
Cahaya Matahari bersinar indah di langit biru ketika kemilaunya terlihat hangat dan menenangkan.
Suasana pagi hari yang hangat itu bertambah indah dengan terlihatnya sosok tampan Edward yang tampak bersinar oleh ketampanannya.
Edward terdiam ketika pikirannya menerawang jauh mengingat sebuah kenangan kecil di masa lalu.
Sosok Stella tersenyum ketika dia membicarakan tentang putrinya. Wanita itu menatap Edward dan memperlihatkan foto Candy yang tersenyum lalu berkata "Tuan Muda, lihatlah! Putriku cantik bukan? Kuharap jika serum ini berhasil dan Tuan Muda Edward kembali menjadi Manusia, aku ingin kau makan malam bersama dengan keluarga kami!"
"Stella, Tuan Muda Edward pasti sangat sibuk jika hal itu terjadi! Jadi bagaimana mungkin dia akan memiliki waktu luang untuk makan bersama?"
"Diamlah Tery!" Stella melotot kearah suaminya dengan dengusan kecil "Putriku sangat menyukai dongeng tentang Pangeran Vampire. Jadi, aku yakin dia pasti akan sangat bahagia jika bertemu dengan Tuan Muda Edward!"
Tery sekali lagi ingin membuka suara keberatannya, tapi dia seketika menutup mulutnya akibat mata Stella yang menatapnya dengan tajam.
Edward tersenyum tipis dengan ramah dan mengangguk pelan "Tentu, itu terdengar menyenangkan!"
"Bagus sekali, maka ini adalah sebuah Janji!" Stella tampak bersemangat, dia kembali melanjutkan "Aku juga berharap di masa depan Tuan Muda Edward akan menjaga Candy dengan baik ketika ada hal yang tidak terduga..."
"Berhenti mengatakan kalimat menakutkan! Selama aku disini tidak akan ada yang akan terjadi!"
"Aku tahu itu..." Stella mengangguk mengerti, tapi dia masih belum puas "Ini hanya seandainya, jika kami tidak bisa berada disisinya, tolonglah jaga Candy kami! Anda satu-satunya Vampire kuat yang kami percayai dan berbeda dari semua yang pernah kami temui!"
Edward terdiam cukup lama, ketika dia melihat foto wajah Candy yang tersenyum, pada akhirnya di mengangguk "Aku mengerti! Aku janji akan menjaganya!"
Menatap gadis cantik yang tertidur disisinya, Edward menghela nafas pelan ketika ingatannya kembali membawanya pada malam saat kedua orang tua Candy terbunuh dan janji yang dia buat untuk mereka.
Dia berjanji pada Stella dan juga Tery bahwa akan melindungi Candy dan membuat gadis itu tumbuh dengan baik serta aman.
Tapi, melihat bagaimana segalanya berjalan apakah Janji yang dia buat itu bisa dia tepati?
Dengan gadis ini berada disisinya, keamanannya memang terjamin. Tapi kebahagiaan di hatinya tidak bisa dia jamin.
Jika kedua orang tua Candy masih hidup, mereka pasti akan membenci Edward dan mengatainya sebagai orang yang tidak tahu malu!
Kedua orang itu telah bekerja keras untuk membuat serum. Bahkan tidak peduli alasan apa yang mereka miliki, mereka tetap menghabiskan seluruh waktunya untuk itu. Tapi, Edward tidak hanya melakukan itu pada mereka, dia juga membuat putri mereka menghabiskan seluruh waktunya untuk menjaga dan mencintainya.
"Sebuah Janji?"
__ADS_1
Edward bergumam pelan ketika dia mengatakan kalimat itu dengan nada sindiran. Dia tidak lagi yakin bahkan tanpa janji itu pun Edward tidak bisa untuk tidak membawa Candy berada disisinya.
Janji yang dia buat untuk kedua orang tuanya hanyalah sebuah alasan.
Alasan agar dia bisa kembali lagi melihat senyuman polos dan juga mata indah gadis kecil yang dia temui.
Edward tersadar dari ingatan masa lalunya yang terbesit. Mata berwarna peraknya mengerjap ringan dan menoleh untuk menatap Candy yang terlelap.
"Bukankah aku seorang pengecut?" Mengejek dirinya sendiri, Edward mencium kening Candy lembut sebelum beranjak dari tempat tidur.
Dengan kepergian Edward, sosok tidur Candy yang terlelap tampak seperti seorang putri.
Dia tidur begitu lelap hingga terbangun ketika Matahari telah berada diatas langit biru.
Candy mengerjap ringan, jemari tangan putihnya mengusap mata berwarna amber miliknya dengan malas.
Menyadari tempatnya berada, gadis itu tersadar seketika. Dia mencoba bangkit dan menggerakkan tubuhnya. Tapi sekali lagi dia tersadar akan apa yang terjadi semalam dan tidak dapat bergerak karena rasa sakit di bawah pinggangnya.
Senyuman konyol muncul di bibir Candy ketika wajahnya menjadi merah seperti kepiting rebus.
"Apa yang kau pikirkan?!" Suara wanita paruh baya mencemoh ketika dia menatap sosok Candy yang seperti ulat bulu di bawah selimut.
"Astaga, sudah kukatakan untuk tidak bertindak bodoh dan implusif! Tapi sepertinya kau memang suka masuk ke dalam sarang singa" Bibi Jane tidak marah, dia hanya merasa sedikit khawatir dengan hubungan mereka. Tapi apa yang di putuskan oleh kedua orang itu, tentu Bibi Jane akan mendukungnya.
Dengan helaan nafas panjang Bibi jane kembali melanjutkan. "Aku sudah mengganti bajumu dan membersihkan tubuhmu! Lain kali jika hal ini terjadi, aku akan benar-benar mencekikmu! Kau harus bangun jika merasakan seseorang menyentuhmu! Jangan hanya menjadi mayat yang terus tidak sadarkan diri!"
Candy tersenyum manis ketika menyadari nada bicara Bibi Jane yang tampak kasar tapi penuh ketulusan. Dia mengangguk dengan wajah menyesal "Maaf, aku akan memastikan terbangun jika hal seperti ini terjadi lagi!"
Dengan janji yang tidak tahu entah bisa dia tepati, Candy hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah berbicara dengan Bibi Jane, dia melihat sekeliling tempatnya terbaring dan tidak menemukan sosok yang dia cari. Dengan raut wajah gelisah Candy bertanya "Bibi, dimana Tuan Muda Edward?"
"Untuk apa kau mencariku?" Suara Edward terdengar ketika sosoknya muncul di sisi tempat tidur dengan kedua tangannya yang terlipat, dia menjawab pertanyaan Candy menggantikan Bibi Jane.
Melihat hal ini Bibi Jane hanya tersenyum kecil dan meninggalkan ruangan.
Senyuman di wajah Candy tampak cemerlang ketika dia melihat sosok tampan Edward. Dengan sedikit rasa malu dia menjawab "Aku takut kau akan pergi lagi selama beberapa hari seperti sebelumnya!"
__ADS_1
Hati Edward berdenyut geli ketika dia melihat senyuman indah di bibir Candy dan juga kedua matanya yang bersinar. Dia tidak bisa menahan keinginan untuk mencium gadis itu. Tapi, Edward menahan diri dan Ekspresinya tetap sama ketika kembali berkata "Ah itu... Aku memang bermaksud akan pergi lagi selama beberapa hari! Apa kau merindukanku ketika aku pergi?"
"Aku merindukanmu! Sangat rindu! Jadi jangan pergi!"
Sudut mata Edward berkedut ketika melihat gadis di hadapannya dengan jujur dan terus terang tanpa malu mengucapkan kalimat itu.
Dia menghela nafas sebelum menyentil dahi Candy pelan "Jangan berlebihan! Hubungan kita masih Tuan dan Makanan!"
"Apa?" Candy membelalak kaget, dengan tidak terima dia menuntut "Lalu kenapa kau melakukan hal itu padaku semalam?"
"Apa? Aku melakukan apa?"
Mendapatkan jawaban bodoh dari Edward dengan wajahnya yang tidak berubah, wajah Candy berubah tenggelam. Dia mengerucutkan bibirnya dengan manja "Kau memasukkan ***** padaku... dan emm...???"
Jemari tangan Edward membungkam mulut Candy seketika saat kalimat kotor dan memalukan keluar dari bibirnya. Dia menatap gadis bodoh dihadapannya dengan kerutan di dahi.
"Baik itu cukup! Berhenti!" Nada suara Edward sedikit dingin ketika dia tetap saja mendengarkan pikiran tidak senonoh Candy yang tidak berhenti.
Candy sedikit kaget dan terdiam seketika menundukkan kepalanya. Dia tahu bahwa pria dihadapannya tentu tidak akan menganggap hubungan mereka lebih dari Tuan dan Makanan. Hanya saja Candy sedikit kesal hingga mengatakan kalimat kotor dan memalukan itu untuk membuatnya lebih baik.
Edward menghela nafas panjang saat dia melihat gadis dihadapannya. Dia memang bermaksud untuk mencoba membuka hatinya kembali tapi dia masih sedikit gelisah.
Dia takut jika karena keputusannya ini, gadis di hadapannya kelak akan memilih jalan yang sama dengan Austina. Maka Edward masih perlu waktu, setidaknya sampai serum itu benar-benar telah menemukan titik terang! Saat itulah Edward akan menunjukkan wajah aslinya tanpa menahan diri.
"Semalam, Aku hanya... Lapar..." Nada suara Edward menggantung diudara ketika dia mencari alasan.
Suasana menjadi canggung seketika!
Mata berwarna perak Edward berkedip ringan ketika dia menyadari ucapannya tampak bodoh. Dengan gerakan kaku sosoknya menghilang dari tempat itu, meninggalkan Candy yang mematung menatap kearah kepergiannya dengan sedikit senyuman lucu di bibir.
"Berhenti tersenyum! Kau- cepat kembali ke ruanganmu!" Edward kembali muncul di hadapan Candy ketika dia mencoba untuk mempertahankan ekspresi wajah kakunya.
Senyuman Candy terhenti dan di gantikan dengan wajah yang tampak polos "Pinggangku sakit! Bagaimana aku bisa kembali?"
Menyadari kebodohannya lagi, Edward ingin menghilangkan keberadaannya dalam debu. Dia menahan ekspresi wajahnya tetap kaku dan hanya menggertakkan giginya "Dengar! Jangan melewati batas! Kami hanya Tuan dan Makanan untuk saat ini... dan kembalilah ke ruanganmu jika kau sudah merasa baikan!"
Wajah Candy tampak kosong ketika dia mendengarkan kalimat yang diucapkan Edward. Melihat pria Vampire itu kembali menghilang setelah mengucapkan kata terakhir itu, dia terus terdiam dan melihat sosoknya yang tidak terlihat.
__ADS_1
Jantung Candy berdegup kencang ketika dia mulai memikirkan kalimat Edward. "Jadi, apakah aku memiliki kesempatan dimasa depan? Apakah Edward akan membuka hatinya untukku dan bukan gadis dimasa lalunya? Hubungan antara Tuan dan Makanan akan berakhir suatu saat nanti?"
Dengan banyaknya pertanyaan yang terbesit. Air mata bahagia serta harapan di hatinya memenuhi seluruh pagi gadis itu.