
Koridor kali ini terasa mencekam, lewat disini kayak lewat di kuburan rasanya. Siswa-siswi yang lagi duduk didepan kelas langsung pada masuk waktu liat Ezra lewat dengan hawa membunuh.
Yang tadinya datang dari arah berlawanan pun langsung balik arah, takut nyawanya melayang kalau sempet kena sasaran kemarahan Ezra.
Iya, kemarahan Ezra. Siapapun yang liat pasti tau kalau cowok dengan seragam yang sengaja di keluarkan itu tengah marah saat ini. Tatapan matanya tajam seakan kalau di tatap lama-lama bisa nusuk kejantung. Kayaknya, arwah macan kurang belaiannya mau lepas.
Siapa pun tolong kalau liat Nanaz cepetan seret kesini sebelum Ezra beneran ngambil nyawa anak orang.
Ini gara-gara kakak kelas tanpa akhlak yang tiba-tiba datang menganggunya. Awalnya, Ezra sama DoRa alias Doni Rafa lagi santai main bola basket di lapangan.
Sampai tiba-tiba kakak kelas yang diketahui namanya Adit -nama nama fakboy biasanya nih- ngusir mereka karna mau make lapangan. Ngusirnya keroyokan, sama temen-temennya yang lain.
Padahal kan ngomong baik-baik bisa, akhirnya Ezra emosi gak mau ngalah. Si Adit malah nantangin main basket. Nah permasalahannya disini.
Seharusnya, kalau mau tanding main basket yang menang bakalan dapat tempat. Tapi bodohnya, si Adit malah asal nyeplos bilang kalau dia menang, Nanaz bakal jadi milik Adit.
Gimana Ezra gak marah coba? Dia langsung nolak dong. Bukannya takut bakal kalah, bukan. Ezra sih yakin seribu persen bakal menang. Tapi tetep aja dia gak rela pacarnya di jadiin barang taruhan. Emang Nanaz barang?
Karna emosi Ezra kalap langsung nonjok Adit, gak perduli walau notabene nya Adit kakak kelasnya. DoRa, Doni Rafa langsung misahin. Tapi malah ikut kena bonus pukulan di pipi mereka.
Yaudah, akhirnya rapangan jadi ramai. Pada nontonin sesi bernatem satu lawan satu Ezra sama Adit. Sebenarnya anggota Adit mau ikutan ngeroyok Ezra tapi di cegah sama Doni Rafa, berantem juga deh mereka.
Alhasil, sekarang Ezra lagi jalan ke ruang BK. Padahal pipi kirinya agak membiru, sudut bibirnya juga
berdarah, cuman sedikit sih. Iya cuman itu aja dia lukanya, sisanya kebanyakan di Adit.
Orang si Ezra gak ngasih Adit kesempatan buat mukul. Gitu deh, Adit di bawa dulu ke UKS. Sekarang dia yang mau di introgasi duluan.
Lima langkah dari dirinya sudah terlihat ruang Bimbingan Konseling. Baru hendak Ezra mau memegang gagang pintu, namun Pintu hitam tersebut sudah lebih dulu terbuka dari dalam.
Temen-temennya Adit terhitung empat orang baru aja keluar dari sana. Mereka saling lempar tatapan mata pisau, Ezra bahkan hendak memukul salah satu diantara mereka yang mengumpat padanya.
Tapi untungnya keburu ditahan sama Doni Rafa yang tiba-tiba nongol di sana. Bahaya kalau sampe berantem di depan ruang BK, kayak nyari masalah di kantor polisi rasanya.
Dan sekarang, mereka bertiga telah duduk rapi di hadapan guru muda cantik dengan tampang imut. Tapi jangan termakan penampilan, dibalik wajah imutnya tersembunyi sifat galaknya yang sebentar lagi mungkin bakal keluar.
"Udah lama kalian gak masuk sini ya?" Ketus Bu Dara
"Hehe kenapa Bu, kangen sama saya yah? Justru itu saya datang hari ini untuk mengobati rasa rindu Bu Dara."
"IYA! KANGEN NAMPAR KALIAN SATU-SATU!!"
Keluar deh suara geledeknya.
"Bu kata mama saya anak cewek gak boleh teriak-teriak. Nanti jodohnya lari."
Plak!
"Diam kamu Doni!!"
__ADS_1
Setelah menampol Doni dan mengabaikan mulutnya yang mengaduh. Bu Dara mengalihkan atensinya pada Ezra yang wajahnya kelewat santuy.
"Kamu lagi Ezra?! Padahal udah lama kamu gak berulah sampe masuk ruang BK!"
Penggaris yang di pegang Bu Dara menunjuk-nunjuk Ezra, cowok itu hanya memandang malas ke arah lain. Tidak mendengarkan ocehan Bu Dara yang membuat telinganya panas.
"Masalah apa lagi sekarang hah?! Putus sama si Nanaz makanya balik lagi buat onar hah?!"
Ezra menoleh cepat, "ENGGAK!!" Bantahnya.
"Kata siapa saya putus sama Nanaz?! Gak bakal! Denger ya Bu, saya bakalan terus sama Nanaz sampe nikah!"
"Ibu berdoa aja panjang umur biar bisa datang ke acaran nikahan saya."
"Bu Dara kan masih muda Zra." Celutuk Rafa.
"Ho oh, cocok banget jadi calon gue." Tambah Doni.
Mereka malah ngomong seenaknya melupakan Bu Dara yang lagi emosi. Rasa ingin menampol ketiga murid nakalnya ini meningkat seribu persen.
"Cih," Ezra berdecih. "Umur siapa yang tau hah?"
"Apa lagi kalau tipe orangnya kaya Ibu. Suka ngomel mulu, awas darah tinggi terus meninggoy Bu."
Rafa mengangguki sambil memegang dagu, beralih menatap Bu Dara di depannya.
"Bu, saran saya ibu ngundurin diri jadi guru BK. Dari pada mati muda, sayang jalan ibu masih panjang."
Brakk!!
"KAAALIIIAAANN!!"
PLAK
PLAK
PLAK
Akhirnya semuanya impas kena tampol satu-satu. Oh kecuali Doni yang pipi kanan kirinya merah semua. Bu Dara memperhatikan tangannya yang merah sambil mendesah lega karena sudah melampiaskan amarahnya.
"GAK PUNYA SOPAN SAMA GURU?!"
"DI AJARIN APA SAMA ORANG TUA DIRUMAH HAH?!"
"Ya diaj--"
"DIAM KAMU DONI! GANTIAN SAYA YANG BICARA SEKARANG."
Ketiganya menunduk menghindari tatapan Bu Dara. Bukan takut atau menyesal tapi karna malas menanggapi ocehannya. Apalagi mode suara gledek nya lagi aktif. Kurang ajar emang mereka jadi murid.
__ADS_1
Pembaca yang baik budiman jangan di contoh ajaran sesat mereka ya.
"KALIAN PIKIR KALI INI SAYA BAKAL BIARIN AJA HAH?!"
"MULAI BESOK SELAMA SEMINGGU, SETIAP PULANG SEKOLAH, KALIAN BERSIHKAN SELURUH TOILET YANG ADA DI SMA MEGANTARA INI!!"
"NGERTI KALIAN?!"
"Hmm." Gumam Ezra.
"Ngerti Bu."
"PAHAM KALIAN?!!" Ulang Bu Dara.
"PAHAM BUU." Ucap ketiganya serentak.
Bu Dara menghela nafas kembali duduk pada kursinya, merasa lelah habis berteriak-teriak.
"Dan satu lagi, panggil orang tua kalian kesini besok."
"Ahsiaapp." Sahut DoRa.
Ezra menggeleng cepat, hendak protes.
"EH YA GAK BISA GITU DONG BU!"
"KAMU BERANI NGEGAS SAMA SAYA?!"
Ezra mendengus sebal, "Nggak Bu saya nge-rem."
"Kan udah piket bersihin seluruh toilet. Ibu pikir SMA Megantara toiletnya sedikit? Mana selama seminggu lagi. Terus kenapa sekarang pakai panggil orang tua lagi coba?!" Sambungnya memulai sesi protes.
"Emangnya siapa yang ngatur disini hah?"
"SAYA GURUNYA!"
"Besok jam setengah sepuluh panggil orang tua kalian! Saya mau ketemu."
Ada alasan sendiri Bu Dara manggil orang tua mereka, tentu orang tua mereka harus tau gimana kelakuan anaknya di sekolah. Tak cuman Ezra Doni Rafa saja, Adit dan pengikutnya juga mendapatkan hukuman yang sama.
Ketiganya kini telah ruangan dengan eskpresi yang berbeda-beda. Doni dengan cengirnya seakan hidup tak ada beban. Rafa yang biasa-biasa saja mulai memainkan ponselnya. Dan Ezra yang dengan tampang kesalnya.
Kenapa harus manggil orang tua coba? Ezra bukannya gak mau sih, cuman Papa nya masih dinas di luar sebulan belum balik-balik. Yang bisa diminta tolong cuman Fira, mama tirinya.
Ezra kan merasa tidak enak, walau mereka sudah akur, baikan dan saling menerima. Terutama Ezra sebagai masalah sebenarnya, yang selama dua tahun belakangan ini selalu mengabaikan kehadiran Fira dirumahnya.
Menghela nafas kasar, Ezra berjalan duluan mendahului kedua temannya. Dengan langkah lebar menuju kantin, niatnya mereka mau bolos.
"Oi! Kantin kan Zra?"
__ADS_1
"Hm."
Tbc,