
Cahaya remang dari sebuah lampu yang seolah akan mati terlihat menerangi ruang gelap gulita.
Meja bundar terlihat besar dan memakan hampir dari seluruh ruangan itu. Dalam kegepalan itu banyak sosok hitam dengan mata berwarna merah darah yang cemerlang turut menerangi ruangan.
"Nomor 2, bagaimana menurutmu isi dari proposal yang keluarga Lawrence berikan?" Salah satu sosok bertanya pada sosok lain yang duduk di bangku nomor 2.
"Entahlah, karena aku masih begitu muda dibandingkan kalian semua. Jadi aku hanya akan diam mengamati bagaimana pendapat kalian!" Nomor 2 menjawab dengan tenang. Aura percaya diri dan tabah keluar dari tubuhnya seolah mendominasi suasana seluruh ruangan.
"Nomor 5, bukankah kau seharusnya memberikan pendapatmu terlebih dahulu sebelum meminta pendapat orang lain?!"
"Apakah begitu Nomor 6?" Nomor 5 bertanya balik, melihat Nomor 6 tampak mengangguk dia tersenyum kecil "Kalau begitu aku akan memberikan pendapatku!"
Nomor 5 menatap kearah Nomor 7 sekilas. Dia mengetuk meja dengan jari kukunya yang hitam dan melanjutkan "Menurutku berperang dengan keluarga Lawrence akan memberikan banyak kerugian. Apalagi mereka bermaksud untuk menjadikan gadis itu Vampire. Maka nilai gadis itu tidak akan lagi berguna. Jadi, selama dia menjadi Manusia, kita harus memeras darahnya sebanyak mungkin. 10 sampel darah yang keluarga Lawrence berikan untuk mengakhiri peperangan yang tidak perlu ini masih sangat kurang."
"Hoho, kau sangat serakah!" Nomor 6 mengejek pelan, dia meminum darah dalam gelasnya dan kembali berkata "Menurutmu apakah keluarga Lawrence hanya akan berdiam diri di peras seperti itu dan tidak akan bertindak?"
"Mereka memberikan kami 10 sampel darah karena tidak menginginkan perang itu terjadi, jelas mereka telah melihat masa depan yang tidak menguntungkan! Bukankah aku benar?"
Mendapatkan jawaban percaya diri dari Nomor 5, Nomor 6 terdiam dan merenung. Dia melupakan fakta bahwa keluarga Lawrence memliki seseoarng yang bisa melihat masa depan di kelompoknya.
Bisa dikatakan kekuatan keluarga Lawrence tidak kecil, jika perang itu pecah, mereka paling tidak akan mendapatkan hasil imbang dan saling menghancurkan. Walaupun begitu, itu tidak akan merugikan keluarga Lawrence karena kekayaan mereka sangat mengerikan.
"Aku juga mencium bau amis disini!" Nomor 4 yang terdiam sejak tadi turut menimpali "Dalam kertas perjanjian, mereka meminta kami untuk bersumpah darah agar tidak mengganggu Edward dan keluarganya lagi di masa depan dalam bentuk apapun!"
Keheningan menyelimuti saat pemikiran Nomor 4 itu bergema di ruangan yang luas. Semua sosok dalam kegelapan itu hanya terdiam dan kembali merenung dengan berbagai pemikiran masing-masing.
Batuk kecil bergema dan menghilangkan kesunyian itu. Sosok Nomor 2 yang melakukannya membuka suara "Nah, kalian telah menyadari banyak hal yang tidak dapat di mengerti. Tapi ingat ini, karena keluarga Lawrence memiliki seseoarng yang bisa melihat masa depan maka dipastikan mereka juga bisa merubah masa depan itu sesuai kehendaknya!"
Mendengarkan hal ini dari Nomor 2, ruangan itu menjadi semakin sunyi. Nomor 2 menghela nafas panjang, dia membuka pikirannya, tangannya mengetuk meja di hadapannya sebelum kembali berkata "Menurutku mereka memberikan kami 10 sampel darah dan meminta membuat perjanjian darah agar tidak mengganggu kehidupan mereka di masa depan, itu karena setelah gadis itu berubah menjadi Vampire mereka berencana untuk mengembalikannya menjadi manusia lagi setelahnya..."
Seolah bisa melihat seluruh rencana keluarga Lawrence, Nomor 2 menjawab dengan percaya diri.
"Tidak mungkin!" Nomor 3 bergumam tidak percaya "Dari dokumen yang kami terima, darah gadis itu membuatnya tidak bisa menjadi Vampire, jika mereka melakukan itu dia akan meledak dan mati. Jadi jika mereka berencana merubah dia menjadi Manusia lagi, bukankah tubuhnya akan benar-benar menjadi partikel debu?"
"Aku juga tidak tahu pasti, tapi Keluarga Lawrence pasti menemukan sebuah cara untuk melakukannya..."
"Jika apa yang kau katakan benar, maka darah gadis itu tidak akan berguna lagi di masa depan setelah semuanya bukan?" Nomor 6 bertanya kearah Nomor 2 setelah menyadari seluruh proses pembicaraan. "Lalu kami hanya akan setuju dengan proposal mereka?"
"Itulah yang kami diskusikan saat ini!"
__ADS_1
Suasana kembali menjadi tenang dan hening saat kalimat itu keluar dari bibir Nomor 2.
Dengan helaan nafas, Nomor 5 yang terdiam mulai berbica "Maka saat ini memang yang terbaik mencoba memeras sebanyak mungkin darah manusia itu selagi dia masih menjadi manusia. Kami perlu menghindari perang yang tidak mungkin, dan menandatangani perjanjian dengan mereka"
"Kurasa memang sebaiknya seperti itu!" Nomor 3 menimpali dan mendapatkan anggukan setuju dari Nomor 4.
Nomor 6 hanya menghela nafas dan bersandar pada kursinya dengan mata lelah.
"Karena kami telah mencapai keputusan ini, maka sekarang siapa yang akan pergi untuk membuat perjanjian itu?" Nomor 2 bertanya kearah mereka, dan membuat suasana kembali hening.
"Kurasa sebaiknya Nomor 5 dan kau yang pergi Nomor 2..." Nomor 3 menyarankan
Dan Nomor 4 juga turut menambahkan "Nomor 6 juga bisa ikut untuk menenangkan situasi jika terjadi hal yang tidak direncanakan."
Ketiga orang itu saling menatap sebelum mengangguk setuju. Pertemuan itu kembali berjalan untuk membahas beberapa hal lebih lanjut lagi. Setelah banyak diskusi apa yang harus mereka lakukan, pertemuan itu berakhir dengan tidak terlalu memuaskan.
Nomor 6 keluar dari ruangan gelap itu dan menatap kearah langit yang tampak indah dengan bintang dan bulan yang bersinar.
"Felman, kurasa kita akan kembali bekerjasama. Kuharap kau akan bertindak sebaik mungkin!"
"Jangan memanggil namaku jika berada di organisasi Caesar!" Nomor 6 yang ternyata adalah Felman itu menghela nafas di balik jubahnya, dia menatap Nomor 5 di hadapannya dengan kedutan di mata "Jangan membuat banyak masalah, kali ini kami pergi dengan Nomor 2..."
"Maksudmu Gaston?" Caesar si Nomor 5 terkekeh pelan sebelum kembali bersuara "Pria muda itu terlalu bersemangat, kuharap kami tidak akan berselisih jika saatnya tiba..."
Dengan helaan nafas, bahunya tampak rapuh dan lelah saat dia berjalan pergi dari Markas itu untuk kembali kerumahnya.
*****
Hari berlalu perlahan, Candy yang menjalani kehidupan damainya di Kastil keluarga Edward tampak lebih cerah. Dia diperlakukan dengan sangat baik sehingga merasa tidak nyaman dan sangat terbebani.
Hal yang membuatnya lebih tidak nyaman adalah sifat dari salah satu pelayan di keluarga itu yang bernama Arthur. Dengan sangat sabar dan baik dia memperlalukan Candy dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Candy mau tidak mau mulai mengingat sosok ibunya yang dia rindukan.
"Kemana kita akan pergi?" Candy bertanya kearah Edward saat dia menatap pria tampan itu tersenyum kearahnya.
"Kita akan pergi keruang bawah tanah." Edward tersenyum lembut dan menarik jemari tangan Candy pelan untuk mengikutinya.
Candy hanya mengangguk patuh dan berjalan mengikutinya. Selama di kastil ini Edward juga bertingkah aneh, dia terkadang terlihat termenung dan memikirkan banyak hal.
Sekarang tiba-tiba juga dia berkata ingin mengatakan sesuatu padanya. Candy tahu jika Edward ingin menceritakan sesuatu yang sangat penting jadi dia hanya mengangguk dan mendengarkan.
__ADS_1
Tapi entah kenapa Edward hanya menuntunnya keruang bawah tanah untuk menceritakan segalanya.
Lorong itu gelap saat langkah kaki Candy mulai berjalan masuk kedalam lebih jauh di bawah tanah, Edward di depannya mengeratkan gengaman tangannya dan terus menuntunnya dalam diam.
Setelah berjalan dalam kegelapan untuk waktu yang singkat, mata berwarna amber Candy menangkap cahaya remang dari lampu yang hampir mati. Di belakang lampu kecil itu, pintu kayu yang tampak tua dan berdebu terlihat.
Edward mendorong pintu itu pelan dan mengungkapkan isi seluruh ruangan.
"Kita sudah sampai, sekarang duduklah disini!" Dia mendorong Candy untuk terduduk di sebuah Kursi yang telah dia bersihkan sebelum terduduk di kursi depannya.
Mata Candy menjelajah dalam ruangan itu, dia sedikit tersentak menangkap sosok hewan yang tidak normal disana.
"Itu adalah tikus percobaan pertama yang aku gunakan untuk menyembuhkanku" Edward memulai pembicaraan setelah melihat wajah Candy yang tampak penasaran melihat kearah tikus besar bermata merah yang kaku.
"Tikus percobaan?"
"Itu benar..." Edward mengangguk kecil dan menghirup udara dengan berat sebelum kembali bersuara "Apakah kau pernah mendengar dongeng kisah sang Vampire Pertama?"
Candy tampak linglung sejenak sebelum mengangguk dengan tidak pasti. Melihat hal ini Edward meremas jemari tangannya yang terkepal dan mulai menjelaskan.
"Candy, aku adalah Vampire pertama dan Tikus di sana adalah yang pertama meminum Serum percobaanku!"
Tubuh Edward menegang sejenak melihat gadis yang dia cintai di depannya tampak terkejut. Dia telah mematikan kemampuannya untuk membaca pikiran. Edward terlalu takut untuk mendengarkan pikiran Candy saat dia mulai menjelaskan segalanya. Jadi dia hanya akan menunggu gadis itu untuk berbicara padanya setelah semua yang Edward katakan.
"Tikus itu memiliki Reaksi 1 tahun lebih lama untuk berubah menjadi Vampire. Dia bermutasi dan menjadi Monster tikus yang menghisap darah dengan tubuh yang membesar hingga 3 meter. Aku membunuhnya dan membuat tubuhnya beku seperti patung."
"Edward aku..."
"Biarkan aku menjelaskan semuanya, tentang kematian orang tuamu dan tentang masa laluku! Kumohon diam dan dengarkan semua yang aku katakan hingga selesai!"
Mendengarkan tentang kematian orang tuanya yang di sebutkan Edward, bahu Candy bergetar hebat. Perasaan tidak nyaman menghantui hatinya.
Mata berwarna amber Candy menatap kedua Mata berwarna perak Edward yang tampak keruh dan gemetar.
Dia menghela nafas panjang dan mengangguk kecil untuk membiarkan Edward melanjutkan perkataannya.
"Aku akan mendengarkan..."
Jemari tangan Candy mengenggam jemari tangan Edward yang terkepal erat. Pria itu mengangguk dengan hatinya yang gelisah dan mulai menceritakan segalanya pada Candy.
__ADS_1
Ruangan itu sunyi, sangat sunyi hingga desahan nafas Candy bahkan terdengar keras saat kata demi kata yang Edward lontarkan menghantam hatinya dan membuat nafas Candy mulai terasa sesak.
Air mata tidak lagi terbendung dan meluncur di pipi Candy semakin dia mendengarkan segala yang Edward katakan...