My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Saat Kita Jauh


__ADS_3

Menjelang minggu kedua bulan maret ini, sekolahku mengadakan USBK untuk anak-anak kelas 12. Dalam hal ini, itu berarti angkatanku. Aku mulai sibuk dengan belajar dan belajar untuk mempersiapkan diri di ujian mendatang.


Ughh, ini menyebalkan.


Sudah tiga hari aku nggak bertemu Nenra. Pacarku itu sedang ada di luar kota, Bandung tepatnya, mengikuti seminar--- apalah aku lupa. Nenra baru akan kembali empat hari kemudian karena dia akan menghabiskan waktu seminggu di sana.


Hari-hari tanpa Nenra sebenarnya biasa saja. Aku bukan tipe perempuan yang manja dan lebay dalam hal ini. Karena aku tahu itu nggak ada gunanya dan hanya akan menghambat diriku sendiri.


Bukannya aku tidak peduli pada Nenra atau tidak rindu padanya. Tidak-tidak. Aku justru sangat peduli dan sangat sangat merindukan dia. Aku mengkhawatirkan nya. Tapi sekali lagi, aku mencoba mengerti. Lagipula Nenra berpesan padaku agar tidak galau saat dia jauh, karena itu akan menghambat ujianku.


Aku kuat kok.


Meski aku berkata demikian, nyatanya tiap malam aku selalu telponan dengan Nenra. Rasanya tidak cukup hanya mendengar suaranya, tapi karena keadaan, ya baiklah.


Hari-hari berjalan dengan biasanya. Aku lebih sering menghabiskan waktu di sekolah karena menjelang ujian banyak hal yang perlu dipersiapkan. Namun begitu, saat di rumah aku sering bertemu dengan Intan.


Sejak hari itu setelah Nenra bercerita tentang Intan, aku memutuskan untuk berteman dengan gadis itu. Tidak peduli dengan jarak usia kami yang terpaut dua tahun ---- itu tidak banyak---- aku nggak peduli. Sama sekali. Aku hanga ingin berteman dengannya.


Aku bahkan telah memperkenalkan Intan dengan dua sahabatku, Geby dan Dita. Lalu seperti biasa, mereka berdua heboh. Bahkan mereka berteriak sambil berkata, "Lo bisa punya temen Kei?" Sumpah. Apa mereka mengejekku tidak bisa berteman, huh? Menyebalkan.


"Kei?"


Astaga, aku melamun untuk kesekian kalinya.


Aku menoleh pada Intan. Saat ini kami berada di sebuah taman dekat kompleks rumah kami berdua. Bukan hanya kami, ada Geby juga Dita. Kami baru saja menyelesaikan tugas akhir menjelang UAS. Bukan kami sebenarnya. Tepatnya Geby dan Dita. Mereka berdua meminta bantuanku dan Intan.


"Kenapa?" Aku bertanya, menatap Intan yang serius melihatku.


Intan tersenyum. "Kamu kenapa sih? Melamun terus. Lagi mikirin apa?" Tanyanya.


Akh, Intan sangat baik!


Jika saja aku seorang laki-laki, akan kujadikan dia pacarku!


"Nggak apa-apa." Aku menggeleng. Sambil membentuk senyum, aku menoleh ke sekeliling. "Geby sama Dita mana?" Tanyaku.


Aku tak menemukan keberadaan Geby dan Dita disekitar kami. Kemana kira-kira dua gadis heboh itu?


"Mereka ke kedai sebelah sana. Mau es krim katanya." Intan berkata sambil menunjuk kedai kecil di pinggir jalan.


Entah kenapa aku teringat Nenra.


Biasanya saat berduaan di taman seperti saat ini, kami akan menghabiskan waktu dengan bercerita sambil memakan es krim.


Ah, aku benar-benar merindukan Nenra.


"Kamu keinget Nenra ya?"


Aku terkejut!


Astaga, apa Intan itu cenayang?


Intan tertawa. "Jangan mikir kalau aku cenayang Kei. Aku nggak sehebat itu."


Huwaa dia membaca pikiranku!


Aku memasang wajah cemberut menatap Intan yang tertawa. "Intan mah gitu." Kataku.


Aku teringat sesuatu.


Bukankah Intan itu LDR-an dengan pacarnya? Bagaimana rasanya ya? Aku penasaran, apakah Intan tidak rindu? Aku yang ditinggal Nenra seminggu saja benar-benar merindukan sosok nya.


"Intan."


Intan menatapku. Ia masih memasang senyum yang begitu tulus.


"Kamu nggak kangen ya sama Deni?"


Intan sepertinya terkejut dengan pertanyaanku. Ia menatapku sebentar sebelum tersenyum lembut untuk yang kesekian kalinya.


"Kalau kangen ya, sebenarnya iya." Kata Intan. Ia menghela napas. "Tapi ini jalan yang kami berdua ambil, jadi mau tidak mau resiko rindu itu sudah bukan lagi sebuah alasan."


Aku takjub.


Sungguh, kalimat Intan barusan ia ucapkan dengan tulus. Terdengar lembut dan ikhlas disaat yang sama. Entah kenapa saat itu aku sempat berpikir, betapa beruntungnya sosok Deni.


"Aku kangen Nenra banget." Kataku. Sambil menatap langit, membayangkan wajah tampan pacarku. "Tapi sebenarnya bukan itu yang paling besar."


"Huh?"


Sepertinya Intan nggak paham. Soalnya ia menatapku dengan pandangan bingung yang kentara.


"Maksudku, aku memang merindukan Nenra." Aku menghela napas. "Tapi sebenarnya aku khawatir. Takut kalau ada perempuan lain yang memaksa masuk ke dalam lingkup Nenra. Dia kan manis."


Yah, itulah yang aku khawatirkan. Kemungkinan buruk selalu saja mencoba memgambil alih pikiranku saat aku dan Nenra jauh, sehingga aku selalu memikirkan yang tidak-tidak.


Aku seperti tidak percaya pada Nenra.


"Itu wajar." Kata Intan.


Aku menatapnya, mengharapkan sebuah jawaban logis tentang alasannya berkata demikian.


"Takut itu hal yang wajar." Kata Intan lagi menguatkan kalimatnya barusan. "Kadang kamu akan berpikir demikian karena takut kehilangan dia. Tapi, itu sama saja dengan kamu yang nggak sepenuhnya percaya pada kak Nenra."


"Bukannya nggak percaya Intan." Aku menghela napas lagi. "Tapi kamu tahu? Sebagian besar perempuan bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan."


Aku tidak berbohong.


Perempuan itu tidak sepenuhnya selalu bermain jujur. Ada sebagian dari kami yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Itu mengerikan. Aku bahkan berpikir mungkin aku akan seperti itu jika Nenra menolak ku dulu.


Pada dasarnya, perempuan itu susah move on. Jadi jika kami sudah tertarik dan terlanjur sayang, rasanya susah sekali untuk melupakan. Meskipun pernah tersakiti sebelumnya. Hanya saja, perempuan itu pandai bersandiwara.


Bodoh bukan?

__ADS_1


Karena kami berpikir menggunakan perasaan, baru logika. Laki-laki? Itu kebalikannya oke? Makanya banyak yang bilang mereka tidak peka. Karena laki-laki mengutamakan logikanya.


Terserah lah.


Kenapa aku jadi sibuk sendiri dengan masalah itu? Seperti bukan aku yang biasanya saja.


Tiba-tiba saja udara berhembus pelan. Rasanya sejuk sekali. Bersamaan dengan itu, ponselku berbunyi menampilkan notifikasi panggilan masuk dari sebuah nama.


My Cute Boyfriend is calling...


Aku terkejut. Pasalnya, Nenra biasa menelpon saat malam karena dia selalu sibuk saat pagi hingga sore hari. Buru-buru aku mengangkat panggilan.


"Halo?"


"Ah, halo Kei."


Aku tersenyum. Mendengar suara Nenra membuatku merasa sangat senang. Intan di sebelahku tiba-tiba saja bangkit. Ia mengedipkan sebelah matanya kemudian berlalu dari sana.


Aku berdehem. "Kenapa nelpon? Tumben banget." Tanyaku. Bisa kudengar suara kekehan Nenra di seberang telepon.


"Sore ini aku free, lanjut lagi besok." Kata Nenra. Aku bisa mendengarnya menarik napas. "Aku kangen kamu Kei."


Uwah, astaga.


Aku tahu Nenra sangat manis, tapi aku tidak tahu dia bisa semanis itu! Bagaimana bisa dia bilang merindukanku dengan mudahnya? Bagaimana ekspresi nya saat mengatakan hal itu? Aku penasaran!


"Kamu aja kangen, gimana aku coba."


Nenra terkekeh. Entah apa yang ia tertawakan.


"Semangat buat ujiannya besok ya Kei? Aku bakal balik cepat kok."


Aku mengangguk refleks. Besok memang aku ada ujian sekolah. Jadi mungkin aku bakal sulit menghubungi Nenra.


"Kamu juga ya? Jangan mikirin aku terus."


"Kamu kali yang mikirin aku."


Aku tertawa. Nenra tidak salah sih. Karena aku memang merindukan kehadiran sosoknya saat ini.


Obrolan kami berlanjut. Aku melirik ke arah dimana Intan berlalu. Ia menghampiri Geby dan Dita yang tengah menatapku.


Well, sepertinya Intan berhasil menahan mereka agar tidak berlari ke arahku dan bertanya-tanya tentang banyak hal.


Love you deh Intan.


"My Cute Boyfriend"


.


Aku menatap geli pada pemandangan di depanku. Saat ini aku tengah berada di dalam kelas, menatap kelakuan teman-teman kelasku yang benar-benar tidak beres.


Mata ujian sekolah pertama telah berlalu beberapa saat lalu. Namun begitu, entah kenapa kelasku tidak kosong sama sekali. Kebanyakan murid memilih untuk tetap diam di dalam kelas, entah untuk mengobrol atau hanya sekedar menikmati waktu.


Saat ujian seperti ini, aku sangat malas beranjak dari bangku. Aku hanya ingin terus berada di dalam kelas tanpa berniat pergi kemana-mana.


"Kei, nggak ke kantin?"


Itu suara Sarah, teman sebangku ku.


Aku menoleh pada Sarah lalu tersenyum kecil. "Enggak." Kataku. "Kamu duluan aja, gapapa kok."


Sarah mengangguk. Ia tersenyum sebentar sebelum berlalu pergi dengan beberapa teman sekelas kami.


Kini di dalam kelas hanya ada beberapa murid termasuk aku. Masih banyak sih, karena sebagian besar memilih untuk tetap bertahan.


Lagi-lagi aku menahan tawa.


Di depan sana, Rama, salah satu teman laki-laki di kelasku sedang melawak. Dia sangat lucu. Sosoknya sangat bertolak belakang dengan namanya yang terdengar berwibawa.


Aku itu bukan seorang introvert.


Jangan mengira aku tak punya kawan saat di dalam kelas. Aku punya, tapi hanya sebatas teman. Tidak sampai seperti Geby dan Dita yang notabene menjabat sebagai sahabat baik ku.


"Woy Ram, kelakuan lu kek banci lampu merah noh!"


Sorakan terdengar bersahutan.


Aku menoleh ke arah Kevin. Dia mantan ketua klub sepakbola sekolah. Teman kelasku sejak sekolah menengah pertama. Sosoknya ceria dan ramah. Cukup tampan tapi tak sampai semanis Nenra ku.


Aku tertawa melihat Rama yang meragakan tingkah banci seperti yang Kevin sebutkan. Jujur saja sebenarnya Rama itu sosok yang gagah. Sifat humornya saja yang berlebihan sehingga dia suka sekali menjadi bahan tertawa.


"Rama, kok kamu mau-mau aja dikatain gitu? Balas dong." Teriak ku. Letak tempat duduk yang agak di belakang membuatku harus bersuara sedikit lebih keras agar Rama di depan sana mendengar.


Rama menatapku. "Mau sih, tapi takut nggak laku lagi." Katanya setengah bercanda. Tentu saja aku tertawa mendengarnya.


"Padahal Rama keren kalo kalem."


Aku tidak berbohong. Rama memang terlihat keren saat dia diam dan jadi laki-laki yang kalem.


Sorakan terdengar lagi.


Bisa kulihat wajah Rama yang sedikit tersipu malu. Astaga, dia manis juga ternyata.


Aku tersenyum--- nyaris menyengir melihat tingkah malu-malu Rama.


"Kei kerjaannya godain anak cowok mulu. Udah tahu pada gampang baper mereka."


Aku menatap Linda yang bersuara. Dia sepertinya habis tertawa keras, terlihat dari tetesan air di sudut matanya.


"Hah? Baper? Makan dong, kantin buka kan?"


"Lapeeeer itu Keishaaa."

__ADS_1


Aku terkikik geli.


Astaga, perutku sakit sekali.


Bagaimana bisa mereka kompak menyoraki ku seperti itu?


Setelah reda tawaku, aku kembali menatap teman-teman sekelas ku yang masih saja membahas tentang Rama dan banci lampu merah.


Hmn, aku bertanya-tanya apa untungnya penasaran akan hal itu?


Tapi yah, kalian tahu sendiri. Bocah SMA kelas dua belas itu tidak ada yang beres. Apalagi saat menjelang ujian. Percayalah, mereka akan lebih suka berkumpul sambil bercerita tentang hal-hal yang tidak masuk akal sambil tertawa dan bahkan saling mengejek.


Karena menurut sebagian besar populasi kelas dua belas di sepanjang pulau Indonesia, saat-saat menjelang ujian itu adalah saat terpenting mengukir sebuah kisah yang akan membuat kita ingat masa-masa di tahun terakhir bangku sekolah.


It's so right, hmn?


Aku memandang keluar jendela kelas. Terkadang rasanya nyaman jika bercanda seperti ini di dalam kelas. Meskipun sampai saat ini, tak ada teman kelas yang kuizinkan untuk menyentuh zona nyamanku. Tapi aku tetap berinteraksi dengan mereka, meninggalkan kesan yang mungkin akan selalu aku ingat ketika kami lulus nanti.


.


.


Bel pulang berbunyi.


Aku melirik jam di layar ponselku yang menunjukkan pukul dua siang. Dengan segera aku bangkit, membereskan buku-buku dan mengambil tas yang kuletakkan di samping meja.


Melangkah pelan menyusuri koridor, tibalah aku di depan sekolah. Aku menghela napas pelan. Ada rasa yang mengingatkan aku pada Nenra.


Biasanya saat waktunya pulang begini Nenra selalu ada untuk menjemput ku, yah walaupun hari ini sekolah pulang lebih cepat dari biasanya karena ujian.


Lagi-lagi aku menghela napas. Sambil mengotak-atik ponsel, aku berusaha memesan taksi atau ojek online untuk pulang. Bisa saja aku naik angkutan umum, tapi terimakasih pada Nenra yang melarangku untuk itu. Kata Nenra angkutan umum rawan preman. Yasudahlah.


"Lah Kei, belum balik?"


Aku menoleh ke sumber suara.


Tampak Kevin berdiri tepat di depanku. Di tangannya, terdapat helm dan kunci motor. Sepertinya ia juga akan segera pulang. Mungkin.


Aku tersenyum padanya. "Belum. Lagi nyari taksi online soalnya." Kataku menjawab pertanyaan Kevin sebelumnya.


Kevin mengangguk.


"Cowok lu mana? Perasaan gue akhir-akhir nggak liat dia." Tanya Kevin lagi. Tampak wajahnya menampilkan raut penasaran.


Aku mengangguk. "Nenra lagi ada seminar di Bandung. Sekalian praktek--- apalah nggak ngarti."


Kevin mengangguk-angguk. "Yaudah bareng gue aja! Daripada lu nyari taksi online." Ajaknya kemudian.


Aku berpikir sebentar.


Kurasa itu bukan ide yang buruk. Lagian kalau Nenra tahu, dia mungkin akan menyarankan untuk ikut dengan Kevin. Karena yang kutahu mereka sudah saling mengenal.


Aku lantas mengangguk menerima ajakan Kevin. Dia tersenyum dan mengajakku ke parkiran untuk mengambil motornya. Kebetulan saat itu keadaan parkiran tampak lenggang karena sebagian siswa dan siswi telah keluar dari sekolah.


Selagi Kevin mengeluarkan motor, aku menatap sekeliling. Tampaknya Geby dan Dita telah keluar juga. Dua gadis itu melambaikan tangan padaku lalu bermain mata. Tapi setelahnya mereka tertawa.


Kebiasaan.


"Pulang sama siapa?" Tanya Geby saat tiba di dekatku sementara Dita tengah berusaha mengeluarkan motornya dari parkiran.


Aku memberi isyarat dengan mataku pada Geby sambil melirik ke arah Kevin yang mulai menstater motornya.


"Kevin?" Aku mengangguk. "Seriusan lu Kei?"


Aku mengernyitkan dahi.


Kenapa Geby memasang wajah nggak percaya?


"Kamu nggak percaya?"


Geby menggeleng. "Bukan nggak percaya, cuma memastikan bener apa nggak."


Aku terkekeh.


Dasar Geby, ada-ada saja.


"Ayo Kei!"


Aku menoleh. Kulihat Kevin telah siap dengan motornya. Aku lantas mengangguk. Memberi lambaian tangan pada Geby, aku naik ke atas jok motor Kevin.


"Gue duluan ya Geb?" Kevin berpamitan pada Geby. Temanku itu lantas mengangguk.


Aku tersenyum padanya yang masih menatapku dengan pandangan heran. Kulihat Dita juga keluar dari parkiran.


Aku hanya tersenyum.


Rasanya benar-benar berbeda ketika tidak ada Nenra. Laki-laki itu benar-benar membawa perubahan besar dalam siklus hidupku.


Karena saat kita dekat, hampir di semua hal yang kulakukan akan selalu ada sosoknya.


Berbeda dengan saat ini.


Naik motor, dan pulang bareng teman sekolah. Hal seperti ini tidak akan bisa aku dapatkan setiap hari. Kecuali...


... saat kita jauh.


Bersambung...


An:


Hayoloh Nenra nggak ada 😂 sengaja pengen bikin episode yang nggak ada Nenra-nya.


Stay ya! Episode depan bakal ada konflik.

__ADS_1


Mungkin?


__ADS_2