My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Bersama dengan Dia


__ADS_3

Sekilas, aku teringat akan sesuatu.


Sesuatu tentang kenanganku di masa lalu.


Masa lalu yang coba untuk kulupai namun tak sempat terbuang.


.


Kejadian ini terjadi satu tahun yang lalu.


Aku ingat saat itu Nenra masih berada di tahun ke dua nya. Dia tidak sesibuk sekarang, begitu pula aku. Kami sering menghabiskan waktu bersama namun tak se-intes sekarang.


Hal yang merubah perilaku kami menjadi lebih terbuka satu sama lain adalah adanya pihak ketiga. Yah, pihak ketiga. Itu masalah yang selalu ada diantara sepasang kekasih bukan?


Aku ingat saat itu hubungan kami seperti dipertaruhkan oleh keadaan.


Aku dan Nenra berteman sejak kecil karena orang tua kami bersahabat. Sosok Nenra pada awalnya terlihat seperti kakak di mataku. Dia sangat perhatian dan benar-benar brotherable sekali. Tapi kemudian setelah menginjak masa remaja, rasa itu mulai berubah. Aku menyadari bahwa aku menyayangi Nenra sebagai seorang laki-laki. Bukan sebagai seorang kakak lagi.


Aku nggak tahu pasti sejak kapan perasaan itu berubah. Hanya saja, melihat Nenra bersama dengan gadis lain dengan jarak satu inchi membuatku kesal.


Dan yah, aku cemburu.


Aku mengungkapkan perasaanku pada Nenra saat menginjak kelas sepuluh. Itu terjadi dua tahun yang lalu. Awalnya aku ragu dia akan menerimaku, tapi di luar dugaan. Nenra justru tersenyum malu dan mengatakan bahwa seharusnya dia yang mengatakan hal itu.


Dia punya perasaan yang sama padaku.


Senangnya~


.


Menjelang tahun pertama hubungan kami, kejadian tidak mengenakan kerap kali terjadi. Wajar saja, aku masih kelas sepuluh sementara Nenra masih di tahun pertamanya menjadi mahasiswa kedokteran. Aku masih sangat labil saat itu. Dan kami bertengkar.


Mengingat saat itu saja membuatku ingin mengubur diriku hidup-hidup. Kalau perlu, aku ingin mengasingkan diri. Tapi aku takut merindukan Nenra. Ah, dilema.


Problem yang paling membekas di kepalaku ialah hadirnya seorang perempuan menyebalkan yang mengaku mantan teman kelas Nenra. Bukan mantan pacar karena pacar pertama Nenra itu aku. Begitulah.


Namanya Cantika. Seperti namanya, dia sosok yang cantik. Senyumnya manis dan bentuk tubuhnya proporsional. Tapi tidak dengan hatinya.


Cantika naksir Nenra sejak awal SMA. Dia selalu berusaha menarik perhatian Nenra bahkan sampai masuk jurusan yang sama dengan Nenra. Tidak kah itu gila? Dia benar-benar tidak waras!


[Flashback on]


Aku benar-benar kesal.


Hari ini, aku dan Nenra tengah menghabiskan waktu berdua di sebuah kafe langganan. Kami baru selesai jalan-jalan, menikmati hari minggu di luar rumah. Semua berjalan baik pada awalnya,  tapi mendadak hariku kacau!


Saat aku tengah menikmati waktu dengan Nenra, tiba-tiba muncul Cantika. Gadis itu dengan seenak jidatnya duduk di samping Nenra yang duduk di depanku. Dan parahnya, dia mepet sekali!


"Nenra~" ugh, suaranya bahkan dibuat mendayu begitu. Apa sih maksudnya?


Kulihat Nenra melirik ku. Aku menatap datar, berbicara lewat tatapan tentang siapa gadis di sampingnya itu.


"Ini Cantika, teman kuliah sekaligus teman SMA ku dulu." Kata Nenra menjelaskan.


Aku menatap Cantika, lalu mengulurkan tangan hendak berkenalan. Tapi bukannya menerima uluran tanganku, dia malah tersenyum sambil bergelayut manja di lengan Nenra.


Aku ingin memakannya saat itu juga.


"Gue Cantika, calon masa depannya Nenra~"


Buah!


Aku benar-benar ingin mengumpat.


Aku menatap Nenra tajam, meminta penjelasan tentang kalimat tanpa pikir panjang dari gadis bernama Cantika itu.


Nenra menggeleng. Ia menatap risih pada Cantika, lalu berusaha melepaskan tangannya dari pelukan Cantika. Sungguh, aku nggak rela melihat gadis itu memeluk Nenra ku!


"Tika lepasin..."


Aku melirik Nenra.


Apa-apaan panggilan akrab barusan? Dia memanggil Cantika dengan Tika lho! Sedekat itukah mereka?


"Kenapa sih Nen? Biasanya juga gini kalau di kampus."


"Hah?"


Suaraku keluar begitu saja.


Cantika menatapku sekilas dengan wajah menyebalkan. "Iya, kenapa? Lo keberatan?" Tanyanya.


Rasanya aku ingin benar-benar memukulnya. Nafsu makan ku hilang. Aku bangkit dari kursi, tanpa menatap Nenra aku berlalu.


"Jangan lupa dibayar!" Ketusku. Percayalah, itu kode agar Nenra segera pergi dari sana menjauhi Cantika.


"Kei, Keisha!"


Aku nggak memperdulikan panggilan Nenra dan mencoba untuk nggak mendengarkan apapun.


"Kamu mau kemana sih Nen? Udah sini saja sama aku~"


Ugh, aku benar-benar kesal. Tanpa menunggu lagi, aku berjalan keluar dari Kafe. Sekuat tenaga aku berjalan cepat hingga Nenra tak sanggup mengejarku.


Ini buruk.


Aku cemburu.


Ah, begitulah aku saat cemburu. Aku nggak suka melihat Nenra berdekatan dengan gadis lain. Itu menyakitiku. Walaupun terdengar kekanakan, aku akui aku benar-benar cemburu melihat mereka.


Rasanya aku ingin menangis.


Aku kesal dengan fakta bahwa aku sangat mencintai Nenra dan begitu posesif terhadapnya. Aku bahkan takut itu akan membuat Nenra menjauhiku. Tapi apa aku salah jika cemburu dengan teman kelas Nenra? Tidak kan? Soalnya Cantika itu menyukai Nenra seperti aku mencintai pacarku itu.


Ah, ini menyebalkan!

__ADS_1


Aku teringat ucapan Cantika tadi. Dia bilang dia dan Nenra sering dalam posisi seperti tadi saat di kampus. Tapi Nenra nggak pernah cerita. Dia bahkan nggak pernah bilang kalau punya teman bernama Cantika. Baru tadi itu dia mengenalkan Cantika padaku.


Nenra, kenapa kamu nggak ngomong?


"Kei!"


Aku tersentak.


Dengan jelas aku mendengar suara Nenra. Aku pikir aku berimajinasi, tapi begitu menoleh, Nenra sudah berada di belakangku. Tampaknya ia kelelahan entah karena apa.


Habis lari mungkin?


Aku menatap Nenra kesal. "Ngapain kamu?" Ketusku. Aku kesal sekali jika mengingat kejadian tadi.


Nenra menarik napas beberapa kali. Ia berusaha menormalkan nafas beratnya.


"Tunggu aku." Kata Nenra.


Aku mendengus. "Buat apa? Kan kamu lagi sama Tika." Kataku. Aku malas menatap wajah lelah Nenra, itu membuatku jadi nggak tega.


"Kok gitu sih?" Suara Nenra terdengar tak terima. "Aku nggak mau sama Tika. Maunya sama kamu."


Harusnya aku senang, tapi entah kenapa saat itu aku hanya diam. Kesal saja jika mengingat wajah Cantika tadi.


"Kei..." Nenra menarik tanganku. Ia memutar tubuhku agar menatapnya. "Hei, dengerin aku dulu..."


Aku menatap Nenra datar.


Kebiasaanku saat marah memang sedikit ekstrim. Aku tak suka beralibi dan lebih jujur mengungkapkan perasaan lewat tatapan mata.


Nenra menangkup kepalaku dengan dua telapak besarnya. Ibu jarinya bergerak pelan mengelus sudut mataku yang berair.


Apa aku menangis?


Aku nggak sadar.


Beneran.


Aku menunduk. Tanganku ikut mengusap mata, mencoba menahan air mata yang mungkin akan mengalir jika tanpa pertahanan.


"Kei..."


Aku bisa mendengar Nenra, namun aku belum niat untuk menatapnya sama sekali.


"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan." Kata Nenra. Kudengar ia menghela napas pelan. "Apa yang bikin kamu marah banget?"


Aku melirik Nenra, menatapnya bingung.


"Aku tahu kamu marah akan banyak hal. Tapi apa yang paling bikin kamu marah, hm? Aku bisa jelasin..." terang Nenra.


Aku menatap ragu.


"A---" Aku menggeleng. Entah kenapa aku ragu untuk bertanya.


Nenra menghela napas lagi. Ia tersenyum.


Aku menatap Nenra. "Terus?" Tanyaku. Aku benar-benar penasaran kelanjutan dari cerita Nenra.


Nenra tersenyum. "Aku nolak dia."


Aku melongo.


Nenra nolak Cantika? Astaga, dia gadis yang cantik terlepas dari kelakuannya. Tapi kenapa Nenra menolak? Oke. Bukannya aku menyuruhnya menerima Cantika hanya saja, Cantika itu sempurna sekali sebagai perempuan lho.


"Kenapa ditolak?" Tanyaku penasaran.


Hening.


Aku nggak tahu kenapa Nenra memilih terdiam cukup lama.


"Aku nggak bisa jadian sama orang yang nggak aku sayang."


Ah, ucapan Nenra ada benarnya. Meskipun Cantika sempurna sekalipun, jika Nenra tidak suka, dia tidak akan mau kan? Kenapa beberapa detik yang lalu pikiranku sangat sempit ya? Aku baru sadar bahwa sosok ku benar-benar menyebalkan saat itu.


"Waktu itu aku udah sayang sama Kei. Jadi aku nolak Cantika dan bilang kalau aku suka sama adek aku sendiri."


E-eh.


Apa maksudnya?


"Nenra ngomong apa sih?" Bingungku. Aku menatapnya kesal.


Nenra menghela napas. "Aku bilang aku sayang Kei. Waktu itu aku sempat anggap Kei seperti adik kandung kan? Makanya aku bilang aku suka sama adik aku sendiri."


Aku pasti tersipu. Kurasakan pipiku memanas. Sementara itu, bisa kudengar jantungku berdetak kelewat cepat. Detakan nya membuatku nyaman namun malu disaat yang bersamaan.


Tapi...


Aku teringat kalimat Cantika di kafe tadi. Ngomong-ngomong saat ini aku dan Nenra berdiri si samping sebuah taman kecil yang tampak nyaman.


"Apa maksud Cantika waktu dia bilang kalau posisi kamu sama dia tadi udah biasa di kampus?" Tanyaku. Aku menatap Nenra meminta jawaban yang jujur.


Nenra menghela napas.


"Cantika suka nempelin aku kemana-mana. Aku bahkan nggak tahu kenapa dia masuk jurusan kedokteran juga."


Dia anak kedokteran? Pikirku saat itu.


"Nenra nggak pernah cerita tentang Cantika selama ini." Ujarku. Aku menatapnya penuh selidik. "Kenapa kamu nggak pernah cerita? Kamu mau diam-diam jadiin dia yang kedua kan??"


Oke, aku tahu itu tuduhan yang sangat keterlaluan. Tapi sungguh. Aku bahkan memikirkan tentang kemungkinan itu sejak tadi.


"Kok Kei ngomongnya gitu?"


Aku tahu Nenra kesal. Itu terdengar jelas dari suaranya yang tertahan. Kurasa Nenra berusaha untuk tidak berteriak.

__ADS_1


"Memangnya di mata Kei aku seperti itu?" Tanya Nenra.


Aku terdiam. Tidak-tidak, aku membuat Nenra sedih. Apa aku salah? Apa kalimatku sebelum ini salah? Apa aku benar-benar menyakitinya?


Suara Nenra bergetar. Dia menatapku dengan pandangan sarat akan kecewa. Ah, aku nggak mau membuatnya kecewa. Tapi aku nggak tahu gimana caranya berbicara dengan benar.


Aku hanya mau bilang kalau aku cemburu.


Aku hanya mau bilang kalau aku juga kecewa padanya.


Aku hanya mau bilang kalau aku nggak suka sama Cantika.


Aku hanya mau bilang kalau aku nggak mau Cantika berada disekitar Nenra.


Aku hanya mau bilang kalau aku..


... aku ingin Nenra lebih terbuka padaku. Aku ingin Nenra jujur padaku. Aku benar-benar ingin itu.


Tapi lidah ini rasanya kelu. Ingin berucap, namun seperti tertahan oleh sesuatu. Ini buruk. Benar-benar buruk sekali.


"Aku---" aku menarik napas. Memberanikan diri, aku menatap wajah Nenra. Ia menatapku, namun wajahnya sarat akan kecewa.


Kenapa dia kecewa? Dimana salahku sebenarnya?


"Kenapa kamu lihatin aku kek gitu? Aku nggak salah. Ini semua salah Nenra." Kataku akhirnya.


Lihat? Aku benar-benar labil. Benar-benar sulit mengungkap kan apa yang kurasa dan lebih mudah untuk mengatakan hal yang berkebalikan. Ah, ini memalukan!


Nenra menghela napas. Entah kenapa aku mengerti arti helaan napas panjang itu. Aku yakin Nenra berpikir aku kekanakan, aku yakin aku merepotkan. Tapi percayalah, aku hanya butuh keterbukaan.


"Aku nggak tahu apa yang Kei pikirkan tentang aku." Katanya. Ia menatapku. "Aku cuma mau bilang kalau aku nggak main-main sama kamu Keisha. Aku nggak peduli seberapa banyak kamu berpikir aku menyebalkan atau aku menjengkelkan. Selama aku tahu Kei cuma untuk ku, aku sudah amat sangat senang."


Aku menatap Nenra. Sekuat tenaga aku berusaha mengungkapkan maksudku sebenarnya.


"Aku sayang Nenra." Kataku. Aku menunduk, menolak menatap wajah manis Nenra. "Aku cuma mau Nenra jujur aja."


"Aku udah jujur sama kamu Kei."


Aku menggeleng. Kepalaku mendongak untuk menatapnya. "Nenra nggak jujur sebelumnya. Kamu bilang Cantika suka nempelin kamu kemana-mana. Tapi kamu nggak pernah bilang waktu aku tanya lagi sama siapa. Kamu nggak bilang kalau ada cewek yang naksir kamu sampai nyaris mendekati gila."


Aku menarik napas panjang. "Aku benar-benar nggak tahu apa aku salah udah marah-marah kek gini." Kataku. "Aku cuma mau Nenra jujur. Aku nggak akan marah kok kalau Nenra ngomong tentang ini sebelumnya. Setidaknya, aku udah nyiapin hati untuk itu. Tapi Nenra malah---"


"---ssshhh." Nenra mendesis. Dia tersenyum menatapku. "Oke, aku tahu aku salah. Aku cuma nggak mau bikin Kei khawatir. Tapi kalau aku tahu begini jadinya, udah pasti aku bakalan ngomong ke kamu. Aku cuma nggak mau kamu ngerasa beban kalau aku bilang ada cewek yang ngejar aku Kei."


Nenra menghela napas. Ia memberi jeda yang sangat lama dalam ucapannya.


"Aku cuma nggak mau kamu kepikiran. Itu bakal ganggu kamu. Apalagi Kei kan cemburuan."


Aku mengulum sedikit senyum.


"Aku nggak marah kalau kamu bilangnya lebih awal." Kataku. Aku menatap Nenra. "Aku cuma mau Nenra jujur. Kalau gitu kan, walau nanti ada salah paham aku udah tahu sejak awal." Terangku.


Nenra menatapku. Ia tersenyum sangat manis. Membuatku merasa luar biasa bahagia menatapnya.


"Aku nggak akan ulangi itu. Jadi bisa aku minta maaf?" Tanya Nenra. Ia menatapku serius.


Aku mengangguk sebagai jawaban.


"Maafin aku ya?"


Aku terdiam. Diam-diam mengulum senyum. "Uhum." Angguk ku. "Tapi Nenra harus jujur ya? Jangan diam lagi."


Nenra mengangguk. "Itu pasti."


Aku memeluk Nenra, menyalurkan hangat yang kurasakan tepat setelah kesalahpahaman ini berakhir. Aku suka wangi Nenra, itu membuatku berkali-kali lipat merasa lebih nyaman.


"Maaf..." bisik ku. "Aku nggak serius kok waktu bilang kalau Nenra mau duain aku. Aku cuma memikirkan kemungkinan yang bikin aku galau siang malam. Niatnya nggak benar-benar ngatain Nenra. Soalnya aku sayang Nenra."


Bisa aku rasakan elusan lembut di puncak kepalaku. Karena nyaman, aku menenggelamkan wajahku di bidang Nenra.


"Ini terakhir kalinya? Kedepannya jangan gini lagi." Bisik Nenra. "Kalau Kei merasa bimbang, cerita saja. Itu akan jauh lebih baik ketimbang kamu diam."


Aku mengangguk.


"Aku sayang Nenra."


Aku sempat mendengar Nenra terkekeh sebelum menjawab. "Aku juga."


Nenra itu pemalu. Dia nggak akan mengungkapkan perasaan nya dengan gamblang. Tapi hanya dengan jawaban itu aku bersyukur.


Aku bersyukur dicintai sosok seperti Nenra.


[Flashback off]


Aku menghela napas pelan.


Ingatan-ingatan itu membuatku merasa lebih baik.


Waktu itu aku dan Nenra berjanji bahwa kejadian yang serupa nggak akan terulang lagi. Kami berjanji kesalahpahaman seperti itu nggak akan terjadi lagi.


Aku menarik napas. Sejak awal harusnya aku tahu kalau Nenra akan baik-baik saja. Dia sudah berjanji. Jadi aku nggak perlu khawatir soal itu.


Nenra...


Maafkan pacarmu yang masih labil hingga detik ini...


Aku terkekeh.


Hal yang paling aku syukuri sampai saat ini atau mungkin selamanya adalah...


...bisa bersama dengan dia.


Bersambung....


Makasih dah mampir! Teruntuk siders, makasih udah mau baca tanpa meninggalkan jejak 😁 *kode* ekhem!

__ADS_1


Oke, maap kan kyuun.


__ADS_2