My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Chapter 22


__ADS_3

"Woah gambarnya dinosaurus."


"Hehe lucu kan, kak Ezra yang milihin tuh."


Fero menatap berbinar plester luka bergambar dinosaurus yang telah menutup luka di lututnya. Terlihat lucu baginya.


"Nah~ kalau gitu bilang apa sama Kak Ezra?"


Nanaz berujar sambil mengambil posisi duduk di samping kanan Fero. Sedangkan Ezra berada di sebelah kiri Fero sambil membuang muka dengan wajah sebal.


"Te-terima kasih Kak Ezra."


"Cih."


"Ezra, Fero bilang terima kasih loh."


"Iya-iya! Udah siap diobatin kan, kalau gitu pigi lo sana!"


"Ganggu orang pacaran aja." Cetusnya.


Fero kembali memandang takut sambil memeluk lengan Nanaz, menggeser duduknya menjauh dari Ezra.


Nanaz terkekeh, mengelus puncak kepala Fero. Lucu sekali tingkah mereka pikirnya.


"Ezra itu apa?"


Tanya nanas sambil menunjuk plastik biru yang sedari tadi dibawa Ezra.


"Oh iya aku lupa. Tadi gara-gara ada tuyul lewat es krim kita jadi jatuh." Katanya sambil melirik Fero.


"Waktu aku lihat penjualnya udah pergi. Gantinya aku beli susu kotak deh hehe."


"Cuman dua?"


"Iya aku gak terlalu suka susu."


Nanaz menarik senyumnya, hendak menggoda Ezra. "Oh gitu, berarti kamu juga beliin Fero ya?"


"Ya ampun ternyata Ezra perhatian banget ya sama anak-anak."


Ezra tersentak, menggeleng cepat dengan wajah yang sedikit tersipu.


"Bu-bukan!"


"Heh bocah!" Ezra menunjuk Fero dengan jari telunjuknya, "Jangan kepedean lo ya! Gue bukannya beliin lo, tapi beli satu gratis satu. Ngerti?!"


Fero hanya asal mengangguk sambil mengeratkan pelukannya pada lengan kiri Nanaz. Sedangkan gadis itu tengah menahan tawanya, Ezra lucu sekali bila berhadapan dengan anak kecil.


"Fero, kamu kelas berapa disekolah?"


"Fero kelas dua kak!"


"Kelas dua ya? Kalau gitu, seharusnya Fero udah pulang sekolah dari tadi dong?"


"Ini udah sore loh kok Fero belum pulang kerumah?"


Fero menundukkan kepalanya, menatap kedua tangannya yang ia tautkan.


"Fero gak mau pulang."


"Eh, kenapa? Nanti mama Fero nyariin loh."


"Fe-fero takut sama mama."


Ezra tersentak, memegang kedua bahu Fero erat. Menatap serius dengan tatapan tajam.


"Lo dianiaya sama nyokap lo?!"


Fero menggeleng takut-takut, melihat bahunya yang dicengkram kemudian menunduk.


"B-bukan kak."


"Ezra kok kamu nanya nya sarkas banget sih. Gak mungkin kan mama nya Fero mukul anaknya?"


Nanaz menegur, sedikit kaget dengan sikap Ezra yang mendadak menjadi seperti itu.

__ADS_1


Ezra menghela nafas lega, melepas cengkramannya pada bahu Fero. Dalam hati menertawakan dirinya sendiri, tersenyum miris.


Iya, mana mungkin seorang Ibu menganiaya anaknya. Ini mama Fero, bukan mama nya dulu. Ezra memejamkan matanya, menarik nafas dalam.


"Ingat goblok. Seorang ibu itu punya sifat yang beda-beda, jangan samain sama wanita itu."


"Ezra kamu gak papa kan?"


Ezra membuka matanya, tersenyum pada Nanaz yang terlihat khawatir.


"Hn, Emang aku kenapa? Hehe."


"Jadi, kenapa lo takut sama mama lo?"


"Fe-fero ngilangin tupperware mama. Kalau Fero pulang pasti di marahi. Jadi Fero mau kabur aja!"


"Pffffttt, bwahahahaha!"


"Anjer dasar bocah bengek lo, pfffftt bwahahaha."


Nanaz dan Fero melongo, kaget dengan Ezra yang tiba-tiba tertawa keras sampai menunduk. Tangan kanannya memegang erat perutnya sedangkan satunya menepuk-nepuk pahanya sendiri sampai beberapa detik.


"Haduh..." Ezra mengusap air matanya yang sedikit keluar disudut mata.


"Sialan, bisa mati secara tidak estetik gue kalau ketawa mulu."


"Heh bocah!" Ezra menepuk puncak kepala Fero. Cukup kuat hingga membuat bocah itu tersentak menahan sakit. Fero memajukan bibirnya, memasang wajah cemberut pada Ezra.


"Fero bukan bocah!"


"Dasar, gak ngaku bocah tapi ingus masih meler." Ejek Ezra.


"Denger ya Fero, masih kecil gak boleh sok-sokan kabur dari rumah deh. Emang lo mau tidur di mana hah?"


Terdiam, bocah itu mendadak gugup. Membenarkan ucapan Ezra.


"Fe-fero bisa tidur disini kok!"


"Atau Fero bisa nginep dirumahnya kakak cantik!" Jawabnya sambil kembali memeluk lengan Nanaz.


"Heh?! Dasar bibit pakboy!"


"Woahh Fero mau!" Jawab Fero dengan mata berbinar. "Fero mau ke planet Mars!"


Menepuk jidat, Ezra memandang Fero malas. Berakhir menghela nafas panjang dan henak melanjutkan ceramahnya.


"Denger ya Fero. Mendingan lo pulang kerumah sekarang. Jatuh kayak tadi aja lo udah nangis kesetanan, apa lagi kalau sampai ada apa-apa nanti."


"Emang lo gak kasian apa sama mama lo dirumah khawatir nyariin lo? Kalau mama lo jantungan terus masuk rumah sakit emang lo gak nyesel?"


"Gak mau! Fero gak mau mama masuk rumah sakit, Fero sayang sama mama!"


"Nah, anak pintar. Dapat banyak pahala besok masuk surga deh."


Fero memejamkan matanya saat menerima usapan tangan dikepala. Ezra memamerkan deretan gigi putihnya sambil mengacak rambut Fero. Merasa bangga dengan dirinya sendiri karena telah menasehati seorang anak.


Nanaz yang sedari tadi memperhatikan mengembangkan senyumnya. Tersipu dengan raut wajah yang ditampilkan Ezra saat ini. Indah, manis dan tampan sekali.


Hatinya menghangat melihat interaksi di hadapannya. Ezra terlihat seperti seorang ayah yang menasehati anaknya. Ya walaupun cara menasehatinya terbilang aneh.


Apalagi saat Ezra mengusap puncak kepala Fero dengan tulus. Benar-benar membuat pikirannya melayang jauh ke masa depan. Memikirkan bagaimana jika Ezra menjadi ayah dari anak--


'Ehh?? Aaaaaaa aku mikir apa sih astagaa!"


Nanaz menggeleng, menepuk-nepuk kedua pipinya yang memerah karena pikirannya sendiri. Mengabaikan dua tatapan bingung di hadapanya.


"Naz?"


"Kakak cantik gak papa?"


"A-ahhahaha!" Nanaz menggaruk tengkuknya.


"Kalian berdua lucu banget sih. Kita foto bertiga yuk."


***

__ADS_1


Motor milik Ezra telah memasuki pekarangan rumah Nanaz. Setelah berhenti tepat di depan teras, Nanaz kembali menutup gerbang rumahnya.


Ezra membuka sepatunya, di ikuti dengan Nanaz kemudian. Mengucap salam ke arah pintu yang setengah terbuka, menandakan ada orang di dalamnya.


"Assalamualaikum." Ucap mereka serentak.


"Kak, kami pulang."


Keduanya memasuki rumah, pemandangan pertama dari ruang tamu Nanaz adalah koper yang terbuka dan bungkus oleh-oleh tanpa pemiliknya disana.


"Asik, kak Karin bawa banyak oleh-oleh. Mwehehehe."


"Ezra mau minum?"


"Enggak Naz, aku cuman bentar kok. Cuman mau numpang solat Ashar aja."


"Eh kenapa?"


Ezra melirik jam dinding rumah Nanaz, "Bentar lagi mama pulang dari rumah temennya. Aku janji mau jemput."


Nanaz membulatkan mulutnya, ikut duduk disamping cowok itu. Ezra menggeser duduknya dan mengacak gemas rambut Nanaz.


"Tenang aja, nanti pasti aku balik lagi habis isya bawa martabak untuk Nanaz. Jangan kangen dulu ya! Mwehehe."


Gadis itu langsung mengulas senyum, mengangguk dengan cepat. "Kalau gitu ak--


"Hoaaamm."


Karina yang tiba-tiba datang meregangkan kedua tangannya ke atas. Kaus putih dan celana pendek yang terlihat kusut pertanda bahwa ia habis bangun tidur.


"Eh? Kakak tidur pintunya gak di kunci?!


"Kalau ada apa-apa gimana??" Tegur Nanaz.


"Ehmn, lo kelamaan. Ketiduran deh gue."


"Eh!?"


Karina yang awalnya tengah merapikan ikatan rambutnya kini berhenti. Menatap Ezra yang duduk manis di sofa dan menatapnya.


"Hwaaa Ezraa! Udah lama gue gak liat lo tau gak."


"Makin ganteng anjir, pantes si Nanaz nempel mulu!"


Kini tiba-tiba berlari, duduk disamping cowok itu dan terkekeh-kekeh. Tangan kanannya terulur untuk mengacak, ah ralat, memberantakan rambut Ezra.


"Duh kak, rambut udah rapi-rapi di berantakin."


"Eleh-eleh diam lo Naz."


"Oi! kalian lama banget sih balik, gak ngelakuin yang aneh-aneh kan?"


"Aneh-aneh gimana?" Sahut Nanaz.


"Mojok lah di gelap-gelapan, eh pulang-pulang bawa bayi gemoy."


Nanaz menoleh cepat, memukul pelan bahu Karina. "Ya gak mungkin lah, astaga kak Karin!"


"Astaghfirullah, istighfar sana kak nambah dosa aja. Mana mungkin aku tega ngerusak Nanaz!"


"Oh iya-iya, lagian kan Nanaz tepos. Pasti gak menggoda buat diapa-apain, ya kan Zra?"


"Kak Karina!"


"Ha?"


Ezra melongo, mencerna ucapan Karina. Kemudian perlahan atensinya beralih pada dada Nanaz untuk memastikan ucapan wanita itu.


"Eh, enggak tuh."


"Tenang aja Naz, dada kamu gak tepos kok!" Katanya sambil mengacungkan jempol.


"Pffftt bwahahahaha!"


"EZRAAAAAA!"

__ADS_1


...Tbc...


Haiii sebelum keluar jangan lupa vote dan komennya yaah! biar aku semangat nulis.


__ADS_2