
Terik matahari pagi memanglah sehat, pas sekali jadwal pelajaran olahraganya bertepatan pada jam yang pas untuk berolahraga. Cowok itu mendapat sorakan kagum setelah berhasil memasukkan bola kedalam ring.
Lucas mengelap keringatnya dengan lengan. Berjalan kepinggir lapangan untuk mengambil air minumnya. Kemudian melirik ke pergelangan tangannya.
Ah Lucas lupa, jam tangannya tadi ia lepas karena mau berolahraga. Jam berapa sekarang, sudah mau istirahat pertama kan?
"Oi Lucas!"
Menoleh tanpa menjawab, Lucas menaikkan salah satu alisnya.
"Ke ruang ganti bareng yok!"
"Kenapa lo, takut?"
"Anjir, sekalian jalan elah. Udah mau bel ini, gue mau jadi yang pertama yang ke kantin."
Lucas terkekeh, mengiyakan ajakan teman sebangkunya itu. Keduanya berjalan beriringan meninggalkan lapangan.
"Gue tebak habis ini lo mau jumpain kakak kelas itu." Tanya Bayu sambil mengelap leher dengan handuk kecil.
Lucas mengulas senyum singkat sebagai jawaban.
"Kayak cewek cuman dia aja, cantik sih tapi kan udah ada gandengan."
"Terus kalau udah ada kenapa?"
"Heh serius lo anjir?! Mau pindah profesi jadi perebut pacar orang sekarang?"
Lucas diam, membuat Bayu yang penasaran menoleh menatapnya.
"Lawannya kakak kelas yang kalau ngamuk kayak kemasukan arwah macan. Siapa tuh namanya?"
"Ezra."
"Nah itu, yakin lo berani?"
Ezra menghela nafas, mereka telah memasuki koridor sekarang.
"Bukan masalah berani atau enggaknya."
"Terus?"
"Tapi di hati Noona,"
"Hati nya Noona udah sepenuhnya terisi sama itu cowok. Mau gimana pun caranya gue terobos masuk, gak akan mungkin bisa."
Cowok itu diam sejenak.
"Kalau gue jauhin dia dari si Ezra, yang ada Noona malah sedih."
Lucas tersenyum, menatap lurus kedepan. Membayangkan wajah cantik Nanaz yang tersenyum padanya.
"Gue gak akan berharap lebih. Asal masih bisa lihat senyumnya, asal noona masih tersenyum ceria itu udah lebih dari cukup buat gue."
Lucas terkekeh sendiri, perasaan senang dan menggelitik timbul saat ia memikirkan Nanaz.
"Tugas gue cuman perlu jaga senyumnya agar tak redup. Yah, walau hanya dari jauh sih."
Siapa pun yang berani nyakitin Nanaz tidak akan ia tinggalkan dengan satu luka saja. Termasuk Ezra, Lucas pastikan dialah orang pertama yang akan menghajarnya bila berani melukai Nanaz.
Tapi tentu saja Lucas berharap itu tak akan pernah terjadi. Karena Lucas tak mau Noona nya terluka.
Bayu yang sedari tadi memperhatikan kini bergidik sendiri.
"Gue jadi ngeri anjim!"
"Apaan?" Lirik Lucas tak suka karena tepukan di bahunya.
"Dasar sadboy! Udahlah si Sherly itu pacarin, dari pada ngenes gitu hidup lo."
__ADS_1
Lucas menghela nafas jengah.
"Oi gak baik sia-siain cewek cantik. Coba aja dulu, seminggu gak cocok putusin."
"Buat lo aja."
"Anjir, gampang banget lo ngomong. Serah lo dah."
Cowok itu menghendikkan bahunya, mempercepat langkahnya saat melihat papan gantung bertuliskan ruang ganti.
***
"A-apa kata Bu Dara ma?"
"Hm? Katanya mama cantik."
"Ha?"
Ezra melongo, menatap Fira yang tertawa sambil meletakkan ponselnya ke dalam tas.
"Bercanda kok hehe."
Ezra menggaruk tengkuknya, canggung. Ia tahu Fira mencoba mencairkan suasana saja.
"Bu Dara gak ngomong kasar kan?"
"Enggak kok, Bu Dara ramah orangnya. Guru BK kalian masih muda ya, mama kira udah berumur."
"Terus Bu Dara ngomong apa aja?" Ezra mengikuti langkah Fira, berjalan beriringan.
"Ngomongin kamu, gimana kelakuannya di sekolah."
Ezra diam sejenak, memandang wajah Fira dari samping. Kemudian menghela nafas panjang.
"Maaf."
Fira menoleh, sedikit mengangkat wajahnya karena perbedaan tinggi mereka. "Eh, kenapa?"
"Siapa bilang mama malu?" Tersenyum, Fira menepuk bahu Ezra pelan. "Malahan mama bangga, bisa datang ke sekolah sebagai mama kamu."
Mata cowok itu membulat saat menangkap senyum Fira. Ada perasaan hangat yang sulit di jelaskan di hatinya. Bangga menjadi mama nya, benarkah?
Kalau begitu untuk pertama kalinya, ia merasakan perasaan tulus dari seorang ibu. Seseorang yang dengan bangga mengakuinya sebagai anaknya.
"Tapi kalau kamu emang merasa bersalah, waktu ambil rapot nanti pastikan mama lebih bangga lagi karena nilai kamu." Jelas Fira masih dengan senyumnya.
Ezra tersentak, menoleh cepat. "Mama yang ngambil?"
"Iya, mama suka banget kalau datang ke sekolah sebagai orang tua siswa hehe. Boleh ya?"
Ezra tersenyum lebar seiring dengan detak jantungnya yang berdebar. Perasaan hangat semakin menjalar di hatinya kala melihat senyum tulus ibunya.
"Oke!" Sahut Ezra dibarengi kekehan Fira.
"Mama mau langsung pulang?"
"Iya, katanya nenek kamu mau mampir habis ini. Bahaya kalau mama belum masak hehe."
"Nenek? Tumben."
"Yaudah, mama duluan ya. Salam sama Nanaz, suruh datang ke rumah."
Ezra mengangguk, "Biar aku antar ke depan."
"Eh, gak us--"
"Aku antar." Tegas Ezra.
"O-oke."
__ADS_1
Fira mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan anaknya. Padahal hanya jalan kedepan ke depan gerbang saja kan.
"Bahaya, cowok disini siluman buaya semua. Mulutnya bakal mangap kalau liat yang cantik."
Setelah mengantar Fira ke depan, Ezra memastikan Mama nya naik ke dalam mobil, kemudian berpesan pada supir mereka untuk untuk tidak mengebut dan mengantar Fira dengan selamat sampai tujuan.
Berlebihan memang, tapi ini karena mood nya yang sedang bagus. Tentu saja karena perkataan Fira tadi. Mulai sekarang sosok ibu yang sebelumnya ia hapus dari kehidupannya muncul kembali.
Sekarang tujuannya adalah Nanaz, kebahagiaanya akan terasa lebih lengkap lagi kalau ada Nanaz di sampingnya. Tapi sejak bel istirahat di bunyikan ia belum melihat gadis kesayangannya itu. Kemana Nanaz?
"Woi gembel, lo liat Nanaz gak?"
"E-enggak bang."
"Cih."
Ezra mendecih beralih menatap siswa dikoridor yang hendak lari saat pandangan mereka bertemu.
"Heh ngapain lari lo!"
"Oi jamet! lo liat sayangnya gue nggak?!"
"Saya?"
Ezra memicing, menatap garang siswa berkacamata yang sepertinya adalah kakak kelas. "Yaiyalah!"
"Tapi saya bukan jamet."
"Njir, yaudah mulai sekarang nama lo Jamet. Ck, liat Nanaz gak?!"
"Maaf saya pelajar bukan tukang buah."
Ezra melotot, seketika emosi mendengar nama pacarnya di samakan dengan buah yang asam manis itu. Menarik kerah baju cowok tersebut hingga membuat sang empunya tertarik ke depan hampir menjinjit di karenakan perbedaan tinggi badan mereka.
Ezra sensian yah, padahal tadi mood nya lagi bagus. Cepet juga berubah suasana hatinya.
"Heh lo bilang apa tadi ******!!"
"Ma-maaf sa---"
"Stop-Stop! Maaf Zra dia murid baru dikelas gue jadi gak tau kalian!"
Sampai akhirnya kedatangan siswa lain yang nampak tergesah-gesah mengatur nafas datang menghentikan kepalan tangan Ezra yang hampir melayang.
"Ck! Bilang kek dari tadi."
"Iya, maaf ya zra."
"Yaudah sono!"
Ezra mendengus, kembali melanjutkan jalannya. Sepertinya ia harus mengecek kelas Nanaz sekali lagi. Ya niatnya begitu sampai tiba-tiba handphone di saku celananya berdering.
"Apa!"
"E-eh santai la woy."
"Ck. Kalau gak penting gue tutup."
Ezra memutar bola matanya malas. Malas, meladeni Doni maksudnya. Kedua kakinya kembali melangkah, hendak pergi ke kelas Nanaz.
"Zra, lo nyari Nanaz?"
Ezra menghentikan langkahnya, "Kok tau?"
"Nanaz di uks, tadi dia ken---"
Tut...
Panggilan diputus sepihak oleh Ezra. setelah menyimpan ponselnya, cowok dengan seragam yang berantakan ini langsung berlari dengan perasaan khawatir yang menyerang pikirannya.
__ADS_1
...Tbc,...
Haiii sebelum keluar jangan lupa vote dan komennya yaaa