My Cute Boyfriend

My Cute Boyfriend
Chapter 16


__ADS_3

"Woi oi oi, Apa ni?!"


"Wow! Gaes tampol gue sekarang! Gue gak salah liat kan?!" Heboh Doni.


Plak!


Bugh!


"Anjer woi! Sakit syaland."


"Enak Don? Mau lagi?" Kekeh Rafa.


"Heh Doni! Tadi kan lo sendiri yang nyuruh nampol." Ketus Yuna.


"Ya tapi gak beneran gitu juga dong sayang."


Yuna mendelik jijik melihat makhluk disampingnya. Menggeser duduknya agar sedikit lebih berjarak dari Doni.


Nanaz dihadapan mereka yang duduk di antara Ezra dan Lucas ikut tertawa melihat reaksi Doni.


Sementara Ezra dan Lucas, sang topik utama pembicaraan mereka kali ini hanya membuang muka dengan kesal.


Setelah mengusap bahu dan kepalanya yang di tampol Yuna dan Rafa bersamaan, Doni kembali melihat layar Handphone Nanaz.


"Ini kenapa si macan kurang belaian sama Lucas si anak pungud bisa akur gini woi!"


Rafa dan Yuna kembali mendekat ke arah Doni yang berada ditengah mereka, memegang ponsel Nanaz. Layar ponselnya menampilkan foto Ezra dan Lucas yang tengah berjalan berdua sambil bergandengan tangan.


Yuna terbelalak, merebut ponsel Nanaz dari Doni dan berteriak gemas.


"KYAAAAA!"


"Imut bangeet ini astagaaa, Nanaz gue minta fotonyaaa."


"Kayak kakak adek, udah cocok banget." Timpal Rafa.


"Bukan, bukan kakak adek,"


Doni menggantung kalimatnya, berpose seolah berfikir. Membuat yang lainnya menanti tak sabaran, termasuk Ezra dan Lucas yang sebelumnya tampak acuh tak acuh.


"Kayak apaan woi!" Kata Rafa tak sabaran.


"Oh itu tuh! Kayak pasangan gay yang di pilem-pilem."


Brakk!!


"NAJIS ANJIR!!"


Semuanya refleks menutup mulut melihat keserentakan mereka berdua. Termasuk Nanaz yang di antara mereka sampe memegang dadanya karena kaget dengan gebrakan meja.


"Samaan ni yeee." Yuna berseru girang.


"Hhmmm, gue gak nyangka selama ini." Canda Rafa.


"Lucas napa diem aja tuh?" Ejek Doni.


Lucas menggeram kesal, "Asal lo tau aja, dibalik diam gue ada rasa ingin menampol. Jadi tolong diam."


"Ho oh! Diam kalian, tampolan gue bisa bikin nyawa melayang!" Sahut Ezra.


"Wah-wah-wah!"


"Naz liat noh, lo diselingkuhin si Ezra."


Doni sayang, kamu mulutnya kayak gak sayang nyawa ya :)


"Heh bacot lo!"


"Ini di meja ada piso ama garpu, mau di bunuh pake yang mana lo hah?!"


Nanaz menghentikan tawanya, mencoba menengahi sebelum piso sama garpu bener-bener nancep di badan Doni.

__ADS_1


"Udah-udah.... Ezra kita di liatin orang-orang loh."


"Lucas juga duduk gih."


Setelah memberi tatapan tajam yang ngalahin mata pisau, Ezra dan Lucas akhirnya duduk tenang kembali.


"Balikin hape Nanaz!"


"Duh sabar Zra, gue masih ngirim foto yang tadi. Mau gue jadiin wallpaper." Jawab Yuna.


"Heh! Berani lo jadiin wallpaper gue lindes lo pake mobil."


Nanaz menoleh kaget, "Eh tapi aku juga masang fotonya buat wallpaper." Cicitnya.


"Ya ampun Ezra, tega banget lo sama Nanaz." Celutuk Rafa.


"Lucas, rebut aja tuh si Nanaz kasihan pacarnya psikopat." Sambung Doni.


Ezra jadi gelagapan sendiri melihat raut wajah Nanaz. "Eh bukan gitu Nanaz sayang."


"Kalau Nanaz ya boleh dong, aku malah seneng hehe. Tapi seharusnya foto kita berdua aja ya, kan lebih gemoy." Rayunya.


"Tapi imut tau gak. Liat deh, gandengan tangan gini keliatan akur."


Ezra mendengus, "Yaudah gak papa deh. Asal Nanaz bahagia monas aku beli pun sanggup."


"Cih, norak." Sindir Lucas.


"Heh apa lo bilang hah?!"


"Heeem, berantem lagi. Dah lah jodoh kalian."


Ejek Yuna disambut dengan Doni sambil ber-high five. Eh tumben akur?


"Oi gak usah ikut-ikutan lo! Gue lindes beneran juga ni anak."


"Ampun bang jagoooo." Teriak Doni mengundang tawa semuanya.


Sebenarnya saat ini meraka tengah ada di Ambyar Cafe yang ada di dekat sekolah mereka. Rafa yang ngajak, katanya mau traktir mereka semua.


"Iya sih," Doni ikut membuka menu makanan. "Tapi seenak-enaknya makanan, bakalan terasa lebih enak lagi kalau di bayarin."


"Yeeeu lo mah Don nyarinya gratisan mulu."


"Eh tapi lo yang bayarin kan Raf? Lo yang ngajak kami loh ya."


Rafa mengangguk, "Iya Yun, hari ini gue yang bayarin. Lo juga Cas, pesen aja gak usah sungkan-sungkan."


"Woi lo ngapain sih ngajak nih anak juga."


Lucas melirik Ezra tajam begitupun sebaliknya. Walau ada Nanaz di antara mereka nyatanya tak menyulitkan kedua manusia tak pernah akur ini untuk saling menebar kebencian.


"Kenapa, gak suka lo?"


"Kalau gak suka cabut sana."


Ezra berdecih, baru aja ingin membalas namun di potong duluan oleh suara Nanaz.


"Rafa tumbenan ngajak makan, dalam rangka apa nih?"


"Oh! Bener juga lo Naz,"


"Ada angin apa lo nraktir kami. Gak ada maksud lain kan? Jangan-jangan lo mau nyogok kami berbuat tak senonoh."


"Heh seudzon mulu lo, heran gue."


"Eits bukan gitu boy. Anda sopan kami curiga." Jawab Doni lagi.


Rafa memutar bola matanya malas pada Doni. "Gini, sebenarnya gue baru jadian sama adek kelas."


"HAH?!"

__ADS_1


Semuanya sontak terbelalak kaget. Kecuali Nanaz sama Lucas tentunya yang masih kalem walaupun kaget.


"Waw, laku juga lo Raf." Kekeh Ezra.


"Yeee, emangnya gue si Doni, jomblo abadi."


"Heh sialan! Kok udah jadian aja lo?!"


"Napa lo, iri ye?"


"Kayaknya gue gak pernah denger lo deket sama cewek. Kok tiba-tiba?"


"Ya gitu Naz, gue kan gak suka ngumbar-ngumbar nanti taunya gak jadi. Bagus diem-diem kan."


"Terus, itu adek kelas mana?"


"Namaya siapa?"


"Cantik gak?" Tanya Yuna beruntun.


Nanaz ikut mengangguk, itu tadi yang mau ia tanyakan. Sedangkan Lucas hanya diam saja memperhatikan. Tak berniat ikut dalam perbincangan ini. Sebenarnya, perut dia udah laper hehe.


"Namanya Salma anak kelas 10, 10 IPA 2." Jawabnya.


"Anaknya sedikit pemalu, imut, kalau ngomong suaranya kecil banget bikin gue gemes. Cantik pakai banget hehe." Rafa terkekeh sendiri mengingat pacar barunya.


Nanaz menoleh pada Lucas,


"Lucas kenal? Lo kelas X IPA 1 berarti sebelahan kan ya?"


Lucas tampak berfikir sejenak, kemudian menggeleng dalam diam. Kelas X IPA 2 memang tetangganya, tapi Lucas tidak kenal dengan gadis yang bernama Salma itu.


"Tunggu-tunggu-tunggu," Yuna menumpu kedua tangannya pada meja, menoleh pada Rafa yang disebelah Doni.


"Salma... kelas X IPA 2, kayaknya gue kanal!" Katanya sambil menjentikkan jari.


"Eh beneran? Padahal dia anaknya penutup."


"Ada fotonya?"


Rafa mengeluarkan Ponselnya, menggeser pola kunci dan membuka galeri. Menunjukkan foto dirinya dan Salma yang baru diambil dua hari yang lalu.


"Tuh kan! Iya gue kenal, sepupunya miko nih."


"Hah, masak? Kok gue baru tau."


Yang lainnya ikut memperhatikan, penasaran sambil melihat foto pacar baru Rafa.


"Iya," Jedanya.


"Ya enggak kenal banget sih. Cuman tau dia aja, gue beberapa kali liat dia ngomong sama Miko. Miko bilang, Salma sepupunya." Jelasnya.


Semuanya membulatkan mulut mengangguk paham. Ezra menyerahkan Ponsel Rafa yang duduk didepannya sambil kembali bertanya.


"Terus kok gak di ajak ikut?"


"Udah gue ajak Zra, cuman dia katanya segen sama kakak kelas."


"Bagus lah, bahaya entar liat Doni dia bisa mimpi buruk." Ejek Ezra.


Doni hanya menampilkan raut kesal seolah berkata 'gue lagi-gue lagi'


"Yuna! Pacaran juga yokk, gue sendiri lo juga sendiri. Jodoh banget udah!"


"Diem lo setan!"


"Ya ampun, Yuna gak usah malu-malu kucing gitu."


"Idih, apa sih lo? Pacaran sama tembok noh, di hati gue udah ada Miko."


"Ah Miko mulu lo Yun."

__ADS_1


Nanaz dan Lucas serentak terkekeh, kasian banget sama Doni. Selalu kena bagian apesnya. Sabar ya Doni, ada Lucas juga kok yang sama-sama sendiri. Eh! Rin si author yang manis ini juga sendiri hehe :v


Tbc,


__ADS_2