My Husband Is Vampire

My Husband Is Vampire
28 Full of Love


__ADS_3

Cahaya samar dari lampu malam yang terhalangi gorden terlihat hangat. Kehangatan itu seolah menjadi lebih hangat ketika sepasang kekasih saling berpelukan erat seolah tidak ingin terlepas.


Gadis cantik itu tertidur lelap dalam pelukan dada bidang yang kekar penuh kedamain. Tapi pria yang memeluk gadis itu tetap terbangun dan terus menatap sosok cantik yang tertidur pulas dalam pelukannya.


Setelah sesi pernikah mereka, Edward dan Candy tidak melakukan hal yang berbeda. Mereka hanya kembali tertidur di kamar dan melakukan hal memalukan yang tidak layak di lihat anak kecil.


Candy mengerang pelan, sebelum tubuhnya mengeliat tidak nyaman. Mata berwana amber miliknya terbuka perlahan dan mendapati sosok Edward yang tengah menatapnya.


"Berapa lama aku tertidur?" Suara Candy serak saat dia bertanya.


Edward tersenyum dan mencium keningnya "Dua jam kurasa..."


"Maaf, aku terlalu lelah!"


Edward menggeleng atas permintaan maaf Candy "Tidak, jangan meminta maaf! Akulah yang seharusnya meminta maaf! Aku terlalu ingin melakukannya dan terus menekanmu!"


Wajah Candy memerah seketika saat kalimat itu keluar dari bibir Edward. Dia ingin membanamkan wajahnya pada dada bidang Edward tapi dia malah menjadi lebih malu karena melihat tubuh t3l4nj4ngnya dan Edward.


"Apa? Kau ingin lagi?" Edward terkekeh pelan saat dia menggoda Candy yang kian memerah.


"Baik hentikan itu..." Candy mencubit lengan Edward pelan. Dia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Entah kenapa Candy merasa malu melihat tubuhnya saat ini. Terlalu banyak warna merah dan gigitan disana.


"Apa tubuhmu baik-baik saja? Apakah aku terlalu berlebihan?!"


"Tidak, aku baik-baik saja! Tubuhku sembuh dengan baik!" Candy mencoba meyakinkan Edward yang tampak khawatir padanya.


Edward hanya mengangguk pelan. Dia menghela nafa lirih sebelum mengusap rambut kepala Candy penuh kasih sayang.


"Katakan Ed, jika kita memiliki seorang anak. Apa yang kau inginkan? Seorang Putra atau putri?" Pertanyaan tidak terduga Candy membuat Edward lengah.


Pria itu terdiam kaku dengan tubuhnya yang tidak bergerak. Candy menyadari hal ini dan kembali bersuara "Aku hanya mengatakan jika kita memiliki anak! Kau tidak perlu merasa bersalah ataupun takut! Aku mencintamu! Sangat mencintaimu! Hidup bersamamu saja sudah membuatku bahagia!"


Hati Edward menghangat, dia mencium kening Candy lembut dan menjawab "Akan sangat bagus jika dia perempuan! Dia pasti sangat cantik dan menggemaskan sepertimu!"


Senyuman Candy tampak lebih lebar, dia mempererat pelukannya pada Edward dan bergumam pelan "Yah dia mungkin akan terlihat cantik sepertiku dan mempesona sepertimu! Tapi, aku sudah sangat bahagia bersamamu seperti ini..."

__ADS_1


Mereka berdua saling berpelukan erat dan tidak lagi mengatakan apapun. Edward diam dan hanya mengusap rambut kepala Candy terus menerus.


Setelah hening beberapa saat, Edward akhirnya kembali membuka suara tidak yakin "Candy, Jika aku bilang ingin mengunjungi keluargaku! Apa kau ingin datang?"


Candy terdiam oleh pertanyaan Edward. Pria itu tidak pernah menceritakan apapun tentang dirinya atau pun keluarganya. Candy juga tidak mencoba untuk bertanya. Dia berfikir selama dia bisa bersama Edward itu akan cukup.


Tapi setelah mendapatkan pertanyaan tidak terduga ini, tidak bisa di pungkiri Candy menjadi sedikit gugup.


Bagaimana jika Keluarga besar Edward tidak menyukainya?


Jika hal itu terjadi apa yang harus dia lakukan?


"Jangan khawatir tentang hal itu. Mereka pasti menyukaimu..." Edward tersenyum kecut melihat kegugupan Candy, dia berusaha menenangkan istrinya itu "Lagi pula, mau keluargaku menyukaimu atau tidak, itu tidak akan merubah apapun! Kita hanya akan berkunjung satu kali dan pergi setelahnya!"


"Walau bagaimanapun, itu keluargamu! Kau tidak boleh berbicara seperti itu!" Cubitan kecil kembali mendarat di lengan kekar Edward. Pria itu menjerit kecil seolah merasa sakit walaupun sebenarnya tidak. Candy geram akan tingkahnya dan terus mencubitnya berkali-kali.


"Setidaknya aku harus pergi menyapa keluargamu walaupun hanya satu kali!"


Wajah Edward tampak lega, dia mendorong tubuh Candy di bawahnya dan mencium bibirnya penuh keinginan.


Bibir Edward menjarah dan menghisap bibir Candy. Jemari tangan besarnya m3r3m4s dan mencubit benda lembut yang menonjol di dadanya.


"Kau baru saja melakukannya tadi, masih kurang?" Candy cemberut tapi dia tidak bisa marah.


"Satu kali lagi..."


Tidak menyelesaikan ucapannya ataupun mendengarkan jawaban Candy. Edward mulai mengigit leher putihnya. Dia menekankan adik kecilnya di bawah untuk kembali beraksi.


Candy mengerang memalukan, kedua tangannya m3r3ma5 pundak Edward saat kedua kakinya mulai ikut terbuka dan mengapit tubuh Edward diatasnya.


"Edward.. hhha!" Suara Candy serak seperti kerikil. Dia memcoba berbicara tapi suaranya benar-benar pecah.


"..." Edward menghentikan isapannya tapi dia tidak menarik kembali adiknya, darah Candy mengalir di sudut bibir merahnya.


"Uuhh..." tubuh Candy terasa panas dan tidak merespon dengan baik, dia menatap Edward dengan mata berwarna ambernya yang mulai berair "Hanya sekali dan biarkan aku tidur setelahnya! Bersikap lembutlah!"


Tubuh bagian bawah Edward kian mengeras. Dia mengangguk tidak berdaya pada nada manja Candy dan memulai kembali kelakuannya.

__ADS_1


Malam yang panjang dengan udara dingin itu menjadi hangat dan memanas saat kedua tubuh saling melekat dan membara.


Seolah kebahagiaan Edward begitu sempurna, dia benar-benar terhanyut olehnya dan lupa akan apa yang akan datang menyapu hidupnya.


*****


Langit biru bersinar cemerlang ketika sinar matahari itu menyinari bumi dengan cahayanya yang merata tanpa setitik awan yang terlihat.


Mata berwarna perak menatap kearah langit biru itu tampak penuh dengan masalah yang menumpuk. Seolah pandangannya kabur, dia bergerak ketempat lain dimana seorang gadis tengah meminum sebuah susu putih dalam gelas.


"Apa kau yakin kita akan mengendarai siput itu lagi?"


Candy menoleh untuk melihat kearah jari Edward menunjuk, dia mengangguk pelan ketika tatapannya masih melihat sebuah mobil di halaman.


"Ayolah! Tempat yang kita tuju juga berada di tengah hutan! Itu lebih sulit di jangkau dengan Mobil! Jadi sebaiknya kita terbang! Biarkan aku menggendongmu!" Edward berusaha meyakinkan saat dia menatap Candy yang terlihat diam.


Sebenarnya Candy baik-baik saja, entah itu menaiki mobil ataupun di gendong olehnya. Hanya saja dia sedang marah sekarang!


Pria ini mengatakan hanya akan melakukannya sekali tapi dia dengan ganas terus menekannya dan melakukannya tiga kali.


Candy hampir lumpuh kembali di tempat tidur dan tidak bisa bangun pagi ini. Padahal Edward sudah memintanya untuk ikut berkunjung kerumah keluarganya, tapi dia dengan tidak berperasaan melakukan itu tiga kali!


Wajah Edward tampak bermasalah, dia tidak terlihat menyesal dengan kelakuannya. Dia hanya sedikit bingung sekarang bagaimana caranya membuat gadis itu tidak lagi marah dan diam membisu tidak berbicara.


"Kau tahu, kita harus cepat berkunjung atau nanti Ibuku akan datang kemari secara pribadi! Jika hal itu terjadi, sebuah bencana yang mengerikan akan menimpa!" Melihat Candy tetap diam kearahnya, Edward menghela nafas panjang. "Baik aku minta maaf atas semalam! Aku terlalu terbawa suasana dan terus melakukannya!"


Candy tetap diam oleh perkataan Edward, dia memakan roti panggang di hadapannya dan tidak bersuara.


Helaan nafas Edward menjadi lebih dalam, dia terduduk di sisi Candy dan memeluk tubuhnya. "Mungkin kita bisa bertemu Cornelia jika kita bergegas! Adik kecilku sangat cantik dan manis, dia akan bahagia jika bertemu denganmu!"


Aktivitas Candy terhenti. Dia meletakkan roti bakarnya di piring dan menatap Edward sebelum membuka suara "Cornelia?"


"Ahh, ya! Cornelia..." Edward berkata dengan penuh semangat "Dia memiliki rambut berwarna putih dan sangat cantik! Wajahnya kecil, bibir merah dan kecil, dia tampak seperti boneka barbie!"


"Benarkah?" Rasa penasaran membanjiri hati Candy, dia sudah mulai membayangkan anggota keluarga Edward. Jika Edward saja sangat tampan, sudah di pastikan seluruh anggota keluarganya pasti juga akan indah di pandang.


"Tentu, tapi dia sangat jarang pulang kerumah! Aku mendengar untuk bertemu denganmu dia kembali kerumah!"

__ADS_1


"Kalau begitu kita harus bergegas!" Candy menjawab Edward cepat ketika dia mulai melupakan rasa kesalnya.


Senyuman cemerlang muncul di bibir Edward. Dia mengangguk dan mulai membereskan banyak hal sebelum berangkat bersama Candy.


__ADS_2