
Cahaya lampu bersinar terang diantara kegelapan malam. Malam dingin dan sunyi itu tampak pudar ketika cahaya lampu menyinari kegelapan tiada ujung yang memberikan perasaan suram.
Ruang tempat tidur indah dan besar dengan warna merah muda tampak hangat dengan gadis kecil berusia 5 tahun tertidur dalam pelukan wanita cantik berusia pertengahan 30.
"Apakah Candy tahu?"
Gadis kecil cantik itu menatap ibunya dengan mata bulat berwarna ambernya yang cemerlang penuh keingintahuan.
Ibu Candy tersenyum lembut dan melanjutkan "Di Dunia ini, ada Vampire baik diantara Jutaan Vampire. Sama seperti Manusia baik diantara Jutaan Manusia Jahat. Tapi walaupun begitu, ibu ingin Candy tetap menjauh jika melihat atau bertemu seorang Vampire!"
"Ibu aku sudah berjanji melakukannya, jadi ibu tidak perlu khawatir!"
"Itu benar! Ibu tidak perlu khawatir karena tidak peduli apa, Ibu akan terus berada disisi Candy untuk melihat Candy tumbuh Dewasa dan aman!"
Dengan anggukan kecil Candy tersenyum manis, dia mempererat pelukannya hingga tertidur lelap dalam pelukan sang ibu.
"Dia sudah tidur?" Suara pria terdengar lirih ketika sosoknya berjalan mendekat kearah 2 wanita yang dia cintai
"Dia baru saja tidur!" Ibu Candy menjawab lirih dan mencium kening putrinya.
Pria itu juga turut mencium kening Candy sebelum beranjak pergi dari kamar bersama sang istri.
"Stella apa kau yakin akan melakukannya?"
Mendapatkan pertanyaan itu dari sang suami, Stella mengangguk tanpa keraguan "Untuk membuat Dunia yang lebih baik agar Candy hidup tenang dan bahagia, aku ingin membuat serum untuk menyembuhkan Vampire!"
"Kau tahu itu berbahaya bukan? Kau bisa terbunuh!" Nada suara pria itu ragu dan penuh kekhawatiran
"Tery, aku tahu ini berbahaya. Tapi aku percaya bahwa kau akan melindungiku dan Candy, jadi aku tidak takut dan akan tetap melakukan hal ini!"
Melihat ketegasan Stella, Tery menghela nafas panjang sebelum mengangguk tanpa daya "Baiklah, buat serum itu dan jadikan dunia ini tempat yang lebih aman untuk putri kita tinggal. Aku akan menghubungi Tuan Muda Edward!"
"Apakah dia bisa di percaya?!"
"Dia jauh lebih bisa di percaya daripada para Manusia!" Tery meyakinkan.
__ADS_1
Setelah malam yang panjang, Bulan di atas langit gelap di gantikan dengan Matahari yang bersinar terang dia atas langit yang biru.
Candy terbangun seperti biasa, kehidupan Tuan putri manja dan penuh kasih sayang. Walaupun begitu, didikan orang tuanya membuat gadis itu tumbuh menjadi gadis baik penuh kasih sayang dengan sikapnya yang sedikit bodoh keras kepala.
Dia bermain di taman sebelah rumahnya setelah pergi kesekolah di pagi hari seperti biasa. Di tempat sunyi dan damai itulah, Candy bertemu dengan sosok tampan yang dia panggil kakak pangeran.
"Kurasa Ibu dan Ayah menjadi lebih sibuk akhir-akhir ini... tapi mereka tetap membacakan dongeng untukku!" Suara Candy terdengar bersemangat ketika dia menceritakan banyak hal pada sosok tampan di sebelahnya.
"Kau suka mendengarkan dongeng?"
"Ya, Ibu selalu menceritakan Dongeng Sang Pangeran Vampire. Kurasa jika sosok Pangeran Vampire itu ada dia mungkin akan setampan kakak!" Mata berwarna amber Candy berkedip dengan daya tarik memikat ketika melihat pada mata berwarna perak di sisinya
"Tidak mungkin! Aku jauh lebih tampan dari Pangeran Vampire!"
"Hehe, kakak terlalu percaya diri!" Candy terkekeh pelan.
Melihat hal ini, sosok tampan disisi Candy tersenyum lembut dan mengusap rambut kepala Candy penuh kehangatan.
"Katakan! Bukankah kakak belum menyebutkan namamu?"
"Jika kakak tidak menyebutkan namamu, kita akan menjadi orang asing nanti. Dan anak kecil sepertiku tidak boleh berbicara dengan orang asing?!"
"Bukankah itu sedikit terlambat? Kita sudah berteman selama..." Pria tampan itu memperlihatkan jemari putihnya untuk menghitung berapa banyak pertemuan mereka "46 hari sejak saat itu..."
"Ah kurasa aku terlalu bodoh dan ceroboh! Ibu pasti akan memarahiku!"
Dengan rasa bersalah sosok pria itu batuk ringan dan berkata "Kau mungkin bisa memanggilku Pangeran Vampire!"
"Jangan berbohong itu tidak baik!" Candy memarahi, tapi mendesah kemudian "Sudahlah lupakan saja. Ngomong-ngomong apakah kakak memiliki kekasih?"
Dengan sedikit kedutan di matanya, sosok itu menjawab "Aku tidak memilikinya untuk saat ini..."
"Kalau begitu bagaimana jika kakak menjadi..."
"Itu tidak mungkin!" Sosok itu menjawab cepat ketika menyadari pemikiran gadis kecil disisinya yang tidak lazim "Ketika kau dewasa aku sudah menjadi pria tua yang keriput! Jadi tidak mungkin aku akan menjadi kekasihmu ataupun Pangeran Tampanmu!"
__ADS_1
"Aku tidak menyukaimu karena tampan!"
"Benarkah?" Sosok itu tampak terkejut dan bertanya dengan ragu "Lalu, kenapa kau menyukaiku?"
"Tidak ada alasan, hanya saja aku merasa nyaman dan aman disisi kakak. Dan terlebih aku merasa bahwa aku tidak bisa meninggalkan kakak sendirian!"
Sosok itu terdiam ketika dia melihat pada gadis kecil berusia 5 tahun disisinya. Dia bertanya-tanya apakah benar gadis ini masih berusia 5 tahun hingga dapat merasakan hal seperti itu.
Mata berwarna perak indah miliknya berkedip dan menatap mata berwarna amber milik Candy seolah terhanyut olehnya. Dia merasakan sosok gadis kecil ini seolah dapat melihat segalanya dan lebih dewasa dari usianya.
"Kau akan melupakanku, cepat atau lambat! Aku membuat keberadaanku selalu dilupakan oleh siapapun agar tidak meninggalkan luka!" Suara Edward terdengar lirih ketika dia menatap gadis kecil itu dengan raut wajah tampak kesepian.
Melihat hal ini Candy berkedip ketika rasa sakit yang menusuk terasa menikam hatinya. Mata berwarna Amber miliknya menatap lurus pada mata berwarna perak yang tampak dingin dan terlihat kesepian dengan rasa yang semakin mencekiknya.
Setetes air mata menggenang dan mengalir di kelopak mata tertutup rapat. Setelah mengalir cukup banyak, kelopak mata itu terbuka perlahan.
"Sebuah Mimipi?" Suara Candy parau ketika dia kembali mengingat kenangan yang baru saja terbesit di benaknya "Tidak! Itu bukan mimpi!"
Candy menggeleng pelan dan menangis semakin dalam, dia terisak dengan begitu buruk hingga tampak pilu dengan mata yang mulai membengkak!
"Candy, Kenapa kau melupakannya?! Kenapa kau melupakan Kakak lelaki yang kau temui?! Bukankah kau berkata bahwa tidak bisa meninggalkannya sendiri?!"
Dengan gumaman kecil Candy mulai mengingat segalanya. Ingatan masa kecilnya ketika dia pertama kali bertemu dengan sosok Edward.
Sosok tampannya yang berdiri sendirian dalam diam tampak rapuh dan kesepian. Karena itu pula Candy merasa bahwa dia tidak bisa meninggalkan Edward sendiri.
Tapi entah kenapa seiring berjalannya waktu, Edward menghilang tidak lagi muncul di hadapannya dan membuat ingatan Candy yang Dewasa perlahan melupakannya.
Candy bangkit dari tempat tidurnya, dia bergegas ke kamar mandi untuk membasuh dirinya dan pergi menemui Edward.
Sejak dia kecil Candy selalu merasa lebih peka terhadap sesuatu yang dia sukai. Hal itu pula lah yang membuatnya sedikit berbeda dengan kebanyakan orang. Dengan sikapnya ini pula sang Ibu selalu meminta Candy untuk lebih berhati-hati dan tidak dekat dengan siapapun.
Pertemuannya dengan Edward membuatnya menyadari, dia telah menyukai pria itu sejak lama. Sudah sangat lama hingga membuat perasaan Candy tampak akrab dan nyaman.
Tidak peduli lagi tentang masa lalu Edward atau perasaannya untuk wanita lain, Candy yakin bahwa dia tidak akan pernah bisa untuk pergi meninggalkan pria itu.
__ADS_1
Sejak saat pertemuan pertama mereka, segalanya telah di putuskan layaknya takdir. Hanya Edward, satu-satunya pria yang akan dia dampingi seumur hidupnya tidak peduli apa yang terjadi!