
Udara malam berhembus lirih selaras dengan kegelapan yang membentang dan berhambur dengan aura dingin yang menusuk.
Di sebuah ruangan berukuran luas sekitar 10×15 meter, duduk 2 orang pria saling berseberangan dengan sebuah gelas berisi minuman berwarna merah di tangan masing-masing.
2 pria itu hanya terduduk diam menikmati minuman dan suasa sunyi yang menyelimuti. Hanya bunyi nafas yang berhembus dan detik jam yang terdengar.
Setelah Untuk waktu yang cukup lama, pria dengan rambut berwarna putih panjang meneguk seluruh isi dalam gelas dan membuka suara "Kualitas darah ini tidak terlalu bagus! Bagaimana mungkin kau bertahan dengan meminum darah seperti ini selama ini?!"
"Berhenti membual, aku tahu Darah yang kau minum tidak lebih baik dariku! Katakan saja tujuanmu dan cepat pergi dari tempatku!"
"Tidakkah kau terlalu kasar terhadap teman lama?! Felman, semakin Tua usiamu semakin menyebalkan dirimu!" Pria itu mendengus kasar dan kembali menuangkan cairan berwarna merah dalam botol ke gelas kosong miliknya.
"Ckck, lihatlah! Kau bilang tidak enak. Tapi masih saja meminumnya!" Felman mendecakkan lidahnya kesal "Berbicara tentang usia, kau lebih Tua dariku Caesar! Jadi, apa yang membawa Penatua ke 5 datang ke tempatku?"
Caesar mengerutkan kening setelah meminum kembali beberapa teguk minuman di gelasnya. Dia menghela nafas panjang dan berkata "Kau sudah tahu alasan kedatanganku!"
Felman mengusap janggutnya lembut dan menjawab "Apakah ini tentang gadis itu?"
Mendapatkan keheningan Caesar dan hanya tatapan darinya, Felman menghela nafas panjang. Dia mengalihkan pandangannya menatap kearah luar jendalanya yang berjarak jauh.
"Ini akan menjadi pertempuran yang sulit..."
"Yah, kau benar!" Caesar mengangguk dan meletakkan gelas kosongnya diatas meja "Kali ini Gaston bahkan ikut campur!"
"Itu juga kenapa Caspian berani bertindak! Bocah itu lebih menghargai Gaston dari pada diriku yang menyelamatkannya!"
"Kau hanya Tua bangka yang tidak tahu malu, sedangkan Gaston adalah pria Muda dengan bakat menakutkan yang bahkan bisa menempati kursi penatua ke 2. Tentu saja Caspian lebih mendengarkan dia dari pada orang sepertimu! Tapi karena itu pula Caspian dalam kondisi buruk sekarang!"
"Jadi, maksud kedatangamu kesini hanya untuk mengolokku?!" Felman tersenyum kecut dan menyalakan sebatang rokok "Mungkin Caspian akan terbaring selama beberapa minggu! Bocah nakal itu..."
Caesar tersenyum penuh arti atas ucapan Felman dan membuka suara "Kursi Penatua ke 7 telah di pilih. Anggota baru itu akan menerima misi untuk menyelesaikan masalah ini! Tapi kau tahu ini bukan masalah yang sederhana!"
"Yah, aku sedikit simpati pada bocah bernama Richard itu!" Felman menghembuskan nafasnya dan membuat asap rokok mengepul diudara "Apa kau datang untuk membantunya?!"
"Apakah aku terlihat sebaik itu?" Caesar terkekeh pelan dengan senyuman jahat "Akan ada memberi dan menerima di Dunia ini. Lagi pula jika Gaston bergerak hanya karena masalah seperti ini. Dia pasti memiliki tujuan besar di belakangnya!"
Felman menggeleng pelan melihat rubah tua dihadapannya. Dia tahu organisasi Dark Walker itu tempat berkumpulnya orang-orang dengan ambisi besar masing-masing. Tapi, tidak peduli apa ambisi mereka, semua Vampire di Dark Walker tidak akan melewati batas yang di tetapkan.
"Aku tidak terlalu tertarik dengan promosi, jadi aku akan membantumu sedikit." Felman akhirnya membuka suara dan memberikan beberapa informasi "Shadow akan bergerak untuk melawan Edward. Mereka marah karena pria itu telah menghancurkan Markas ketiga Shadow. Mereka akan mengirimkan Shaw dan Dawn. Mungkin kau bisa membawa Richard untuk bekerja sama dengan mereka!"
"Heeee.... Kau tahu pasti ini bukan hanya tentang promosi Felman! Tapi aku tidak akan mendesakmu untuk ikut andil karena dengan begitu aku memiliki banyak peluang dengan sedikit saingan." Caesar tertawa kecil saat sosoknya menghilang setelahnya. Dia telah mendapatkan apa yang dia inginkan dengan berkunjung, jadi dia tidak akan tinggal terlalu lama.
Felman mendesah panjang dan menghisap batang rokok ditangannya sebelum bergumam pelan "Tentu aku tidak akan tinggal diam, setidaknya aku harus mendapatkan beberapa sisa makanan. Jika Gaston bergerak, pria itu pasti akan bergerak di belakangnya. Dan terlebih lagi, Lawrence Family yang telah lama menghilang pasti akan muncul kembali!"
****
Langit biru membentang indah diatas cakrawala. Keindahan langit yang memukau tampak mempesona seolah menyihir. Sebuah sihir yang akan membunuhmu ketika kau terlalu terhanyut dalam pesonanya.
"Edward?!" Suara manis dari gadis cantik yang tengah terduduk diatas kursi roda bergema.
__ADS_1
Edward tersentak kecil saat pandangannya teralihkan untuk menatap sosok Candy yang tengah melihatnya. "Apakah sudah selesai?"
Candy mengangguk dengan ragu ketika dia melihat tatapan kosong pada mata indah Edward. Melihat hal ini Edward tersenyum kecil sebelum mencium keningnya.
"Sudah kukatakan bukan bahwa aku mencintamu! Kau bisa memanggil namaku sesukamu dan melakukan apapun padaku!" Raut wajah Candy menjadi lebih rumit oleh pernyataan Edward, gadis itu hendak membuka bibirnya namun terdiam karena ditangkap oleh ciuman lembut Edward "Mari kembali untuk sekarang!"
Dengan anggukan bodoh Candy hanya di giring untuk kembali kerumah.
Sejak dia terbangun beberapa hari yang lalu, Candy bertanya-tanya apakah dia tengah bermimpi di dalam mimpi yang panjang?
Kenapa dia menanyakan hal itu?
Ini di karenakan sikap Edward padanya! Pria yang biasa dingin dan acuh tak acuh serta kejam seperti Edward tiba-tiba menyatakan bahwa dia mencintainya.
Bukan hanya satu atau dua kali tapi hampir setiap menit! Dia terus mengucapkan kalimat itu karena keraguan Candy yang terlihat jelas di matanya.
Bagaimana Candy tidak ragu?
Sifat Edward benar-benar berubah setelah mengatakan kalimat Aku mencintaimu!
Dia terus menempel sepanjang waktu padanya. Dia bahkan terus menyentuhnya dan menciuminya dengan tidak tahu malu.
Tentu saja Candy bahagia, dia bahkan sangat bahagia. Seseorang yang dia cintai mencintainya kembali! Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan dari pada hal itu yang menjadi kenyataan.
Tapi Candy takut, dia sangat takut jika kebahagiaan yang dia rasakan saat ini hanyalah sebuah ilusi yang akan lenyap suatu saat nanti.
"Kau masih berfikiran aneh!" Edward menghela nafas sebelum menggendong tubuh Candy dari atas kursi roda untuk naik ke dalam mobil "Ini bukan Mimpi atau pun ilusi! Semua nyata dan aku mencintaimu!"
Bibir Candy membentuk senyum manis sekilas sebelum lenyap ketika pandangan matanya pergi melihat di mana dia berada.
Mobil itu melaju meninggalkan makam sunyi yang baru saja Candy kunjungi. Dia disini untuk mengunjungi Bibi Jane.
Setelah tersadar dari tidur panjangnya di rumah sakit, Candy langsung bertanya tentang Bibi Jane pada Edward. Tentu saja awalnya Edward enggan menjawab pertanyaannya dan mengatakan banyak omong kosong untuk mengalihkan pembicaraan. Tapi pada akhirnya dia menyerah dan menjawab semua pertanyaan Candy dengan wajahnya yang menyesal.
Candy menangis, dia menangis cukup lama hingga beberapa hari terakhir. Dia bahkan tidak terlalu senang dan mengabaikan pengakuan Edward. Seolah Candy berfikir Edward melakukannya hanya untuk menghiburnya.
Tidak peduli apa, pada akhirnya dia harus merelakan Bibi Jane dan menatap kembali pada Edward. Dia tidak bisa terus bersedih, Candy sudah cukup terluka ketika dia kehilangan kedua orang tuanya. Sekarang dia harus kuat tidak peduli apa.
Bibi Jane akan selalu berada dalam hatinya dan ingatannya, Candy tidak akan pernah melupakannya.
"Aku sungguh tidak suka mengemudi!" Edward memukul kemudi mobil kasar, kerutan di dahinya memperlihatkan dengan jelas kebenciannya pada kendaraan.
Yah, bagaimana lagi. Candy masih dalam keadaan terluka jadi dia tidak terlalu nyaman dengan posisi di gendong dan terbang bersama Edward. Lebih nyaman menggunakan mobil dan itu membuatnya tampak lebih seperti manusia.
"Kau tidak suka di peluk! Maka dari itu kau memilih untuk menaiki mobil siput ini?!"
Mendengar nada rengekan Edward, Candy ingin menangis. Bagaimana mobil ini bisa seperti siput saat lingtasan yang di hasilkan di belakangnya tampak kabur. Bahkan omong kosong Edward yang menyatakan dia tidak suka di peluk membuat Candy lebih menderita. Pria ini jelas tahu tapi bersikap manja.
Apakah ini benar-benar Edward yang dia tahu?
__ADS_1
"Kau tahu aku masih belum sembuh, jadi..."
"Aku akan memaafkanmu jika kau memberiku ciuman!" Edward tersenyum bodoh kearah Candy, dia bahkan tidak memperhatikan jalan dan bersikap seolah memiliki mata di seluruh tubuhnya.
"..." Candy benar-benar tediam kaku dengan sikapnya. Gadis itu menghela nafas lirih sebelum memberikan ciuman cepat.
Senyuman di bibir Edward kian cemerlang ketika wajahnya tampak lebih mempesona. Candy memutar matanya ke arah lain karena tidak sanggup dengan keindahannya.
"Kami sudah sampai!" Edward berseru kecil sebelum sosoknya berhambur keluar. Dia membuka pintu mobil Candy dan menggendong tubuhnya.
"Kursi Roda..."
"Kau lebih memilih benda jelek itu dari pada pelukanku?" Wajah Candy berubah masam atas pertanyaan Edward!
Sekali lagi bukan itu masalahnya!
Dia hanya terlalu gugup jika berada di dekat Edward!
Jantung Candy terus berdebar tidak wajar dan seakan melompat keluar. Oleh karena itu Candy selalu menggunakan alasan bahwa dia masih belum sembuh dan lebih nyaman di kursi roda.
Senyuman di bibir Edward kian cemerlang saat dia membaca pikiran Candy. Dia terus menggendong tubuh Candy untuk masuk kedalam Kastil tanpa peduli dengan debaran jantung Candy yang kian meningkat.
"Edward..." Candy bergumam cemberut dengan pipinya yang merona, dia membenamkan wajahnya di dada bidang Edward dengan perasaan nyaman dan malu.
Edward hanya terdiam dan membawa tubuh hangat Candy dalam pelukannya kearah kamar miliknya. Jika saja gadis ini tidak terluka dia pasti akan memakannya.
Hal yang melegakan Edward, tubuh Candy memiliki daya tahan yang baik dan proses penyembuhan diri yang cepat, membuat kekhawatiran Edward berkurang.
Saat langkah kaki Edward telah sampai di depan pintu ruangannya, dia terhenti sejenak sebelum tersenyum misterius. Candy yang tidak mengerti hanya menatapnya kosong.
Pintu itu di buka, dan pemandangan Kamar mewah yang biasa dia lihat menjadi berbeda. Hiasan bunga dan bintang kecil yang bersinar diatap membuat Candy terpesona.
Dia menatap keindahan dekorasi kamar itu dengan kedua mata berwarna ambernya yang bersinar cemerlang.
Edward tersenyum hangat sebelum meletakkan tubuh Candy untuk terduduk di atas tempat tidur. Dia menatap gadis di hadapannya terduduk itu sebelum berlutut di lantai.
Candy tertegun melihat kearah Edward yang berlutut di hadapannya. Mata berwarna ambernya bergetar menatap tepat kearah mata berwarna perak Edward.
Pria itu berlutut dengan tangannya yang terulur membuka sebuah kotak perhiasan berwarna hitam di antara tangannya. Cincin kecil bersinar terang seolah menjadi cahaya indah di dalamnya.
Edward tersenyum lembut menatap kearah Candy dan berkata "Candy Jovanka, Menikahlah denganku!?"
Air mata Candy jatuh dan meluncur deras diantara pipi putihnya. Dia menutup bibirnya dengan kedua tangan kecilnya yang bergetar.
Dada Candy sesak ketika debaran jantungnya meningkat. Dia menatap kearah Edward dan Cincin di depannya secara bergantian tampak tidak percaya.
Perasaan bahagia meledak dan memenuhi hatinya. Candy sangat bahagia hingga apa yang terjadi saat ini tampak tidak nyata untuknya.
Setelah menenangkan hatinya dan nafasnya yang memburu, Candy mengangguk pelan dan membuka suara "Kau tahu bahwa aku akan selalu bersamamu tidak peduli bahkan jika maut memisahkan kita... Edward Lawrence, jadikan aku milikmu yang sebenarnya.."
__ADS_1
Edward tersenyum manis, dia mengambil cincin dalam kotak perhiasan itu untuk di kaitkan diantara jemari Candy. Ciuman lembut dan dalam mendarat di bibir Candy. Cukup dalam dan lama yang membuat Edward menginginkan lebih. Tapi dia sadar bahwa gadis itu masih terluka dan menghentikan ciumannya dengan enggan.
"Mari hidup bahagia bersama selamanya!" Edward bergumam pelan ketika tubuhnya bergerak untuk memeluk tubuh Candy erat-erat seolah takut jika melepaskannya dia akan kehilangan gadis itu.