendiri yang bikin Ezra makin kesel. Sebelum nyawa melayang, Rafa segera berdehem kembali.
"Maksud gue, kenapa mesti bingung. Kan masih ada mama lo."
"Gue gak enak."
"Kenapa gak enak? Nyokap lo keliatannya pengertian, kalem gitu."
Ezra berdecak, "Ya gak enak lah! Lo pikir gak segen apa?! Gue juga baru baikan ma nyokap udah ngulah buat masalah!"
"Bilang aja merasa bersalah selama ini Zra."
Ezra mengacuhkannya, memandang ke arah lain.
"Apa gue sewa orang aja ya buat pura-pura jadi orang tua?" Cetusnya tiba-tiba.
"Heh! Lo mau jadi anak durhaka?"
"Ya enggak lah, sialan!"
"Lo masih punya orang tua! Ngapain nyewa orang lain?" Ngegas juga Rafa.
"Terus gue harus gimana anjim!"
Rafa mendengus, mengelus dada.
"Zra, kalau misalnya nyokap lo tau, lo nyewa orang lain buat kesekolah lo pikir dia gak sedih?"
"Ya jangan sampe tau!"
"Gue kasih tau!"
"Oh gitu? Mana piso gue belah juga kepala lo disini."
Rafa melotot kaget, ini Ezra habis nonton film psikopat atau gimana coba?
"Yaudah gue lapor ke Nanaz."
Ezra tertegun, menatap Rafa horor benar-benar ingin mencari pisau sekarang.
"Silahkan, pulang sekolah nanti kayaknya gue harus mampir kerumah lo. Ngabarin kalau anak mereka udah jadi mayat."
__ADS_1
Rafa menghela nafas lesu, payah bilangin Ezra. Rafa melebarkan matanya saat melihat Nanaz muncul di pintu kantin, terlihat kebingungan menatap keseluruh penjuru ruangan.
Menjentikkan jarinya sekali, Rafa kemudian mengangkat tangannya dan berteriak memanggil Nanaz. Ezra yang duduk di hadapannya tersentak kaget, segera menoleh kebelakang. Wajah Bad moodnya seketika berbinar ketika matanya menangkap kehadiran sang kekasih.
"Nanaaaz!"
Yang dipanggil segera berjalan ke arah mereka dengan terburu-buru dan raut wajah yang cemas.
"Nanaaaaz, nanaz kok ke kantin? Nanaz bolos ya?"
Kedatangan Nanaz disambut oleh pertanyaan Ezra. Cowok itu bangkit dari duduknya, menggapai tangan Nanaz dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
"Kamu berantem sama Kak Adit??"
"Kenapa bisa berantem? Ini pipi kamu luka udah di obatin??"
"Astagaa aku panik banget tadi langsung larii."
Bukannya menjawab pertanyaan Ezra, Nanaz malah balik bertanya dengan nada khawatir dan raut paniknya. Tangannya menyentuh pipi Ezra yang sedikit membiru, sudut bibirnya juga luka.
"Hehe, gak papa kok Naz. Kaya gini doang gak bakal buat aku mati."
"Ish, gak papa gimana. Kenapa bisa berantem coba?!"
"Kenapa mesti pake kekerasan kalau bisa di omongin baik-baik."
Tatapan matanya menunjukkan bahwa gadis ini masih cemas, hatinya tak tenang dari tadi. Saat Ezra bertengkar dengan Adit, Nanaz ada di perpustakaan untuk mencari bahan materi tugasnya.
Ia sama sekali tidak tau ada keributan di lapangan, sampai salah satu temannya datang dan mengatakan Ezra bertengkar dan berada di ruang BK.
"Naz, aku gak apa-apa Nanaz. Maaf udah buat Nanaz khawatir ya?"
"Kenapa berantem sama Kak Adit?"
Ezra diam sejenak, tak berniat menjawab dengan jujur sepenuhnya. "Itu, si Adit cari gara-gara, masa main rebut tempat padahal kami dulu yang main di lapangan."
"Terus kamu mukul dia?"
Ezra tersentak, menggeleng cepat. "Mana mungkin! Hehe."
Rafa melirik malas, "Dasar kang dusta."
"Si Adit tuh yang nonjok Rafa duluan, sebagai teman yang baik dan berakhlak mulia. Aku gak terima dong, dan jadilah pertengakaran." Alibinya.
Ezra sambil tersenyum manis pada Rafa, namun matanya menatap penuh ancaman.
Rafa terbelalak, kenapa jadi gini skenarionya? Mau ngelak tapi wajah Ezra udah berubah jadi tampang malaikat maut duluan.
"Ahahaha, iya Naz. Ezra baek banget emang jadi kawan, ahay!"
Nanaz menghela nafas, "Terus kalian tadi di panggil ke ruang BK?"
Rafa dan Ezra mengangguk serentak.
"Gak diskors kan?"
"Enggak kok Naz cuman disuruh bersihkan Toilet aja selama seminggu."
Nanaz menghela nafas lega, kalau sampai diskors bahaya. Dia bisa kangen sama Ezra, terus jadi uring-uringan gak ada semangat hidup untuk sekolah.
"Iya Naz, sama panggil orang tua juga." Tambah Rafa membuat Ezra mendelik.
"Oh ya? Kapan dipanggilnya, hari ini atau besok?"
"Haha, besok Naz."
Rafa tiba-tiba bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Nanaz dan berkata sesuatu.
"Naz! Bilangin tuh si Ezra masa' mau nyewa orang lain buat ke sekolah!"
Setelah mengatakan itu Rafa langsung kabur menyusul Doni, setelah bergidik melihat tatapan maut Ezra.
Nanaz sedikit tersentak kaget karena suara Rafa terbilang kuat. Apalagi bicaranya di dekat telinga, setelah itu gadis dengan ikatan satu dirambutnya itu menatap Ezra meminta penjelasan.
Ezra yang ditatap seperti itu hanya menyengir sambil memandang ke arah lain. Dalam hati mengumpat, mengutuk Rafa semoga diputusin pacar barunya.
"Ehehe, si Rafa kalau ngomong mulutnya berdosa banget ya. Bohong mulu."
Nanaz menaikkan salah satu alisnya, "Rafa yang bohong, atau kamu yang bohong?"
"Ya Rafa dong Naz!"
Ezra terlihat gugup, jari-jarinya mengetuk meja pelan, menghindari tatapan Nanaz. Entah kenapa seperti di interogasi di depan polisi. Ayolah ini hanya Nanaz, kenapa ia gugup mau bohong.
"Oouh gitu, jadi besok kamu manggil tante Fira buat ke sekolah?"
__ADS_1
Ezra menoleh, segera menggeleng cepat.
"Emangnya Om Julian udah pulang dinas?"
Ezra terkekeh, "Mana mungkin Papa pulang Naz! Dia kan kembarannya bang toyib gak pernah pulang." Cetusnya.
Ezra kalau sudah mengingat Papa nya, bawaanya kesel, sudah jarang pulang. Sekalinya pulang hanya tiga hari, paling lama mungkin seminggu. Dia gak masalah sih, cuman Ezra kasian sama mama nya.
Nanaz mengernyit bingung, "Nah, jadi bener dong apa yang di bilang Rafa?"
"B-bukan gitu Naz."
"Terus gimana?"
Ezra menghela nafas, bahunya merosot lesu. Seorang Ezra galau cuman gara-gara mikirin ini doang. Ezra menunduk, menggapai tangan Nanaz yang ada di meja. Memainkan jari-jari gadis itu sambil mulai mengeluhkan masalah yang mengganggunya.
"Naaz..."
"Hmm?"
"Aku bingung harus gimana, aku tau mama orangnya pengertian."
"Aku tau dia gak akan marah karena masalah ini, tapi Nanaaaaaz,"
Ezra merengek, memasang wajah cemberut dengan bibir yang melengkung kebawah.
"Aku bakal merasa bersalah, sekalinya mama datang kesekolah masa' langsung di buat malu karna masalah aku di sekolah."
Nanaz melukis senyumnya, senang mendengar Ezra berkata demikian. Itu artinya, Ezra benar-benar sudah mengakui Fira sebagai Ibu nya bukan?
"Kata siapa tante Fira bakalan malu?"
Ezra menoleh, menghentikan kegiatannya yang bermain dengan jemari Nanaz.
"Kan kamu yang mikirnya gitu,"
Menjeda kalimatnya, memandang jemarinya yang sekarang ditautkan dengan milik Ezra.
"Coba deh kamu bayangin, menurut kamu apa yang bakalan Tante Fira rasain kalau tau kamu manggil orang lain buat kesekolah?"
"Dia pasti bakal sedih, terus ngira kamu belum nerima dirinya sebagai seorang Ibu."
Ezra membulatkan matanya, menggeleng cepat. "Mana mungkin aku mikir gitu Naz!"
Nanaz mengangguk pelan,
"Iya, mana mungkin. Aku yakin kamu sayang sama Tante Fira,"
"Iya kan?"
Mendengar kata sayang membuat Ezra terdiam sejenak, memperhatikan raut wajah Nanaz yang menantinya berbicara.
Sayang ya?
Ezra menarik nafas, sudah lama sekali ia tak merasakan kehadiran seseorang yang berperan sebagai Ibu baginya. Ezra sempat melupakan bagaimana rasanya memiliki seorang Ibu yang katanya siap berkorban untuk anaknya.
Cowok bersurai itu tersenyum miris. Ralat, bukannya sempat melupakan. Nyata nya ia sama sekali tidak pernah merasakan sentuhan tulus atau perhatian seorang Ibu kepadanya.
Sampai tiba-tiba, sekitar dua tahun lalu Ayahnya membawa pulang seorang wanita cantik yang akan berperan sebagai ibu tirinya.
Kalau mengingat tingkah lakunya dulu, saat Fira pertama kali datang kerumahnya Ezra sangat menyesal dan malu sendiri. Sudah berperilaku buruk, tak sopan dan terkesan tak perduli dengan kehadiran Fira.
Dan yang semakin membuatnya merasa bersalah adalah, Fira tidak pernah marah, memandangnya tak suka karena perilakunya, apalagi mengadukannya pada Papa nya. Padahal Ezra sangat yakin, mama tirinya itu pasti sangat sedih.
Fira itu hanya lebih tua sepuluh tahun darinya. Dibanding Ibu, mungkin lebih cocok wanita itu menjadi kakaknya saja. Wajar saja, jika Ezda sering merasa canggung pada Fira.
"Ezra?"
Ezra tersentak, sapaan Nanaz membuyarkan lamunannya. Cowok dengan seragam berantakkan itu tersenyum hangat.
"Iya Nanaz! Aku sayang mama, sama kaya' sayang Nanaz!"
Nanaz terkekeh, menunjuk dirinya sendiri.
"Sayang aku juga?"
"Iya dong! Sayang Nanaz banyak-banyak, satu bumi mungkin gak cukup buat nampung rasa sayang aku ke Nanaz hehe."
Ezra tertawa lucu di akhir kalimatnya, senyum yang terlukis pun bukan senyum biasa. Siapa saja yang melihat mungkin akan beranggapan Ezra adalah sosok menggemaskan yang tak mungkin pernah berkata kasar.
Padahal tadi niatnya mau menasehati Ezra dengan serius karena bertengkar, Tapi malah berakhir seperti ini. Nanaz tak tahan untuk tidak mengelus gemas rambut Ezra. Dalam hati berteriak menggantikan mulutnya yang tengah tersenyum.
"Imuuutnyaaaaaaa!"
Karena bagi Ezra, sosok malaikat tak bersayap di dunia ini hanya Fira dan Nanaz saja. Hanya mereka.
__ADS_1