My Husband Is Vampire

My Husband Is Vampire
21 Jane Mary Fortes


__ADS_3

Kabut muncul di udara malam saat rasa dingin menjadi panas. Getaran kecil terdengar di udara layaknya riak saat sebuah penghalang tipis transparan mulai goyah.


Merasakan firasat buruk yang sangat tidak nyaman, wanita paruh baya itu membuat pengaturan darurat "Kita kedatangan musuh!"


"Jika dia bisa membuat penghalang ini goyah, dia bukan orang sembarangan! Aku akan membagi Vampire lainnya menghadapi mereka!"


"Alfred! Berapa banyak musuh yang datang?" Bibi Jane bertanya ketika wajah tua miliknya tampak gelap.


"Ada 4 dari mereka, aku akan membagi 8 dari kami untuk melwan mereka 2 lawan 1. Setidaknya itu akan berhasil memukul mundur mereka!"


"Aku mengerti, pergilah dan hukum para Vampire bodoh itu karena berani menginjakkan kaki di Kastil Tuan Muda!" Bibi Jane meminta dengan sengit karena tindakan lancang Vampire yang datang "Aku akan disini bersama Candy. Kami akan baik-baik saja..."


Alfred mengangguk sebagai jawaban dan menghilang setelahnya. Ruangan itu kembali sunyi dengan hanya Bibi Jane yang tersisa.


Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar Candy berada.


Dalam langkah kakinya yang rapuh, dia mulai mengingat masa lalunya saat pertama kali bertemu dengan Tuan Muda Edward.


Malam itu gelap, dingin dan sangat tidak nyaman karena memberikan perasaan kesepian pada seseorang.


Dalam kegelapan, cahaya lampu berkedip seolah akan mati, seorang gadis yang terlihat berusia 15 tahun terbaring di tanah tidak bergerak.


Gadis cantik itu memiliki luka memar biru di sekujur tubuhnya, hal yang paling tidak menyenangkan mata adalah tubuh miliknya telanjang dengan darah yang menggenang di sekitar kakinya.


Gadis itu mengerang penuh kesakitan, melihat dari kondisinya, dia seharusnya tidak akan dapat bertahan malam itu.


Mata indah miliknya bengkak dengan warna merah karena tangisan air mata yang terus mengalir.


Dalam keadaan berantakan dan babak belur, tubuhnya lumpuh tidak dapat di gerakkan. Mata bengkak dan wajahnya yang lebam menatap kearah langit gelap dengan isak tangis.


Bulan dan bintang bersinar indah tapi hatinya tidak, kondisinya tidak, dan yang lebih parahnya takdir selalu bermain padanya.


"Kau masih hidup?" Suara magnetik terdengar, gadis itu bermaksud untuk menggerakkan wajahnya melihat pemilik suara. Tapi dia terlalu lemah dan menyedihkan hingga membuatnya tetap mematung tidak dapat menggerakkan bahkan bibirnya.


"Apa kau ingin hidup atau mati?" Suara itu kembali bertanya, sang gadis ingin menjawab tapi dia tetap tidak dapat menggerakkan bibirnya.


Pada akhirnya gadis itu bergumam dalam benaknya [Apa gunanya hidup di Dunia yang busuk ini!]


"Lalu kau ingin mati?"


Dia kaget sejenak karena suara itu seolah menjawab perkataan yang dia gumamkan dalam benaknya. Mencoba sekali lagi dia berbicara dalam benaknya [Walaupun aku hidup, tidak ada yang akan berubah!]


"Kenapa begitu?"


[Ah, itu benar! Pemilik suara itu bisa membaca apa yang aku pikirkan]


Seolah merasa sedikit nyaman karena seseorang menemaninya berbicara pada saat terakhir, gadis itu terus bergumam dalam benaknya [Sejak aku lahir, aku sudah di jual oleh Ibuku karena tidak pernah mengharapkanku. Aku selalu di pukul dan di lecehkan! Hidup seperti itu, apa gunanya?!]


"Maka aku akan membantumu Mati dengan mudah jika itu memang keinginanmu!"


Mendengarkan jawaban dari suara itu, sang gadis menangis keras. Mata lebam miliknya menjadi lebih mengerikan.


Dia membenci takdirnya dan selalu ingin mengakhiri hidupnya, dia bahkan sudah memikirkan hal ini ribuan kali. Tapi, jauh di dalam lubuk hatinya...


Dia ingin Hidup!


Hidup sederhana dengan kehidupan sederhana, tanpa takdir sialan dan orang-orang sialan yang mengganggunya.

__ADS_1


Suara desahan keluar dari orang itu sebelum dia kembali berkata "Jika kau ingin hidup, aku bisa memberimu alasan untuk itu! Jadi apakah kau mau menerimanya?"


Merasa terguncang oleh apa yang suara itu katakan. Gadis itu terdiam sejenak, dia diam untuk beberapa waktu sebelum akhirnya memutuskan [Aku ingin hidup! Berikan aku alasan untuk hidup di Dunia ini! Kumohon selamatkan aku Tuan...]


"Jane Mary Fortes, Mulai detik ini kau adalah pelayan Manusia milikku. Kau akan hidup untukku dan Mati karenaku!"


Sejak detik itu Jane telah memberikan seluruh hidupnya untuk menjadi Pelayan setia Tuan Muda.


Dia hidup untuknya dan Mati karenanya.


Kehidupan dan takdirnya berubah, dia mendapatkan semua kehidupan sederhana yang dia inginkan dan seorang Tuan yang sangat baik.


Tangan rapuh itu membuka pintu kamar Candy ketika dia sampai di depannya. Dengan dorongan ringan kamarnya terbuka.


Mata Bibi Jane melotot kaget melihat pemandangan hancur di hadapannya.


Seorang Vampire tampan berusia sekitar 17 tahun tengah berusaha untuk menerobos kubah pelindung yang melindungi Candy di atas tempat tidurnya.


Tubuh Candy bergetar hebat diatas tempat tidur, dia menatap Vampire dihadapannya ketakutan. Saat mata berwarna amber miliknya melihat kedatangan Bibi Jane dia meracau. "Bi..bi.. Ja.. Lari!!!"


"Oh? Manusia lain?" Vampire itu terkekeh pelan.


Pikiran bibi Jane tersentak, dia tidak memiliki waktu untuk tetap diam. Dengan gerakan ringan tangan kanannya meremas sebuah bubuk dan menaburkan kearah Vampire itu.


"Candy, Apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan tempatmu berada!!!" Bibi Jane bersuara tegas saat sosoknya kabur setelah apa yang dia lakukan.


Dia berfikir Candy akan baik-baik saja jika tetap di dalam kubah pelindung yang Tuannya buat. Selama gadis itu tidak melangkah keluar dari tempat tidur, pelindung itu akan melindunginya.


"Tua Bangka sialan! Ini adalah bubuk beracun yang membutakan penglihatan! Edward tentu membuat banyak persiapan! Tapi jangan berfikir kau akan lolos hanya dengan ini!"


"Bibi..."


"Kemana kau pergi?!"


Bibi Jane tersenyum sinis kearah Vampire muda yang telah berada di hadapannya dan menarik rambutnya. Dia menyelipkan tangannya sebelum mengangkat sebuah pisau kecil. Dengan ayunan ringan pisau itu menggores lengan sang Vampire.


"Sial, wanita yang licik, bahkan kau menggunakan racun?!" Vampire itu geram dan melemparkan tubuh Bibi Jane membuatnya terbang dan menghantam dinding hingga berlubang "Jangan meremehkanku! Racun tidak akan membunuhku!"


Setelah apa yang diucapkan Vampire itu, tubuhnya jatuh lemah di lantai. Dia melotot kearah Bibi Jane yang tengah babak belur di reruntuhan penuh kebencian "Racun pelumpuh?!"


"Bibi..." Candy menangis dengan cemas, dia ingin turun dan membantu tapi dia tidak bisa melakukannya. Jika dia pergi semua hal akan menjadi lebih buruk.


"Uhukk... Candy jangan bergerak...! Uhuk..." Bibi jane berusaha bangkit dari puing-puing, dia tersenyum rapuh dan kembali berkata "Semua akan baik-baik saja, aku sudah memanggil Alfred! Tetaplah di tempatmu!"


Dengan langkah goyah Bibi Jane kembali bergerak untuk pergi, dia tidak bisa tetap di tempat itu atau Candy akan melakukan hal bodoh lagi. Dia tahu dia tidak bisa selamat, Vampire itu tidak akan mati hanya karena racun dan hal lain yang dia miliki. Sang Tuan memberikan semua itu hanya untuk membuatnya mengulur waktu. Maka dari itu setidaknya dia akan menjauh dari pandangan Candy.


"Bibi..." tangisan Candy menjadi lebih keras.


Vampire yang lumpuh itu menyeringai sebelum menjadi lebih banyak. Mata Candy melotot kaget, dia menatap tidak percaya sebelum melihat kearah Bibi jane berada yang masih tidak terlalu Jauh penuh dengan ketakutan.


"Aku belum selesai, kemana kau akan pergi?" Dengan gerakan ringan dia berhasil mencapai Bibi Jane, Vampire itu kembali mendaratkan pukulan serta tendangan.


"Tua bangka sialan! Kau membuatku terluka! Semua penghuni kastil ini memang sialan! Untung saja itu hanya klon." Tendangan dan hantaman mendarat saat Vampire itu terus berbicara "Aku bahkan harus kehilangan banyak energi untuk membagi banyak klon menghadang Austina dan James. Sekarang aku akan membunuhmu dan memakanmu untuk memulihkan energiku!"


Vampire itu yang tidak lain adalah Caspian, dia terus memukul tubuh Bibi Jane hingga terbaring penuh darah di lantai.


"Tidak!!! Bibi Jane... aku mohon..." Candy menangis dan berteriak, dia memohon dengan sangat buruk serta meremas seprai dibawahnya terduduk.

__ADS_1


"Tentu saja kau bisa menyelamatkannya! Kau hanya perlu keluar dari kubah sialan itu dan dia akan selamat!"


"Jan..gan..."


"Diamlah!!!" Caspian menendang tubuh Bibi Jane lagi saat melihat wanita paruh baya itu mengerang mencoba untuk memperingatkan Candy.


"Aku..."


"Ya, kau hanya perlu keluar dari sana dan aku tidak akan membunuh wanita ini... Aku juga berjanji tidak akan menyakitimu! Aku akan membawamu kesuatu tempat, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu!" Caspian menghentikan pukulannya, dia meletakkan kaki kirinya diatas tubuh bibi Jane yang tergeletak dan berusaha meyakinkan Candy.


Wajah cantik Candy tampak ragu, dia menggigit bibirnya hingga berdarah. Mata indah miliknya terus menatap kearah Bibi Jane yang tampak menyedihkan dan dia tidak bisa untuk tidak merasakan sakit yang menusuk di hatinya.


Wanita itu, Candy sudah menganggapnya seperti ibunya sendiri, walaupun mereka hanya bersama 1 bulan saja. Tapi Candy menyayanginya.


Dengan bibirnya yang berdarah, Candy mulai membuat keputusan bodoh lagi. Dia tahu Edward pasti akan marah dan melakukan hal yang tidak dapat dia bayangkan, tapi Candy tidak peduli, dia tidak bisa lagi membiarkan Bibi Jane mati.


"Kau Janji tidak akan membunuhnya?"


"Aku berjanji!" Caspian tersenyum manis kearah Candy, Bibi Jane mengerang ingin mengatakan sesuatu, tapi kaki Caspian dengan kasar menginjak mulutnya "Diamlah atau kau akan mati! Lihatlah, gadis ini adalah gadis baik yang setia kawan..."


Candy melangkah perlahan dari tempat tidurnya, sebuah penghalang tipis yang tidak dapat di masuki dari luar itu tampak lenyap ketika Candy melewatinya.


"Hahaha...." Caspian tertawa senang, dia mengerahkan Klon miliknya untuk menangkap Candy sebelum menginjak kepala Bibi Jane lagi untuk yang terakhir kalinya.


"Bukankah kau janji?" Candy mengerang sakit atas cengkraman erat Vampire itu. Dia melotot marah padanya karena masih saja memukul Bibi Jane.


"Itu hanya tips, sekarang mari kita pergi!" Caspian menjawab acuh sebelum bergerak kearah Candy dan bersiap pergi.


Tangan Bibi Jane bergerak lirih, dia menarik celana yang di pakai Caspian mencoba untuk menghentikannya.


"Aah... Kau benar-benar keras kepala!" Caspain mendengus kesal sebelum kembali menginjak tubuhnya.


Bibi Jane tidak melepaskan tangannya dan terus menariknya. Dia tidak bisa membiarkannya pergi! Bagi Bibi Jane hidupnya bukan apa-apa. Dia telah hidup baik selama puluhan tahun dan sekarang dia bisa membalas Tuan Mudanya dengan menyelamatkan Candy, bukan membuatnya terluka.


"Berhenti! Bukankah kau sudah berjanji?!" Candy berteriak marah dan menangis.


" Aku berubah pikiran!" Caspian menyeringai.


Wajah cantik Candy memerah marah, dia mencoba melawan Caspian dan pergi untuk menyelamatkan Bibi Jane tapi semua perlawannya sia-sia.


"Bibi..." suara Candy lirih, dia menangis tidak berdaya menatap Vampire yang memukul Bibi Jane penuh kebencian.


"Maaf aku terlambat!!" Suara magnetik menenangkan bergema dalam ruangan kacau itu dan membuatnya hening seketika saat aura membunuh yang kuat menyelimuti.


Wajah Cantik Candy bersinar dengan sedikit harapan. Dia menatap keasal suara dan mendapati sosok tampan yang begitu dia Cintai. Air mata miliknya mengalir semakin deras saat perasaan lega membanjiri hatinya.


"Hahh.. Tidak menyenangkan! Edward kenapa kau sudah sampai?!" Caspian memecahkan suasana pertemuan mereka. Dia menggerakkan banyak klonnya untuk mengepungnya dan Edward. "Maaf, tapi aku harus melakukan ini Ed, Jika aku tidak bisa membawa gadis ini. Mereka memintaku untuk membunuhnya di tempat!"


Kuku Caspian bergerak untuk menusuk jantung Candy, tapi dia terhenti oleh ucapan kecil Edward.


"Bloody Hell..." Wajah tampan Edward mengeluarkan aura membunuh. Dia menatap Caspian dengan kedua matanya yang telah berubah warna merah darah.


"Kuh... Uhukk..." seluruh Klon Caspian berhenti bergerak dan memuntahkan darah.


Melihat hal ini Edward bergerak menghilang dan mencoba mengambil kembali Candy, tapi dia selangkah lebih lambat.


Caspian meremas jemari tangannya sebelum kuku miliknya memanjang. Kuku itu hitam dan sangat panjang menembus tepat di Jantung Candy.

__ADS_1


Semua tubuh Caspian hancur menjadi debu setelah melakukan Hal ini. Edward melotot kaget dan menangkap tubuh Candy yang jatuh di lantai dengan kuku hitam menancap di jantungnya dan genangan darah yang keluar.


"Tidak! Candy?!" Suara Edward kecil saat wajahnya tampak sakit dan tersiksa melihat keadaan Candy dalam pelukannya.


__ADS_2