My Husband Is Vampire

My Husband Is Vampire
30 Kedatangan Musuh


__ADS_3

Udara berdesir dingin ketika empat sosok melesat seperti hembusan angin yang kencang. Ke empat sosok itu mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, tapi aura membunuh yang bocor tidak dapat menutupi identitasnya.


"Sudah kukatakn lebih baik jika kita menyerang Edward saat acara pernikahannya berlangsung! Tapi kau terus saja menunda sampai sekarang!" Salah satu sosok itu mendengus kesal, dia tetap bergerak maju dan melanjutkan perkataannya "Jika bukan karenamu kita pasti sudah memusnahkan Edward dan membalas pelecahan yang dia lakukan! Kita tidak perlu untuk mengejarnya seperti sekarang sampai ke Kastil Keluarga Lawrence!"


"Aku sudah mengatakan padamu bahwa ada hal yang penting lebih dari membalaskan pelecehan Edward untuk Shadow!" Pria disisi sosok itu mendengus dingin, nada suaranya tampak terdengar mencela "Lagi pula tikus kecil sepertimu berani untuk melawan Edward? Kalian pasti akan langsung binasa!"


"Kau-"


"Shaw! Hentikan itu!" Sosok lainnya mencegah Shaw ketika dia melihat auranya yang mulai berubah "Kami sudah berjanji untuk bekerjasama! Hingga saat itu tahan dirimu!"


Shaw mendengus kesal tapi dia tidak membantah dan hanya kembali diam seraya terus melesat maju.


Sosok pria yang mencibir disisi Shaw itu mengerutkan keningnya. Jika bisa dia tidak ingin berhubungan dengan kedua pembunuh ini. Tapi, atasannya telah memerintahkannya untuk bekerja sama jadi dia hanya bisa menghela nafas panjang.


Alasan dia tidak menyerang Edward juga karena dia di mintai oleh atasannya untuk menunggu. Mereka ingin agar dia mengikutinya dan mengetahui lokasi dari Kastil Terkutuk Keluarga Edward yang telah lama hilang dalam mitos.


"Kami sampai!"


Saat salah satu dari mereka mengatakan kalimat itu. Sebuah tembok gagah perkasa membentang dengan megah dengan warnanya yang berkilau keemasan.


Shaw mendecakkan lidahnya kagum sebelum bergumam "Menurutmu jika kita menghancurkan tembok ini dan menjualnya berapa banyak yang akan kita peroleh Dawn?!"


Dawn mengabaikan perkataan Shaw dan fokus untuk menatap pemandangn di hadapannya. Sudut mata miliknya melirik kearah pria yang telah menemani mereka.


"Richard, aku hanya akan bekerjasama denganmu jika semua berjalan seperti seharusnya tapi jika itu..."


"Aku tahu, kau tidak perlu menjelaskannya lagi!" Richard menjawab cepat pernyataan Dawn dan kembali menatap tembok kokoh di hadapannya.


Alis indahnya melengkung tidak teratur ketika berbagai pemikiran dan siasat melintas di benaknya.


Ke empat orang berjubah itu menegang saat mata mereka menangkap sosok Vampire berjalan anggun kearahnya.


Vampire pria itu terlihat paruh baya dan sangat ramah, dia mengenakan pakaian pelayan khas eropa dan teŕsenyum sebelum membuka bibirnya "Tuan dan Nyonya telah menunggu kedatangan anda. Saya akan memperlihatkan jalannya!"


Ke empat sosok itu saling memandang sebelum mengangguk pelan dan mengikuti Vampire paruh baya itu di depannya yang berjalan.


Hamparan luas dari pemandangan indah dan kastil yang mewah membentang sejauh mata memandang. Ke empat Vampire di balik jubah itu tidak bisa menahan nafasnya ketika rasa kagum akan kemewahan itu terlihat jelas.


"Tidakkah mereka terlalu kaya?" Shaw berbisik pelan,


Bukan anggota kelompoknya yang menjawab pertanyaan itu tapi Vampire pelayan yang berjalan di depannya. "Tuan dan Nyonya telah hidup lebih lama dari kebanyakan Vampire, sejak mereka manusia kekayaan dan gelar bangsawan mereka cukup tinggi! Jadi ketika mereka menjadi Vampire, kekayaan itu hanya bertambah dan menumpuk tanpa berkurang sedikit pun!"

__ADS_1


Shaw mengngguk pelan dengan bodoh mendengarkan serangkaian penjelasan itu. Entah kenapa perjalanan mereka tampak seperti sebuah tur kecil dan bukannya seorang musuh yang ingin bertarung.


Dawn hanya terdiam dan mengerutkan keningnya dalam atas suasana yang aneh ini, sedangkan Richard menatap pria paruh baya yang tampak ramah dan berpakaian pelayan itu dengan waspada.


Kekuatan Aura, sebuah kekuatan yang membuat lawanmu tidak ingin bertarung dan ingin menjadi kawan.


Richard pernah melihat banyak kekuatan Aura yang berbeda, tapi dia tidak pernah melihat kekuatan Aura yang seperti ini. Tidak bisa di pungkiri dia menjadi lebih waspada.


"Kami telah sampai! Silahkan masuk, Beliau telah menunggu!" Pelayan Vampire itu mengabaikan mereka yang waspada dan hanya tersenyum ketika tangannya membuka sebuah pintu besar.


Dengan anggukan kecil keempat sosok itu bergerak perlahan memasuki Aula ruangan. Mereka menjadi tegang saat empat sosok lainnya memasuki visi pandangan mereka.


"Aku tidak berpikir kalian datang kemari untuk membuat keributan, apakah aku benar?" Sosok wanita yang tampak anggun dan cantik membuka suaranya ketika dia menampakkan senyuman.


"Kami memang tidak ingin membuat keributan, tapi tidak bisa di pungkiri mungkin akan di butuhkan sedikit keributan kecil!" Richard melangkah maju sedikit ketika dia menjawab balik dengan tenang.


"Yah, kurasa itu tidak bisa di hindari! Kita akan membiarkan kalian sedikit bermain sampai merasa puas lalu kami akan berbicara!!!" Wanita itu terkekeh pelan dan menepuk bahu Pria tampan bermata perak disisinya "Edward kau harus bermain dengan baik!"


"Berhenti tertawa! Aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan!" Edward menepis tangan ibunya dan bergerak maju selangkah demi langkah "Jadi siapa itu yang ingin bermain?!"


"Shaw"


"Dawn"


"Kita berdua dari Shadow!"


"Kau seharusnya tidak menghancurkan markas ketiga Shadow, karena itu tidak akan menghasilkan apapun selain permusuhan dari kami!" Dawn tampak marah menatap Edward dengan mata yang membara.


"Kalian telah membunuh orang yang berharga untuk orang yang kucintai! Aku hanya menghukummu, itu saja!"


Mendengar balasan santai Edward, Shaw menekan jemari kakinya sebelum melompat kearahnya. Dia memutar tangannya saat sebuah tombak panjang tiba-tiba muncul dan menusuk kearah Edward.


Ledakan!


Edward menghindar dengan halus dan membuat tombak itu menghantam lantai marmer hingga retak. Dia menggores jemari tangannya kecil dan membuat darah merah menetes perlahan sebelum menguat seperti benang cambuk.


"Mahluk rendahan!" Suara Edward dingin, dia menghentakkan tangannya membuat cambuk berwarna darah itu melesat kearah Shaw dan membuatnya melompat seperti katak untuk menghindar.


Dawn datang dari sisi kiri dan menghantam Edward dengan bola Api panas berwarna merah.


"Liquid Blood!"

__ADS_1


Darah merah membentang disisi tubuh Edward dan melahap bola api itu hingga bersih. Seolah tidak berhenti, darah merah kental itu bergerak maju melahap Dawn yang terengah.


"Ruangan ini akan hancur jika diteruskan" Erlando berbisik pelan kearah Bianca, ekspresinya tampak pahit melihat putranya yang mengamuk tanpa menahan diri.


Bianca hanya tersenyum manis sebelum menjawab "Kita bisa membangun kembali, jadi kenapa harus repot? Lihatlah, putra kita tampak gagah!"


Cornelia menggelengkan kepalanya pelan. Sejak dulu ibunya tidak berubah, dia selalu senang jika melihat Edward yang tampak serius dan gagah saat menghadapi musuhnya.


Melihat kerutan di dahi ayahnya yang semikin dalam, Cornelia mendesah saat dia iku membujuk "Ibu, kurasa sudah cukup! Mereka hanya akan mati jika ini terus di lanjutkan, kakak akan membunuh mereka"


Bianca menoleh untuk melihat kearah putrinya yang cantik seperti boneka sebelum mengusap pipinya lembut seraya berkata "Baiklah, jika Cornelia bilang begitu. Maka kita harus mengakhirinya."


Erlando mengangguk lega pada Cornelia, hanya putri cantiknya yang bisa membujuk istrinya. Dia selalu lemah terhadap permintaan Cornelia sejak kecil.


Kembali kepertarungan itu, Edward tetap berdiri kokoh dengan dinding darah yang melindunginya. Dia menatap lawanya yang tampak pucat dengan luka berdarah di sekujur tubuhnya.


Alis indah Edward berkerut, dia menjentikkan jemari tangannya untuk serangan terakhirnya "Bloody Ball..."


Sebuah bola berwarna darah perlahan terbentuk, ruangan itu bergetar hebat oleh kekuatan dasyat dari bola darah di pusatnya.


Setelah berputar dan membentuk bola yang cukup besar, Edward akan mendorong bola itu saat Bianca mulai bergerak.


"Baiklah, itu cukup Ed!" Edward mengeram dan tidak mendengarkan Bianca, wanita itu menghela nafas dan kembali membujuk "Ruangan ini akan hancur dan Candy akan terganggu!"


Dengan Poof bola darah di dalam ruangan itu hancur seperti gelembung. Edward mendengus kesal dan bergerak mundur setelah menyingkirkan diding darah yang melindunginya. Jika bukan untuk Candy dia pasti tidak akan berhenti.


"Jika kalian tidak ingin mati disini, lebih baik hentikan sampai disitu!" Suara Bianca dingin, dia menatap pada Shaw dan Dawn yang tampak pucat. "Aku akan secara pribadi mengirimkan utusan untuk berbicara dengan Shadow, jadi kalian tidak perlu khawatir!"


Richard hanya terdiam seperti patung dan bahkan tidak berani bernafas secara besar. Dia menatap Edward yang kini tengah berada di belakang dan terduduk tanpa setetes keringat pun terlihat.


'Jadi ini adalah Vampire pertama dan kekuatan Garis darah yang legenda itu?' Benak Richard terus memikirkan kalimat itu, dia sudah mendengar dari para penatua lainnya bahwa tidak peduli apa dia harus menghindari Edward karena kekuatannya yang menakutkan.


Caspian si maniak pertarungan saja menghindarinya, jadi dia benar-benar tidak bisa melawannya.


Melihat diamnya para sosok di dalam jubah itu, Cornelia kembali menghela nafas dan bergumam pelan 'Jika mereka tahu bahwa itu bukanlah seluruh kekuatan Edward, mereka mungkin akan pingsan di tempat saat ini.'


"Jadi, bisakah kita berdiskusi sekarang?" Bianca kembali membuka suara ketika dia hanya melihat keheningan dari setiap sosok yang datang.


Richard sedikit tersentak dan sadar dari pikirannya, dia mengangguk kecil sebelum melepaskan tudung di kepalanya "Suatu kehormatan bisa berdiskusi dengan anda Nyonya Lawrence..."


Bianca mengangguk atas perkataan sopan Richard, dengan senyuman di bibir dia kembali bersuara "Kalau begitu mari berbicara di tempat yang lebih baik!"

__ADS_1


Dengan patuh para sosok berjubah itu hanya mengangguk dan mengikuti seluruh keluarga Edward ke sebuah tempat yang berbeda.


__ADS_2